Book Idol 2016


Beberapa hari belakangan hape saya mulai menunjukkan tanda-tanda seolah tidak ingin dizholimi lagi, mereka menolak dijamah dengan trik sering pura-pura mati. Wajar sih, selain memang jarang saya isikan pulsa, hape saya terlalu sering dijadikan objek romusa sebagai game centre ketimbang sebagai alat komunikasi pencari jodoh. Jadilah saya bingung berkegiatan dalam menghadapi hari-hari sebagai pengangguran ceria..

Bergerak sedikit ke sudut kiri kamar, nampak tumpukan buku-buku yang sudah lamaaaaa sekali tidak saya sentuh karena takut dosa, bukan muhrimnya. Dengan tekad separuh bulat, saya beranikan diri ini untuk kembali “melihat-lihat” buku yang dulu saya beli karena cuma tertarik oleh judulnya saja. Ya, sayalah itu manusia yang masih membeli buku berdasarkan judging a book by its cover.. Sama seperti hater-hater di medsos yang baca berita cuma dari headlinenya saja..

Karena kerjaan yang sangat kurang (menghindari istilah kurang kerjaan, -red), saya pilih buku-buku yang (mungkin) akan saya baca dalam menghadapi hari-hari menganggur saya untuk beberapa malam ke depan.

Untuk itu, karena buku-buku yang belum saya baca terlalu banyak, maka saya harus mengadakan seleksi ketat terlebih dahulu demi tercapainya tujuan mulia saya untuk meningkatkan persentase minat baca anak-anak muda keren di Indonesia yang kabarnya sedang ingin terjun bebas.

Karena saya memang orang yang gampangan, maka seleksi pun berjalan cepat dan tanpa pandang bulu (toh bukunya memang tidak ada yang berbulu). Pertama-tama, haruslah menyingkirkan buku-buku tebal. Sudah pasti, buku tebal menurut mata saya adalah buku dengan jumlah halaman yang lebih dari 100 lembar.

Berdasarkan pengalaman, buku jenis ini gampang sekali membuat mata saya menjadi sayu, sendu, terhipnotis dan akhirnya hilanglah kesadaran karena tertidur. Biasanya buku jenis ini didominasi oleh buku kategori sejarah Indonesia yang memang penuh kontroversi dan revisi juga versi. Dan sepertinya, buku-buku saya dengan kategori ini akan terus suci tak terjamah hingga ajalnya tiba. Semoga kamu mati syahid, kawan..

Selain buku-buku tebal, saya juga mengeliminasi buku-buku yang bertema agama. Selain karena pusing, buku-buku agama saya juga terlalu banyak versinya. Dan entah kenapa hampir semua buku agama ini sebagian besar menyindir kaum atheis. Meskipun agama saya Islam, tapi toh bukan berarti saya tidak bisa mempelajari agama lain termasuk atheis. Untuk itulah saya juga mengkoleksi buku agama apapun, versi apapun, negara manapun, tahun berapapun, meskipun yang saya baca cuma kata pengantarnya saja.

Kategori ketiga, saya juga menyingkirkan buku-buku “keras” dan teoritis. Seperti buku-buku tentang sastra, revolusi, biografi, psikologi, dan filsafat tentunya. Buku jenis ini juga dapat mengancam keberpihakan saya terhadap ketenangan. Selain itu, saya juga khawatir adanya penolakan keras dari si otak untuk mencerna buku-buku yang kaku ini. Dan memang, buku-buku di atas membutuhkan pelumas sejenis kopi agar otak saya bisa berjalan lancar tanpa gesekan.

Setelah setengah jam menyortir, terpilihlah sekitar 10 buku yang saya niatkan untuk dibaca ketika malam tiba. Buku hasil seleksi ini sebagian bertema legenda dan mitos seperti buku tentang atlantis dan mitologi aztec. Tapi juga ada kumpulan pertanyaan bodoh macam buku ensiklopedia buruk rupa, andai aku jalan kaki masihkah engkau selalu ada untukku, indonesia jungkir balik, dan berhala itu bernama budaya pop. Serta buku-buku tidak jelas macam tirai hitam vatikan, mistik jepang, unik tapi fakta, pendulum galileo, dan para penghuni bumi sebelum kita.

Buku-buku ini memang belum sempat saya baca atau mungkin sudah dibaca tapi saya lupa atau juga sudah baca tapi belum sampai habis. Dan mereka inilah yang beberapa hari kedepan akan menemani malam-malam sepi saya (aiiihh..) sebagai pengangguran berbakat untuk beberapa bulan ke depan. Juga kepada novel tolong sampaikan, bukannya saya bosan, tapi memang sedang tidak ada yang menarik. Makanya saya puasa dulu mengkonsumsi novel.

Selain itu, kepada ke-10 buku yang telah lolos seleksi diharapkan untuk tidak perlu bergembira ria terlebih dahulu. Karena seperti sebelum-belumnya, saya tidak janji untuk mengkhatamkan buku yang memang kurang asik. Beda kasus dengan komik, sebuah buku bacaan perlu sesuatu yang wah untuk segera menghindarkan otak saya dari kejenuhan. Jika tidak, maka buku tersebut akan mendapatkan status terendahnya sebagai alas mouse komputer saya..

Dan juga kepada si hape saya, cepatlah sembuh, hari-hari tiada kesan tanpamu… Lagipun, kasian otak dan mata saya jika harus terus-terusan berhadapan dengan buku, takut kecanduan. Kalau kecanduan jadi pengin beli lagi. Padahal uang sudah tak ada. Ginjalpun tak tahu jual kemana. Harga diri entah laku berapa. Mau kerja juga bingung, kerja apa yang cuma modal tampang saja..

Kepada malam, saya juga berterima kasih telah menghadirkan hujan asik yang menambah kekhusyukan saya dalam membaca. Juga kepada PLN, yang entah kerasukan apa sudah jarang mematikan listrik meskipun hujan mendera. Dan yang terutama, terima kasih kepada Bon Jovi, Padi dan Mocca yang sudah mau jauh-jauh datang ke kamar saya untuk duet lewat mp3. Pokokmen, nuhun tenan, rek!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: