Runtuhnya Minat Kami


Beberapa siang yang lalu, kebetulan sayanya sedang nonton mata najwa. Saya yang siang itu memang sedang ingin menganggur, seharian cuma nonton tipi saja. Kebetulan mbak Najwa ini punya senyum yang sedikit manis, jadi tidak ada salahnya jika saya meluangkan sedikit waktu menganggur saya khusus buat beliau.

Di akhir acara, mbaknya ini berpesan, dan mengajak semua umat penonton untuk menjadikan aktivitas membaca menjadi menyenangkan. Bahkan memberi tantangan untuk membaca 1 buku tiap 1 minggu kepada para pemirsah dimana pun anda berada. Waw sekali pikir saya. Tantangan yang sangat biasa sekali bagi saya… uhuk.

Sedikit mau sombong, saya ini sering membaca 10 buku dalam satu hari, dulu. Bahkan, pernah saya seharian membaca buku hingga 25 judul dalam sehari (Silahkan yang mau tepuk tangan..). Kalau tidak percaya, tanya saja mas-mas penjaga persewaan komik di depan kampus sastra undip.
***
Berhubungan dengan minat baca masyarakat Indonesia, yang sampai-sampai Mbak Najwa yang tentu saja sangat sibuk itu harus turun tangan untuk mengajak kalian semua ikut membaca memang bikin miris. Bahkan menurut penelitian, rata-rata anak Indonesia yang membaca buku hanya di bawah satu persen. ih.. ih.. ih..

Memang sih, tiap individu punya minat dan bakat masing-masing. Termasuk minat membaca. Biasanya, pembaca buku adalah orang yang pendiam dan cenderung introvert. Sebaliknya, yang tidak suka membaca biasanya tipikal ekstrovert yang riang dan hiperaktif. Jadi jangan juga mengharapkan semua orang berminat untuk membaca.

Kecuali untuk kasus Anggota Dewan Yang Maha Terhormat yang kemaren katanya mau renovasi perpustakaan yang anggarannya sampai setengah triliyun biar jadi ikon sebagai perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. Ada kemungkinan, anggota dewan punya kesimpulan dari otaknya, bahwa perpustakaan yang besar akan berdampak besar pula terhadap imej bahwa mereka tidak bodoh.

Jadi, mungkin karena takut digoblok-goblokin lagi oleh rakyat, mereka memasang perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara sebagai tameng, dan berharap, masyarakat akan memaklumi bahwa orang-orang pintar seperti mereka adalah wajar jika memiliki perpustakaan mewah nan elegan sesuai gaya hidupnya. Yah sudah, kita penuhi saja harapan mereka. Semoga anggota dewan tersebut benar-benar akan menjadi pintar setelah selesainya perpustakaan tersebut.
***
Lanjut ke masalah minat baca, seperti yang saya bilang sebelumnya, minat baca masyarakat kita sangat rendah. Ironisnya, beberapa tahun belakang buku-buku yang terbit malah meningkat. Banyak penulis-penulis buku pemula yang bermunculan, banyak penerbit berdiri, juga banyak buku-buku baru muncul setiap bulannya. Tapi kok minat baca tetap menurun? Korelasinya?

Dengan kesoktahuan saya seperti biasa, saya juga ingin mengajukan teori atas hilangnya para peminat atas bacaan tersebut. Tentu kredibilitas saya sangat boleh untuk diragukan.

Saya adalah orang yang membeli segala macam jenis buku. Mulai dari buku komik sampai buku fisikanya Stephen Hawking. Dari novel teenlit sampai kamasutra. Buku sastra, ekonomi, sejarah, majalah PC, mistis, Natgeo, psikologi, bahkan buku perpustakaan pun  juga saya koleksi. Dengan segala macam jenis bidang yang saya baca, saya menemukan ada masalah penting yang bertanggung jawab atas menghilangnya minat baca ini.

Masalah yang bisa saya prediksi dengan bantuan ramalan BMKG ini kemungkinan adalah mutunya. Atau, anggap saja mutu adalah salah satu masalahnya. Karena kemungkinan masalahnya ada banyak, namun saya sendiri menganggap mutu sebuah buku adalah musuh terbesar hilangnya minat baca masyarakat kita, meskipun tiap bulan para penerbit sudah membombardir toko-toko buku dengan ratusan judul baru.
***
Dulu salah seorang guru SMP saya pernah bilang begini,: Guru itu ada dua jenis; yang pertama, pintar (berpengetahuan) tapi tidak bagus ketika menyampaikan. Kedua, pintar dan bagus dalam penyampaiannya.

Terus terang, pendidikan kita terdominasi oleh guru jenis pertama. Pinter, tapi sangat buruk dalam penyampaian hingga si murid biasanya lebih banyak diam ketika ditanya “ada pertanyaan anak-anak?”. Kemudian, krik..krik..krik.. . Karena sesungguhnya, para murid selalu ada satu pertanyaan untuk diajukan dengan muka serius: “Bu guru ngomong apa tadi?”. Saya perkirakan, kasus di atas sama nasibnya dengan buku kita. Terutama buku-buku yang ditujukan untuk kaum produktif.
***
Beberapa buku sudah berusaha menyelipkan komik, cover nan aduhai, kata-kata mutiara, pengantar dari orang terkenal, humor, juga judul yang sensasional seperti headline koran lampu merah, semuanya demi menarik minat pembaca. Namun, sedikit sekali penulis yang mau memperbaiki fakta bahwa tata bahasanya yang kaku dan lebih mendekati terjemahan Google translate itu.

Dengan gaya bahasa yang datar dan innocent ala pembaca berita TVRI, wajar saja buku-buku kita kehilangan peminatnya. Buku-buku ini lebih mirip ingin ‘mengajari’ ketimbang memberi ilmu. Ditambah lagi minimnya konten pengetahuan di dalam buku, pupus sudah harapan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui buku.

Mutu sebuah buku tidak hanya bergantung pada isi, tetapi juga bagaimana isi itu bisa tersampaikan dan terserap si pembaca sama pentingnya. Ibarat nyari jodoh, beraninya cuma stalking, percuma euy..

Belum lagi buku-buku yang terlalu teoritis dengan pemakaian bahasa dan istilah yang seolah semua pembacanya adalah lulusan Harvard, maklumkan saja jika kegiatan membaca sudah tidak lagi menyenangkan. Kegiatan membaca seolah menjadi aktifitas main catur, bukan lagi kegiatan santai untuk mengisi waktu luang. Jangan heran kalau buku hari-hari ini adalah properti eksklusif bagi kalangan pelajar saja. Bukan untuk petani, bukan untuk anak jalanan, ataupun seorang pemulung. Buku menemukan nasibnya hanya ditangan orang-orang yang makan bangku sekolahan.

Selain itu, buku kita terlalu banyak dijejali sampah-sampah dunia maya. Era digital yang melahirkan wabah kemalasan dimana hasil comot sana-sini dari internet dengan sumber tidak valid pun bisa menjadi sebuah buku. Garis bawahi sumber tidak validnya, bukan internetnya.

Tapi mau bagaimana lagi, selama buku kita masih mengandalkan kuantitasnya, jangan salahkan pembaca yang kehilangan minatnya. Toh, dunia yang dinamis ini lebih banyak menawarkan kesenangan yang lebih menarik ketimbang sebuah buku..

Tidak masalah jika sebuah buku berisi hanya curhatan, atau sekedar basa-basi gosip. Selama konteksnya adalah mengajak orang berminat untuk membaca, menarik adalah syarat mutlak yang harus terpenuhi. Ketertarikan pembaca bisa diakomodir dengan penyampaian yang baik termasuk pemakaian bahasa. Tidak kaku, tidak garing, tidak basi, dan sesantai mungkin. Sip?

Buku adalah juga sebuah karya. Dan sebuah karya selalu berhubungan dengan harga diri. Dipuji atau dicela adalah urusan konsumen. Penulis dan penerbit sudah selayaknya memberi yang terbaik. Jangan salahkan konsumen yang kehilangan minatnya, jika produk tak ada inovasi. Oh, dan harganya tentu saja juga harus menarik..
***
Itulah sebagian pandangan saya terhadap buku. Sebagian pandangan saya yang lain lebih tertuju ke muka Aura Kasih. Tidak usah protes, saya terbiasa adil..

Jadi jangan heran buku kehilangan peminatnya jika bentuk buku pun cuma sekedar “tulisan”. Ibarat mie rebus, tanpa sayur, tanpa telur, tanpa bawang goreng, tanpa ayam, tanpa sosis, tanpa daun bawang.. aih. Mie yang begituan ada sih yang bakal makan, tapi karena terpaksa, bukan karena ingin. Menghilangkan minat.

Saking kehilangan minatnya, seorang mahasiswa sastra saja harus menunggu disuruh dosen dahulu agar memiliki sebuah buku. Itu pun foto kopian, karena diancam tidak boleh masuk kelas tanpa buku pegangan. Bukan, itu bukan saya. Itu mahasiswa sastra yang lain..

Buat mbak Najwa juga, terima kasih atas ajakan membacanya. Tapi, sayanya lebih menyenangkan main coc sekarang. Maaf..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: