​Negeri Riya Suatu Ketika


Di suatu negeri yang katanya ingin makmur, hiduplah manusia-manusia yang lapar akan eksistensi. Semacam membangun kepercayaan diri di atas tumpukkan kekaguman orang-orang.
Potretnya disindir keras dengan guyonan ala meme; Neil Armstrong ke bulan cuma ngambil 5 foto, dan wanita, ke kamar mandi bisa ngambil sampai 23 foto..

Itulah gambaran negeri tersebut hari-hari ini. Yang aktivitasnya diisi dengan anak-anak muda yang masih ngeshare sana-sini sebuah berita lebih karena ingin terlihat berwawasan dihadapan kawan-kawan mayanya. Apa pun dishare, karena judulnya yang bombastis asoy tapi persetan dengan isinya. Seolah wartawan yang tidak kesampaian.. Terlihat seperti Buzzer level taman kanak-kanak.

Manusia model beginilah yang sering digunakan pakar-pakar IT untuk mewabahkan isu-isu dunia maya yang abal-abal untuk mengguncang negeri ini mulai dari kampanye hitam sampai masalah konyol kenaikan harga rokok yang melampaui 200 persen itu.

Oh, tentu tidak hanya media sosial tempat beriya-ria bisa dilakukan. Negeri ini juga menyediakan dunia nyata sebagai tempat memompa dada rakyatnya agar bisa berjalan dengan gagah berwibawa di sekitar lingkungannya.

Lihatlah nama yang tertera di undangan kawin misalnya. Segala macam titel bertumpuk di sana.  Mulai dari bapaknya yang Haji, sampai anaknya yang menderetkan titel keserjanaan S1 sekaligus S2 bahkan S3 nya sekalian. Kalaupun Menristek bikin sarjana sampai S6, jangan heran itu undangan bisa saja berbentuk Buku Amdal..

Ah, kalian-kalian pasti berpikir saya sedang iri karena belum lulus apalagi kawin. Tidak, kawan.. saya tidak sepicik itu. Tolong jangan bersu’udzhon begitu meskipun kalian sedikit benar…

Gelar Haji misalnya. Orang-orang di Negeri ini (juga beberapa negara Asia lainnya), menjadikan rukun Islam yang terakhir ini sebagai gelar. Jika pun belum haji, dengan modal beberapa kali ceramah saja, akan dapatlah ia gelar Ustadz. Dan bagian lucunya, gelar tersebut akan selalu bersanding lekat dari kartu undangan hingga ke KTP bahkan ke batu nisannya.

Dari ke 5 rukun Islam yang ada, kenapa cuma Haji yang boleh nempel sama nama seseorang? Puasa kan juga rukun Islam.. Gak sekalian habis Ramadhan pakai gelar puasa di depan nama biar tambah panjang? Apa karena dari kesemua rukun, cuma Haji yang menandakan seseorang punya uang untuk naik pesawat terbang? Tanda sudah pernah ke luar negeri? Onta dari lahir udah di Arab juga ga pernah tuh dapat gelar Haji..

Tidak hanya titel Haji, para akademisi yang konon adalah pondasi kejayaan sebuah negara pun juga kadang ingin tampil berpanjang nama. Seperti kakak saya itu, sudahlah gelarnya S2, tapi gelar S1 nya masih saja nempel tidak ingin lepas. Bahkan ada yang sudah bergelar doktor pun, gelar S1 nya masih juga ngikut. Ibarat kalau ditanya, “Adek kelas berapa sekarang?”, “Kelas 123456 SD, om..”. DYAARRR!

Di jaman yang katanya kontemporer ini, selain beberapa kasus di atas, negeri ini juga diisi candu eksistensi akut demi popularitas. Anak-anak muda sebagai tulang punggung negara sudah  menasbihkan dirinya untuk dibuai akan utopia negeri pemimpi.

Serasa selebritis, mereka menanamkan di dalam pikiran selalu bahwa orang-orang selalu ingin tahu kesehariannya, apa saja yang ia makan, ke mana saja ia pergi, di mana saja ia kencing, kapan saja ia potong kuku, berapa kali sehari sikat gigi.. Pokoknya dunia harus tahu. Biar elo tauk siapa guwehhh.. !!

Mereka membuat alam papparazinya sendiri dengan meyakinkan diri lewat dirinya sendiri. Bahwa orang-orang akan selalu melihat, mengawasi, dan memperhatikan. Tipikal manusia jajahan kelas bawah. Mental pribumi rasa priyayi. Dasar oknum inlander.. Selalu merasa dicurigai.

Semua di atas itu adalah contoh pamer. Yang kalau ditambahkan akhiran /–an akan menjadi pameran. Pameran itu ya… diliatin orang, dikomentari, dikritik, digosipin, dinganu-nganulah…. Jadi ya, jangan marahlah ya yang kena sentil. Namanya juga penonton, euy…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: