Sudilah diAminkan


​Pagi-paginya seorang kawan sms saya, “Frans, kemarilah kau”, pesannya. Setengah menggelinjang malas akhirnya berangkat juga sayanya karena semalam kemaren sudah seharian saya bertabur selimut bersembunyi dari perihnya udara dingin bekas hujan yang membabi buta. Tak seperti Hayati, hujan tak pernah lelah bang…

Padahal si kawan ini, kemaren weekend sudah mengundang saya kemping plus mancing di Pulau Pasumpahan,  pulau yang sedang booming di Sumbar. Tentu saja saya tolak masak-masak. Selain uang saya terlalu berharga untuk dihabiskan untuk sekedar berwisata (sekarang, jalan-jalan adalah kebutuhan saya yang ke-257, ga penting-penting amat), bepergian di musim pancaroba seperti sekarang juga terlalu riskan untuk tubuh saya yang mulai manis manja grup.

Karena ajakan pertama sudah saya tolak, akhirnya siang itu saya beranikan diri juga untuk mandi dan memenuhi ajakan keduanya. Ya, saya mandi demi seorang kawan! Itulah yang dinamakan pengorbanan, hai Romeo!!

Setelah traktiran makan berlangsung, saya diajaknya ngopi di atas kapal. Di pinggiran kota padang, di salah satu sudut teluk, mejenglah dua buah kapal pemancingan berukuran sedang bercat putih. Saya yang lumayan sudah lama tidak naik kapal, diam saja dan mulai bernostalgia menikmati goyangan syahdu khas ombak laut sambil mendengarkan kawan saya itu cerita tentang liburannya di Pasumpahan.

Seolah ia punya insting Spiderman, ia mulai mengganti topik karena melihat saya tidak tertarik cerita liburannya. Pembicaraan mulai berganti kepada si pemilik kapal kaya raya yang kapalnya sedang kami jamah ini. Satu kapal pemancingan, satu lagi kapal pengangkut ikan.

Dia bilang, kapal seharga 1 M ini belum apa-apa dibanding rumahnya yang ia tunjuk berada beberapa ratus meter di dekat situ. Rumah tiga tingkat yang terlalu mencolok dengan sekitarnya itu memang terlalu superior dibanding gubuk semi maklum milik nelayan sekitarnya. Ibarat gunung dan upil.

Kawan saya itu berpendapat, dengan uang 1 M, lebih baik saja dibelikan rumah dan disewakan ketimbang membeli kapal yang 10 tahun kemudian akan rusak berkarat. Ia mendebat, jika uang tersebut dibelikan tanah dan bangunan,  setiap tahunnya nanti akan bertambah mahal. Sedangkan kapal, setiap tahun akan mengalami kerusakan. Ia membandingkan pemasukan perbulan antara penghasilan kapal dan profit rumah yang disewakan, bicaranya seolah dia punya gelar S3 Ekonomi saja.

Seperti menunggu pendapat saya, dia hening sebentar. Saya katakan, kalau saya punya uang 1 M, berarti itu pasti bukan saya. Karena saya tidak berminat sama sekali dengan uang. Kalaupun punya uang, pasti saya belikan HP baru buat main game yang lebih canggih. Dia diam. Diam yang kesal. Mungkin jengkel karena kopinya habis, pikir saya.

Lantas, pembicaraan mulai menjurus ke cita-citanya yang ingin ikut kapal pesiar keliling Eropa suatu hari nanti. Berbagai lowongan kerja mengenai kapal di simpannya di HP dan diperlihatkannya ke saya dengan hidung yang sumringah. Dia sangat tertarik untuk menggerus dolar-dolar Amerika itu daripada mati membusuk di tanah kelahirannya ini. Darah perantaunya mulai meninggi jika berbicara perihal kepergian.

Agar obrolan tidak menjadi panggung monolog, ia mulai tanya ke saya, mau kerja apa nanti. Dia ceramahi saya, kau punya banyak pengalaman di lapangan, jangan mau kerja kantoran. Saya jawab, saya mau jadi penjaga di toko buku, atau jadi seniman kayu. Karena saya suka dikelilingi buku dan sepertinya punya bakat dalam mengolah kayu.

Jawaban yang spontan ini mulai menambah garis-garis di keningnya yang lebar itu. Perhitungan saya, mungkin sekitar 37 kerutan lagi masih muat diparkir disitu. Dia ketawa mengejek, keparat betul si kawan ini. Karena di sekitar dermaga masih banyak orang, saya tahan dulu niat buat nyeburin ini orang ke laut.

Saya berdalih, kalau saya harus bekerja, saya tidak peduli dengan gaji. Asal bisa makan, hidup saya sudah senang. Yang saya cari kesenangan saja. Bekerja yang menyenangkan hati lebih baik ketimbang bekerja demi menyenangkan orang lain. Karena lagi malas berfilsafat atas nama alasan yang logis, saya mulai pura-pura berkeliling kapal kalau-kalau ada putri duyung yang lewat.

Bersama gelas kopi di tangan, kawan saya itu mulai berjalan mengikuti pergerakan saya dari belakang. Membuntuti seakan meminta pertanggungjawaban. Seakan tidak percaya dengan jawaban yang mungkin belum bisa ia terima dengan lapang dada. Sepertinya ia lupa mendownload lagu sheila on7 yang baru.

Ia ingin membantah, bahwa tidak akan ada manusia di jaman sekarang yang tidak membutuhkan uang. Semua mahal, katanya. Bahkan Semua orang di desa sudah pakai internet. Terus saya ulurkan tangan buat salaman, saya bilang, “selamat, kamu sudah ketemu satu..”.

– Padang, yang masih serasa Alaska –

*berdasarkan kisah nyata, dengan balutan dialog palsu, dan beberapa scene yang disensor karena weleh-welehnya sanitasi perumahan sekitar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: