Repetisidiotik

17 Mei 2017

Di jaman saya kecil menggemaskan, masih lazim beberapa orang kampung yang ‘rembug’ nonton tipi ramai-ramai di kelurahan. Berduyun-duyun orang datang layaknya pengungsi yang kadang sampai mengajak keluarga beserta ternaknya sekalian. Anak-anak sekarang mungkin akan sulit membayangkan bagaimana pasrahnya manusia jaman prateknologi itu menikmati sejumput siaran yang cuma satu dengan warna ala papan catur .
Fenomena ini bukanlah mitos belaka. Nonton bareng (nobar) pada jaman dahulu tidaklah sebergengsi pada tataran kebersamaan ataupun silahturahim, lebih-lebih nasionalisme. Sebagian besar masyarakat hanyalah terdegradasi ke kelas ekonomi terbawah, atau bahasa halusnya, mereka hanya mencari hiburan gratis. Di jaman ini, banyak dipengaruhi cita rasa layar tancap yang memang sempat booming sebelumnya. Kegiatan menonton tipi memang sebentuk acara mewah kala itu. Minimnya hiburan di masa itu dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah anak pada tiap keluarga, tau kan hubungannya? Ga usah minta dijelasin, sini langsung praktek…

Setelah tipi menjadi jajanan massa, kemudian parabola mulai mengambil alih puncak rantai teknologi masyarakat. Barang siapa yang rumahnya memiliki parabola di masa itu, niscaya rumahnya akan selalu ramai oleh anak-anak dari pagi hingga sore hari, dan bapak-bapak di malam hari. Kok bapak-bapak ikutan juga? Karena, tahu sendiri lah namanya laki-laki dewasa, ketidakadaannya badan sensor ataupun KPI di jaman dahulu itu merupakan sebuah berkah tersendiri..

Sayapun sempat merasakan getirnya rebutan tempat duduk di sebuah rumah yang keluarganya cukup berada untuk menghabiskan uang membeli teknologi ini dikarenakan harganya yang mustahil untuk tergapai keluarga lain yang pemasukannya hanya sekelas gaji buruh magang paruh waktu. 

Untuk sekedar menonton acara parabola ini, kami anak-anak pada masa itu rela antri di depan rumah si pemilik parabola, menunggu panggilan dari sang empunya rumah menyeleksi siapa saja yang diperbolehkan masuk dan menonton.

Ibarat ajang pencarian bakat di televisi, kami anak-anak pada masa itu, menjadikan saat-saat menunggu namanya dipanggil tuan rumah agar diijinkan masuk dan menonton adalah momen paling mendebarkan. Tidak kurang dari 20 anak akan antri di setiap rumah yang memiliki parabola. Disaat inilah lantas saya mengenal Kotaro Minami dan belalang tempurnya yang termasyur itu.

Lambat laun, kedigdayaan parabola ini akhirnya harus bertekuk lutut juga dihadapan lawan baru yang lebih pro-minoritas, si antena 3 jari. Dengan harga yang lebih bersahabat, paling tidak antena ini mampu melepaskan masyarakat dari belenggu otoriterisasi TV negara yang tidak memberikan keleluasaan dalam memilih tontonan.

Tumbangnya barang mewah sekelas parabola membuat para produsen teknologi memutar otak mencari pintu lain agar rakyat bisa menghambur-hamburkan uangnya dengan tidak bijaksana. Lalu tercetuslah VCD dan rentalnya yang sempat mengalami kejayaan selama beberapa tahun saja. Di era VCD, tidak hanya produsen yang kebagian untung, tetapi juga pemilik rental, para pembajak kaset, tukang serpis, tukang tisu, pedagang remote, bahkan tukang kredit.

Mendekati millenium baru, setelah digegerkan dengan kemunculan pager, masyarakat di pasok dengan barang mewah lain yang dimensinya begitu tak terbayangkan: Mobile Phone. Barang yang kini mendapat nama babtis sebagai HP ini menjelma menjadi idola baru masyarakat metropolis. Benda ini tidak hanya menggabungkan teknologi pager dan telpon rumah, tetapi bisa dibawa kemana-mana dengan bentuknya nan mini. Benar-benar pukulan telak bagi telpon benang-kaleng.

Tak butuh lama memang barang bergengsi akan menjadi pasaran di negeri ini. Karena sejatinya, masyarakat Indonesia memang mudah latah dan sangat aware terhadap prestise. Setelah bosan, lantas ditinggalkan. Nasib serupa pernah terjadi pada Blackberry, radio, VCD, DVD, telpon umum, wartel, dan lain sebanyaknya. Saya masih ingat betul dulu, merasakan 1 HP yang diperkosa banyak teman yang cuma modal kartunya saja. Benar-benar jaman jahilliyah..

Lanjut di awal 2005, demam lain merasuk ke jagad nusantara. Laptop mulai naik pamor mengganti PC yang memang minim inovasi waktu itu. Lantas beberapa tahun kemudian, laptop pun jadi bernasib sama dengan HP, barang mahal yang pasaran. Tak perlu menunggu waktu lama, semua orang sudah punya laptop. Terlebih kaum mahasiswa yang punya mobilitas tinggi, lantas menjadikan laptop sebagai barang kebutuhan wajib, sepaket bersama motor dan HP. Tiap makhluk berstatus mahasiswa di jaman itu pasti punya 3 sekawan: motor, hp, laptop. Kecuali anak-anak sastra tentunya. Terutama saya.

Kemudian demam berlanjut, setelah melakukan sedikit inovasi di bidang perpesanan, Blackberry akhirnya pupus karena minimnya kreatifitas akan konten. Sebuah sistem operasi futuristik yang menggabungkan internet dan mobile phone menjadi idaman baru masyarakat dunia, Android.

Munculnya android sebagai mainan baru telah membuka mata orang-orang akan sebuah portal ke dunia lain yang sangat kompleks namun menyenangkan. Dunia maya lahir dengan dimensi yang sangat berbeda dari sekedar bertukar pesan. Termasuk juga menggabungkan hampir semua penemuan manusia ke dalam sebuah kotak kecil tak lebih dari sembilan inchi.

Di dalam dunia maya, juga lahir dunia-dunia baru yang lebih luas. Dunia sosial media, dunia game, dunia blog, dunia forum, dunia sharing, juga dunia perbankan. Duniaception ini tentu saja memberikan pilihan baru bagi manusia untuk berpetualang meskipun hanya lewat mata.

Bahkan HP android yang paling sederhana saja mampu menjalankan beragam teknologi yang pernah diciptakan manusia mulai dari kalkulator, senter, pager, telpon, PC, sampai bermain saham. Begitu gilanya fungsi HP ini hingga membuat nya telah berevolusi menjadi organ tubuh manusia.

Tidak heran pusat-pusat hotspot yang menawarkan wi-fi gratis menjadi lampu bagi laron-laron yang haus akan kenikmatan dunia baru. Mengingatkan saya akan orang-orang dahulu yang nonton tipi di kelurahan. Toh, sejarah memang selalu terulang kan? Dengan versi zamannya masing-masing tentunya..


Bukan Tulisan Tentang Penis.taan

27 Februari 2017

​Bicara perkara romantisme, tadi siang sempat saja saya dituduh sebagai lelaki paling tidak romantis seantero grup WA. Kurang ajar betul memang, menggunjingkan seseorang yang jelas-jelas termasuk bagian dari anggota grupnya. Bergunjing, sodara-sodara! Menusuk teman dari depan, kata pepatah. Yah, walau darimana pun juga, ditusuk tetaplah ditusuk, kan atit. Yang kalian lakukan itu, JIHAD..

Nih ya, saya konfirmasi di blog ini, biar pada ga ada yang baca.

Mitosnya, anak sastra itu gampang sekali mendapatkan jodoh. Yap, MITOSNYA. Karena apa? Karena puisi… Puisi sering dijadikan orang awam sebagai tameng standar atas masalah romantisme. Siapa pandai berpuisi, maka entenglah jodohnya. Begitu pikir awamnya. Seandainya memang semudah itu, Roro Jonggrang!! Jadi kan enak, ga usah minta candi-candian, capek tau..!

Sudah sejak lama anak sastra selalu mendapat stigma sebagai pembuat puisi nan mumpuni. Lihat saja status bbm, caption path, poto profil ataupun catatan-catatan di pesbuk kaum marjinal ini, minimal pasti ada puisi disitu. Apalagi buku-buku kuliahnya, aihh…. penuh puisi pasti. Para lelakinya, biasanya cenderung ke arah puisi pemberontakan dan bela negara. Sedang wanita, apalagi kalau bukan masalah utopis umat proletar kebanyakan yang ditulisnya, Cintahhh.. ahhh…

Nah, analisisnya, karena wanita suka sekali puisi cinta-cintaan, beberapa lelaki rela berpindah haluan dari puisi-puisi berkedok nasionalisme menjadi pembuat puisi roman abal-abal agar para wanita mau rela terpikat, meskipun pada akhirnya mereka akan dianggap tukang gombal cap buaya darat duduk.

Meskipun sadar merasa digombali, tapi saya tahu benar wanita akan selalu merasa senang ketika mendapatkan puisi yang ditujukan untuknya. Meskipun girangnya kadang di dalam hati. Saya tahu, karena saya adalah salah seorang saksi hidup ketika banyak wanita tersenyum-senyum malu ketika mendapatkan puisi khusus untuknya.

Di jaman sekolah, saya ditasbihkan sebagai pembuat puisi bagi anak-anak STM yang berstatus cuti mental terhadap wanita. Tentu saja hal ini harus melalui pertentangan panjang di mana saya saat itu sedang kritis-kritisnya terhadap persoalan bangsa dan negara dalam mencapai Nobel Perdamaian dan kebijakan luar negeri negara Zimbabwe. Tidak mudah bagi saya yang saat itu sedang berkecamuk dengan filsafat kehidupan lantas menurunkan derajat menjadi pemuja cinta ala kadarnya.

Tapi kemudian, saya menyanggupi saja dengan beberapa syarat termasuk di dalamnya kebutuhan saya akan rokok harus terpenuhi. Tentu saja ini bukan masalah harga diri saya yang cuma sebatas sebungkus rokok.. Tapi ini lebih kearah di mana saya lebih takut berlumur dosa karena menampik rasa solidaritas antar sesama pria. ITUUU!

Jadilah mulai hari itu saya resmi sebagai juru tulis surat cinta berblanko STM. Sudahlah saya yang nulis, saya pula yang disuruh menyampaikan. Kan kampret.. Karena, setangguh-tangguhnya anak STM, akan gentar jua bila dihadapkan pada seorang wanita. Saya, yang dianggap terlalu cuek dengan wanita divoting dengan musyawarah sebagai juru diplomasi unggul terhadap semua masalah percintaan, termasuk masalah curhat dan perbaikan hubungan. Biarin turun derajat juga, yang penting harga nego..

Wanita, kawan-kawan.. Segarang-garangnya makhluk ini akan meleleh juga kalau dikasih puisi barang sebaris duabaris. Apalagi dikasih sebuku penuh, wah, bisa-bisa balik jadi protozoa lagi tuh…

Namun tetap saja, sebuah hubungan tidak bisa dibangun hanya lewat embel-embel romantisme sahaja, lebih-lebih menjadikan puisi sebagai pondasinya. Atau romantisme hanya sebatas bumbu-bumbu percintaan? Entahlah, dibilang bumbu juga sepertinya berlebihan. Toh, romantisme juga definisnya dalam sekali menurut saya. Melewati batas kata-kata. Kalo kata penyair tuh, melampaui aksara, menembus logika.

Tidak bergerak sedikitpun ketika pasangan sedang tertidur di pangkuan juga cukup romantis bagi saya, asal tidak pakai ngiler. Atau, tetap diam tanpa komentar ketika masakan yang ia suguhkan ialah sejenis limbah pabrik. Dan memang, romantisme tidak harus dipahami kedua belah pihak baik bagi pelaku maupun korbannya. Misalnya, saat seseorang memilih untuk tetap diam disaat ia mempunyai hak untuk marah kepada pasangannya. Itu juga terbilang romantis sih, romantis yang bijak. Ehemm..

Saya? Hmmm.. seingat saya, selama 481 kali pacaran, rasa-rasanya belum satu wanita pun yang saya kasih puisi. Yah, mungkin karena itu tadi, saya takutnya dibilang mentang-mentang anak sastra terus dengan liciknya menggunakan puisi sebagai pelet. Seorang anak sastra yang menggunakan puisi untuk mendapatkan pasangan itu rasanya murahan sekali. Receh. Meskipun sah-sah saja sih, toh belum dilarang undang-undang dan juga belum ada fatwa yang keluar mengenai masalah ini.

Saya masih memandang romantisme sebagai bagian persepsi saja. Ya mungkin karena tiap orang punya definisi berbeda mengenai ini. Sayangnya, sebagian orang menganggap masalah romantisme ini adalah penentu sebuah hubungan atas mesra tidaknya sebuah ikatan.

Jadi, penting atau tidak? Menurut saya sih, bukan masalah eksistensi atau keberadaannya, romantisme bukanlah sebuah sifat yang harus diada-adakan demi apapun. Romantisme tetaplah sebuah sifat yang datang sebagai naluriah Manusia. Datang tanpa disuruh. Karena sama seperti sifat manusia lainnya semacam marah, sedih, gembira, cemas, dll, romantisme ada karena akumulasi atas pengalaman manusia selama ia hidup. Dilakukan secara tidak sadar dan tentu dengan kebijaksanaan yang matang. Kadang-kadang juga kondisional. Karena itulah definisi tiap manusia terhadap romantisme ini bisa berbeda. Begitu, dek…

Ngerti kan?

Saya kok engga ya?


Yang Lebih Penting Dari Pendidikan

7 Januari 2017

​Salah satu anugerah yang paling saya syukuri hingga saat ini adalah menjadi kurus. Gen kurus ini saya (sekeluarga) dapatkan dari si Mama. Perlu diketahui, gen warisan semacam ini adalah impian kebanyakan wanita Indonesia hari-hari ini. Anggap saja ini adalah kekuatan super genetik. 

Kekuatan super ini bisa membuat penggunanya mampu melahap apa saja, kapan saja, dimana saja, tanpa khawatir akan indikasi kemakmuran di bagian perut. Sederhananya, gen ini menghindarkan saya menjadi gemuk atas perbuatan apapun yang mulut saya lakukan. Kemampuan super ini juga dilengkapi fitur semacam tidak adanya alergi makanan, tidak ada pantangan, juga tanpa kewajiban empat sehat lima sempurna.

Dari kecil saya sudah dilatih untuk menjadi spesies penguasa puncak rantai makanan, Omni-Herbicarnivora: pemakan segala-galagalanya. Kalau saja agama tidak melarang makanan haram, mungkin sudah sejak lama semua spesies hewan berkaki empat di dunia akan tinggal sejarah.

Catatan sejarah menunjukkan, saya kecil, pernah makan daging rusa, gurita, kalong, burung gereja, sarang lebah, cicak, tupai, belalang, cacing, kodok, anjing (yang ini tanpa sengaja), bahkan sampai yang beracun macam ikan buntal.

Orang tua saya memang sedikit tegas perihal makanan ini. Apapun yang tersedia di meja makan, harus dimakan tanpa disertai protes. Protes berarti pemberontakan. Pemberontak artinya melakukan perlawanan. Sedangkan menjadi lawan, berarti siap-siap di embargo termasuk ke urusan uang jajan. Bahkan menyisakan sebutir nasi dipiring adalah aib tersendiri yang hukumannya biasanya akan diceritakan perihal pembalasan sang nasi kala di neraka nanti…ih..ih..ih

Ironisnya, keadaan kelompok keluarga kurus ini tidak berimbang manakala si Ibu adalah seorang koki yang telah menjual jiwa dan raganya kepada sang dewa masak sedang si Ayah adalah produsen sumber daya alam kelas berat di mana kelima anaknya memang dipersiapkan sebagai tikus percobaan dengan panjang usus yang sudah dimodifikasi.

Mama saya adalah seorang juru masak yang lebih berazaskan teori Trial and error. Spesialisnya kue kering dan masakan berkuah. Beliau punya sebuah buku resep catatan masakan manual yang sepertinya berisi banyak sandi dan kode karena hanya bisa dipecahkan beliau seorang. Karena berlandaskan teori trial and error, jadi wajar banyak coretan di sana-sini sebagai bentuk sebuah proses pencarian. Tapi untuk hasil, bisa dikatakan sudah sangat mumpuni dengan bukti otentik sebuah piala lomba masak tingkat kecamatan berdiri megah di dalam rumah.

Tidak heran kalau di rumah, Mama saya punya ruangan khusus untuk menyimpan peralatan masaknya yang saking lengkap dan tidak ingin hilangnya, sudah beliau beri bar code bahkan sampai ke sendok-sendoknya! Jangan dibayangkan!

Ayah saya, adalah seorang petani kebun yang mempunyai profesi sampingan sebagai pegawai BUMN. Karena seringnya kerja cuma setengah hari, bolehlah kita anggap beliau ini memang menjadikan profesinya yang pegawai hanya sebagai kerja sampingan saja. Karena ia lebih banyak memfokuskan diri untuk menjadi petani, peternak dan tukang kebun sejati.

Untuk mendukung kinerja istrinya yang seorang penyembah dewa masak, Ayah saya bertanggung jawab penuh sebagai penyedia sumber bahan-bahan masakan untuk mengisi perut anak-anaknya yang seringkali lapar dan liar. Bahkan Ayah saya pun harus membuatkan 2 buah dapur untuk memenuhi libido makan anak-anaknya ini.

Sebagai petani, beliau telah menanam bermacam tanaman, mulai dari tanaman rumahan seperti cabe dan kunyit, sampai tanaman kelas berat macam durian, jengkol, sampai kelapa sawit. Sebagai peternak pun tak kalah komitmennya, mulai dari ikan, burung, ayam, sampai ke kambing dan angsa pernah merasakan belaian tangan dingin beliau.

Juga, sebagai tukang kebun pun bermacam buah sudah dicoba untuk dibangkitkan, mulai dari mangga, rambutan, sawo, nangka, jambu, sampai ke tanaman beda iklim macam semangka dan anggur. Mungkin dia berpikir, asal dengan modal niat yang sungguh-sungguh, anggur dan semangka akan tetap tumbuh di padang gurun sekalipun. Mantap.

Sang Eksekutor, kelima anak-anaknya termasuk saya, adalah penguasa rantai makanan. Lima kepala yang dilatih khusus untuk menggantikan posisi tikus-tikus di Bumi jika akan punah nantinya. Dengan adanya lima orang kompetitor, kecepatan adalah kemampuan wajib yang harus kami miliki. Apalagi dibidang kuliner, kata ‘mengalah’ sudah lama terkubur bersama busuknya tai kucing di belakang rumah.

Bahkan, Ayah saya sampai harus membuat 3 buah kolam ikan (dulu ada 5 buah) di rumah sebagai stok penyimpanan bahan makanan, berjaga-jaga jikalau suplai makanan di akhir bulan tidak mencukupi lagi bagi kelompok manusia berperut piranha ini.

Yang menyenangkan dari kondisi ini adalah terhindarnya keluarga saya dari masalah obesitas ataupun penyakit sejenis. Seperti saya misalnya, sejak SMA berat badan saya selalu konsisten di angka 60 hingga sekarang. Dengan pola makan everything its ok, belum pernah sekalipun saya berurusan dengan dokter perihal masalah perut ini, baik cacingan maupun usus buntu.

Bagi mereka yang sirik biasanya akan membantah dengan argumen: “lha iyalah, makannya cuma sehari sekali.. makanya kurus”. Perlu diterangkan bahwa di keluarga saya itu, paling tidak ada tiga macam pola makan. Seperti saya misalnya, sekali makan memang tak sampai sepiring penuh. Tapi itu saya lakukan lima atau empat kali sehari. Atau bisa mengguna mode survival, sehari hanya dua kali makan, tetapi porsinya untuk 2 hari kedepan. Atau bisa juga normal seperti Ayah saya, sehari tiga kali makan, dikali per dua piring, di tambah cemilan, kopi, rokok, dan beberapa biji buah dan gorengan.

Mempunyai kemampuan khusus yang diidamkan banyak perempuan di dunia tidak lantas membuat saya berbesar kepala atapun perut. Sering kali saya pun juga di bully karena dianggap seolah kurang makan. Meskipun mereka tidak tahu kebenaran yang sebenarnya terjadi di balik layar. Do not judge a book by its cover, huh? 

Kadang juga saya sering mikir mana yang lebih enak, punya badan Ade Rai tapi hari-hari cuma makan telur (itupun cuma putihnya, kuningnya dibuang) dan melewatkan begitu banyak inovasi kuliner di dunia ini. Atau menjadi kurus seperti saya, yang bisa dibilang pelahap segala (termasuk kuning telur yang dibuang Ade Rai itu), tanpa perlu peduli gangguan mata yang terjadi pada orang-orang ketika melihat pinggul langsing saya? Huffftt…

Skinny Means More….!!!

– Padang, 5 Januari 2017 – 

NB: Ada yang nanya, eh Frans, kok ga nulis masalah politik/agama kayak yang lain? Nih ya, Menjadi waras di antara kegilaan merupakan bentuk kegilaan tersendiri.. ITU.

.


Jreng.. Jreng…

22 November 2016

Saya hari-hari ini sedang kepikiran mau aja buat bikin satu tulisan serius mengenai agama.

Bukan, bukan jenis pembelaan atas maraknya isu agama beberapa bulan terakhir yang gencar terselip kata-kata “bunuh, potong, jihad, bantai, dan lainnya”. Bukan.

Bukan pula jenis tulisan penengah yang menabur damai, ketenangan, ataupun persatuan. Bukan…

Seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, profesi saya adalah pengamat Tuhan. Jadi tulisan ini nantinya akan banyak berisi analisis saya dalam pencarian saya dalam beragama secara sadar.

Ini saya rasa penting agar kepercayaan yang selama ini saya imani tidak berstatus sebagai agama genetik pilihan otang tua semata…

Pengamatan saya tentu belum sepenuhnya final, namun sebagaimana mestinya sebuah proses, analisis ini perlu saya tulis agar bisa menjadi sebuah rekaman yang mana nantinya bisa diubah dan akan banyak terjadi perbaikan maupun klarifikasi sana-sini.

Tulisan ini nantinya akan berisi tentang tujuan awal diciptakannya manusia, munculnya agama, hakikat surga dan neraka, alasan adanya hawa nafsu, sampai pentingnya ilmu sastra dalam memahami logika terhadap hubungan multidimensi..

Meskipun tulisan ini serius, sebisa mungkin saya nantinya akan mengolahnya sesantai mungkin agar yang baca sama yang nulis tidak sama-sama mengkonsumsi panadol pada akhirnya.

Semoga tulisan ini nantinya akan menjadikan saya manusia yang sempurna menurut Tuhan, dan bisa lebih khusyuk dalam mempertebal iman saya. Sukur-sukur kalo ada yang sependapat..

Kapan nulisnya? Entah, mungkin nanti, setelah saya memperoleh ketenangan, dengan meninggalkan “tempat” ini…

Wallahualam.. Tabik.


Catatan Sejarah

10 November 2014

Di WC, Pukul 12.09 WJH (Waktu Jam Hp), di sebuah siang nan aduhai, lebih dari sebagian beban hidup telah hilang. Mengalir bersama air..

*selamat 10 November, Bung!


Saatnya mencari Dragon Ball…!

9 November 2014

Hari ini saya ingat fisika kuantum lagi. Udah lama engga. Gara-gara nonton berita Pindad bikin senjata yang bikin geger dunia militer internasional tadi. Senapan sniper yang katanya peluru senapannya berisikan anti-materi. Saya bingung.

Seingat saya, anti-materi dalam fisika kuantum itu zat paling mahal sedunia-akhirat. Logam mulia sampai permata, berlian afrika sekalipun kalah mahal. Bahkan lebih mahal dari biaya hidup Syahrini.

Karena zat ini cuma mampu bertahan di dunia hanya beberapa detik dan akan hilang begitu saja. Dan biaya untuk menghasilkan zat anti-materi ini luar biasa mahal. Tapi saya malas mengecek, apakah peluru senapan buatan Pindad yang disebut anti-materi ini, sama seperti anti-materi dalam istilah fisika kuantum.

*****************************************************************

Saya lagi nganggur aja beberapa hari. Karena hampir mati gaya, saya setel itu TV. Nonton berita, terus nulis ini blog. Hubungannya?

Artinya saya mulai menulis kalo lagi bosan akut aja sekarang. Saking bosannya saya bawa-bawa masalah fisika, yang saudara jauh matematika. fiiuuhhh…

Hidup sudah mulai menunjukkan wujud aslinya. Dan saya mulai fakir tantangan. Kombinasi yang sangat aduhai untuk menghasilkan hari-hari sejenis tidur-makan-tidur-makan. Ditambah banyaknya pejuang daerah di area sekitar dompet. Meskipun pejuangnya banyak, tapi tidak bakal menang perang kalo senjatanya cuma golok. Dan saya betul-betul membutuhkan banyak Soekarno-Hatta untuk memerdekakan saya dari perang ini..

Tantangan dan uang. Saya butuh keduanya secepat mungkin. Kalo bisa telah terkumpul sebelum saya menginjak kepala 3. Karena, ketika seseorang telah melewati umur 30, ia akan punya pandangan baru akan hidup. Punya orientasi baru. Tujuan, prioritas, keinginan, ide, rencana, dan tingkat kedewasaan yang baru.

Sepertinya, ini sepertinya lho.. Sepertinya ijazah kuliah saya tidak akan banyak membantu masa depan saya. Yang artinya, saya harus lebih banyak menambah skill dan pengalaman saya ketimbang menambah tulisan saya. Yang artinya juga, saya harus segera menentukan potensi akhir saya. Dan sayangnya, sampai sekarang saya hanya berpikir sambil merokok, ngopi, dan maen game. Saya terlalu santai untuk masa depan yang keras… Santai khas saya…

exactly


Ini Mimpi Terlanjur Kering

3 November 2014

Akhir-akhir ini, saya mulai meninggalkan buku, TV, laptop, dan bangun pagi. Saya mulai berkawan game, kopi, dan musik-musik etnic aneh..

Kemana-mana earphone pasti terpasang. Duduk sebentar ngopi. Nganggur sedikit ngegame.. Hidup mulai menawarkan sisi tidak asiknya. Kebosanan akut.

Kaki saya mulai nganggur beberapa bulan. Sumber masalahnya tidak lain si dompet keparat yang merupakan reinkarnasi otak pejabat kebanyakan, kosong melompong…

Harusnya, dengan umur yang segini ini (?), saya sudah menghasilkan karya, atau prestasi, atau senyuman manis di bibir orang tua ketika ia bergosip dengan tetangga bercerita tentang anaknya.

HP sudah waktunya diganti, celana sudah tidak ada yang tidak sobek, carriel sudah masanya diangkat lagi, catatan perjalanan sudah harus ditulis lagi, otak mestinya sudah diinstal ulang, kartu ATM wajibnya di aktifkan lagi, gitar sudah waktunya direparasi, dan rokok harus kembali ke kastanya yang semula, Djarun Super.

Kalo hal-hal diatas sudah terpenuhi, jangan terkejut kalo saya nantinya akan menjadi pribadi yang lebih menyenangkan. Kembali menjadi spesies langka Adorable Nerd. Sejenis nerd yang memakai motor metic..? Ntahlah, tunggu saja.. Kapan?

Santai saja, jangan buru-buru. Ini kang Armand Maulana mau ngajak saya duet di mp3 lagu Terbang. Okelah, sok lah ..

SEMC 3MP DSC

Apa saya harus memuji tentang pagi ini?? Ohh, tidak.. Karena dari dulu pagi itu sudah indah.. Sama seperti kamu…


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: