Be Yourself, Gitu?


Tadi siang itu ceritanya salah satu grup wassap saya yang berisi kumpulan mahasiswa sastra tuwir kembali membully saya.., cih. Foto saya waktu manggung pertama kali di joglo kampus UNDIP itu disebarluaskan dan ditertawakan secara berjamaah. Semprul bener.

Seingat saya itu foto tahun 2006/7 ketika UKM musiknya sastra sedang jor-joran bikin acara gede karena dapet sponsornya pocari sweat, produk yang waktu itu jarang sekali bisa ditembus dengan proposal ecek-ecek.

Saya ikutan naik panggung juga gegara salah seorang anak teater yang tiba-tiba aja narik tangan saya. Kalo yang narik cewek kan secara instingtif cowok mah pasti manut yak. Tau-tau aja nariknya sampe ke atas panggung sembari santainya ngomong “Gitarin ya, mas. Lagunya Ipang”. Ya kali sini karaoke, main request aja… untung bisa.

Abis gitarin Bintang Hidupku-nya Ipang, satu anak lagi buru-buru naik panggung. “Mas, gitarin juga yak..”. Yang ini malah baca puisi, mintanya dimusikalisasikan. Meluncurlah itu puisi Joko Pinurbo 15 menitan. Kunci gitarnya bodo amat, haha. Koordinasinya seenak dengkul. Lagian di kampus sastra itu, interpretasi nomer satu. Makin ga ngerti, maknanya makin dalem berarti. Huehehe.. Mamam tuh puisi. Lha, ini jadinya kayak acara anak nongkrong, jadi ga ada rundown begini. Abis acara, pada ketawa semua anak teater sama mapala ngerusak acaranya ukm musik.

Kebetulan foto yang diwassap itu satu-satunya foto saya. Dengan posisi gitaran ga pernah ngangkat muka alias nunduk. Saya dibully gegara posisi nunduk itu. 20 menitan saya gitaran ga pernah sekalipun ngangkat muka. Malu, euy. Ditontonin kayak kang obat.

***

Percaya diri adalah masalah terbesar kaum introvert. Jenis manusia yang bisa gentar cuma dengan tatapan mata. Makanya jarang-jarang itu orang introvert bisa jadi orator ataupun tukang baskom keliling, suka lemah kalo jadi pusat perhatian.

Sejak SD juga saya ini udah parah krisis percaya dirinya. Kalo ditunjuk sama guru baca di depan kelas misalnya, saya lebih sering jatuhin pensil biar punya alasan hilang di balik kolong meja selama mungkin. Mungkin berharap gurunya lantas tua lalu lupa dengan saya, baru berani keluar dari bawah meja.

Ketika memasuki dunia kampus dan menjadi mahasiswa sastra, adalah sunah mengisi hari-hari dengan debat, presentasi, diskusi, pidato,tanya jawab kelompok, perkenalan diri, seputar hal-hal yang berbau public speaking gitulah. Apalagi kalo sambil berdiri, itu tangan gemetarnya ngalahin gempanya gunung Tambora.

Apalagi sastra Inggris yang memang lebih banyak disuruh perkenalan diri tiap ganti dosen. Belum lagi kalo disuruh bacain naskah drama ato puisi yang mengharamkan tone datar. Mana dimintanya pake ekspresi lagi, itu keringat udah kayak abis marathon Jakarta-Jogja. Bolak-balik.

Pas ikut mapala, saya setengah hati kalo disuruh jadi instruktur, apalagi instruktur ruangan yang banyakan ngajarin teori, ieuh.. Pun juga pas ospek atau diksar walaupun berstatus senior, mending ngabur duluan timbang disuruh ngomong. Teori retorika sih lumayan, prakteknya enol, haha. Mending push up pake carriel 2 biji deh daripada daripada….

Sekali saya pernah disuruh jadi pembicara buat acara mapala tetangga yang mau ekspedisi gunung Kerinci. Saya yang lebih dulu pernah mendaki itu gunung, dipaksa jadi pembimbing lapangan. Disuruh ngoceh masalah vegetasi, medan, sumber air sampe jarak tempuh per hari. Sampe sekarang saya lupa apa yang saya omongin waktu itu, mudah-mudahan mereka yang ikut ekspedisi masih bisa pulang dengan selamat akibat bimbingan dari manusia yang masuk stadion aja masih nyasar.

Pernah waktu saya kerja paruh waktu di salah satu perusahaan rokok. Kebetulan ada event keliling beberapa kota disuruh pake cosplay buat promosi acara soundrenalin, trus disuruh joget-joget di lampu merah pas di tengah-tengah zebra cross. Hari ketiga sayanya minta brenti. Hahaha. Saya merasa kotor dan hina sekali…

Kalo dibilang rendah diri, rasa-rasanya bukan sifat seperti itu yang saya jalankan. Hanya sebatas tidak begitu menikmati ketika perhatian terpusat ke saya. Saya curiga ketika orang menatap saya, muka saya sedang dipandangi dengan pikiran yang macam-macam. Ah, padahal muka asli sudah saya hibahkan ke Tom Cruise…

Kalo dipikir-pikir, sifat ini sebenarnya baik saja jikalau seandaikata mau saya pertahankan, tidak untuk dirubah. Yah, walaupun malu-malunya nggemesin, titel saya sebagai lelaki bijaksanasini akan terjaga. Selain membuat saya tetap rendah hati, uhuk.., sifat tidak percaya diri ini juga akan membuat kemaluan saya tetap besar. Begitu kan? Eh, gimana…

 

Padang lagi, yang sedang di angka 4 Juni.
.

*Gambar hanya pemanis

*gambar cuma pemanis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: