Nganu ini


Salah satu film india kesukaan saya itu judulnya Taare Zameen Par. Maklum, saya awalnya memang tertarik cuma karena Amir Khan yang main (ganteng sih, ehem), sejak saya liat 3 idiots tentunya. Ini orang tipikalnya Stephen Chownya India lah, sentil-sentil masalah sosial pake komedi.

Di film ini, fokusnya diarahkan ke salah satu penyakit bernama disleksia. Konon penyakit ini sudah ada sejak si Isaac Newton lahir. Saya ga tahu ini penyakit masuk kategori keterbelakangan mental atau tidak. Yang jelas pengidapnya malah orang-orang unik dengan kemampuan spesial. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang cerdas yang punya satu kecerdasan spesifik. Jadi bukan cuma pinter di IQ aja. Malah, banyak orang-orang Mensa (fyi, ini perkumpulan orang-orang jenius dunia) juga pernah dihampiri ini penyakit. Bahkan itu si kribo Einstein juga. Eh, kalo ga salah saya juga dulu pernah lolos ujian mensa lho, tapi lewat internet. huhuhu

Kalo ga salah, disleksia itu menawarkan gejala sulitnya mengenali huruf, angka, kata, simbol, juga kurangnya refleks tubuh. Kebanyakan memang mengalami sulit membaca sama menulis. Bukannya ga bisa nulis ama baca, tapi lebih ke banyaknya melakukan kesalahan. misalnya nih, susah ngebedain b atau d waktu nulis. Sering kebalik-balik. Atau nulis z sama s / q atau p. Baca hutan kebalik tuhan. Selain itu juga, mereka dianggap aneh oleh lingkungannya karena punya sifat yang ‘engga biasa’ dari orang lain. Kalo saya, dulu juga sering kebalik pas baca huruf arab, sampe sekarang malah.

Saya juga kurang tau ini ada hubungannya sama masalah ingatan atau engga. Tapi, mengingat Deddy Corbuzier juga kena penyakit ini (tapi malah jadi mentalis, haha) saya rasa disleksia bisa dilatih untuk diperbaiki. Di film juga kayaknya bisa disembuhin. Tapi ga tahu permanen atau engga.

Untuk jelasnya tentang penyakit ini, coba di google aja atau nonton filmnya deh. Saya mau nulis juga karena sepertinya saya kena ini penyakit. Ini sih cuma observasi diri sendiri aja, belum tanya dokter saya. Soalnya dokter hewan jarang buka praktek di sini.

Nah, saya nulis begini kan kayaknya saya ngerasa kok punya gejala-gejala mirip begituan. Saya curiga saya malah kena juga. Waktu kecil, saya juga susah ngebedain mana biru mana ijo. Sekarang sih engga. Tapi untuk ngebedain timur sama barat misalnya, otak saya masih butuh sekitar 5 detik buat mikirnya. Makanya waktu masih ikut mapala dulu, ikutan lomba orienteering ga pernah menang. Baca kompas ama petanya kagok.

Apalagi dulu, jaman masih suka keliling jawa sendirian. Kalo nanya arah sama orang jawa kan dijawabnya suka pake arah mata angin. Belum lagi kalo jawa nya dapet yang alus, skak mat ditempat lah pokoknya. Selain itu saya juga kesulitan ngebedain beberapa kata dalam bahasa inggris yang memang mirip. Misalnya, bahasa inggris kan sering banget pake akhiran huruf ‘ght’. Kayak bright, night, sight, might, fight. Nah, kadang saya juga susah tuh nulis ght, apa tgh, atau hgt. Belum lagi kalo nulis kata yang ada huruf dobelnya, kayak tomorrow, business atau apple, sering ketuker-tuker yang dobelnya.

Apalagi saya yang datang dari daerah pelosok ini, yang waktu smp/sma nya cuma diajari This is banana. This is a car, tiba-tiba pas masuk kuliah langsung diajari grammar level sastra. Otak saya langsung mogok walaupun dosennya ngarajarin pake senyum. Ibaratnya, saya yang di kampung cuma diajarin dayung sampan, ujug-ujug sampe ke kota di suruh ngemudiin kapal Titanic. Yah tenggelam kan..

Disleksia yang berpengaruh reflek juga yang bikin saya ga pernah ikut olahraga sejenis bola-bolaan. Sejak smp saya udah ga pernah lagi main basket, bola kaki, bahkan bulu tangkis. Karena, orang-orang disleksia sulit memperhitungkan jarak, kecepatan ataupun gaya sebuah benda. Ya mungkin semacam cewek yang parkirin mobil kali yak. Susah nebak arahnya.

Misalnya gini, ketika dilemparkan sebuah bola atau benda apapun, seorang disleksiaer bakal sulit memperkirakan benda tersebut datang sebab otaknya masih berpikir berat benda + kecepatan + gravitasi, ditambah refleknya yang lambat, benda tersebut akan menjadi susah ditangkap pake tangan meskipun matanya udah ngeliat. Dengan begini, sepertinya, kemungkinan orang dengan disleksia buat kena latah bakal sangat rendah persentasenya. Latah yang telat kan ga lucu.

Pengidap disleksia biasanya bertahan dengan mempelajari semuanya serba otodidak, soalnya tipikal masyarakat suka banget menghakimi orang yang beda. Mau ga mau, pengidapnya harus berusaha sendiri untuk sampai ke standar kenormalan masyarakat. Masalahnya, memang cuma sedikit orang yang menyadari penyakit ini karena memang kurangnya informasi. Belum lagi kalo si pengidap dapet guru yang salah, sudah pasti itu anak dianggap nggak normal. Yah, mirip-mirip cerita kecilnya Einstein gitu.

Dengan metode belajar yang salah (dalam kasus ini, metode belajar yang disamaratakan seperti pada umumnya), seorang pengidap disleksia akan sangat sulit menyerap apapun ke dalam otaknya. Mau tidak mau ia akan mengulang dari nol lagi dari apa yang sudah diajarkan sebelumnya. Kalo memang ada hubungannya dengan masalah ingatan, maka saya maklum kenapa ingatan saya ini pendeknya naudzubillah.

Saya sendiri meskipun kuliah jurusan sastra inggris, terus terang cuma sekitar 5 persen ilmu yang bisa saya dapet. Sisanya saya tutupin dari film, musik ataupun komik. Sampai sekarang juga saya belum pernah bisa ngebedain grammar ataupun tenses yang mirip rumus kimia itu. Lucunya, tes toefl saya tidak pernah dibawah 300. Menyelesaikan sebuah buku psikotes mungkin lebih mudah bagi saya ketimbang selembar soal ujian grammar.

Salah satu kendala terberat penyakit ini juga mempelajari kata yang baru, terlebih lagi bahasa. Untuk membedakan satu huruf yang mirip saja butuh waktu belajar intensif yang cukup lama dan juga metode khusus. Dan seandainya saya adalah pengidap disleksia, maka boleh dikatakan saya pengidap yang cukup cerdas.

Saya aktif dalam 5 bahasa daerah dan 2 bahasa negara, hmm mungkin malaysia yang serupa melayu, atau singapura yang singlis dimasukin, bisa dihitung juga. Saya juga pernah sih belajar bahasa jepang dan jerman 3 semester sama bahasa komputer waktu stm. Saya juga hafal berbagai sandi, morse sama semaphore waktu ikut pramuka. Tapi sepertinya ga satupun yang masih nempel di otak. Kelunturan bayclin kayaknya.

Yang jelas saya bisa dikatakan penganut multilingual. Tidak hanya bahasa, tetapi juga aksen dan logatnya juga. Untungnya saya dibesarkan di Bengkulu, sedikit dari daerah di Indonesia yang punya logat dan aksen yang netral. Sehingga kadang susah ditebak aslinya dan juga mampu mempelajari bahasa lain tanpa mencampurkan dengan aksen lingua franca asal.

Jadi, pertanyaannya. Iyakah saya terkena disleksia? Entah juga. Beberapa gejala saya punya. Tapi beberapa kekurangan penyakit tersebut malah bisa saya atasi. Memang sih, dengan guru yang benar dan metode belajar yang tepat, kekurangan penyakit ini bisa diatasi. Kalopun saya mengidap penyakit tersebut, artinya saya punya satu kecerdasan spesifik yang selalu dipunyai orang-orang disleksia. Sedangkan saya, dengan memory otak yang cuma 8 giga ini, masih mempertanyakan diri saya bisa apa?

Yang saya takutkan adalah, jika saya benar mengidap disleksia, akankah saya menjadi kasus pertama penganut disleksia yang tidak punya kecerdasan apa-apa? Hah..

Yah, mungkin satu-satunya kelebihan saya itu, adalah penyakit. Penyakit yang berlebih.

 

Iklan

5 Responses to Nganu ini

  1. Anonim berkata:

    Tulisan di atas adalah salah satu contoh pemakluman terhadap kekurangan diri sendiri

    Suka

  2. Ria berkata:

    Mas kok nggak update lagi? Nulis lagi dong hahahaha

    Suka

  3. Boy berkata:

    Cuy, aku serasa jd penderita disleksia, soalnya nggak paham maksud tulisanmu (kecuali yg paragraf terakhir, wekawekaweka)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: