​Negeri Riya Suatu Ketika

23 Agustus 2016

Di suatu negeri yang katanya ingin makmur, hiduplah manusia-manusia yang lapar akan eksistensi. Semacam membangun kepercayaan diri di atas tumpukkan kekaguman orang-orang.
Potretnya disindir keras dengan guyonan ala meme; Neil Armstrong ke bulan cuma ngambil 5 foto, dan wanita, ke kamar mandi bisa ngambil sampai 23 foto..

Itulah gambaran negeri tersebut hari-hari ini. Yang aktivitasnya diisi dengan anak-anak muda yang masih ngeshare sana-sini sebuah berita lebih karena ingin terlihat berwawasan dihadapan kawan-kawan mayanya. Apa pun dishare, karena judulnya yang bombastis asoy tapi persetan dengan isinya. Seolah wartawan yang tidak kesampaian.. Terlihat seperti Buzzer level taman kanak-kanak.

Manusia model beginilah yang sering digunakan pakar-pakar IT untuk mewabahkan isu-isu dunia maya yang abal-abal untuk mengguncang negeri ini mulai dari kampanye hitam sampai masalah konyol kenaikan harga rokok yang melampaui 200 persen itu.

Oh, tentu tidak hanya media sosial tempat beriya-ria bisa dilakukan. Negeri ini juga menyediakan dunia nyata sebagai tempat memompa dada rakyatnya agar bisa berjalan dengan gagah berwibawa di sekitar lingkungannya.

Lihatlah nama yang tertera di undangan kawin misalnya. Segala macam titel bertumpuk di sana.  Mulai dari bapaknya yang Haji, sampai anaknya yang menderetkan titel keserjanaan S1 sekaligus S2 bahkan S3 nya sekalian. Kalaupun Menristek bikin sarjana sampai S6, jangan heran itu undangan bisa saja berbentuk Buku Amdal..

Ah, kalian-kalian pasti berpikir saya sedang iri karena belum lulus apalagi kawin. Tidak, kawan.. saya tidak sepicik itu. Tolong jangan bersu’udzhon begitu meskipun kalian sedikit benar…

Gelar Haji misalnya. Orang-orang di Negeri ini (juga beberapa negara Asia lainnya), menjadikan rukun Islam yang terakhir ini sebagai gelar. Jika pun belum haji, dengan modal beberapa kali ceramah saja, akan dapatlah ia gelar Ustadz. Dan bagian lucunya, gelar tersebut akan selalu bersanding lekat dari kartu undangan hingga ke KTP bahkan ke batu nisannya.

Dari ke 5 rukun Islam yang ada, kenapa cuma Haji yang boleh nempel sama nama seseorang? Puasa kan juga rukun Islam.. Gak sekalian habis Ramadhan pakai gelar puasa di depan nama biar tambah panjang? Apa karena dari kesemua rukun, cuma Haji yang menandakan seseorang punya uang untuk naik pesawat terbang? Tanda sudah pernah ke luar negeri? Onta dari lahir udah di Arab juga ga pernah tuh dapat gelar Haji..

Tidak hanya titel Haji, para akademisi yang konon adalah pondasi kejayaan sebuah negara pun juga kadang ingin tampil berpanjang nama. Seperti kakak saya itu, sudahlah gelarnya S2, tapi gelar S1 nya masih saja nempel tidak ingin lepas. Bahkan ada yang sudah bergelar doktor pun, gelar S1 nya masih juga ngikut. Ibarat kalau ditanya, “Adek kelas berapa sekarang?”, “Kelas 123456 SD, om..”. DYAARRR!

Di jaman yang katanya kontemporer ini, selain beberapa kasus di atas, negeri ini juga diisi candu eksistensi akut demi popularitas. Anak-anak muda sebagai tulang punggung negara sudah  menasbihkan dirinya untuk dibuai akan utopia negeri pemimpi.

Serasa selebritis, mereka menanamkan di dalam pikiran selalu bahwa orang-orang selalu ingin tahu kesehariannya, apa saja yang ia makan, ke mana saja ia pergi, di mana saja ia kencing, kapan saja ia potong kuku, berapa kali sehari sikat gigi.. Pokoknya dunia harus tahu. Biar elo tauk siapa guwehhh.. !!

Mereka membuat alam papparazinya sendiri dengan meyakinkan diri lewat dirinya sendiri. Bahwa orang-orang akan selalu melihat, mengawasi, dan memperhatikan. Tipikal manusia jajahan kelas bawah. Mental pribumi rasa priyayi. Dasar oknum inlander.. Selalu merasa dicurigai.

Semua di atas itu adalah contoh pamer. Yang kalau ditambahkan akhiran /–an akan menjadi pameran. Pameran itu ya… diliatin orang, dikomentari, dikritik, digosipin, dinganu-nganulah…. Jadi ya, jangan marahlah ya yang kena sentil. Namanya juga penonton, euy…


Kalau Buku Bisa Ngomong

2 Agustus 2016

​Dulu, ada sebuah masa dimana saya pernah berpikir bahwa menjadi penulis buku itu asik lagi menguntungkan.

Saya tahu, di negeri ini jangankan untuk menulis buku, untuk sekedar mengirimkan naskah atau sebuah opini di koran lokal saja persaingannya begitu gila dan makan waktu berbulan-bulan dan harus berkali-kali ditolak (Ada indikasi bahwa yang memegang kuasa atas penolakan naskah tersebut adalah wanita, tau sendirilah wanita…).

Dengan data seperti itu, otak saya lantas menyimpulkan bahwa seorang penulis buku (yang bukunya sudah terbit) pastilah makmur nan jaya hidupnya. Kalau tidak, ngapain terus-terusan ngeyel berkirim naskah dengan kompetisi ketat ala pengantri zakat begitu?

Saya juga tahu, tidak semua orang mampu menyelesaikan sebuah buku dalam hitungan bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun dalam proses riset dan observasi. Karena itulah wajar jika seorang penulis ada yang ingin menjadikan kegiatan menulisnya sebagai satu-satunya kegiatan ataupun penyangga nafkah hidup.

Jadi, maklumkan saja jika ada penulis yang tidak bisa menjadikan kegiatan menulis hanya menjadi aktifitas sampingan ataupun sekedar hobi. Sama seperti musisi dan pekerjaan seni lainnya, kecuali model sama SPG rokok pokoknya. Selalu ada orang-orang yang fokus tanpa mau terganggu bahkan dengan urusan biologis seperti kelaparan. Orang-orang ini bukan ambisius, mereka hanyalah perlu konsentrasi tinggi demi melahirkan karya yang baik.

Kenyataan pahit yang baru saya ketahui ternyata oh ternyata, dalam setahun ada seratus penulis yang bukunya bestseller, tapi dibalik itu ada seratus ribu penulis lain yang menangis karena royalti yang menyedihkan. Ih.. ih.. ih..

Sebuah buku, yang diterbitkan dengan jalur normal biasanya akan mendapati rute sebagai berikut: Penulis – Penerbit – Distributor – Toko buku – Pembaca. Cukup panjang memang. Penulis memberikan naskah ke penerbit, penerbit memutuskan dicetak atau tidak, distributor menyalurkan buku ke penjual, toko buku menawarkan ke pelanggan, pembaca akan membeli. Tamat.

Dengan panjangnya jalur yang harus dilalui sebuah buku, tidak heran jika seorang penulis hanya mendapatkan royalti hanya sebesar 6 – 10%, dan di beberapa kasus akan mencapai 12%. Itupun dibayarkan 2 kali dalam setahun.

Jadi semisal, sebuah buku dengan harga Rp. 30 ribu dengan royalti 10%, maka 1 buku dijatah Rp. 3 ribu. Jika 1.000 buku terjual berarti dapat 3 juta. Dibayar 2x setahun = Rp. 1,5 juta. Sebulan = Rp. 250 ribu. Hmmm…

 Artinya, gaji perbulan seorang penulis yang bukunya laku terjual 1.000 biji adalah Rp. 250 ribu. Sukur kalo royaltinya 10%, lha kalo cuma 6 %?. Mau makan apa Gita gutawa nanti? Mending jadi kang parkir deh…

Dengan kasus seperti diatas, fenomena-fenomena seperti menulis hanya sebagai hobi, atau karya sebagai kerja sampingan, ataupun mutu sesuai deadline adalah bisa dimaklumkan dalam dunia literatur kita hari ini. Mau tidak mau, idealisme selalu ada yang tumbang jika berhadapan dengan hidup. Toh, tiap solusi hanya berguna tergantung individu masing-masing. Jangan heran jika derajat buku mulai terpinggirkan.

Memang agak sulit menemukan solusi lain daripada memutus jalur distribusi yang panjang. Buku yang kemahalan, akan mengurangi daya beli konsumen. Buku yang kemurahan, akan membatasi hak hidup si penulis. Buku yang harganya sedangpun, akan membuat si penulis akan berpikir ulang untuk tetap menjadikan menulis sebagai pekerjaan dan konsekuensinya, penulis akan tergoda untuk beralih kerja demi kehidupan yang lebih baik..

Dan sekarang, sayapun tergoda untuk menyimpulkan bahwa, menulis buku itu asik tapi kurang menguntungkan. Bukannya saya ingin meruntuhkan niat orang-orang untuk membuat buku, tapi hanya membeberkan sedikit konsekuensi yang menghalang jika seseorang ingin menulis sebuah buku. Tentu itu sebatas masalah finansial, tapi secara tidak langsung itu juga adalah urusan biologis yang selanjutnya akan menjadi masalah psikologis, dan ujung-ujungnya akan mentok ke urusan agamis.

Dan kepada kawan-kawan yang sudah menerbitkan buku, semoga tetap konsisten dengan karya dan pilihan hidupnya. Dan kepada yang baru ingin menulis buku, saya harap, ada baiknya belajar ilmu ikhlas terlebih dahulu agar terhindar dari penyakit hati yang melenakan. Karena sesungguhnya, semua pekerjaan selalu punya dindingnya masing-masing, tinggal kita ingin memilih untuk menjadi palu, atau menjadi tissue toilet.

Saya? Hmm…mungkin saya akan menulis buku juga. Tapi tidak hari ini. Tidak juga besok. Saya mah tetap nunggu instruksi presiden dulu, soalnya sekarang kalo ngritik butuh ijin…


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: