Runtuhnya Minat Kami

26 Mei 2016

Beberapa siang yang lalu, kebetulan sayanya sedang nonton mata najwa. Saya yang siang itu memang sedang ingin menganggur, seharian cuma nonton tipi saja. Kebetulan mbak Najwa ini punya senyum yang sedikit manis, jadi tidak ada salahnya jika saya meluangkan sedikit waktu menganggur saya khusus buat beliau.

Di akhir acara, mbaknya ini berpesan, dan mengajak semua umat penonton untuk menjadikan aktivitas membaca menjadi menyenangkan. Bahkan memberi tantangan untuk membaca 1 buku tiap 1 minggu kepada para pemirsah dimana pun anda berada. Waw sekali pikir saya. Tantangan yang sangat biasa sekali bagi saya… uhuk.

Sedikit mau sombong, saya ini sering membaca 10 buku dalam satu hari, dulu. Bahkan, pernah saya seharian membaca buku hingga 25 judul dalam sehari (Silahkan yang mau tepuk tangan..). Kalau tidak percaya, tanya saja mas-mas penjaga persewaan komik di depan kampus sastra undip.
***
Berhubungan dengan minat baca masyarakat Indonesia, yang sampai-sampai Mbak Najwa yang tentu saja sangat sibuk itu harus turun tangan untuk mengajak kalian semua ikut membaca memang bikin miris. Bahkan menurut penelitian, rata-rata anak Indonesia yang membaca buku hanya di bawah satu persen. ih.. ih.. ih..

Memang sih, tiap individu punya minat dan bakat masing-masing. Termasuk minat membaca. Biasanya, pembaca buku adalah orang yang pendiam dan cenderung introvert. Sebaliknya, yang tidak suka membaca biasanya tipikal ekstrovert yang riang dan hiperaktif. Jadi jangan juga mengharapkan semua orang berminat untuk membaca.

Kecuali untuk kasus Anggota Dewan Yang Maha Terhormat yang kemaren katanya mau renovasi perpustakaan yang anggarannya sampai setengah triliyun biar jadi ikon sebagai perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. Ada kemungkinan, anggota dewan punya kesimpulan dari otaknya, bahwa perpustakaan yang besar akan berdampak besar pula terhadap imej bahwa mereka tidak bodoh.

Jadi, mungkin karena takut digoblok-goblokin lagi oleh rakyat, mereka memasang perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara sebagai tameng, dan berharap, masyarakat akan memaklumi bahwa orang-orang pintar seperti mereka adalah wajar jika memiliki perpustakaan mewah nan elegan sesuai gaya hidupnya. Yah sudah, kita penuhi saja harapan mereka. Semoga anggota dewan tersebut benar-benar akan menjadi pintar setelah selesainya perpustakaan tersebut.
***
Lanjut ke masalah minat baca, seperti yang saya bilang sebelumnya, minat baca masyarakat kita sangat rendah. Ironisnya, beberapa tahun belakang buku-buku yang terbit malah meningkat. Banyak penulis-penulis buku pemula yang bermunculan, banyak penerbit berdiri, juga banyak buku-buku baru muncul setiap bulannya. Tapi kok minat baca tetap menurun? Korelasinya?

Dengan kesoktahuan saya seperti biasa, saya juga ingin mengajukan teori atas hilangnya para peminat atas bacaan tersebut. Tentu kredibilitas saya sangat boleh untuk diragukan.

Saya adalah orang yang membeli segala macam jenis buku. Mulai dari buku komik sampai buku fisikanya Stephen Hawking. Dari novel teenlit sampai kamasutra. Buku sastra, ekonomi, sejarah, majalah PC, mistis, Natgeo, psikologi, bahkan buku perpustakaan pun  juga saya koleksi. Dengan segala macam jenis bidang yang saya baca, saya menemukan ada masalah penting yang bertanggung jawab atas menghilangnya minat baca ini.

Masalah yang bisa saya prediksi dengan bantuan ramalan BMKG ini kemungkinan adalah mutunya. Atau, anggap saja mutu adalah salah satu masalahnya. Karena kemungkinan masalahnya ada banyak, namun saya sendiri menganggap mutu sebuah buku adalah musuh terbesar hilangnya minat baca masyarakat kita, meskipun tiap bulan para penerbit sudah membombardir toko-toko buku dengan ratusan judul baru.
***
Dulu salah seorang guru SMP saya pernah bilang begini,: Guru itu ada dua jenis; yang pertama, pintar (berpengetahuan) tapi tidak bagus ketika menyampaikan. Kedua, pintar dan bagus dalam penyampaiannya.

Terus terang, pendidikan kita terdominasi oleh guru jenis pertama. Pinter, tapi sangat buruk dalam penyampaian hingga si murid biasanya lebih banyak diam ketika ditanya “ada pertanyaan anak-anak?”. Kemudian, krik..krik..krik.. . Karena sesungguhnya, para murid selalu ada satu pertanyaan untuk diajukan dengan muka serius: “Bu guru ngomong apa tadi?”. Saya perkirakan, kasus di atas sama nasibnya dengan buku kita. Terutama buku-buku yang ditujukan untuk kaum produktif.
***
Beberapa buku sudah berusaha menyelipkan komik, cover nan aduhai, kata-kata mutiara, pengantar dari orang terkenal, humor, juga judul yang sensasional seperti headline koran lampu merah, semuanya demi menarik minat pembaca. Namun, sedikit sekali penulis yang mau memperbaiki fakta bahwa tata bahasanya yang kaku dan lebih mendekati terjemahan Google translate itu.

Dengan gaya bahasa yang datar dan innocent ala pembaca berita TVRI, wajar saja buku-buku kita kehilangan peminatnya. Buku-buku ini lebih mirip ingin ‘mengajari’ ketimbang memberi ilmu. Ditambah lagi minimnya konten pengetahuan di dalam buku, pupus sudah harapan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui buku.

Mutu sebuah buku tidak hanya bergantung pada isi, tetapi juga bagaimana isi itu bisa tersampaikan dan terserap si pembaca sama pentingnya. Ibarat nyari jodoh, beraninya cuma stalking, percuma euy..

Belum lagi buku-buku yang terlalu teoritis dengan pemakaian bahasa dan istilah yang seolah semua pembacanya adalah lulusan Harvard, maklumkan saja jika kegiatan membaca sudah tidak lagi menyenangkan. Kegiatan membaca seolah menjadi aktifitas main catur, bukan lagi kegiatan santai untuk mengisi waktu luang. Jangan heran kalau buku hari-hari ini adalah properti eksklusif bagi kalangan pelajar saja. Bukan untuk petani, bukan untuk anak jalanan, ataupun seorang pemulung. Buku menemukan nasibnya hanya ditangan orang-orang yang makan bangku sekolahan.

Selain itu, buku kita terlalu banyak dijejali sampah-sampah dunia maya. Era digital yang melahirkan wabah kemalasan dimana hasil comot sana-sini dari internet dengan sumber tidak valid pun bisa menjadi sebuah buku. Garis bawahi sumber tidak validnya, bukan internetnya.

Tapi mau bagaimana lagi, selama buku kita masih mengandalkan kuantitasnya, jangan salahkan pembaca yang kehilangan minatnya. Toh, dunia yang dinamis ini lebih banyak menawarkan kesenangan yang lebih menarik ketimbang sebuah buku..

Tidak masalah jika sebuah buku berisi hanya curhatan, atau sekedar basa-basi gosip. Selama konteksnya adalah mengajak orang berminat untuk membaca, menarik adalah syarat mutlak yang harus terpenuhi. Ketertarikan pembaca bisa diakomodir dengan penyampaian yang baik termasuk pemakaian bahasa. Tidak kaku, tidak garing, tidak basi, dan sesantai mungkin. Sip?

Buku adalah juga sebuah karya. Dan sebuah karya selalu berhubungan dengan harga diri. Dipuji atau dicela adalah urusan konsumen. Penulis dan penerbit sudah selayaknya memberi yang terbaik. Jangan salahkan konsumen yang kehilangan minatnya, jika produk tak ada inovasi. Oh, dan harganya tentu saja juga harus menarik..
***
Itulah sebagian pandangan saya terhadap buku. Sebagian pandangan saya yang lain lebih tertuju ke muka Aura Kasih. Tidak usah protes, saya terbiasa adil..

Jadi jangan heran buku kehilangan peminatnya jika bentuk buku pun cuma sekedar “tulisan”. Ibarat mie rebus, tanpa sayur, tanpa telur, tanpa bawang goreng, tanpa ayam, tanpa sosis, tanpa daun bawang.. aih. Mie yang begituan ada sih yang bakal makan, tapi karena terpaksa, bukan karena ingin. Menghilangkan minat.

Saking kehilangan minatnya, seorang mahasiswa sastra saja harus menunggu disuruh dosen dahulu agar memiliki sebuah buku. Itu pun foto kopian, karena diancam tidak boleh masuk kelas tanpa buku pegangan. Bukan, itu bukan saya. Itu mahasiswa sastra yang lain..

Buat mbak Najwa juga, terima kasih atas ajakan membacanya. Tapi, sayanya lebih menyenangkan main coc sekarang. Maaf..

Iklan

Book Idol 2016

26 Mei 2016

Beberapa hari belakangan hape saya mulai menunjukkan tanda-tanda seolah tidak ingin dizholimi lagi, mereka menolak dijamah dengan trik sering pura-pura mati. Wajar sih, selain memang jarang saya isikan pulsa, hape saya terlalu sering dijadikan objek romusa sebagai game centre ketimbang sebagai alat komunikasi pencari jodoh. Jadilah saya bingung berkegiatan dalam menghadapi hari-hari sebagai pengangguran ceria..

Bergerak sedikit ke sudut kiri kamar, nampak tumpukan buku-buku yang sudah lamaaaaa sekali tidak saya sentuh karena takut dosa, bukan muhrimnya. Dengan tekad separuh bulat, saya beranikan diri ini untuk kembali “melihat-lihat” buku yang dulu saya beli karena cuma tertarik oleh judulnya saja. Ya, sayalah itu manusia yang masih membeli buku berdasarkan judging a book by its cover.. Sama seperti hater-hater di medsos yang baca berita cuma dari headlinenya saja..

Karena kerjaan yang sangat kurang (menghindari istilah kurang kerjaan, -red), saya pilih buku-buku yang (mungkin) akan saya baca dalam menghadapi hari-hari menganggur saya untuk beberapa malam ke depan.

Untuk itu, karena buku-buku yang belum saya baca terlalu banyak, maka saya harus mengadakan seleksi ketat terlebih dahulu demi tercapainya tujuan mulia saya untuk meningkatkan persentase minat baca anak-anak muda keren di Indonesia yang kabarnya sedang ingin terjun bebas.

Karena saya memang orang yang gampangan, maka seleksi pun berjalan cepat dan tanpa pandang bulu (toh bukunya memang tidak ada yang berbulu). Pertama-tama, haruslah menyingkirkan buku-buku tebal. Sudah pasti, buku tebal menurut mata saya adalah buku dengan jumlah halaman yang lebih dari 100 lembar.

Berdasarkan pengalaman, buku jenis ini gampang sekali membuat mata saya menjadi sayu, sendu, terhipnotis dan akhirnya hilanglah kesadaran karena tertidur. Biasanya buku jenis ini didominasi oleh buku kategori sejarah Indonesia yang memang penuh kontroversi dan revisi juga versi. Dan sepertinya, buku-buku saya dengan kategori ini akan terus suci tak terjamah hingga ajalnya tiba. Semoga kamu mati syahid, kawan..

Selain buku-buku tebal, saya juga mengeliminasi buku-buku yang bertema agama. Selain karena pusing, buku-buku agama saya juga terlalu banyak versinya. Dan entah kenapa hampir semua buku agama ini sebagian besar menyindir kaum atheis. Meskipun agama saya Islam, tapi toh bukan berarti saya tidak bisa mempelajari agama lain termasuk atheis. Untuk itulah saya juga mengkoleksi buku agama apapun, versi apapun, negara manapun, tahun berapapun, meskipun yang saya baca cuma kata pengantarnya saja.

Kategori ketiga, saya juga menyingkirkan buku-buku “keras” dan teoritis. Seperti buku-buku tentang sastra, revolusi, biografi, psikologi, dan filsafat tentunya. Buku jenis ini juga dapat mengancam keberpihakan saya terhadap ketenangan. Selain itu, saya juga khawatir adanya penolakan keras dari si otak untuk mencerna buku-buku yang kaku ini. Dan memang, buku-buku di atas membutuhkan pelumas sejenis kopi agar otak saya bisa berjalan lancar tanpa gesekan.

Setelah setengah jam menyortir, terpilihlah sekitar 10 buku yang saya niatkan untuk dibaca ketika malam tiba. Buku hasil seleksi ini sebagian bertema legenda dan mitos seperti buku tentang atlantis dan mitologi aztec. Tapi juga ada kumpulan pertanyaan bodoh macam buku ensiklopedia buruk rupa, andai aku jalan kaki masihkah engkau selalu ada untukku, indonesia jungkir balik, dan berhala itu bernama budaya pop. Serta buku-buku tidak jelas macam tirai hitam vatikan, mistik jepang, unik tapi fakta, pendulum galileo, dan para penghuni bumi sebelum kita.

Buku-buku ini memang belum sempat saya baca atau mungkin sudah dibaca tapi saya lupa atau juga sudah baca tapi belum sampai habis. Dan mereka inilah yang beberapa hari kedepan akan menemani malam-malam sepi saya (aiiihh..) sebagai pengangguran berbakat untuk beberapa bulan ke depan. Juga kepada novel tolong sampaikan, bukannya saya bosan, tapi memang sedang tidak ada yang menarik. Makanya saya puasa dulu mengkonsumsi novel.

Selain itu, kepada ke-10 buku yang telah lolos seleksi diharapkan untuk tidak perlu bergembira ria terlebih dahulu. Karena seperti sebelum-belumnya, saya tidak janji untuk mengkhatamkan buku yang memang kurang asik. Beda kasus dengan komik, sebuah buku bacaan perlu sesuatu yang wah untuk segera menghindarkan otak saya dari kejenuhan. Jika tidak, maka buku tersebut akan mendapatkan status terendahnya sebagai alas mouse komputer saya..

Dan juga kepada si hape saya, cepatlah sembuh, hari-hari tiada kesan tanpamu… Lagipun, kasian otak dan mata saya jika harus terus-terusan berhadapan dengan buku, takut kecanduan. Kalau kecanduan jadi pengin beli lagi. Padahal uang sudah tak ada. Ginjalpun tak tahu jual kemana. Harga diri entah laku berapa. Mau kerja juga bingung, kerja apa yang cuma modal tampang saja..

Kepada malam, saya juga berterima kasih telah menghadirkan hujan asik yang menambah kekhusyukan saya dalam membaca. Juga kepada PLN, yang entah kerasukan apa sudah jarang mematikan listrik meskipun hujan mendera. Dan yang terutama, terima kasih kepada Bon Jovi, Padi dan Mocca yang sudah mau jauh-jauh datang ke kamar saya untuk duet lewat mp3. Pokokmen, nuhun tenan, rek!


Kepada, yang ter-ngorok..

26 Mei 2016

Sebagai salah seorang pengidap insomnia berpengalaman, saya tentu saja sangat teliti perihal yang menyangkut dunia pertiduran. Jam terbang saya sudah tinggi jika berhubungan masalah beginian. Hampir semua tempat sudah pernah saya tiduri (maap bahasanya vulgar..). Masjid, gunung, pantai, hutan, goa, pohon, berbagai alat transportasi, wc, lobi hotel, halaman rumah, bahkan kantor polisi pun pernah saya tiduri.

Bukannya sombong, meskipun saya sedikit nakal, tapi tentu saja semua tempat yang saya tiduri tersebut tentu saja saya sertai dengan alasannya. Kebanyakan memang karena tubuh saya gampang lelah akibat terlalu sering bepergian. Tapi, seringnya lebih karena suasana yang tenang dan membosankan yang gampang sekali menghipnotis mata saya yang memang terkadang lemah dengan angin sepoi-sepoi..

Bukannya malas, tapi saya selalu mencintai semua kebutuhan biologis yang tercipta secara sistematis ini. Saya mencintai semua hal yang menandai bahwa saya makhluk hidup, seperti makan, tidur, bernafas, main game, buang air, nonton tipi dan ngupil. Semua hal tersebut selalu saya lakukan sepenuh hati.

Ketika tidur, satu-satunya yang saya khawatirkan adalah tubuh saya dan kasur merupakan pasangan magnet yang berbeda kutub. Gravitasinya yang memang setara black hole, membuat saya lemah untuk bergerak. Bisa dibilang, kasur adalah batu kryptone bagi saya..

Kemudian, telinga sayapun dilengkapi fitur otomatis yang bisa menutup sendiri ketika saya sudah tertidur. Karena itulah jam waker ataupun alarm sekelas handphone bukanlah lawan tanding yang pantas untuk telinga saya. Beda level. Minimal, butuh perang nuklir untuk membangunkan saya..

Dan yang paling saya kutuk dalam mencapai proses suci untuk tidur ini adalah terdengarnya suara ngorok. Untuk yang satu ini saya sudah sangat berpengalaman, dan meskipun sudah terbiasa sejak kecil, mendengarkan orang ngorok tetap saja tidak membuat telinga saya terbiasa dan maklum hingga hari ini.

Menurut mitos, hanya ada tiga cara untuk menghindari orang ngorok. Pertama, cari tempat tidur lain. Kedua, tidur duluan sebelum si tukang ngorok beraksi. Ketiga, bungkam tersangka dengan cara terkeji yang pernah kamu pelajari di film-film horor. Itu tips dari saya, silahkan ditiru..

Cara kedua adalah alternatif primer yang sering saya lakukan. Meskipun memang jarang berhasil. Karena sememangnya, Tuhan memberikan saya kemampuan untuk selalu menjadi orang yang terakhir tidur.  Sayangnya, orang-orang jenis ini selalu saja saya temui. Di rumah, di kos, di tenda, di kampus. Seolah-olah saya sudah dikutuk untuk diuji kesabarannya melalui manusia-manusia macam begini.

Untuk kedepannya, saya mohon bagi yang ingin menjadi calon istri saya, tolong sertakan surat lamaran anda dengan verifikasi dari rumah sakit THT terdekat dengan bukti valid yang menyatakan bahwa saluran pernapasan anda tidak terganggu. Karena istri adalah pasangan seumur hidup yang akan selama-lamanya menyertai tidur saya. Jadi tidak ada salahnya sedikit berjaga-jaga..

Untuk sekarang, itu dulu syarat yang bisa saya ajukan. Tentu saja termasuk syarat anak tunggal, min.S2 kedokteran, tidak perlu cantik yang penting bersih dan terawat, punya deposito dan asuransi, hobi berkuda dan bowling, dan usahakan perempuan. Itu saja sudah, terima kasih.


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: