Cuma Mabuk, Tidak Judi.


​Sebenar-benarnya, banyak hal yang membuat saya sama sekali tidak berminat untuk mudik pada lebaran kemaren. Yah meskipun pada akhirnya, banyak hal juga yang mengharuskan saya kemudian jadi ikutan mudik. Salah satu faktornya yang membuat saya tidak ingin mudik adalah capek. Secapek menjadi bassistnya System of a Down. Dan yang pasti, kendaraan yang harus saya naiki itu. Terutama mobil kakak saya.. duh…

Meskipun baru, seperti kebanyakan mobil lain di Indonesia, mobil kakak saya ini terlalu sering dipanaskan dalam keadaan pintu dan jendela yang tertutup. Menurut para ahli THT kenalan saya di pesbuk, mobil yang terlalu lama dibiarkan dengan kondisi tersebut, ditambah lagi sering diparkir di terik matahari tanpa diberi ventilasi udara, maka jangan harap parfum pun mampu membumihanguskan bau apeknya tersebut. Sumpek pek..

Sejak Majapahit berkuasa, saya ini malas sekali kalau harus naik mobil ketika melakukan perjalanan jauh, lebih-lebih angkutan umum. Karena rata-rata transportasi jarak jauh di Indonesia selalu punya pola yang sama: Pengap non-sirkulasi, padat bertumpuk ala sarden, aroma terapi keringat, hawa terik nan tidak beradab, berjejalan dan sedikit lumayan dari kandang ayam.

Saya dibekali Tuhan dengan indera penciuman yang amat sensitip dan indera penglihatan yang teramat masa bodo. Karena itulah kadang saya sangat kritis terhadap pengguna parfum dan bisa saja sangat cuek jika melihat kotoran pun sejenis orang muntah.

Bukanlah saya ini seolah jijik ataupun sok borjuis, tapi memang aroma-aroma tidak lazim tersebut dapat memicu ledakan asam lambung di perut saya yang manja, dan memang sepertinya saya tidak sendirian dalam hal ini. Mual, mulas, kerongkongan kering, mata berair, perut panas, dan klimaksnya akan berujung pada muntah-muntah nan tak kunjung usai.

Trauma ini dihadirkan sejak kecil oleh ayah saya yang sebenarnya bukanlah orang yang terlalu peduli dengan kesehatan. Hal ini akhirnya terbawa-bawa ke mobilnya yang tak pernah bersih dan terkesan selalu menistakan urusan hidung. Bertahun-tahun saya dipaksa naik mobil dengan keadaan yang seperti itu tidak lantas membuat saya maklum ataupun terbiasa. Justru keadaan yang mirip siksaan tersebut malah melemahkan mental saya terhadap kendaraan-kendaraan bernasib serupa .

Apalagi didukung topografi jalan Pulau Sumatera yang selalu saja berkelok-kelok tak teratur, naik turun membabat alas, serta lubang-lubang yang tak kunjung usai diperbaiki. Jadilah jalur darat lintas Sumatera ini terkenal sebagai jalan setan yang selalu saja menggoda untuk dimaki-maki. Tak ada pengalaman menyenangkan jika harus bepergian jauh via darat di Pulau Sumatera.

Pernah saya berpikir, kondisi jalan di Sumatera yang seperti ini merupakan konspirasi terselubung  antara produk antimo, toko obat maag, produsen kantong plastik dan pabrik minyak angin. Entahlah, semoga saya salah..

Karena itulah saya dulu ketika masih sering keliling Jawa dengan kereta api, saya selalu lebih memilih duduk di dekat pintu ataupun diantara sambungan gerbong yang memang menyediakan udara lebih untuk dihirup. Juga ketika saya naik kapal laut, saya lebih memilih geladak atas ketimbang kamar yang memang telah disediakan. Kawasan-kawasan seperti itu selain memudahkan saya cepat tertidur dan melupakan mual, juga akan memberikan saya kebebasan merokok yang berfungsi untuk menyamarkan bau-bauan yang memang sangat menguji daya tahan hidung tercinta.

Begitupun dengan bus dan mobil-mobil travel, tidak jauh berbeda menawarkan aroma-aroma khas yang hanya dikenali pejuang-pejuang mental seperti saya. Keadaan ini akan bertambah mengharukan jikalau si supir adalah sejenis manusia labil yang mengira dirinya sedang berada di sirkuit balap F1.

Oleh karenanyalah, peristiwa mudik kadang membuat saya serba salah. Ikut atau tidak, selalu harus ada pengorbanan yang genrenya kadang sentimentil mengharukan. Selain tidak menikmati apa-apa, sekedar memikirkan jalan yang akan dilalui saja sudah cukup membuat perut saya mual dan menaikkan asam lambung hingga ke hidung. Oh hidung.. oh perut.. oh Citra Kirana

Semoga saja pak Jokowi serta presiden-presiden Indonesia selanjutnya segera menyadari kemualan ini dan lantas dibikinkannya arena Flying Fox atau sejenisnya untuk memperlancar perjalanan antar provinsi bagi umat-umat di Pulau Sumatera ketimbang mendanai proyek perbaikan jalan tahunan abadi tanpa henti. Karena, daripada berharap pada pemda setempat untuk masalah ini, sepertinya lebih mudah berharap jika Metallica rilis album religi saja…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: