Klinik Endhorpin

27 Juli 2018

Demi kabar adanya pengirim misterius yang memenuhi rekening tabungan saya, tanpa pikir panjang mandi sore yang kononnya keramat itu pun saya lakoni. Motor saya geber secepat iklan-iklan di tipi menuju ke kerajaan buku otoriter, Gramedia. Ibarat musafir ketemu oase, dahaga saya memang lebih dikuasai nafsu sesaat. Maklum saja, hampir setahun saya tidak lagi mampir ke toko-toko buku.

Di sepanjang perjalanan menuju Gramedia, saya mulai menghitung-hitung, buku apa yang sesuai dengan budget ngos-ngosan yang saya punya ini. Komik sudah pasti berada di daftar teratas. Saya butuh relaksasi dalam menghadapi hari-hari yang mulai menyeramkan ini. Sisanya, kondisional lah, tergantung TKP seperti biasa..

Sesampainya di tujuan, menyiapkan mental adalah hal terpenting. Karena dengan Track record yang sudah bertahun-tahun absen dari dunia perbukuan, saya takut sekali khilaf dan salah pilih yang kemungkinan akan berujung pada penyesalan ditiap menjelang tidur dan berakhir di bawah guyuran shower di sudut kamar mandi.

Setelah sekian lama tak ke toko buku, sebenarnya saya agak kecewa dengan banyaknya buku yang terkesan menyerupai koran lampu merah, ramai-ramai membombastikan judul. Yah, walaupun saya kadang-kadang terjebak juga. Dan sayangnya, kebanyakan yang muncul malah novel. Jenis buku yang mulai saya hindari..

Dari dulu, metode saya dalam memilih buku adalah dengan cara membaca beberapa paragraf kalimat pada tengah atau akhir halaman. Untuk ini, saya menilai gaya dan teknik penulisan si pengarang. Kadang-kadang juga font dan editing halaman yang berperan besar apakah buku tersebut layak atau tidak dibaca sampai tamat. Tentu saja ini bisa dilakukan jika hanya plastik buku tersebut tidak sengaja (dipaksa) terlepas.

Seleksi pun dimulai dengan nama besar si penulis. Nama besar memang tidak selalu jaminan mutu. Tapi paling tidak, dia pernah membuat sesuatu yang bermutu sehingga memperoleh nama di bidang itu. Ketika mencari buku yang sebegitu banyaknya, kebanyakan orang tentu hanya sempat melihat cover depannya. Kalau tidak judul, ya nama penulis atau penerbit. Dan saya lebih mementingkan kepada nama pengarang. Baik yang saya tau, ataupun nama yang kebetulan tidak sengaja saya pernah dengar.

Kemudian, saya akan baca resensi yang biasanya ada di belakang buku. Tema apa yang mau di bahas si penulis. Dan saya biasanya terlalu tidak perduli siapapun yang memberi rekomendasi ataupun kata pengantar yang biasanya dijadikan penerbit sebagai salah satu cara merayu pembeli dengan menampilkan nama-nama terkenal di cover buku.

Lalu, kalau beruntung, buku tersebut tidak lagi tertutupi plastik (baca: bebas dijamah), saya akan baca profil penulisnya dulu, baru saya perhatikan gaya bahasanya di akhir buku. Karena, tulisan-tulisan di awal buku biasanya “sudah matang” dan sangat diperhatikan. Berbeda dengan tulisan di akhir buku yang biasanya terjadi, penulis dan editornya sudah sama-sama kehabisan bensin. Ibarat pembalap, saya menilai daya tahannya / endurance. Kalau buku lucu, haruslah lucu sampai akhir, kalau buku bagus, haruslah bagus sampai akhir.

Terakhir saya akan menilai harganya, sepantas apa buku ini dinilai berdasarkan ketebalan. Biasanya, semakin tebal covernya buku akan semakin mahal. Juga jenis kertas yang digunakan, berapa lama buku akan kuat dibolak balik sampai akhirnya akan terlepas berceceran karena lem yang serampangan.

***

Tadinya, saya bingung dengan proses seleksi karena begitu banyaknya buku yang ingin saya beli. Mulai dari buku komedi-filsafat macam Sudjiwo Tejo dan Cak Nun, buku puisi Aan Mansyur dan Sapardi, buku-buku sentilan ala anak-anak mojok yang kabarnya masuk buku terbaik 2016, ada lagi novel-novel peraih penghargaan macam Eka Kurniawan, buku-buku Pram, Orhan Pamuk, biografi tokoh-tokoh nasional, buku terbaru Prie GS, buku pak Sumanto al Qurtuby, Paulo Cuelho, sampai buku-buku tafsir yang sering saya liat di beberapa website dan lain sebingungnya.

Kebanyakan dari buku tersebut sebetulnya hanya sebatas penasaran, ditambah uang saya yang hanya cukup untuk memilih satu buku saja, membuat saya sesinis juri kompetisi idol-idolan.. Ketika melihat salah satu buku puisi; Tidak Ada New York Hari Ini, setan di hati menentang dengan sinis: eh, anak sastra yang beli buku puisi tuh tau engga kayak apaan? Kayak koki Itali yang beli Indomie! Ah kampret…

Oke, buku puisi, sajak, essay, sekip.

Novel? Di tahun 2016 banyak novel-novel hebat lho yang dapet penghargan hampir semua penulis pada nulis novel.. gimana? Gimana? Dengan berat hati saya nyatakan saya sedang musuhan sama novel..

Buku biografi kemahalan, buku sejarah mulai ketebalan,..

Sudah satu jam proses seleksi berlangsung tanpa membuahkan hasil. Tiba-tiba mata saya menangkap satu judul yang sebenarnya sudah sangat lama dikenal di dunia para akedimisi. Buku legenda yang bisa dikatakan pesaing berat tetralogi Pulau Burunya pak Pram.. Multatuli: Max Havelaar. Novel tentang Indonesia yang sudah mendunia berabad lalu. Buku yang sudah sangat sering saya dengar tanpa sekalipun saya lihat. Novel yang sudah sangat sering dijadikan referensi mahasiswa sejarah. CLIING!! Otak saya berdesing kencang…

Dengan tangan gemetar saya balik buku tersebut untuk melihat harga di cover belakangnya. Dan, pupus sudah harapan dengan dihantam nominal yang wah sekali. Rasa penasaran saya akhirnya dipentung mundur oleh 6 digit angka yang begitu jahanamnya menertawakan ketidakmampuan diri saya. Ah, jenis pengetahuan yang amat kejam…

Dengan langkah lunglai saya bergerak mencari kursi untuk meratap sejenak atas kebiadaban yang nasib lakukan terhadap pemuda lugu seperti saya. Kejam nian kau, sib…

Di perenungan saya di menit ke 14, saya teringat kembali akan sebuah kejadian. Dulu ada seorang penulis yang membuat buku dengan judul “cara menulis buku bestseller”, ironisnya buku tersebut sendiri tidak best seller. Kind of a bad joke, yes?

Lalu saya mulai menata hati dengan memotivasi diri dengan anggapan bahwa kesialan tidak selalu terjadi dengan pembaca, kadang-kadang penulis juga kena. Anggaplah kali ini yang sial adalah si Multatuli, karena ia telah gagal memberikan regenerasi sejarah kepada pemuda yang akan menjadi tumpuan negara suatu saat nanti.. Begitu, saya menenangkan diri.

Dengan maksud menyerah dan ingin keluar saja dari toko buku bersama penyesalan yang entah akan saya tumpuk untuk beberapa tahun kedepan, tiba-tiba mata saya mengerling tajam ke sebuah sosok buku yang bisa dibilang, teramat bagus. Too good to be true, kata orang Bekasi..

Buku dengan judul: 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia ini sebenarnya sudah saya baca semasa SMP. Seorang teman kakak saya pernah membawanya ke rumah waktu itu. Dulu saya tertarik membaca karena banyak nama hebat muncul di situ. Saya mulai menyukai buku jenis biografi juga karena buku ini. Sekarang, buku ini terbit lagi dengan edisi revisi. Artinya, ada pembaharuan atas daftar ke 100 tokoh tersebut, dan tentu saja sulit untuk melewatkan buku yang dinamis seperti ini.

Buku ini sangat menarik karena tidak hanya diteliti oleh para akademisi sekelas profesor, tapi juga dibuat dengan banyak pertimbangan para ahli dari berbagai bidang keilmuan di seluruh dunia. Buku yang sempat menggegerkan dunia beberapa dekade lalu ini ditulis tidak hanya sangat objektif, tapi juga dengan penelitian ala Dan Brown. Belum lagi, banyak profesor, ahli sejarah, dan berbagai sumber valid yang dijadikan rujukan cuma untuk menentukan urutan tokohnya.

Karena diberi peringkat, jadi ada semacam kompetisi pada tokoh-tokoh yang dicantumkan namanya. Nabi Muhammad SAW masih tetap di urutan pertama, yang karena beliaulah buku ini geger secara global. Dan jelas, bukan itu alasan saya menganggap buku ini menarik. Saya lebih tertarik kepada cara si penulis menentukan urutan tokoh berdasarkan perhitungan matang dan penyelidikannya yang sangat gila menurut saya. Buku beskala internasional begini, tentu tidak akan saya lepas! Begitu tekad awal saya….

Namun, otak saya mulai dipaksa berpikir keras agar buku ini bisa saya angkut sampai ke rumah. Harganya yang sedikit di bawah buku History of God, membuat saya sedikit migrain. Kemudian, dengan mencampakkan sebagian harga diri, mulai lah saya mengeluarkan benda ajaib itu, handphone! Beberapa kontak mungkin akan membantu, namun jelas, harga diri sebagai sajennya…

Akhirnya, buku sudah sampai dirumah, aman tanpa masalah. Handphone masih meninggalkan beberapa pesan tak tebaca. Dan sedikit harga diri yang tercabik. Tapi, memang setimpal dengan buku yang entah kapan akan saya bisa temui lagi ini.. Semoga nantinya harga diri saya akan cukup, mengingat begitu banyak buku yang masih saya incar..

PESAN MORAL: Jika ada sesuatu yang sangat kamu inginkan, berusahalah. Berusaha sekuat mungkin. Meskipun mungkin nyawa taruhannya. Dalam kasus saya, cuma beberapa lembar harga diri..

Weeek…

Iklan

Frans Cihuy

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: