Buku Lagi

8 Juni 2016

Entah kerasukan apa saya 3 hari ini tiba-tiba jadi membaca buku: Sejarah Indonesia Modern dari M.C. Ricklefs. Seingat saya, buku ini telah ikut sejak saya kuliah di Semarang. Hingga saya bawa ke Padang tanpa pernah saya buka satu kali pun.

Asal muasalnya juga kurang pasti, sepertinya buku ini hasil rampokan kakak saya di perpustakaan milik kampusnya. Karena saya tahu, Buku dengan tulisan “Milik Negara, Tidak Diperdagangkan” adalah jenis buku yang hanya beredar di tempat bernama perpustakaan dan instansi pemerintah. Dan buku-buku semacam ini memang harus dicuri untuk mendapatkan ilmunya. Ternyata memang bukan cuma saya aib di dalam keluarga ini..

Buku ini bertahun-tahun mematung di rumah hingga saya kepikiran saja untuk dibawa ke Semarang dengan harapan, anak-anak kos akan kagum dengan ketebalan buku yang saya baca. Karena sesungguhnya, buku-buku tebal yang saya miliki itu cuma 5 biji. Dan tiga diantaranya adalah kamus. Jadi harap maklum, namanya juga anak sastra, butuh sedikit pencitraan atas buku-buku yang dimiliki.

Sebenarnya, saya suka pelajaran sejarah. Bahkan, saya lebih menyukai buku sejarah ketimbang buku trik ampuh lulus TOEFL. Yah walaupun buku-buku sejarah yang saya punya lebih banyak yang ala-ala on the spot ketimbang buku sejarah ilmiah. Maka, wajar saja buku Sejarah Indonesia yang tebal sangat itu tak pernah saya lirik sedikitpun isinya.

Pernah sekali saya beli buku sejarah yang ilmiah karya J. Joseph Stockdale: Sejarah Tanah Jawa. Sayang terjemahannya yang masih sekelas Google Translate malah bikin kepala saya KO hingga trauma membaca buku-buku terjemahan.
***

Sebelum  puasa kemaren, sebuah buku dari Seno Gumira A, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, baru sempat saya baca. Dari tanggal beli yang selalu saya tulis di halaman depan buku-buku saya, tercetak  tahun 2008. Artinya sudah 8 tahun sudah buku ini mangkrak dengan tenang di kamar saya.

Di buku ini Seno lebih banyak menceritakan tragedi Timor-timur di jaman Orba dengan sudut pandangnya sebagai wartawan dan sastrawan.

Karena bukunya tipis, sedangkan saya jadi tambah penasaran dengan peristiwa tersebut, maka saya bongkar semua buku-buku sejarah Indonesia yang saya miliki. Maka ketemulah buku Sejarah Indonesia Modern seperti yang saya ceritakan di atas. Buku ini bisa dikatakan lengkap dengan sudut pandang yang netral mengingat banyaknya konflik dan versi dari setiap peristiwa di negara ini.

Karena terjemahannya lumayan bagus dan informasinya yang berlimpah, jadi saja saya tumben membaca buku ilmiah 500 halaman seantusias membaca komik yang memang sangat jarang saya lakukan.

Padahal, sebelumnya saya cuma ingin mencari tahu peristiwa Timor-timur saja. Tapi buku ini membuat pembacanya mau tidak mau harus mulai dari halaman pertama karena konflik sebab-akibat yang mendasari sebuah peristiwa selalu ditulis berhubungan dengan peristiwa di belakangnya. Akhirnya, dengan terpaksa, dari yang cuma ingin tahu sejarah pasca kemerdekaan, dengan malas saya mulai membaca dari awal masuknya Islam ke Indonesia. Dan hari ini, saya baru memasuki bab masuknya VOC. Siwalan tenan
***

Dengan adanya buku tebal ini, saya lumayan santai bisa menghadapi hari-hari berpuasa yang memang tidak ngapa-ngapain. Saya sedikit menyesal, karena ternyata saya memiliki sebuah buku (secara teknis sih, masih milik negara) yang bagus tapi baru sempat terbaca sekarang.

Saya curiga jangan-jangan karena ini bulan puasa maka sisi positif saya bermunculan hingga saya mau saja membaca buku ilmiah tebal lagi membosankan. Jika benar, apakah ini saatnya saya menuntaskan buku-buku Nietzsche dan buku-buku filsafat lainnya? Psikologi Adler? Novel Putu Wijaya? Apakah benar puasa dapat membuat pikiran saya kembali cling dan penuh kebijaksanaan? Apakah ini waktu yang ditunggu-tunggu otak saya untuk membereskan hal-hal sejenis skripsi? Kita tunggu saja 3 hari kedepan, pemirsah…

Semoga otak saya ini, sesuai dengan label SNI nya….

Iklan

Teruntuk Yang Bertahan Menahan

5 Juni 2016

Berbicara bulan puasa, secara rutin kita akan dihidangkan berita-berita dengan tema tahunan semacam penggrebekan hotel, kontroversi penutupan warung-warung pinggir jalan, sidang ishbat yang lagi-lagi mencari hilal, gerilya badan POM ke pasar-pasar tradisional, naiknya harga-harga, kekacauan pembagian zakat, bedanya jadwal NU-Muhammadiyah serta pencemaran makanan oleh zat kimia. Seputaran ituuuu saja, setiap tahun, dari jaman dinosaurus masih pakai popok.

Mulai dari POLRI, TNI, Ormas-ormas lucu, partai politik, Badan POM, Satpol PP dan para pengemis pun jadi lebih banyak disorot kamera, ketimbang pesohor-pesohor tipi yang tiba-tiba terkena sindrom ingin-berganti-kulit-karena-ini-bulan-ramadhan. Lantas, kasus-kasus diatas biasanya diselesaikan dengan satu kalimat penutup yang cukup khidmat, seperti: “untuk menghormati bulan puasa…”. itu bulan puasa apa bendera?

Kesampingkan membahas THR dan mudik karena saya sudah tidak merasakan keduanya lagi.

Inilah bulan dimana volume adzan akan menjadi lebih besar daripada 11 bulan lainnya. Primadona adzan maghrib yang seolah-olah penantian kekasih yang tak kunjung datang selama bertahun-tahun. Di bulan inilah juga masjid-masjid jadi punya penghuni tetap. Bulan istimewa yang juga memaklumkan manusia-manusia bernapas naga.. HAH!!

Oh, jangan lupakan makanan dan minuman khasnya bulan puasa. Tentu saja bersama kemacetan yang dibuat karena penjualnya selalu tak disediakan lapak khusus.

Dan, misteri terjadinya perbaikan jalan raya di setiap hari-hari menjelang Hari Raya. Di seluruh Indonesia. Setiap Tahun. Dengan kondisi tak pernah terselesaikan sesuai deadline.

Kemudian, fenomena mudik yang tetap saja ramai dan penuh huru-hara meskipun menteri perhubungan selalu saja menginfokan tiket transportasi yang selalu saja habis sebelum waktunya.

Hmmm, terus ada juga tragedi zakat yang termasyur. Acara bergenre drama ini meskipun tidak mempunyai plot twist, namun tetap saja lebih menyedihkan daripada nonton drama Korea.

Lalu jangan lupa, ada (selalu ada) ustadz-ustadz yang sepertinya pintar bermain sulap karena kehadirannya yang bisa tiba-tiba muncul entah darimana datangnya. Berbeda dengan negara muslim lainnya, gelar ustadz di Indonesia tidak terlalu sulit untuk didapatkan. Karena itulah produksi ustadz kita begitu signifikan beberapa tahun belakangan.

***

Bulan puasa menjadi suci bukan karena ramadhannya. Bukan juga karena masjid-masjid yang menjadi penuh. Bulan ini suci karena manusianya. Karena kekuatannya dalam menahan serta mengendalikan nafsu. Manusia menyucikan bulan ini dengan perbuatannya. Dengan sikapnya. Dengan pikiran. Bukan dengan jasmaninya, atau penglihatannya, ataupun penciumannya.

Kesucian tidak menular. Jadi kita sendirilah yang mengusahakannya. Begitupun dengan kotor. Baik buruk pikiran tergantung diri sendiri, berhentilah menyalahkan orang lain apalagi warung makan. Kalau dengan nafsu yang berbentuk rumah makan saja bisa kalah, bagaimana mau mengimani sang maha yang besarnya tak terhingga?

Nah, itu dulu laporan saya mengenai tradisi puasa di Indonesia baru-baru ini. Banyak yang memang sudah terjadi berdekade lalu. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ada hingga beberapa dekade ke depan.

Saya hanya memberi gambaran garis besarnya saja, dengan sedikit penjelasan. Jadi maaf saja jika ada yang salah tafsir ataupun kurang paham dengan silogisme sedangkan negeri ini penuh dengan manusia-manusia bersumbu pendeknya.

Saya mau mengatur jadwal ibadah dulu, biar ketika bangun bisa langsung buka. Oh, dan satu lagi. Tolong kepada KPI ataupun stasiun radio seluruh Indonesia, adzan maghribnya tolong dibedakan bunyinya sama adzan yang lain, agar fungsinya mengurangi kejadian-kejadian yang mengenakkan.. :p
.


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: