Emang Kenape???

18 November 2013

Judul nya asik. Ini saya sedang mau cerita kebiasaan orang indonesia yang bisa bikin jadi ga asik.

Belakangan ini berita koruptor lagi booming gila-gilaan. Sampai yang nonton muak ngeliat muka pejabat. Praktek KKN sangat dibenci di negeri ini. Sayangnya, yang bikin aturan dan yang menghukum sama-sama pejabat, ibarat main game uler2 di HP Nokia, jadi disuruh makan ekornya sendiri. Apa mau?

 

Balik lagi ke judulnya..

Btw, saya sering dibeginiin nih:

“Itu ibunya si anu (artis), tinggalnya dekat rumah tante aku lho…”.

“Eh, tau nggak, rumah si anu (pejabat) kan cuma beda dua gang dari masjid tempat temen aku..“.

“Dia (nunjuk orang di TV) kan kenal sama neneknya sepupu aku..”. Dan blablabla….

Beberapa cuma basa basi, tapi ga sedikit yang bangga-banggain salah tempat. Sebenarnya saya maklum dengan sifat orang Indonesia ini, rata-rata bangsa kita memang suka berbasa-basi, makanya sering dibilang bangsa yang ramah. Tapi kan…

 

Oke, tulisan ini memang kurang nasionalis. Saya juga ga bisa minta dimana saya dilahirkan. Makanya saya anggap ini adalah gagasan perindividu.

Saya agak males kalo seseorang udah mulai berbasa-basi dengan menggunakan kalimat andalan diatas. “Teman saya satu sekolah loh dulu sama artis anu..”. Terus kenapa? Emang nape? Ngaruh?

Ada lagi yang begini: wah band itu bagus tuh, vokalisnya kakak kelasku dulu/ dia itu orang tegal lho (bangga karena sekampung)/ anaknya artis itu kerja sekantor sama abangku lho dulu… blablabla..

Agak janggal rasanya seseorang membanggakan orang hanya karena masalah geografis dan bahkan hanya kenal nama. Saya sering bertanya sendiri, apa gunanya berbangga dengan orang lain, apakah cuma dapat cipratannya aja udah cukup? Dapat sedikit suntikan pamor? Jadi ikut merasa membantu karirnya? Kenapa bukan kamu saja yang jadi dia?

Tulisan ini bukan untuk fans dan idolanya ya. Beda. Ini buat orang terkenal dan orang yang mencoba “meminta” ikut terkenal.

Agak kasar? Memang, saya sengajai biar yang sering begini pada sadar. Karena orang-orang seperti ini akhirnya sengaja atau tidak sengaja akan melahirkan sifat nepotisme. Semisal: tenang aja, Om ku polisi kok/ sepupu ku tentara kok/ masukin lamaran kesitu aja, ada kakaknya temenku kok/ bikin surat ke situ aja, yang ngurus kenal kok sama bapakku…

Sama seperti kita yang muak dengan praktek korupsi di TV, tapi kita sendiri sering “menyisihkan” uang kembalian ajinomoto buat jajan waktu kecil, ngambil duit spp ketika sekolah, menggelembungkan dana proposal organisasi waktu kuliah, dan ngambil sisa proyek barengan waktu kerja.. Coincidence?

Untuk kesekian kalinya saya minta, sesuaikan perilaku sama otak. Biar hidup tidak diburu nafsu.

Iklan

DEWA

10 Oktober 2013

 

Fanatisme. Unsur kausal yang membabi-buta. Adalah pandangan ekstrim dengan menutup kemungkinan kedua dan tak kan menerima alasan yang berbeda sudut. Dunia fanatisme mengerucut hanya pada satu tujuan. Terjadi tanpa objektifitas. Ketika seorang manusia melahap fanatisme, ia menjadi seekor katak. Katak dalam tempurung yang berada di bawah sumur tua kering di kedalam 1000 meter di daerah Uganda. Mereka-mereka yang telah dirasuki pandangan ini, serta merta berubah menjadi manusia yang darahnya menghitam dialiri ego dan ketidakpuasan.

Untuk itulah manusia-manusia sejenis ini saya sebut dewa. Manusia otoriter yang tidak akan nyaman hidup sendiri tanpa ada yang bisa ia jadikan teman untuk melalui setapak yang sama. Ia muncul dengan kemauan besar yang sayangnya menutup kemungkinan akan kebenaran. Dunia individu-individu ini hanya satu. Dunia dewa mereka, dunia bagi dewanya dewa.

Tulisan ini muncul dari perenungan saya akan Oi (Orang Indonesia), fans club terbesar jagad musik terbesar tanah air, Iwan Fals.

Dunia mereka hanya seputar Iwan Fals, sang dewa. Alasan terbesar mereka mengagungkan sosok Iwan Fals tidak lain karena resistansi sang idola atas pemerintahan korup jaman orba pimpinan Soeharto. Sejak kemunculannya, Iwan Fals memang keras terhadap percaturan politik ibu pertiwi. Ia merasa jengah dan tertekan atas kepemimpinan ala militer dari Soeharto. Sebagai musisi miskin, perlawanannya saat itu hanya sebatas teriakan berirama yang sekarang kita sebut musik. Lagu-lagu bernada protes mulai menyentil sisi hitam pemerintah. Bahkan hingga saat ini, Iwan Fals masih bergelut dengan dunia musisi pemberontak.

Disisi lain, Oi, para penggemarnya, serta merta mendewakan Iwan Fals tanpa melihat sisi perjuangan yang ia suarakan. Para Oi berteriak lantang menyebut nama sang legenda di tiap konser. Poster terpajang di belahan sudut pintu dan dinding. Alat pemutar musik diisi lagu-lagu kesayangan. Tapi mereka lupa apa yang sang legenda perjuangan. Mereka menutup mata pada apa yang menjadikan Iwan Fals legenda. Mereka menangis ketika mendengar lagu yang ia suka. Ia tertawa melihat TV dipenuhi pejabat-pejabat menikung uang rakyat tertangkap di hotel dengan artis dangdut karbitan.

Bangsa kita yang mayoritas adalah penggila konsumsi akan apa saja. Semua yang mainstream akan dilahap tanpa babibu lagi. Santap tanpa tanya, libas tanpa peduli. Ah… saya bingung mau nulis apa lagi.. Entah tersampaikan atau tidak maksud saya..

Oiya, kebodohan ini banyak di perulang oleh suporter bola kebanyakan. Kencur-kencur pahit borok sepakbola tanah air. Yang mereka lakukan tidak lebih dari sekedar pamer pantat. Sama seperti kasus Oi mereka hanya peduli pada nama klub, tanpa melihat sisi yang harus dicapai. Bagi mereka nama klub adalah harga mati. Dengan mempersetankan sisi kedewasaan. Saya pasrah, dan terus mengutuki. dan muncullah kalimat kunci: BODO AMAT.


Frans Cihuy

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: