A.dil(an) Sejak Dalam Pikiran


Padang, 30 Mei 2018 (03.42)

 

Anak sastra mana tak kenal Pramoedya Ananta Toer. Sosok Sastrawan hebat (kalau tidak bisa dikatakan yang terhebat) satu-satunya dari Indonesia yang hampir meraih Nobel andai saja tidak disleding Orde Baru.

Saya tahu beliau sejak saya menginjak masa SMA, masa-masa otak saya masih dalam pertumbuhan. Di masa itu saya banyak membaca biografi orang-orang kiri termasuk Soekarno, Gie, Tan Malaka juga beberapa tokoh luar negeri macam Castro, Luther King, dan Gandhi. Pak Pram dianggap berbahaya baik orde lama maupun baru. Semua karyanya dibredel sampai pada zaman Presiden Gus Dur baru tulisan-tulisan tersebut berani muncul ke publik. Tapi waktu itu saya cuma sekedar kenal nama. Kenal-kenal stalking gitu lah…

Beranjak ke masa kuliah, saya mulai mengenal lebih jauh tokoh ini. Di tahun 2008, ketika saya masih aktif menjadi kaskuser, saya menemukan sebuah artikel menarik berisi hasil wawancara dua orang wartawan Tempo di kediaman Pak Pram di masa pensiunnya. Wawancara panjang berhari-hari ini berhasil membuat saya tertarik dengan sosok sastrawan yang digadang-gadang masih nomer satu di Indonesia saat ini.

Wawancara ini sama sekali tidak berisi tentang tulisan-tulisan beliau, tetapi lebih ke urusan personal semacam hobi kala senjanya yang membakar sampah, kliping koran, atau merk rokok kesukaannya. Keadaan rumahnya yang bertingkat-tingkat, perpustakaan pribadinya, juga kisah-kisah masa lalunya di Pulau Buru. Saat itulah saya masukkan Pak Pram ke salah satu list manusia favorit saya.

Sama seperti tokoh-tokoh favorit saya, tak pernah sekalipun saya membaca karya mereka. Soekarno misalnya, buku DBR yang aduhai tebalnya itupun cuma saya baca kata pengantarnya saja. Soe Hok Gie apalagi, saya cuma nonton filmnya. Che Guevara juga, saya punya 6 biji buku dan 2 donlotan filmnya, tapi tetap saja, cuma jadi barang koleksi, isinya belum pernah diintip. Sekedar penambah image sebagai anak sastra nan budiman.. muehehe

Kalau ditanya kenapa, saya juga kurang paham. Mungkin sebagai pengkritik yang kejam, saya takut berhadapan dengan karya-karya tokoh favorit saya tersebut. Ada bagian dari diri saya yang mungkin tidak mau orang-orang tersebut keliatan cacatnya, terlebih kritiknya dari saya sendiri. Ibarat punya band idola, tapi belum ada satupun lagunya yang saya dengerin. Ngefans cuma gegara dikedipin sama vokalisnya dari depan tipi doang… haha.

Sampai saat ini belum satu karya pun dari Pak Pram yang pernah saya baca. Salah satu bukunya, Cerita Dari Jakarta, saya punya entah dari mana datangnya. Tapi karena sudah tertumpuk di rak buku saya, artinya itu punya saya, titik. *Ape loe ape loe…

Suatu ketika waktu saya pindah kos, tertempatkanlah saya di kawasan penuh berisi anak-anak sastra Indonesia idealis nan kurus. Buku sekelas Pram jadi jajanan kacang goreng waktu itu. Konon, pintu manapun yang saya masuki, dengan gampangnya akan saya temui buku beliau ini. Tinggal tanya mau cetakan ke berapa, saya akan ditunjukkan ke kamar nomer berapa yang punya persediaan. Jadi inget panti pijet, ehh…

Sempat waktu itu saya pinjam Gadis Pantai dan Pulau Buru hard cover series. Dua bulan saya pinjam, sampai yang punya nagih takut ga dibalikin, seperti yang dilakukan kebanyakan peminjam buku di seluruh nusantara. Terus ditanyain, “Udah bacanya, mas?”. “Iya, covernya bagus ya”. *lalu pergi beli siomay demi menghindari diskusi selanjutnya..

***

Baru-baru ini, Bumi Manusia, novel pertama dari tetralogi Pulau Burunya Pak Pram mau difilmkan. Seperti yang sudah-sudah, ada tiga kelompok yang berdebat panas soal ini. Dikarenakan pemeran utamanya yang jatuh ke tangan dedek Iqbal yang masih unyu dan tergolong millenial yang unfaedah.

Kelompok pertama, ditenggarai sebagai penggelut sastra senior, golongan tua, kiri, rebel, dan bau kopi. Menggagas pentingnya sosok peran utama yang lebih pribumi, dewasa, tidak culun, intelek, dan lebih penting, tahu siapa yang diperankannya supaya lebih menjiwai. Sosok Iqbal dianggap cuma mengikuti selera pasar, aji mumpung dari film sebelumnya, peran yang kurang mumpuni dari film sebelumnya juga (film Dilan dianggap jauh dari sosoknya di novel). Juga kelompok ini takut sama sutradara yang engga idealis dan cuma mengikuti selera pasar, sedangkan kekuatan novel terletak pada kata-katanya.

Kelompok kedua, basisnya millenial. Mendebat film Iqbal sebelumnya yang juara dalam jumlah penonton dianggap sebagai jaminan peran nan tokcer. Belum lagi klasifikasi media yang berbeda, novel ya novel, film ya film. Argumennya: Filmnya kan belum rilis, nanti kalo udah keluar baru dikomentarin…, memang agak susah didebat yang model begini. Ada juga yang menganggap Pak Pram itu penulis baru dan cuma numpang tenar karena bukunya mau difilmkan. Kasus yang ini dianggap kelompok ketiga sebagai kesalahan sistem pendidikan yang meloloskan si bodoh ini dari pengetahuannya tentang Pak Pram..

Kelompok ketiga, kebanyakan 90’s kid. Orang-orang yang terjepit diantara golongan tua namun menikmati era millenial juga. Memberi masukan dan saran sebagai jalan selamat ketimbang berdebat dengan kedua kubu. Argumennya ingin melepaskan hierarki sastra Pram yang terlalu ekslusip agar bisa dinikmati semua kalangan. Demi regenerasi, tidak ada salahnya film ini dibuat se-pop mungkin demi mudahnya masuk ke kepala anak-anak millenial yang mulai menjauhi literatur. Tiap zaman ada masanya, sedang dunia ini begitu dinamis dan mengharap golongan tua untuk mengalah tanpa merusak generasi yang harus sesuai zamannya.

***

Dalam salah satu sesi wawancaranya, Pak Pram pernah ditanya alasannya kenapa semua karya yang sudah ditulisnya tidak pernah dibaca ulang (kalau tidak salah, bahkan buku-bukunya sendiri pun tidak dimasukkan ke dalam perpustakaan pribadinya). Beliau menjawab santai (kalo engga salah ya), sebuah karya, kalau sudah dilempar ke pasar/diterbitkan, seluruhnya akan menjadi hak pembaca, termasuk interpretasinya.

Hal ini saya amini sebenarnya, dengan syarat, jangan ada yang ikut campur sampai karya tersebut jadi. Makanya saya berhenti menulis artikel waktu editor udah banyak ikut campur. Saya punya anggapan, biarlah interpretasi saya dulu yang diselesaikan, kalaupun sudah jadi nanti kan sudah jadi hak pembaca memaknainya. Lha ini, belum juga diterbitkan, sudah harus mengikuti selera pasar, kan males..

Saya sih setuju saja kalau novel ini difilmkan, siapa saja pemerannya tidak masalah. Toh, Pak Pramnya sendiri juga sudah ikhlas karyanya dimaknai gimana. Kelompok satu ada benarnya, biar film biopic ini ga di reboot terus macam Spiderman. Kelompok dua, ada benarnya. Wait and see, gitu kan dek?, ehem.. kelompok tiga benar juga. Jaman mu jaman mu, jaman ku jaman ku. Semua demi kemashlahatan anak cucu kita yang punya pasangan. Biar dedek-dedek emesh tau kalo Indonesia ga cuma punya Rangga..

Tapi,… masa sih sutradaranya ga bisa ganti? Bisa, ya ya ya?

Iklan

2 Responses to A.dil(an) Sejak Dalam Pikiran

  1. Frans Cihuy berkata:

    Rayo insyaAllah pulang wak, boy.

    Suka

  2. Boy berkata:

    Bro, apakabar??Rayo pulang k Bengkulu bro?
    Brp nomor hp skrg bro a.dil(an)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Frans Cihuy

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: