Saya Bukan, Ya?

17 Februari 2015

Ada lho orang yang ng-share kata-kata bagus, kata-kata motivasi yang aduhai, kalimat-kalimat indah yang ia yakini sesuai perasaannya. Kalimat-kalimat yang dirasa menjadi perwakilan dirinya.. Tapi tidak pernah bercermin, jarang diaplikasikan, tidak dipraktekkan, cuma dibagi-bagi. Biar orang lain baca dan tahu, Ada..

smbdy


Ibukota Mulai Rabun

15 Februari 2015

Dulu, saya pernah bikin status pesbuk yang kira-kira isinya begini, “Wajar aja Ibukota banyak mall dan juga sering ribut-ribut, namanya juga ibu-ibu”..

Ibukota kita itu, Jakarta, sudah macet, banjir, penat, mahal, padat, panas, tidak ramah, rawan, kriminalitas tinggi, dan sangat tidak aman sebagai tempat untuk hidup, sekalipun untuk binatang. ih..ih..ih..

Pantaslah Sheila on7 sama Jokowi malas tinggal di sana.. Saya pun, selama bertahun-tahun di tanah Jawa sangat menghindari Jakarta sebagai tujuan destinasi wisata maupun tempat singgah. Sangat tidak disarankan bagi para pencari ketenangan. Yakin.

Waktu saya masih imut, dari 2006 – 2009 saya sering keliling Jawa sendirian. Backpackeran nekat. Kadang numpang mobil, truk, fuso, ambulan. Kalo ada duit naik kereta api. Saya akan singgah di suatu tempat jika di daerah tersebut saya punya kawan. Mulai dari Banten, Bekasi, Bogor, Sumedang, Cirebon, Brebes, Tegal, Kebumen, Pekalongan, Jogja, Solo, Sby, Malang, Kediri, sampai Banyuwangi. Tapi tak pernah Jakarta.

Ada beberapa teman saya di Jakarta, tapi saya tidak sudi singgah karena saya masih waras. Gita Gutawa juga betah di Jakarta kan ikut bapaknya.. Coba kalo engga, pasti udah ikut program transmigrasi ke Bengkulu.. tanya deh kalo ga percaya.

Saya sering ke Jakarta, tapi bukan buat plesiran atau kontemplasi. Kebanyakan terpaksa. Saya kalo mudik mau tidak mau harus ke Bandara Soetta, atau senen, atau pulo gadung. Seringnya juga ke rumah sakit cek up Orang tua. Atau saya main ke tempat sodara di bekasi atau bogor, eh diajaknya ke Jakarta juga..

Pernah saya beberapa kali ke Jakarta bahkan tinggal hampir satu bulan gara-gara teman saya ada yang kerja di sana. 2 minggu juga pernah saya habiskan di RS Jakut. Semua hampir tidak membangkitkan insting jalan-jalan saya. Dan hampir semuanya bukanlah pengalaman kunjungan yang menyenangkan. Tapi entahlah dengan dunia malamnya. Saya pikir, hanya dunia malamlah hiburan orang-orang Jakarta..

Dunia orang Jakarta hanya diisi dengan kerja, kepenatan, tekanan, omelan, dan tipu-menipu. Tidak ada tempat bagi para idealis. Makanya filsuf sekelas Gusdur dan Pram jarang lahir di tempat ini. Masih untung ada Chairil.. Tempat yang cocok bagi mereka yang ingin mati menangis.

Dengarlah itu Lagu Slank, Iwan Fals, sama Benyamin.. Jakarta memang membakar emosi. Tengoklah isi TV. Kalo bukan kriminalitas, berita Jakarta penuh dengan trik-trik culas para pedagang. Itu baru penduduknya, pejabatnya ga usah ditanya.. Terlalu lama tinggal di sana memang akan menumpuk beban mental. Mereka yang bertahan pun akan dipecundangi dengan keadaan.

Saya juga pernah berpikir tidak akan kerja ataupun tinggal di Jakarta kecuali Aura Kasih memaksa. Kalopun di suruh memilih tinggal, saya akan lebih memilih Solo, Pinggiran Jogja, Batu-Malang, Atau Bali Utara. Tempat-tempat dimana orang-orang masih tegas mengenal identitas diri mereka sendiri. Tempat asik yang penuh hiburan untuk panca indera. Tempat yang juga dimana harga senyuman murah semurahmurahnya..

Selayaknya Ibukota, Jakarta merupakan dunia super sibuk. Ditambah lagi tata kota dan birokrasi yang semrawut,.. voila.. jadilah Jakarta yang keras. Bahkan untuk menuju ke tempat yang jaraknya 1km, kadang harus di tempuh lebih dari satu jam. Belum lagi banyaknya tukang tipu, artis karbitan, pejabat songong, preman, koruptor (imbas dari pecundang-pecundang yang bermimpi terlalu besar), membuat Jakarta menjadi kota ter……… di Dunia. Udah ah.. Sumpek ngomongin Batavia..

y


Perrrrrriiiihhhhhhhh Bahasa

3 Februari 2015

Sayanya yang lagi nganggur terlentang di pucuk kasur laknat ini akhirnya memutuskan untuk membahas masalah konvensional tidak bermutu yang jarang di apdet bahkan oleh Menteri Pendidikan. Peribahasa, yang sebenarnya digunakan sebagai sebuah majas perbandingan atau pengandaian atau anekdot atau beragam jenis kiasan lainnya ini ternyata sudah tidak sesuai dengan jaman dan beberapa bahkan masih menjadi misteri bagi saya..

Dikarenakan beberapa unsur seperti masa, budaya, cara penyampaian dan sosial yang terus berubah dan menjadi dinamis, maka saya berasusmsi bahwa sesungguhnya beberapa atau sebagian besar peribahasa sudah tidak layak mengisi klasemen di buku pelajaran dan harus segera digulingkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya..

Karena apa? Karena saya kesal lulusnya masih lama masalah ini di cuekkan bertahun-tahun tanpa adanya kejelasan dan pembaharuan dari guru, sekolah dan institusi terkait.. Ini saya bedah dulu beberapa yang saya ingat, sisanya nanti saya apdet kalo saya dibeliin android sama pak Ahok, cekidot ah:

  • Air susu dibalas air tuba – Terus terang, saya dari pertama kali mendengar peribahasa ini sampai sekarang juga tidak tau dan tidak pernah mau tau apa itu air tuba. Kata “air tuba” pun sangat jarang digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia. Bentuknya sudah pasti air. Hanya saja air yang bagaimana saya tidak tau. Kesimpulan otak saya sih itu sebenarnya air ketuban. Tuba dan ketuban kan engga beda jauh tuh :v . Selain itu kalimatnya juga aneh, air susu di balas air tuba.. terlepas dari susu atau sekalipun itu madu, kalo disiram air pasti dibalas dong ya. Bodo amat disiramnya pake apa, yang penting balas aja.. Lha orang sms aja di balas, apalagi disiram… ya kan? ya kan?
  • Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui - Peribahasa ini juga jadul banget. Hellloooo… sekarang udah 2015 kalik. Orang-orang udah pada mau jalan-jalan ke bulan, emang masih ada perahu yang pake dayung? Kasarnya sih begitu. Karena secara logika sih tidak mungkin dalam sekali mendayung bisa melampaui sebuah pulau kecuali Hercules yang minum extra joss. Atau mendayungnya sekali, tapi sisanya pake layar atau mungkin pake mesin.. Seperti Speedboat yang ga sengaja kebawa dayung? Mungkin saja.. Jadi, asumsi otak saya begini, si nelayan, setelah dayungan pertama ternyata perahunya dimakan Godzilla terus diseret jauh sampai 2-3 pulau..Mudah-mudahan saya salah.
  • Gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman/semut di seberang lautan nampak – Pertama, kemungkinan ini peribahasa orang rabun dekat. Kedua, ia sedang menggunakan teropong. Sudah pasti betul ini jawaban saya. Yakin.
  • Tak ada rotan, akarpun jadi – Jadi berdarah iya.. Lha ini peribahasaya untuk apa dulu.. Kalo tentang ikat mengikat, tentu akar dan rotan bukan pilihan yang baik. Selain keras, juga susah diambilnya. Untuk di gantungin? Jadi mainan auo ala Tarzan? Lha itu rotan durinya udah kayak ular kaktus mau dipegang gimana?  Untuk bahan bakar? Kan ada kayu… Untuk dijual? Akar ya nggak laku, kecuali gingseng sama akar wangi. Buat bahan kerajinan? akar ya belum ada sih.. Terus ini  peribahasa rotan sama akar ini di fungsikan ke arah mana??
  • Buruk muka, cermin dibelah - Ini saya yakin adalah sebuah peribahasa yang muncul dari seorang samurai sekelas Musashi.. Membelah cermin, saya pastikan bukanlah pekerjaan sepele yang mampu dilakukan orang sekelas Chef Juna. Perlu tehnik tingkat tinggi dan juga banyak kesabaran untuk melakukan hal ini. Kecuali ia punya pedang laser Jedi.
  • Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian – Sudah pasti rakit bikinan orang ini tidak sempurna dan kurang kuat. Saya simpulkan, ketika ia sampai di hulu baru ia sadar kalau rakitnya  mulai rusak dan tenggelam. Dasar amatir..
  • Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit – Sama seperti peribahasa akar dan rotan, peribahasa ini kurang jelas dalam hal apa. Yang terpikirkan oleh saya, yang sedikit lama-lama jadi bukit kemungkinan tanah. Berarti ini peribahasa tukang cangkul? buat apa dia bikin bukit? hmmm… agak sukar diterima akal. Kalau begitu uang? Manusia mana yang mau menimbun uang sampai menjadi bukit? Bisa-bisa dirampok. Lagian jaman udah modern, orang sudah kenal Bank dan saham.. Hmmm… misteri ini.
  • Berat sama difficult, ringan sama dijinjing – Ah, ini pasti peribahasa cowok yang ngikut ceweknya belanja di mall. Pasti ini. Tidak yang lain. Habis perkara.
  • Bermain api hangus, bermain air basah – Lebih baik jangan bermain. Ini pasti peribahasa yang muncul dari orang tua yang parno anaknya kenapa-napa.
  • Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading – Pemerintah sebaiknya merevisi peribahasa ini. Entah ada korelasinya atau tidak, sejak terbitnya peribahasa ini, banyak pemburu malah lebih memilih belang (kulit) harimau dan gading gajah untuk dijual ke kolektor daripada meninggalkannya. Peribahasa ini selain salah (terbukti harimau dan gajah mati tidak meninggalkan apa-apa), juga telah mempropagandakan para pemburu untuk memungut sisa-sisa yang ditinggalkan para binatang tersebut.. satu kata: LAWAN!
  • Kalah jadi abu, menang jadi arang – Sama-sama rugi? Hah! Peribahasa ini sok tau sekali.. Pasti tidak pernah diajakin Idul Adha. Setiap acara qurban atau bakar ikan, semua umat manusia di bumi ini memakai arang, bung. Orang bakar sate juga pake arang. Makanya, sering-sering main ke masjid, biar dapet daging… Jadi arang untungnya masih banyak, bung..
  • Ada api, pasti ada asap - Lagi-lagi sok tau sekali bung peribahasa ini.. Api cinta, api cemburu, api asmara, api amarah semua tidak ada asapnya, bung.. API di Indosiar juga tidak ada asap, bung. Jangan sok tau, tidak ada yang pasti di dunia ini.
  • Malu bertanya sesat di jalan – Malu pada manusia itu normal. Masih wajar. Apalagi malu bertanya.. Siapa tahu yang mau ditanyai adalah dosen pembimbing skripsi. Tapi tidak lantas perkara malu orang jadi tersesat. Ndeso sekali Peribahasa yang satu ini. Peradaban sudah maju, orang sudah menciptakan GPS, Google Map. Dan banyak aplikasi penunjuk arah lainnya. Makanya, beli android.. Ooo Kere.
  • Bagai pungguk merindukan Bulan – Karena nila setitik rusak susu sebelanga – Baik pungguk maupun nila, saya belum pernah sekalipun melihat ataupun tahu bentuknya serta status asmaranya. Saya dari dulu tidak pernah tahu apa itu pungguk dan nila. Tidak pernah bertanya pun tidak pernah mau tahu. Lagipula kata “rindu” digunakan kalau objek dan subjek pernah bersama sebelumnya (Bener ga sih?). Kalo bener, apakah artinya si pungguk ini merupakan mantan astronot yang sudah pernah ke bulan, terus kembali ke Bumi dan terjadilah kangenisasi dan dibuatkanlah sebuah peribahasa untuknya..? Kok enak??

Untuk sementara itu dulu kebimbangan yang mau saya tuliskan. Mohon saya jangan di bully kalo salah. Saya bukan presiden.. Lagipula kalaupun saya benar saya juga tidak dapat hadiah kok. Juga semoga menteri pendidikan bisa membaca tulisan saya ini :v Udah, ah. Saya mau stalking Scarlett Johanson dulu. Siapa tau… ehem ehem..

bbl


Ga ada lo, Ga pa pa (No You, No Father)

20 Januari 2015

Karena beberapa sebab dan upaya, saya harus merelakan diri liburan di rumah. Tanpa jalan-jalan. Meskipun cuaca cerah dan dompet kosong, saya akan tetap bertahan di atas kasur. Dan oleh sebab itu, saya cuma bisa cerita tentang jalan-jalan aja.. T.T

Untuk laki-laki bertipe penyendiri seperti saya, bepergian dengan anggota tim seminim mungkin adalah yang terbaik. Dengan sesedikit mungkin orang yang ikut, kemungkinan bingung di jalan akan semakin berkurang. Karena konon katanya, semakin banyak kepala semakin banyak keinginan.. Semakin banyak keinginan, semakin demokratis. Alhasil tim akan mengikuti suara terbanyak. Dan yang minoritas akan tersingkir. Dan, meskipun cuma satu orang, perpecahan di dalam sebuah tim bukanlah kejadian yang bagus untuk meneruskan sebuah perjalanan. Yakin..

Karena itulah ekspedisi saya tak pernah lebih dari tiga orang. Kalau lebih, biasanya cuma buat kemping-kemping ceria, hiking, touring, jalan-jalan santai, piknik, ataupun kemah semalam. Karena dalam ekspedisi, saya selalu punya kemungkinan nyasar, minim dana, nekat, tanpa jadwal pasti, kurang informasi, tidur sembarangan, numpang kendaraan dan tempat tinggal, juga melepaskan imej anak baik-baik (IYKWIM).

Dimulai dari tahun 2005, saya merantau berdua dari bengkulu-jogja-semarang buat magang kerja. Sampai akhirnya saya ketagihan dan memulai tour solo menggunakan kereta api keliling Jawa sendirian berbulan-bulan. Terus 2006, saya ekspedisi bertiga merbabu-merapi (jalur petani). Baduy, Banten. Berdua – Rinjani, NTB. Berdua – Kerinci, Jambi. Bertiga – Halau-halau, Kalsel. Berdua – Argopuro, Jatim. Bertiga – Kuta, Bali. Berdua – Unpad, Jatinangor. Berdua. Dan beberapa ekspedisi jarak dekat sekitaran Jawa Tengah.

Sebuah perjalanan nekat memang kadang diharuskan beranggotakan tim yang minim. Pengalaman ini saya dapat ketika menjadi penumpang gelap dari Bali-Mataram. Menumpangi truk Fuso, kami Berempat (2 orang lainnya penumpang tujuan Bima) diharuskan bersembunyi di belakang bangku supir (area terpanas, yakin.) selama melewati jalan raya agar tidak terlihat polisi. Sejak itu saya mulai merenungi Aura Kasih, eh, maksudnya merenungi keefektivitasan sebuah perjalanan..

Memang sih, sebuah perjalanan seperti ini idealnya tidak lebih dari dua orang. Karena, ketika kita mau numpang kendaraan, si supir pasti mikir-mikir kalo yang diangkutnya gerombolan tukang nyampah atau tukang rampok atau perusak barang (bajing loncat). Belum lagi nambah beban yang berdampak ke bertambahnya pemakaian bahan bakar (supir truk biasanya sangat sensitif terhadap pengeluaran di jalan).

Belum lagi masalah tidur. Biasanya sih saya numpang di kampus-kampus. Iya kalo daerahnya ada kampus, kalo di tengah hutan atau desa terpencil, malam-malam lagi.. Kadang-kadang saya juga tidur di masjid atau Pom Bensin. Tapi kalo yang tidur rame, penjaganya suka rese. Makanya sedikit orang lebih baik karena akan efisien saat numpang-numpang.

Nah, masalah isi kepala. Waktu saya ke Argopuro, anggota tim ada yang sakit terus minta ijin bikin tenda sendirian di pos danau, terus nyuruh sisa tim lanjut aja. Waktu itu saya mikirnya : “ini anak bego apa bego banget ya? Argopuro jaman segitu kan masih banyak berita macan kumbangnya..”. Trus anggota tim lain minta nunggu sampai sakitnya sembuh. Padahal saya ada jadwal ujian, ga bisa ditunda sehari lagi perjalanannnya. Nah, Baru tiga orang aja udah njlimet bikin keputusan, apalagi rombongan. kan kan kan?

Untuk piknik atau kemping ceria sememangnya semakin banyak orang semakin asik. Tapi kalo udah masuk ranah ekspedisi, usahakan anggotanya sesedikit mungkin. Biar nggak ribet. Nggak njlimet. Pengalamannya juga asik. Konyolnya pasti banyak. Layak buat dikenang. Lucu buat bahan cerita masa depan. Biar nanti anak-anak saya bisa ketawa dengar bapaknya yang keren bisa jadi pelawak juga..

Makanya, Kalo mau jalan-jalan tuh ajak saya, eh..

Hari lalu adalah kenangan, hari ini adalah hari selasa dan hari esok adalah hari rabu.

Hari lalu adalah kenangan, hari ini adalah hari selasa dan hari esok adalah hari rabu.


Kembali ke Jaman Batu

13 Januari 2015

Dulu, waktu smp, ada masa dimana seorang teman meminta teman lainnya untuk mengisi biodata di buku sejenis diary, notebook atau buku catatan. Biodata umum yang berisikan nama, alamat, makanan dan minuman favorit, jumlah pacar, agama, artis idola, blablabla dan lain sebagainya.

Saya dulu juga sering diminta mengisi, dan selalu saja tergagap ketika mengisi kolom tentang hobi. Meskipun masih remaja, dulu saya juga remaja garis keras, sangat anti mainstream. Jadi saya bingung untuk mengisi kolom hobi tersebut dengan jawaban: makan/ tidur/ baca/ jalan-jalan/ salto seperti anak lainnya. Menurut saya dulu, “ah, hobinya sama semua. Kalo udah umum, jadinya ga asik. Jadi pasaran, cenderung biasa.. “.

Sampai sekarang pun saya masih diminta mengisi kolom hobi, baik itu dari registrasi di berbagai website, maupun permintaan dari mahasiswa baru (gara-gara ospek). Tapi saya yang sekarang tidak bingung lagi. Saya cuek saja mengisi hobi dengan jawaban seperti nyuci motor atau  beli rokok atau sikat gigi atau main sudoku. Karena saya bukanlah jenis manusia fanatik yang harus mempunyai hobi. Semua yang senang dan sering dilakukan akan segera dianggap hobi. Toh, saya ini cuma pemikir sekaligus pengamat. Walau spesialisasi utamanya di bidang wanita dan cinta. Saya jarang tertarik kepada sesuatu yang mengikat (kecuali Game seru).

Berbicara mengenai hobi, sebenarnya topik utama yang saya mau ajukan di tulisan ini adalah mengenai boomingnya batu akik (lagi). Gara-gara SBY yang kedapatan memakai batu akik (Bacan? Bacan tutul?), seluruh Indonesia mulai menggeliat beramai-ramai menyuarakan kemerdekaan berbatu akik.. hedeh.

Sebetulnya, sejak kecil di Bengkulu saya sudah sering melihat orang yang memakai cincin batu akik. Banyak malah. Tapi, semenjak pindah ke Padang kemaren, saya baru sadar kalau masyarakat di sini ternyata mempunyai ketertarikan tersendiri kepada batu akik, bahkan hingga kalangan anak mudanya. Saya pikir dulu batu akik hanya hobi kalangan aki-aki (kakek-kakek), makanya dinamakan batu akik, pikir saya. Eh, ternyata anak mudanya doyan juga… (secara fashion ngga banget, sumpah).

Dari semua jenis aksesoris, batu akik adalah yang paling saya hindari. Kedua adalah topi. Terus sepatu pantofel, celana bahan, pakaian pink, piercing, kawat gigi, jilbab, eh.. Yah pokoknya, batu akik ga modislah.. old school banget kalo kata anak gaul. Jadul.

Nah, sekarang masuk ke ranah bisnisnya.. Merujuk kepada pengalaman-pengalaman seperti barang latah lainnya, batu akik memang diperkirakan hanyalah booming musiman. Tidak jauh beda seperti Ikan Lou han, Tanaman Atherium (gelombang cinta), Tokek, Gelang sama kalung batu kesehatan (entah apa namanya), Uang receh emas tahun 93, dll.

Apa persamaan dari musim-musim di atas? Pertama, sama-sama benda koleksi. Terus, katanya langka dan susah di dapat. Terus, harganya kadang ada yang tembus milyaran. Terus banyak yang cari. Terus, ada yang nawar tinggi tapi ditolak. Terus, barang sempat hilang dari peredaran. Terus, munculnya varietas benda yang berbeda yang diyakini harganya lebih mahal. Terus, Aura kasih kok belum nikah. Terus munculnya daerah supplier yang konon sumber barangnya cuma ada di daerah itu saja. Terus, kompetisi dimulai, masyarakat mulai berlomba pamer. Terus, Tiba-tiba musimnya meredup, barangnya jadi pasaran, sebagian tidak ada harganya lagi, tercuekkan, menjadi murahan, dan masyarakat menjadi lupa.

Di dalam dunia bisnis khususnya di bidang saham, ada sebuah istilah untuk merujuk ke musim-musim di atas yang dinamakan Monkey Business. Penjelasannya cari sendiri di internet. Tapi intinya, adalah pembodohan massal yang dilakukan orang-orang kaya sebagai sebuah trik untuk mengeruk/mengumpulkan uang dari masyarakat dengan jalan buaian psikologi. Trik culas ini jelas menuntut kesadaran, kecerdasan, dan kehati-hatian. Banyak orang terpropaganda hanya karena latah. Bangsa latah. Latahnesia.

Karena tipe orang Indonesia yang merasa benar melakukan sesuatu hanya karena banyak orang yang juga melakukan hal yang sama terlepas dari baik-buruk / salah-benar tindakan tersebut. Intinya, masyarakat kita adalah spesies yang senangnya ikut-ikutan tanpa peduli kiri atau kanan.

Makanya jangan kaget tingginya tingkat penipuan di negeri ini. Yang tertipu pun banyaknya bukan main. Mulai dari pemulung sampai pejabat. Cobalah cari di google dengan kata kunci penipuan. Entah berapa halaman yang sanggup google sertakan..

Tiap manusia memang di kasih fitur yang bernama nafsu oleh Tuhan. Tapi kita juga diberi hati dan otak untuk mengontrolnya (cieilah… bahasamu, Frans!).  Hobi memang tidak salah, yang salah memang Mulan Jameelah yang merebut Dhani Dari Maya. Tapi, baiknya sebagai negara berkembang dengan masyarakat sok borjuisnya, kita sebaiknya memang dahulukan urusan sandang, pangan, papan, dan Mulan. Bisa membedakan kebutuhan dan kemauan.. ya ya ya?

Menurut saya sih, kalau memang mau mengoleksi barang, pikirkan kelangsungannya ke depan, bukan untung ruginya, tapi kemaslahatannya (Uooppoo iki..). Carilah barang seperti emas, permata, batu mulia ataupun sepatu converse. Benda-benda yang tak lekang waktu. Tak termakan zaman. Jangan termakan arus di dunia keras sejenis bisnis. Tambah wawasan. Timbang kelayakannya. Prioritaskan urusan hidup. Tahan nafsu. Jangan sms aura kasih. Rajin menabung. Olahraga setiap minggu. Tinggalkan Mario Teguh. Berhenti masturbasi. Makan-makanan organik.. dan ingat, tidak ada yang abadi kecuali Sang Hyang Widi… Amin.

Sukur, diketawain ama mastur...

Sukur, diketawain ama mastur…


Surga Itu Ada Di Dalam Tanah.

18 Desember 2014

Tadinya saya mau bikin puisi buat ulang tahun Mama saya. Tapi saya nya lagi buntu ide dan segala macam inspirasi. Pending lagi.. Mau bagi-bagi cerita masa lalu, tapi takutnya saya jadi sentimentil..

Yah, walaupun sebenarnya jikalau andaikata bilamana seumpama sekalipun saya bikin kan segala jenis karya sastra bercita rasa tinggi, rasa-rasanya masih kurang asik buat menggambarkan citra agung sosok seorang Ibu, terutama Ibu saya.

Yang terpikirkan oleh saya sekarang cuma kata Terima Kasih. Yang menurut kamus semantik saya artikan adalah ” Terimalah Kasih yang saya berikan ini semoga setara dengan kasih yang sudah saya terima “. Halah,, Jadi bingung sendiri kan sama kata-kata saya.. Mirip transletannya Google..

Yaudahlahyah, pokoknya pun Terima Kasih nya buat Ibu nya yang saya panggil Mama.. Semoga saya nya masih bisa membuat beliau tersenyum bangga ceria merona-rona hingga selamalamalamalamalamanya. Ammmiiin. Happy 59. Selamat 18 Desember…

Ibu ku sayang masih tetap berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Ibu ku sayang masih tetap berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah


Merah Putih Mulai Basi

12 Desember 2014

Wow, tadi malam saya mimpi ke luar negeri lho.. Ke yunani, tempat impian saya. Dan entah darimana tiba-tiba ada Backsound lagu Tanah Airku, jadi sedih terus kebangun..

Hmm.. Seperti yang Gie bilang, anak muda, pemimpin maupun semua anak Ibu Pertiwi haruslah terbiasa jalan-jalan. Harus mengenal isi negerinya. Harus mengenal daerah tempat ia berasal. Mengamati secara langsung kehidupan masyarakat. Merasakan atmospir bhineka tunggal ika yang penuh senyum diantara kesederhanaan pedesaan..

Dan saya mulai risih dengan kehidupan culture shock seperti sekarang. Masyarakat kini banyak menjadi babi-babi jalanan. Tau kan babi? Yang kalo jalan nunduk-nunduk cuek gitu.. Gara-gara sebiji smartphone, iPhone, tablet, HP, dsb. Banyak manusia-manusia sekarang terkena efek autis dan menjadi babi dimanapun mereka berada.

Agak sedih melihat mereka mengikat diri dengan dunia maya dan dengan sengaja membuat stagnan hidup yang sebenarnya. Mungkin iya mereka juga jalan-jalan, ke luar rumah, pergi ke berbagai tempat, tapi mereka kehilangan esensi dari kata “pergi/jalan” tersebut. Keterikatan akan dunia maya terus membebani kemanapun mereka pergi.

Di jaman sekarang, setiap orang harus punya HP. Tidak cukup satu, tapi dua. Atau minimal dual sim. Setelah demam HP, muncul laptop. Setiap orang jadi punya laptop. Tidak sanggup belipun minimal dapat netbook. Setelah demam netbook, muncul lagi tablet. Kemudian orang-orang berlomba-lomba lagi ingin memiliki. Sampai-sampai anak umur 5 tahun pun memiliki tablet sebagai pengganti orang tua.  Para orang tua yang berpikir praktis ini mungkin sekali tidak peduli dengan dampak psikologis yang anak alami. Dan Hilanglah kenangan masa kecil anak yang seharusnya indah..

Saya bukan pembenci teknologi. Tapi saya berusaha untuk tidak diperbudak dan saya memang rasional. Teknologi berguna untuk mempermudah pekerjaan, bukan mempermudah pikiran. Ketika manusia mulai menurunkan fungsi otaknya, maka dimulailah fase kemunduran mental bagi mereka. Dan terlalu banyak bukti kebodohan massal masyarakat yang diperbudak teknologi.

Begitu banyak buku-buku tentang budaya pop bertebaran mengisahkan seberapa besar ancaman teknologi. Beberapa film sci-fi juga dibuat untuk menyadarkan manusia masa kini. Tapi kebodohan dan kemunduran mental sudah mengakar jauh ke dalam otak. Serangan teknologi beberapa tahun terakhir ini membanjiri manusia dengan cara yang efektif, tak terkendali.

Sekitar 12 tahun lalu, pertama kalinya saya menyentuh benda bernama HP. Merk Siemens tipe 55. Saya kagum dengan ide si pembuatnya. 3 tahun kemudian akhirnya saya juga memiliki HP yang sama.   Dan sama seperti dulu, fitur hp tersering yang saya gunakan adalah alarm. Alarm adalah salah satu fitur hp yang membuat saya mampu memperbudak teknologi.

Entah berhubungan atau tidak, teknologi haruslah dikembalikan ke fungsinya semula. Sebagai pembantu manusia. Janganlah manusia menurunkan derajat mereka dengan membalik fungsi teknologi seperti sekarang, sehingga menjadi babi yang kemana-mana nunduk-nunduk cuek bersama teknologi tercintanya. Apalagi di negara sebagus Indonesia yang harusnya tidak dilihat hanya lewat layar touchscreen. Rugi sekali manusia yang mengacuhkan pandangan sekitarnya sementara ia dikelilingi hal-hal hebat untuk dinikmati..

Kapan lagi kita kemana?

Kapan lagi kita kemana?


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: