Catatan Sejarah

10 November 2014

Di WC, Pukul 12.09 WJH (Waktu Jam Hp), di sebuah siang nan aduhai, lebih dari sebagian beban hidup telah hilang. Mengalir bersama air..

*selamat 10 November, Bung!

Iklan

Saatnya mencari Dragon Ball…!

9 November 2014

Hari ini saya ingat fisika kuantum lagi. Udah lama engga. Gara-gara nonton berita Pindad bikin senjata yang bikin geger dunia militer internasional tadi. Senapan sniper yang katanya peluru senapannya berisikan anti-materi. Saya bingung.

Seingat saya, anti-materi dalam fisika kuantum itu zat paling mahal sedunia-akhirat. Logam mulia sampai permata, berlian afrika sekalipun kalah mahal. Bahkan lebih mahal dari biaya hidup Syahrini.

Karena zat ini cuma mampu bertahan di dunia hanya beberapa detik dan akan hilang begitu saja. Dan biaya untuk menghasilkan zat anti-materi ini luar biasa mahal. Tapi saya malas mengecek, apakah peluru senapan buatan Pindad yang disebut anti-materi ini, sama seperti anti-materi dalam istilah fisika kuantum.

*****************************************************************

Saya lagi nganggur aja beberapa hari. Karena hampir mati gaya, saya setel itu TV. Nonton berita, terus nulis ini blog. Hubungannya?

Artinya saya mulai menulis kalo lagi bosan akut aja sekarang. Saking bosannya saya bawa-bawa masalah fisika, yang saudara jauh matematika. fiiuuhhh…

Hidup sudah mulai menunjukkan wujud aslinya. Dan saya mulai fakir tantangan. Kombinasi yang sangat aduhai untuk menghasilkan hari-hari sejenis tidur-makan-tidur-makan. Ditambah banyaknya pejuang daerah di area sekitar dompet. Meskipun pejuangnya banyak, tapi tidak bakal menang perang kalo senjatanya cuma golok. Dan saya betul-betul membutuhkan banyak Soekarno-Hatta untuk memerdekakan saya dari perang ini..

Tantangan dan uang. Saya butuh keduanya secepat mungkin. Kalo bisa telah terkumpul sebelum saya menginjak kepala 3. Karena, ketika seseorang telah melewati umur 30, ia akan punya pandangan baru akan hidup. Punya orientasi baru. Tujuan, prioritas, keinginan, ide, rencana, dan tingkat kedewasaan yang baru.

Sepertinya, ini sepertinya lho.. Sepertinya ijazah kuliah saya tidak akan banyak membantu masa depan saya. Yang artinya, saya harus lebih banyak menambah skill dan pengalaman saya ketimbang menambah tulisan saya. Yang artinya juga, saya harus segera menentukan potensi akhir saya. Dan sayangnya, sampai sekarang saya hanya berpikir sambil merokok, ngopi, dan maen game. Saya terlalu santai untuk masa depan yang keras… Santai khas saya…

exactly


Ini Mimpi Terlanjur Kering

3 November 2014

Akhir-akhir ini, saya mulai meninggalkan buku, TV, laptop, dan bangun pagi. Saya mulai berkawan game, kopi, dan musik-musik etnic aneh..

Kemana-mana earphone pasti terpasang. Duduk sebentar ngopi. Nganggur sedikit ngegame.. Hidup mulai menawarkan sisi tidak asiknya. Kebosanan akut.

Kaki saya mulai nganggur beberapa bulan. Sumber masalahnya tidak lain si dompet keparat yang merupakan reinkarnasi otak pejabat kebanyakan, kosong melompong…

Harusnya, dengan umur yang segini ini (?), saya sudah menghasilkan karya, atau prestasi, atau senyuman manis di bibir orang tua ketika ia bergosip dengan tetangga bercerita tentang anaknya.

HP sudah waktunya diganti, celana sudah tidak ada yang tidak sobek, carriel sudah masanya diangkat lagi, catatan perjalanan sudah harus ditulis lagi, otak mestinya sudah diinstal ulang, kartu ATM wajibnya di aktifkan lagi, gitar sudah waktunya direparasi, dan rokok harus kembali ke kastanya yang semula, Djarun Super.

Kalo hal-hal diatas sudah terpenuhi, jangan terkejut kalo saya nantinya akan menjadi pribadi yang lebih menyenangkan. Kembali menjadi spesies langka Adorable Nerd. Sejenis nerd yang memakai motor metic..? Ntahlah, tunggu saja.. Kapan?

Santai saja, jangan buru-buru. Ini kang Armand Maulana mau ngajak saya duet di mp3 lagu Terbang. Okelah, sok lah ..

SEMC 3MP DSC

Apa saya harus memuji tentang pagi ini?? Ohh, tidak.. Karena dari dulu pagi itu sudah indah.. Sama seperti kamu…


Gombalanashyu

22 Agustus 2014

Dan seumpama, di suatu saat nanti rembulan tak sudi lagi membagi sinarnya ke bumi,
Yakinlah ini, kamu boleh melihat mataku selama yang kau mau..

22::34:22-08-14


Ini Rutinitas Pagi

14 Agustus 2014

Bangun setengah 6.

Sholat

Hidupkan Laptop

Bikin Kopi

Nongkrong (rokok + kopi + musik)

Bersih Rumah (DepartemenTempat Tidur dan Halaman)

Panasin Motor

NgGame Sebentar

Bikin To Do List hari ini di HP

Makan

Persiapan (Tas + HP + Earphone + Rokok + Zippo + Dompet)

Mandi

Berangkuuuut !!

 

DSC03743


Poli.tik(us)

13 Agustus 2014

Karena saya sedang senang akibat IP saya tembus 3.2, maka saya mau menulis bebas..

Kali ini saya mau membahas masalah politik. Tapi yang ringan-ringan saja. Demi pengetahuan umat..

Terlepas dari pendukung Prabowo atau Jokowi, saya melihat pemilu kali ini adalah titik balik sejarah anak bangsa. Saya tidak netral, toh netral anggotanya tidak ada yang bernama Frans, anggaplah saya adalah musuh kedua kubu. Saya adalah kritikus permanen.

Di pemilu kali entah kenapa saya sangat senang juga sedih melihat sebagian besar orang akhirnya aktif (meninggalkan golput) dan menjadi pintar politik meskipun dadakan. Beberapa dari mereka menyadari arti penting berpolitik. Beberapa kembali lagi menelusuri jejak sejarah politik negeri ini, beberapa juga menjadi Tuhan politik yang pendapatnya selalu benar dan yang tidak sejalan adalah salah. Ada juga yang merasa ini saatnya mengenal negara ini..

Saya sendiri tidak berminat terjun ke dalam kubangan politik. Meskipun begitu, bukan berarti saya masa bodoh dengan politik. Paling tidak, saya tahu pergerakan negeri ini. Minimal, saya tahu tentang politik. Tidak ikut, tapi saya belajar sekedar untuk mengenal.

Pemilu kali ini juga membawa dampak besar terhadap ramainya gaung politik yang selama ini hanya memperdengarkan masalah korupsi dan anggota DPR. Masyarakat akhirnya menyadari ada sisi lain dari politik. Mereka seolah bergairah untuk mengikuti setiap langkah perubahan yang terjadi. Sangat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya.

Tumbenlah saya dengar ada tukang becak, tukang jamu, buruh, petani, nelayan dan tukang ojek begitu antusias ikut campur dalam zona yang digadang-gadang khusus kaum elit. Ada perasaan bersemangat melihat mereka begitu sadar ingin ikut mewarnai perubahan negeri ini. Beda kasus dengan jaman-jaman sebelumnya yang keterlibatan orang-orang tersebut hanya sebatas barter suara dengan kaos dan uang beberapa puluh ribu.

Politik kini menjadi bahan pembicaraan yang umum tanpa sekat. Saya kemaren juga sempat ketemu teman lama dengan pertanyaan pembuka : “Pilih Jokowi apa Prabowo?”, katanya.. Dampak yang begitu besar hingga jadi obrolan warung kopi di desa-desa. Meskipun saya kurang yakin bangsa ini tambah pintar. Mereka hanya mengurangi kebodohan atas pembodohan.

Banyak orang-orang mencari tahu agar menjadi tambah pintar dalam berdebat ataupun sekedar untuk komentar. Ditambah lagi media sosial yang bagai tsunami. Begitu banyak orang menjadi kebenaran. Bahkan Tuhan pun kalah benar. Saya pun juga membenci politik yang mengait-ngaitkan dengan agama. Ibarat berenang sambil melukis, mungkin saja tapi akan sangat sulit.

Untuk saya sendiri, saya juga bergairah sejak lama akan politik. Tapi tidak dengan kasusnya, saya tertarik hanya kepadah biografi tokoh-tokoh politik dan sejarah dibalik peristiwa-peristiwa perubahan negara ini.Tapi gara-gara pemilu kemaren, saya kembali membuka arsip-arsip mulai dari awal masuknya VOC (buku Sejarah Tanah Jawa/JJ. Stockdale), berdirinya Freeport, Gestok, Malari, Tragedi 98, Timor-timur, sampai ke terbentuknya pemuda pancasila, dan juga dibalik layar presiden-presiden Indonesia..

Politik bagi saya adalah pembentuk corak negeri ini. Boleh dianggap, politik adalah bagian dari budaya. Hanya saja, politik pada masa-masa kini terlalu kotor untuk didekati. Politik juga yang menjadikan saya membodoh-bodohi banyak orang.  Politik juga turut andil atas lahirnya banyak pemuda macam saya dan teman-teman.

Maka dari itu, utamakan belajar terlebih dahulu. Politik menuntut orang yang benar-benar berkualitas baik sebagai pemain maupun penonton. Jangan setengah matang ataupun amatiran, nanti kalau kotor susah dibersihkannya..

 

 

pol


Mari Mendaki

12 Agustus 2014

Saya ingat sebuah kejadian ditahun 2009 dulu di sebuah kucingan depan kampus sastra undip, sedikit malam waktu itu. Ketika itu saya sedang makan mie rebus dengan ganasnya karena seharian belum makan. Saya lagi nongkrong sama anak-anak belakang yang tiba-tiba datang satu orang lagi yang ikut duduk di lesehan sambil cengar-cengir.

“Aku udah ke 37 lho, kapan kowe-kowe nyusul?”, katanya.. Terus temannya bilang “Itu si Frans udah 38 malah”. Pertamanya saya bodo amat percakapan mereka karena saya nggak ngeh bahasa kode mereka, tapi karena nama saya sudah disebut, saya harus ikut campur dalam obrolan itu dan meninggalkan sejenak mie rebus saya.

Ternyata mereka lagi bicara tentang gunung-gunung yang sudah didaki. 37 adalah kode untuk Rinjani (3726 mdpl), dan 38 untuk Kerinci (3805 mdpl). Saya ingat betul ditahun-tahun itu banyak teman saya yang seperti berkompetisi dalam mendaki gunung. Tidak hanya gunung tertinggi yang mereka incar, tapi juga pendakian / gunung terbanyak. Momen itulah yang kadang membuat saya tersadar tujuan semula saya mendaki gunung…

Pertama kali saya naik gunung itu ketika kelas 2 SMP, saya diajak kakak saya sama rombongan organisasinya yang mahasiswa. Waktu itu saya buta sama sekali seperti apa naik gunung. Makanya barang bawaan saya waktu itu cuma jaket, coklat silverqueen, dan komik dragon ball nomer 42. Waktu SMP saya belum merokok, ditambah dari kecil saya memang anak kampung yang sering keluar masuk hutan, jadilah saya orang kedua yang sampai puncak bersama seorang mahasiswi cantik meninggalkan rombongan perokok di belakang.

Di situlah saya berkenalan dengan tenda gunung (bukan tenda pramuka), kompor lapangan, sleeping bag,  carriel, slayer, scebo, dan diri saya yang satu lagi.

Seringkali banyak orang bertanya buat apa naik gunung. Meskipun saya sudah mempersiapkan jawaban “naiklah ke gunung, dan temukan sendiri jawabannya”, tapi saya selalu saja diam ketika ditanya seperti itu. Seolah saya sendiri masih mencari jawaban atas pertanyaan yang sama..

Benar, saya puas saat mendaki dan sampai ke puncak, saya senang saat berhasil menaklukkan ego saya, saya menikmati saat menjadi diri saya yang lain, saya bersyukur mengetahui batas-batas kemampuan saya, saya suka saat-saat berkeringat dan tertawa lepas. Tapi saya belum yakin itulah yang saya cari. Saya masih menyisakan kekosongan di daerah sekitar hati. Seolah ada yang kurang.

Setelah 2010, saya meyakini bahwa jawabannya adalah saya ingin berdiskusi dengan Tuhan. Semakin tinggi gunungnya, semakin dekat saya mendengar-Nya. Jadilah saya pendaki yang religius. Religius saya tidak lantas bawa-bawa kain dan sejadah dan sholat di gunung, atau cari jurang buat tempat mati syahid. Saya hanya melontarkan banyak pertanyaan hidup dan berdiskusi satu arah kepada Tuhan. Lucu juga kalau ingat kejadian itu sekarang..

Saya yang sekarang sedikit rasional. Saya tidak lagi mencari jawaban-jawaban tersebut. Saya senang saja naik gunung. Saya juga senang berdiam di pantai. Atau masuk gua, atau menyelam di laut, mandi di sungai, atau jalan-jalan ke mall, tidur di kamar, atau sekedar jalan-jalan kaki. Biarlah pertanyaan itu terjawab di saat yang tepat. Di saat saya bisa memandang hidup lebih bijak dan adil..

Tidak ada lagi gunung yang lebih tinggi, gunung terbanyak di daki. Makanya saya tersenyum saja ketika kawan saya banyak yang berbicara Semeru, Rinjani, Raung, Kerinci, Leuser, bahkan Himalaya. Saya cukup senang bisa sekedar keluar rumah. Saya mencoba memaknai tiap langkah yang saya ambil. Saya adalah seorang pengamat Tuhan. Sebuah profesi yang aneh memang. Karenanya, semoga Tuhan juga maklum, menciptakan mahkluk yang seperti saya.. Hehe

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: