Bukan Tulisan Tentang Penis.taan

27 Februari 2017

‚ÄčBicara perkara romantisme, tadi siang sempat saja saya dituduh sebagai lelaki paling tidak romantis seantero grup WA. Kurang ajar betul memang, menggunjingkan seseorang yang jelas-jelas termasuk bagian dari anggota grupnya. Bergunjing, sodara-sodara! Menusuk teman dari depan, kata pepatah. Yah, walau darimana pun juga, ditusuk tetaplah ditusuk, kan atit. Yang kalian lakukan itu, JIHAD..

Nih ya, saya konfirmasi di blog ini, biar pada ga ada yang baca.

Mitosnya, anak sastra itu gampang sekali mendapatkan jodoh. Yap, MITOSNYA. Karena apa? Karena puisi… Puisi sering dijadikan orang awam sebagai tameng standar atas masalah romantisme. Siapa pandai berpuisi, maka entenglah jodohnya. Begitu pikir awamnya. Seandainya memang semudah itu, Roro Jonggrang!! Jadi kan enak, ga usah minta candi-candian, capek tau..!

Sudah sejak lama anak sastra selalu mendapat stigma sebagai pembuat puisi nan mumpuni. Lihat saja status bbm, caption path, poto profil ataupun catatan-catatan di pesbuk kaum marjinal ini, minimal pasti ada puisi disitu. Apalagi buku-buku kuliahnya, aihh…. penuh puisi pasti. Para lelakinya, biasanya cenderung ke arah puisi pemberontakan dan bela negara. Sedang wanita, apalagi kalau bukan masalah utopis umat proletar kebanyakan yang ditulisnya, Cintahhh.. ahhh…

Nah, analisisnya, karena wanita suka sekali puisi cinta-cintaan, beberapa lelaki rela berpindah haluan dari puisi-puisi berkedok nasionalisme menjadi pembuat puisi roman abal-abal agar para wanita mau rela terpikat, meskipun pada akhirnya mereka akan dianggap tukang gombal cap buaya darat duduk.

Meskipun sadar merasa digombali, tapi saya tahu benar wanita akan selalu merasa senang ketika mendapatkan puisi yang ditujukan untuknya. Meskipun girangnya kadang di dalam hati. Saya tahu, karena saya adalah salah seorang saksi hidup ketika banyak wanita tersenyum-senyum malu ketika mendapatkan puisi khusus untuknya.

Di jaman sekolah, saya ditasbihkan sebagai pembuat puisi bagi anak-anak STM yang berstatus cuti mental terhadap wanita. Tentu saja hal ini harus melalui pertentangan panjang di mana saya saat itu sedang kritis-kritisnya terhadap persoalan bangsa dan negara dalam mencapai Nobel Perdamaian dan kebijakan luar negeri negara Zimbabwe. Tidak mudah bagi saya yang saat itu sedang berkecamuk dengan filsafat kehidupan lantas menurunkan derajat menjadi pemuja cinta ala kadarnya.

Tapi kemudian, saya menyanggupi saja dengan beberapa syarat termasuk di dalamnya kebutuhan saya akan rokok harus terpenuhi. Tentu saja ini bukan masalah harga diri saya yang cuma sebatas sebungkus rokok.. Tapi ini lebih kearah di mana saya lebih takut berlumur dosa karena menampik rasa solidaritas antar sesama pria. ITUUU!

Jadilah mulai hari itu saya resmi sebagai juru tulis surat cinta berblanko STM. Sudahlah saya yang nulis, saya pula yang disuruh menyampaikan. Kan kampret.. Karena, setangguh-tangguhnya anak STM, akan gentar jua bila dihadapkan pada seorang wanita. Saya, yang dianggap terlalu cuek dengan wanita divoting dengan musyawarah sebagai juru diplomasi unggul terhadap semua masalah percintaan, termasuk masalah curhat dan perbaikan hubungan. Biarin turun derajat juga, yang penting harga nego..

Wanita, kawan-kawan.. Segarang-garangnya makhluk ini akan meleleh juga kalau dikasih puisi barang sebaris duabaris. Apalagi dikasih sebuku penuh, wah, bisa-bisa balik jadi protozoa lagi tuh…

Namun tetap saja, sebuah hubungan tidak bisa dibangun hanya lewat embel-embel romantisme sahaja, lebih-lebih menjadikan puisi sebagai pondasinya. Atau romantisme hanya sebatas bumbu-bumbu percintaan? Entahlah, dibilang bumbu juga sepertinya berlebihan. Toh, romantisme juga definisnya dalam sekali menurut saya. Melewati batas kata-kata. Kalo kata penyair tuh, melampaui aksara, menembus logika.

Tidak bergerak sedikitpun ketika pasangan sedang tertidur di pangkuan juga cukup romantis bagi saya, asal tidak pakai ngiler. Atau, tetap diam tanpa komentar ketika masakan yang ia suguhkan ialah sejenis limbah pabrik. Dan memang, romantisme tidak harus dipahami kedua belah pihak baik bagi pelaku maupun korbannya. Misalnya, saat seseorang memilih untuk tetap diam disaat ia mempunyai hak untuk marah kepada pasangannya. Itu juga terbilang romantis sih, romantis yang bijak. Ehemm..

Saya? Hmmm.. seingat saya, selama 481 kali pacaran, rasa-rasanya belum satu wanita pun yang saya kasih puisi. Yah, mungkin karena itu tadi, saya takutnya dibilang mentang-mentang anak sastra terus dengan liciknya menggunakan puisi sebagai pelet. Seorang anak sastra yang menggunakan puisi untuk mendapatkan pasangan itu rasanya murahan sekali. Receh. Meskipun sah-sah saja sih, toh belum dilarang undang-undang dan juga belum ada fatwa yang keluar mengenai masalah ini.

Saya masih memandang romantisme sebagai bagian persepsi saja. Ya mungkin karena tiap orang punya definisi berbeda mengenai ini. Sayangnya, sebagian orang menganggap masalah romantisme ini adalah penentu sebuah hubungan atas mesra tidaknya sebuah ikatan.

Jadi, penting atau tidak? Menurut saya sih, bukan masalah eksistensi atau keberadaannya, romantisme bukanlah sebuah sifat yang harus diada-adakan demi apapun. Romantisme tetaplah sebuah sifat yang datang sebagai naluriah Manusia. Datang tanpa disuruh. Karena sama seperti sifat manusia lainnya semacam marah, sedih, gembira, cemas, dll, romantisme ada karena akumulasi atas pengalaman manusia selama ia hidup. Dilakukan secara tidak sadar dan tentu dengan kebijaksanaan yang matang. Kadang-kadang juga kondisional. Karena itulah definisi tiap manusia terhadap romantisme ini bisa berbeda. Begitu, dek…

Ngerti kan?

Saya kok engga ya?

Iklan

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: