Sudilah diAminkan

26 Juli 2016

​Pagi-paginya seorang kawan sms saya, “Frans, kemarilah kau”, pesannya. Setengah menggelinjang malas akhirnya berangkat juga sayanya karena semalam kemaren sudah seharian saya bertabur selimut bersembunyi dari perihnya udara dingin bekas hujan yang membabi buta. Tak seperti Hayati, hujan tak pernah lelah bang…

Padahal si kawan ini, kemaren weekend sudah mengundang saya kemping plus mancing di Pulau Pasumpahan,  pulau yang sedang booming di Sumbar. Tentu saja saya tolak masak-masak. Selain uang saya terlalu berharga untuk dihabiskan untuk sekedar berwisata (sekarang, jalan-jalan adalah kebutuhan saya yang ke-257, ga penting-penting amat), bepergian di musim pancaroba seperti sekarang juga terlalu riskan untuk tubuh saya yang mulai manis manja grup.

Karena ajakan pertama sudah saya tolak, akhirnya siang itu saya beranikan diri juga untuk mandi dan memenuhi ajakan keduanya. Ya, saya mandi demi seorang kawan! Itulah yang dinamakan pengorbanan, hai Romeo!!

Setelah traktiran makan berlangsung, saya diajaknya ngopi di atas kapal. Di pinggiran kota padang, di salah satu sudut teluk, mejenglah dua buah kapal pemancingan berukuran sedang bercat putih. Saya yang lumayan sudah lama tidak naik kapal, diam saja dan mulai bernostalgia menikmati goyangan syahdu khas ombak laut sambil mendengarkan kawan saya itu cerita tentang liburannya di Pasumpahan.

Seolah ia punya insting Spiderman, ia mulai mengganti topik karena melihat saya tidak tertarik cerita liburannya. Pembicaraan mulai berganti kepada si pemilik kapal kaya raya yang kapalnya sedang kami jamah ini. Satu kapal pemancingan, satu lagi kapal pengangkut ikan.

Dia bilang, kapal seharga 1 M ini belum apa-apa dibanding rumahnya yang ia tunjuk berada beberapa ratus meter di dekat situ. Rumah tiga tingkat yang terlalu mencolok dengan sekitarnya itu memang terlalu superior dibanding gubuk semi maklum milik nelayan sekitarnya. Ibarat gunung dan upil.

Kawan saya itu berpendapat, dengan uang 1 M, lebih baik saja dibelikan rumah dan disewakan ketimbang membeli kapal yang 10 tahun kemudian akan rusak berkarat. Ia mendebat, jika uang tersebut dibelikan tanah dan bangunan,  setiap tahunnya nanti akan bertambah mahal. Sedangkan kapal, setiap tahun akan mengalami kerusakan. Ia membandingkan pemasukan perbulan antara penghasilan kapal dan profit rumah yang disewakan, bicaranya seolah dia punya gelar S3 Ekonomi saja.

Seperti menunggu pendapat saya, dia hening sebentar. Saya katakan, kalau saya punya uang 1 M, berarti itu pasti bukan saya. Karena saya tidak berminat sama sekali dengan uang. Kalaupun punya uang, pasti saya belikan HP baru buat main game yang lebih canggih. Dia diam. Diam yang kesal. Mungkin jengkel karena kopinya habis, pikir saya.

Lantas, pembicaraan mulai menjurus ke cita-citanya yang ingin ikut kapal pesiar keliling Eropa suatu hari nanti. Berbagai lowongan kerja mengenai kapal di simpannya di HP dan diperlihatkannya ke saya dengan hidung yang sumringah. Dia sangat tertarik untuk menggerus dolar-dolar Amerika itu daripada mati membusuk di tanah kelahirannya ini. Darah perantaunya mulai meninggi jika berbicara perihal kepergian.

Agar obrolan tidak menjadi panggung monolog, ia mulai tanya ke saya, mau kerja apa nanti. Dia ceramahi saya, kau punya banyak pengalaman di lapangan, jangan mau kerja kantoran. Saya jawab, saya mau jadi penjaga di toko buku, atau jadi seniman kayu. Karena saya suka dikelilingi buku dan sepertinya punya bakat dalam mengolah kayu.

Jawaban yang spontan ini mulai menambah garis-garis di keningnya yang lebar itu. Perhitungan saya, mungkin sekitar 37 kerutan lagi masih muat diparkir disitu. Dia ketawa mengejek, keparat betul si kawan ini. Karena di sekitar dermaga masih banyak orang, saya tahan dulu niat buat nyeburin ini orang ke laut.

Saya berdalih, kalau saya harus bekerja, saya tidak peduli dengan gaji. Asal bisa makan, hidup saya sudah senang. Yang saya cari kesenangan saja. Bekerja yang menyenangkan hati lebih baik ketimbang bekerja demi menyenangkan orang lain. Karena lagi malas berfilsafat atas nama alasan yang logis, saya mulai pura-pura berkeliling kapal kalau-kalau ada putri duyung yang lewat.

Bersama gelas kopi di tangan, kawan saya itu mulai berjalan mengikuti pergerakan saya dari belakang. Membuntuti seakan meminta pertanggungjawaban. Seakan tidak percaya dengan jawaban yang mungkin belum bisa ia terima dengan lapang dada. Sepertinya ia lupa mendownload lagu sheila on7 yang baru.

Ia ingin membantah, bahwa tidak akan ada manusia di jaman sekarang yang tidak membutuhkan uang. Semua mahal, katanya. Bahkan Semua orang di desa sudah pakai internet. Terus saya ulurkan tangan buat salaman, saya bilang, “selamat, kamu sudah ketemu satu..”.

– Padang, yang masih serasa Alaska –

*berdasarkan kisah nyata, dengan balutan dialog palsu, dan beberapa scene yang disensor karena weleh-welehnya sanitasi perumahan sekitar.

Iklan

A Night Writer

23 Juli 2016

Saya kira, setujulah anda-anda semua seharusnya jika saya berargumen bahwa panggung utama sebuah malam adalah kesunyiannya..

Sebagai salah seorang insomniator terbaik di negeri ini, saya memuja malam layaknya idola sejati. Saya menunggunya, mengharapnya,  dimanapun, setiap hari, tak pernah bosan, bagai seorang pria yang menunggu kata maaf dari sang wanita.

Yang saya tunggu dari malam justru ketiadaan akan apa-apanya. Kosong, yang lantas bisa diisi dengan apa saja. Beberapa orang akan menyebutnya sebagai begadang, termasuk si Pak Haji. Ibarat penganut Buddha, saya sedang ingin menuju ketentraman jiwa sebagai bentuk tertinggi pencapaian seorang manusia.

Tentu saja banyak yang tak sepaham dengan argumen saya di atas, tapi apa boleh buat, saya penganut mahzab Bodo Amat. Kecuali Jessica Alba yang protes, itu baru masalah besar buat saya.

Sehubung dengan kesunyian malam, elok nian jika diri ini mampu menghabiskan semalaman untuk menulis. Menulis apa saja. Dengan lingkungan yang selayaknya pasar, tentu maklum jika saya mampu mencapai konsentrasi maksimal saya saat sekeliling menjadi hening dan tanpa bunyi jangkrik sekalipun.
Benarlah itu bagi saya untuk sekedar menulis status di BBM pun butuh konsentrasi dan ketenangan tanpa bawa-bawa emosi juga pun seserahan. Untuk menghindari cap sebagai pria gagah nan labil, tentu saya harus menghindari hal-hal yang berbau amarah maupun sentimentil ketika menulis. Biar pencitraan saya sebagai calon menantu yang bijaksana nantinya mampu tercapai.

Adapun kegiatan saya setiap harinya akan dimulai pada saat tepat di tengah malam. Hal ini direncanakan agar bersamaan dengan terlelapnya orang-orang beserta semua jenis candu elektronik mereka. Dengan begitu, tibalah saya sebagai Batman akan bergantian menjaga malam, dimulai dengan lantunan mp3 yang selalu dibuka Somewhere I Belong-nya Linkin’ Park.

Cukup dengan volume yang 50 persen, saya mulai menggeliat menjadi manusia produktif. Mulai dari main game, gitaran, nonton film, bongkar lemari ataupun sekedar nongkrong bersama kopi dan rokok.  Tapi tetap, kebanyakan saya habiskan malam dengan menulis. Karena malam yang sepi lebih tenang untuk dinikmati. Lebih pas untuk berimajinasi. Cocok, seperti djarum super dan mulut saya. Klop sudah.

Kalaupun harinya sedang hujan, maka bertambah gembiralah hati saya ini. Hujan, malam, musik, dan kopi. Oh, surga benar itu. Tambah lagi ada calon istri, aihhhh…

Memang, sebagai penikmat malam garis keras, saya seringkali terbentur dengan norma masyarakat karena dianggap ‘melanggar kebiasaan’. Saya menjadi makhluk nocturnal yang kebanyakan  sering dijalankan anak-anak kost. Kebiasaan ini terus saja melekat hingga jam biologis badan saya pun pasrah dan malah manut.

Maka kacaulah hidup saya dihadapan masyarakat. Tidur jam 6 dan bangun jam 1 siang dianggap tidak lazim. Walaupun secara kesehatan saya sudah tidur sesuai standar, ibadah pun tidak terganggu, makan mie tiap hari, kegiatan lain juga lancar saja, tapi tetap saja perbedaan ini dianggap tidak normal dan mungkin mengganggu hingga banyak juga yang protes.

Sudah nasib sebagai orang Sudra, tentu saja saya harus mengalah. Saya yang tak pernah paham tentang kebebasan ini, akhirnya harus tetap saja tunduk kepada siapa saja yang dianggap lebih tinggi dari saya. Rutinitas terpaksa saya rombak dan mengacu kepada standar hidup ala masyarakat normal..

Dan saya takutnya, ujung-ujungnya nantipun saya harus berseragam ataupun berdasi supaya saya dianggap beradab sebagai pekerja. Lantas saya di standarkan hidupnya dengan keadaan sekeliling, lalu matilah bhineka tunggal ika yang sejatinya bukan hanya paham tentang perbedaan manusia dari luarnya saja..

Semoga saja pemujaan saya kepada malam tidak akan hilang hanya karena ‘kenormalan’ ini. Dan semoga, malam tetaplah menjadi  malam seperti kata Pas Band. Dan akan selalu saja menjamu penikmatnya dengan berbagai pesona mistik yang tak terjelaskan..

– Padang yang sudah pagi – 

Dengan diisi 23 derajat celcius menurut HP saya.


Cuma Mabuk, Tidak Judi.

22 Juli 2016

​Sebenar-benarnya, banyak hal yang membuat saya sama sekali tidak berminat untuk mudik pada lebaran kemaren. Yah meskipun pada akhirnya, banyak hal juga yang mengharuskan saya kemudian jadi ikutan mudik. Salah satu faktornya yang membuat saya tidak ingin mudik adalah capek. Secapek menjadi bassistnya System of a Down. Dan yang pasti, kendaraan yang harus saya naiki itu. Terutama mobil kakak saya.. duh…

Meskipun baru, seperti kebanyakan mobil lain di Indonesia, mobil kakak saya ini terlalu sering dipanaskan dalam keadaan pintu dan jendela yang tertutup. Menurut para ahli THT kenalan saya di pesbuk, mobil yang terlalu lama dibiarkan dengan kondisi tersebut, ditambah lagi sering diparkir di terik matahari tanpa diberi ventilasi udara, maka jangan harap parfum pun mampu membumihanguskan bau apeknya tersebut. Sumpek pek..

Sejak Majapahit berkuasa, saya ini malas sekali kalau harus naik mobil ketika melakukan perjalanan jauh, lebih-lebih angkutan umum. Karena rata-rata transportasi jarak jauh di Indonesia selalu punya pola yang sama: Pengap non-sirkulasi, padat bertumpuk ala sarden, aroma terapi keringat, hawa terik nan tidak beradab, berjejalan dan sedikit lumayan dari kandang ayam.

Saya dibekali Tuhan dengan indera penciuman yang amat sensitip dan indera penglihatan yang teramat masa bodo. Karena itulah kadang saya sangat kritis terhadap pengguna parfum dan bisa saja sangat cuek jika melihat kotoran pun sejenis orang muntah.

Bukanlah saya ini seolah jijik ataupun sok borjuis, tapi memang aroma-aroma tidak lazim tersebut dapat memicu ledakan asam lambung di perut saya yang manja, dan memang sepertinya saya tidak sendirian dalam hal ini. Mual, mulas, kerongkongan kering, mata berair, perut panas, dan klimaksnya akan berujung pada muntah-muntah nan tak kunjung usai.

Trauma ini dihadirkan sejak kecil oleh ayah saya yang sebenarnya bukanlah orang yang terlalu peduli dengan kesehatan. Hal ini akhirnya terbawa-bawa ke mobilnya yang tak pernah bersih dan terkesan selalu menistakan urusan hidung. Bertahun-tahun saya dipaksa naik mobil dengan keadaan yang seperti itu tidak lantas membuat saya maklum ataupun terbiasa. Justru keadaan yang mirip siksaan tersebut malah melemahkan mental saya terhadap kendaraan-kendaraan bernasib serupa .

Apalagi didukung topografi jalan Pulau Sumatera yang selalu saja berkelok-kelok tak teratur, naik turun membabat alas, serta lubang-lubang yang tak kunjung usai diperbaiki. Jadilah jalur darat lintas Sumatera ini terkenal sebagai jalan setan yang selalu saja menggoda untuk dimaki-maki. Tak ada pengalaman menyenangkan jika harus bepergian jauh via darat di Pulau Sumatera.

Pernah saya berpikir, kondisi jalan di Sumatera yang seperti ini merupakan konspirasi terselubung  antara produk antimo, toko obat maag, produsen kantong plastik dan pabrik minyak angin. Entahlah, semoga saya salah..

Karena itulah saya dulu ketika masih sering keliling Jawa dengan kereta api, saya selalu lebih memilih duduk di dekat pintu ataupun diantara sambungan gerbong yang memang menyediakan udara lebih untuk dihirup. Juga ketika saya naik kapal laut, saya lebih memilih geladak atas ketimbang kamar yang memang telah disediakan. Kawasan-kawasan seperti itu selain memudahkan saya cepat tertidur dan melupakan mual, juga akan memberikan saya kebebasan merokok yang berfungsi untuk menyamarkan bau-bauan yang memang sangat menguji daya tahan hidung tercinta.

Begitupun dengan bus dan mobil-mobil travel, tidak jauh berbeda menawarkan aroma-aroma khas yang hanya dikenali pejuang-pejuang mental seperti saya. Keadaan ini akan bertambah mengharukan jikalau si supir adalah sejenis manusia labil yang mengira dirinya sedang berada di sirkuit balap F1.

Oleh karenanyalah, peristiwa mudik kadang membuat saya serba salah. Ikut atau tidak, selalu harus ada pengorbanan yang genrenya kadang sentimentil mengharukan. Selain tidak menikmati apa-apa, sekedar memikirkan jalan yang akan dilalui saja sudah cukup membuat perut saya mual dan menaikkan asam lambung hingga ke hidung. Oh hidung.. oh perut.. oh Citra Kirana

Semoga saja pak Jokowi serta presiden-presiden Indonesia selanjutnya segera menyadari kemualan ini dan lantas dibikinkannya arena Flying Fox atau sejenisnya untuk memperlancar perjalanan antar provinsi bagi umat-umat di Pulau Sumatera ketimbang mendanai proyek perbaikan jalan tahunan abadi tanpa henti. Karena, daripada berharap pada pemda setempat untuk masalah ini, sepertinya lebih mudah berharap jika Metallica rilis album religi saja…


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: