Kalau Buku Bisa Ngomong


​Dulu, ada sebuah masa dimana saya pernah berpikir bahwa menjadi penulis buku itu asik lagi menguntungkan.

Saya tahu, di negeri ini jangankan untuk menulis buku, untuk sekedar mengirimkan naskah atau sebuah opini di koran lokal saja persaingannya begitu gila dan makan waktu berbulan-bulan dan harus berkali-kali ditolak (Ada indikasi bahwa yang memegang kuasa atas penolakan naskah tersebut adalah wanita, tau sendirilah wanita…).

Dengan data seperti itu, otak saya lantas menyimpulkan bahwa seorang penulis buku (yang bukunya sudah terbit) pastilah makmur nan jaya hidupnya. Kalau tidak, ngapain terus-terusan ngeyel berkirim naskah dengan kompetisi ketat ala pengantri zakat begitu?

Saya juga tahu, tidak semua orang mampu menyelesaikan sebuah buku dalam hitungan bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun dalam proses riset dan observasi. Karena itulah wajar jika seorang penulis ada yang ingin menjadikan kegiatan menulisnya sebagai satu-satunya kegiatan ataupun penyangga nafkah hidup.

Jadi, maklumkan saja jika ada penulis yang tidak bisa menjadikan kegiatan menulis hanya menjadi aktifitas sampingan ataupun sekedar hobi. Sama seperti musisi dan pekerjaan seni lainnya, kecuali model sama SPG rokok pokoknya. Selalu ada orang-orang yang fokus tanpa mau terganggu bahkan dengan urusan biologis seperti kelaparan. Orang-orang ini bukan ambisius, mereka hanyalah perlu konsentrasi tinggi demi melahirkan karya yang baik.

Kenyataan pahit yang baru saya ketahui ternyata oh ternyata, dalam setahun ada seratus penulis yang bukunya bestseller, tapi dibalik itu ada seratus ribu penulis lain yang menangis karena royalti yang menyedihkan. Ih.. ih.. ih..

Sebuah buku, yang diterbitkan dengan jalur normal biasanya akan mendapati rute sebagai berikut: Penulis – Penerbit – Distributor – Toko buku – Pembaca. Cukup panjang memang. Penulis memberikan naskah ke penerbit, penerbit memutuskan dicetak atau tidak, distributor menyalurkan buku ke penjual, toko buku menawarkan ke pelanggan, pembaca akan membeli. Tamat.

Dengan panjangnya jalur yang harus dilalui sebuah buku, tidak heran jika seorang penulis hanya mendapatkan royalti hanya sebesar 6 – 10%, dan di beberapa kasus akan mencapai 12%. Itupun dibayarkan 2 kali dalam setahun.

Jadi semisal, sebuah buku dengan harga Rp. 30 ribu dengan royalti 10%, maka 1 buku dijatah Rp. 3 ribu. Jika 1.000 buku terjual berarti dapat 3 juta. Dibayar 2x setahun = Rp. 1,5 juta. Sebulan = Rp. 250 ribu. Hmmm…

 Artinya, gaji perbulan seorang penulis yang bukunya laku terjual 1.000 biji adalah Rp. 250 ribu. Sukur kalo royaltinya 10%, lha kalo cuma 6 %?. Mau makan apa Gita gutawa nanti? Mending jadi kang parkir deh…

Dengan kasus seperti diatas, fenomena-fenomena seperti menulis hanya sebagai hobi, atau karya sebagai kerja sampingan, ataupun mutu sesuai deadline adalah bisa dimaklumkan dalam dunia literatur kita hari ini. Mau tidak mau, idealisme selalu ada yang tumbang jika berhadapan dengan hidup. Toh, tiap solusi hanya berguna tergantung individu masing-masing. Jangan heran jika derajat buku mulai terpinggirkan.

Memang agak sulit menemukan solusi lain daripada memutus jalur distribusi yang panjang. Buku yang kemahalan, akan mengurangi daya beli konsumen. Buku yang kemurahan, akan membatasi hak hidup si penulis. Buku yang harganya sedangpun, akan membuat si penulis akan berpikir ulang untuk tetap menjadikan menulis sebagai pekerjaan dan konsekuensinya, penulis akan tergoda untuk beralih kerja demi kehidupan yang lebih baik..

Dan sekarang, sayapun tergoda untuk menyimpulkan bahwa, menulis buku itu asik tapi kurang menguntungkan. Bukannya saya ingin meruntuhkan niat orang-orang untuk membuat buku, tapi hanya membeberkan sedikit konsekuensi yang menghalang jika seseorang ingin menulis sebuah buku. Tentu itu sebatas masalah finansial, tapi secara tidak langsung itu juga adalah urusan biologis yang selanjutnya akan menjadi masalah psikologis, dan ujung-ujungnya akan mentok ke urusan agamis.

Dan kepada kawan-kawan yang sudah menerbitkan buku, semoga tetap konsisten dengan karya dan pilihan hidupnya. Dan kepada yang baru ingin menulis buku, saya harap, ada baiknya belajar ilmu ikhlas terlebih dahulu agar terhindar dari penyakit hati yang melenakan. Karena sesungguhnya, semua pekerjaan selalu punya dindingnya masing-masing, tinggal kita ingin memilih untuk menjadi palu, atau menjadi tissue toilet.

Saya? Hmm…mungkin saya akan menulis buku juga. Tapi tidak hari ini. Tidak juga besok. Saya mah tetap nunggu instruksi presiden dulu, soalnya sekarang kalo ngritik butuh ijin…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: