#prayforact

5 Oktober 2018

Blunder besar baru aja terjadi beberapa hari belakangan di dunia politik. Sebut saja Mbak Rat. Beliau sempat-sempatnya menyajikan sebuah komedi opera plastik di tengah tragedi Palu. Sialnya bagi Mbak Rat, lelucon kurang lucu ini hadir justru di 3 situasi yang nano-nano; Masa kampanye pemilihan presiden, duka rakyat nasional, dan era emas netizen.

Tak ayal drama ini dinominasikan sebagai blunder terbesar pasca reformasi. Selain karena terjadi di waktu yang salah, juga dilakoni tokoh-tokoh yang tidak bisa dibilang remeh. Yang ikut itu ada rombongan aktivis (minus intelektual, jelas ini aktivis milenial), ada ustadz (masyaAllah, tad…), ada profesor (lebih dari dua! Mahasiswanya pasti model saya ini.. haha), ada ketum partai (biar ada bumbu politiknya pasti), ada aktris (drama pasti butuh aktor, cuy), ada anggota dewan (kelompok harap maklum), ada capres (no commen, saya belum nikah, pak..), malah, ada juga yang saya ga tau siapa (kayaknya terkenal gegara mewarisi nama bapaknya).

Santai, saya ga ngomongin politik kok.. lanjut baca aja.

Ironisnya, dua kubu calon pemimpin negeri ini beberapa hari sebelumnya udah bikin semacam nota kesepakatan kampanye bebas hoax. Dan lewat emak-emak lah, perjanjian ini jadi kentut. Cuma sekejap, bikin ngeri, melunturkan harga diri, dan memecah belah kawan dan musuh, juga mematikan. Yah, kita tau lah gregetnya emak-emak indonesia.. Malaikat aja sampe bawa-bawa tipe-x buat nulis dosanya.

Di masa jaya internet ini, kejadian viral merupakan pedang bermata dua bagi sesiapa yang ikut campur. Makanya, semua kejadian yang viral, akan langsung bisa disebut kejadian nasional. Seisi negara jadi tau. Apalagi kelakuan netizennya (Internet-citizen: penghuni dunia maya), salah satu keunggulan dunia digital, adalah kolom komentar. Dimana bahasa verbal yang butuh mental itu runtuh seketika oleh fitur ini. Bahkan manusia-manusia introvert model saya ini bisa disulap jadi singa masai di tengah internet.

Netizen merupakan sebuah fenomena terkini yang tak pernah terpikirkan oleh leluhur bangsa manapun, bahwa akan adanya sebuah ekosistem digital yang lebih besar dari sebuah bangsa itu sendiri. Berbagai wadah juga diberikan dengan mudahnya sebagai alat komunikasi hingga jelata terendah pun bisa kedip-kedipan dengan pejabat tinggi negara. Jauh berbeda dengan jaman prateknologi dulu dimana untuk bersurat-suratan dengan Pak Walikota saja harus melewati berbagai rintangan mulai dari rt, rw, kades, lurah, camat, ajudan, bin, sekretaris, dan baru 3 kali ganti ktp lah surat tersebut sampai ke meja Walikota.

Netizen menjadi komoditas alami penyebar biji apapun yang ditanam. Kampanye hitam, hayuk. Tagar prayfornganu, bisa. Video lucu, mashoook. Atau, ladang duel politik juga bisa. Tentu saja kredibilitas bisa dijadikan nomor kesekian. Kasus Mbak Rat diatas tuh contohnya. Bukan cuma capres, lho, ada juga profesor! 3 biji malah. Mak jang…

Makanya saya sering ngenyek sama temen-temen S2 saya dulu, ‘Yen kowe durung bikin buku, rak bakal tak sungkemi. Yakin’. Karena memang, untuk ukuran Indonesia, saya sendiri belum percaya prestasi akademik merupakan cerminan intelektual manusianya. Apalagi anak satra yang memang ditakdirkan gampang menilai orang dari kelakuan bahasanya, guru besar aja di kritik kok.

Apalagi ini kan levelnya udah internasyenel,.. Pemimpin negara, lho, bukan milih kepala dusun. Mbok ya gregetnya dikurangi. Malu sama orang Palu..

Hoax mah emang ngeri. Bukan cuma negarawan yang bisa kena, aktivis, ustad (tabayyun, tad..tad..) bahkan akademisi level tertinggi juga kecipratan. Dipikir-pikir, yang kelas atas aja bisa berjamaah gini kenanya, yang jelata berapa biji kepala itu yang ketularan?

Klimaksnya, semua ini terjadi dikarenakan emak-emak yang berusaha menipu umur. Pengen teteup syantik tapi syibuk pake banget. Jalan pintasnya yang kepikiran ya cuma operasi plastik. Padahal kan kata Anggun, cukup pake shampoo aja kok….

 

m

Iklan

Frans Cihuy

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: