Repetisidiotik

17 Mei 2017

Di jaman saya kecil menggemaskan, masih lazim beberapa orang kampung yang ‘rembug’ nonton tipi ramai-ramai di kelurahan. Berduyun-duyun orang datang layaknya pengungsi yang kadang sampai mengajak keluarga beserta ternaknya sekalian. Anak-anak sekarang mungkin akan sulit membayangkan bagaimana pasrahnya manusia jaman prateknologi itu menikmati sejumput siaran yang cuma satu dengan warna ala papan catur .
Fenomena ini bukanlah mitos belaka. Nonton bareng (nobar) pada jaman dahulu tidaklah sebergengsi pada tataran kebersamaan ataupun silahturahim, lebih-lebih nasionalisme. Sebagian besar masyarakat hanyalah terdegradasi ke kelas ekonomi terbawah, atau bahasa halusnya, mereka hanya mencari hiburan gratis. Di jaman ini, banyak dipengaruhi cita rasa layar tancap yang memang sempat booming sebelumnya. Kegiatan menonton tipi memang sebentuk acara mewah kala itu. Minimnya hiburan di masa itu dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah anak pada tiap keluarga, tau kan hubungannya? Ga usah minta dijelasin, sini langsung praktek…

Setelah tipi menjadi jajanan massa, kemudian parabola mulai mengambil alih puncak rantai teknologi masyarakat. Barang siapa yang rumahnya memiliki parabola di masa itu, niscaya rumahnya akan selalu ramai oleh anak-anak dari pagi hingga sore hari, dan bapak-bapak di malam hari. Kok bapak-bapak ikutan juga? Karena, tahu sendiri lah namanya laki-laki dewasa, ketidakadaannya badan sensor ataupun KPI di jaman dahulu itu merupakan sebuah berkah tersendiri..

Sayapun sempat merasakan getirnya rebutan tempat duduk di sebuah rumah yang keluarganya cukup berada untuk menghabiskan uang membeli teknologi ini dikarenakan harganya yang mustahil untuk tergapai keluarga lain yang pemasukannya hanya sekelas gaji buruh magang paruh waktu. 

Untuk sekedar menonton acara parabola ini, kami anak-anak pada masa itu rela antri di depan rumah si pemilik parabola, menunggu panggilan dari sang empunya rumah menyeleksi siapa saja yang diperbolehkan masuk dan menonton.

Ibarat ajang pencarian bakat di televisi, kami anak-anak pada masa itu, menjadikan saat-saat menunggu namanya dipanggil tuan rumah agar diijinkan masuk dan menonton adalah momen paling mendebarkan. Tidak kurang dari 20 anak akan antri di setiap rumah yang memiliki parabola. Disaat inilah lantas saya mengenal Kotaro Minami dan belalang tempurnya yang termasyur itu.

Lambat laun, kedigdayaan parabola ini akhirnya harus bertekuk lutut juga dihadapan lawan baru yang lebih pro-minoritas, si antena 3 jari. Dengan harga yang lebih bersahabat, paling tidak antena ini mampu melepaskan masyarakat dari belenggu otoriterisasi TV negara yang tidak memberikan keleluasaan dalam memilih tontonan.

Tumbangnya barang mewah sekelas parabola membuat para produsen teknologi memutar otak mencari pintu lain agar rakyat bisa menghambur-hamburkan uangnya dengan tidak bijaksana. Lalu tercetuslah VCD dan rentalnya yang sempat mengalami kejayaan selama beberapa tahun saja. Di era VCD, tidak hanya produsen yang kebagian untung, tetapi juga pemilik rental, para pembajak kaset, tukang serpis, tukang tisu, pedagang remote, bahkan tukang kredit.

Mendekati millenium baru, setelah digegerkan dengan kemunculan pager, masyarakat di pasok dengan barang mewah lain yang dimensinya begitu tak terbayangkan: Mobile Phone. Barang yang kini mendapat nama babtis sebagai HP ini menjelma menjadi idola baru masyarakat metropolis. Benda ini tidak hanya menggabungkan teknologi pager dan telpon rumah, tetapi bisa dibawa kemana-mana dengan bentuknya nan mini. Benar-benar pukulan telak bagi telpon benang-kaleng.

Tak butuh lama memang barang bergengsi akan menjadi pasaran di negeri ini. Karena sejatinya, masyarakat Indonesia memang mudah latah dan sangat aware terhadap prestise. Setelah bosan, lantas ditinggalkan. Nasib serupa pernah terjadi pada Blackberry, radio, VCD, DVD, telpon umum, wartel, dan lain sebanyaknya. Saya masih ingat betul dulu, merasakan 1 HP yang diperkosa banyak teman yang cuma modal kartunya saja. Benar-benar jaman jahilliyah..

Lanjut di awal 2005, demam lain merasuk ke jagad nusantara. Laptop mulai naik pamor mengganti PC yang memang minim inovasi waktu itu. Lantas beberapa tahun kemudian, laptop pun jadi bernasib sama dengan HP, barang mahal yang pasaran. Tak perlu menunggu waktu lama, semua orang sudah punya laptop. Terlebih kaum mahasiswa yang punya mobilitas tinggi, lantas menjadikan laptop sebagai barang kebutuhan wajib, sepaket bersama motor dan HP. Tiap makhluk berstatus mahasiswa di jaman itu pasti punya 3 sekawan: motor, hp, laptop. Kecuali anak-anak sastra tentunya. Terutama saya.

Kemudian demam berlanjut, setelah melakukan sedikit inovasi di bidang perpesanan, Blackberry akhirnya pupus karena minimnya kreatifitas akan konten. Sebuah sistem operasi futuristik yang menggabungkan internet dan mobile phone menjadi idaman baru masyarakat dunia, Android.

Munculnya android sebagai mainan baru telah membuka mata orang-orang akan sebuah portal ke dunia lain yang sangat kompleks namun menyenangkan. Dunia maya lahir dengan dimensi yang sangat berbeda dari sekedar bertukar pesan. Termasuk juga menggabungkan hampir semua penemuan manusia ke dalam sebuah kotak kecil tak lebih dari sembilan inchi.

Di dalam dunia maya, juga lahir dunia-dunia baru yang lebih luas. Dunia sosial media, dunia game, dunia blog, dunia forum, dunia sharing, juga dunia perbankan. Duniaception ini tentu saja memberikan pilihan baru bagi manusia untuk berpetualang meskipun hanya lewat mata.

Bahkan HP android yang paling sederhana saja mampu menjalankan beragam teknologi yang pernah diciptakan manusia mulai dari kalkulator, senter, pager, telpon, PC, sampai bermain saham. Begitu gilanya fungsi HP ini hingga membuat nya telah berevolusi menjadi organ tubuh manusia.

Tidak heran pusat-pusat hotspot yang menawarkan wi-fi gratis menjadi lampu bagi laron-laron yang haus akan kenikmatan dunia baru. Mengingatkan saya akan orang-orang dahulu yang nonton tipi di kelurahan. Toh, sejarah memang selalu terulang kan? Dengan versi zamannya masing-masing tentunya..


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: