Sekolah Pembodohan

13 April 2016

Oke, mumpung jamannya lagi musim ujan dan ujian, saya mau nulis sedikit tentang pendidikan di negara kita termuaaah di hati, Indonesia. Tepatnya masalah penerimaan siswa yang sudah maha maupun yang belum di institusi macam sekolah, universitas maupun akademi lainnya.

Yang karena sistem pendidikan di negeri ini seperti inilah adanya sehingga menghasilkan murid sejenis saya yang akhirnya saya menuliskan sejauh kepintaran yang saya terima dari pendidikan yang selama ini saya dapatkan.. fiuuhhh.

Sebagai salah seorang peserta didik nan berpengalaman (ehem..), tentu keresahan saya ini boleh dibilang sebagai sebuah bentuk protes bagi sistem yang disentil rakyat sebagai kurikulum bergenre labil ini. Saya mencermati (bahasanya sedikit saya tinggikan biar nampak hasil dari saya sekolah ), adanya kekeliruan dalam sistem penerimaan murid dikalangan civitas sekolah kita.

Banyak sekolah di negeri ini, yang kalau tidak mau dibilang semuanya, sebagian besar menerapkan aturan yang mewajibkan standar nilai masuk bagi siswa yang akan mendaftarkan diri di sekolah-sekolah mereka. Sekolah macam ini biasanya mengharuskan siswa yang ingin mendaftarkan diri punya track record nilai di atas rata-rata. Jadi, hanya bisa dimasuki murid-murid dengan otak berlebih.

Kabar buruknya, ibarat gladiator, merekapun terus diadu. Sistem kompetisi yang seolah membantai yang lain demi mencari satu pemenang. Yang Terbaik. Selalu seperti itu, di tiap sekolah. Mereka berkompetisi hanya untuk mencari sang juara. Sampai-sampai menutup mata pada siswa dengan kecerdasaan emosional (EQ) juga kecerdasan minat dan bakat. Roll modelnya cuma satu, nilai akademik TITIK.

Sekolah yang menerapkan aturan standar nilai tertentu bagi para siswa yang ingin mendaftar masuk, menurut saya adalah kebodohan lain dari obsesi manusia terhadap ilmu pengetahuan. Fungsi sekolah yang seharusnya ‘mengajar’, beralih fungsi menjadi pabrik pencetak. Yang jika sudah masuk, keluarnya wajib jadi orang.

Sekolah, sesuai visinya ketika pertama kali di bangun di jaman Yunani klasik adalah untuk mencerdaskan masyarakat. Untuk melawan kebodohan. Untuk masa depan umat manusia. Dan di negeri ini, sekolah malah dibiarkan menjadi bahtera Nuh yang hanya menyelamatkan beberapa kepala saja.

Kita tahu, bahwa negeri ini selalu haus dengan puji-pujian, ingin selalu dielu-elukan. Meskipun kadang harus menutup borok kecacatan akan sistem yang dijalankannya. Sekolah dengan sistem yang membatasi pendaftaran siswa berdasarkan nilai, seolah telah menampar muka Ki Hajar Dewantara sambil berkata: maaf, sekolah kami ini cuma untuk yang punya otak saja.

Sederhananya, sekolah semacam ini telah melakukan pembiaran terhadap kebodohan demi NAMA SEKOLAH. Tujuan yang tentu saja sangat jauh dari slogan: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Seakan akan mau mengejek: Sana, yang ga punya otak sekolah di habitat kalian, sekolah di bawah standar! Tentu kita familiar dengan keadaan ini, di mana yang pintar menjadi semakin pintar, dan yang bodoh akan menjadi Nobita.

Sekolah yang memberlakukan sistem ini, sudah jelas mengharamkan murid dengan orientasi kebodohan jenis apapun (kecuali bagi murid yang bapaknya kaya dan pejabat). Dan si murid bodoh, tanpa pilihan berjalan lunglai menuju sekolah khusus bodoh, untuk mempertajam kebodohannya.

Eh, pak.. bukannya semua sekolah sama saja? Untuk mengentaskan kebodohan? Maksud saya, fungsi tiap sekolah adalah untuk membuat pintar siapapun muridnya? Kok kalo murid bodoh yang daftar ga diterima? Jangan-jangan fungsi sekolah sudah diganti untuk memintarkan yang pintar ya pak? Pak? Oi, pak…? Bapak mau kemana…?

Tidak peduli pintar atau bodoh, selama si murid ada keinginan belajar, sekolah wajib menerimanya. Hal inilah yang kadang membuat saya juga kurang setuju mengenai kelas akselerasi. Orang-orang yang meremehkan proses.. Proses jugalah nantinya yang akan memutuskan, apakah si bodoh ini pantas hidup, atau ia hanya terlalu malas menunjukkan kelebihannya di bidang lain seperti yang penulis rasakan (ehem).

Standar nilai adalah sebuah stigma yang ditetapkan demi menjaga citra sekolah. Meskipun tiap sekolah mempunyai misi yang sama, namun rasa kompetisi para pemangku kebijakan kadung menjelma menjadi obsesi. Yang sekolah terkenal ingin mempertahankan nama, yang sekolah biasa terlampau pasrah dengan keadaan.

Janganlah itu ada pembeda-bedaan dalam sekolah. Sekolah unggul kek, sekolah SNI kek, sekolah elit kek, selama statusnya adalah wadah pendidikan, sudah tugasnyalah untuk mencerdaskan tanpa pandang bulu. Toh, tiap anak bangsa punya hak yang sama untuk lepas dari kebodohan. Apa hebatnya coba, memintarkan yang memang sudah pintar. Malah lebih hebat kalau bisa membuat pintar yang awalnya bodoh..

Anggap saja sekolah adalah koki. Kalau memang kokinya bagus, mau keju, mau kepiting, atau ubi kayu, bahkan sekedar terasi sekalipun, akan bisa dibikin hidangan yang enak dan pantas.

Jika saja terlintas untuk membuang arogansi dan menambah kesadaran demi satu tujuan bernama pendidikan, tentu saja baik sekolah gedung maupun yang beratap jerami akan benar-benar menjadi penghasil generasi bermutu bagi masa depan negeri. Bukan sekedar tempat singgah yang penting bisa baca-tulis..

Solusinya tentu saja dengan menghilangkan standar nilai bagi penerimaan siswa. Yang kalau sekolahnya memang bagus, kebodohan jenis apapun yang masuk tentu dapat diperbaiki. Dan bagi sekolah yang berstandar nasional ataupun internasional, kalian itu ibarat tentara Amerika yang congkak karena peralatan yang terlalu canggih, giliran diajak latihan gabungan di hutan sama TNI malah nangis minta pulang.. Ibarat Real Madrid, yang cuma mau membeli pemain bintang ketimbang mencetaknya..

Sekolah juga jangan meremehkan orang bodoh. Dulu juga ada seorang anak yang terlampau bodoh sampai-sampai tak direkomendasikan untuk bersekolah lagi oleh si guru. Dia bodoh di bidang apapun. Hingga kepala sekolahnya bilang bahwa ia bahkan tak tahu apa guna si anak jika sudah besar nanti. Dan hari ini kita memanggil anak tersebut sebagai Einstein, si jenius fisika tukang ngerokok.

Karena jelas, dengan kapasitas guru-guru kita saat ini, bisa saja kasus seperti Einstein di atas bisa terjadi karena gurunya sendiri malah terlampaui otaknya oleh si anak sehingga tidak mengerti dengan kepintaran si anak dan akhirnya menganggapnya bodoh.

Pesan saya sih, semoga sekolah-sekolah terutama kepala sekolahnya atau pemimpin yayasan segera sadar, akan tujuan awal sebuah sekolah. Arogansi nama tenar ataupun dicap sebagai terbaik itu cuma keuntungan jangka pendek. Generasi mendatang serta kebutuhan negara ini adalah sebuah visi jangka panjang. Jangan libatkan ambisi pribadi dalam sebuah masalah bangsa. Ga lucu tahu..

Akhir kata, meskipun saya membenci sekolah, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa saya adalah salah satu produknya. Namun, saya juga terlampau peduli dengan masa depan anak-anak bangsa, apalagi yang menyangkut kebodohan. Saya mau saja sih jadi guru buat membenahi sistem yang sudah acakadul ini, cuma gimana ya.. gajinya kecil. Ga cukup buat beli rokok.. Saya kan butuh inspirasi juga.

“Dulu, nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama kampusnya..“ -Pidi Baiq-

.

pandji

Iklan

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: