A Night Writer

23 Juli 2016

Saya kira, setujulah anda-anda semua seharusnya jika saya berargumen bahwa panggung utama sebuah malam adalah kesunyiannya..

Sebagai salah seorang insomniator terbaik di negeri ini, saya memuja malam layaknya idola sejati. Saya menunggunya, mengharapnya,  dimanapun, setiap hari, tak pernah bosan, bagai seorang pria yang menunggu kata maaf dari sang wanita.

Yang saya tunggu dari malam justru ketiadaan akan apa-apanya. Kosong, yang lantas bisa diisi dengan apa saja. Beberapa orang akan menyebutnya sebagai begadang, termasuk si Pak Haji. Ibarat penganut Buddha, saya sedang ingin menuju ketentraman jiwa sebagai bentuk tertinggi pencapaian seorang manusia.

Tentu saja banyak yang tak sepaham dengan argumen saya di atas, tapi apa boleh buat, saya penganut mahzab Bodo Amat. Kecuali Jessica Alba yang protes, itu baru masalah besar buat saya.

Sehubung dengan kesunyian malam, elok nian jika diri ini mampu menghabiskan semalaman untuk menulis. Menulis apa saja. Dengan lingkungan yang selayaknya pasar, tentu maklum jika saya mampu mencapai konsentrasi maksimal saya saat sekeliling menjadi hening dan tanpa bunyi jangkrik sekalipun.
Benarlah itu bagi saya untuk sekedar menulis status di BBM pun butuh konsentrasi dan ketenangan tanpa bawa-bawa emosi juga pun seserahan. Untuk menghindari cap sebagai pria gagah nan labil, tentu saya harus menghindari hal-hal yang berbau amarah maupun sentimentil ketika menulis. Biar pencitraan saya sebagai calon menantu yang bijaksana nantinya mampu tercapai.

Adapun kegiatan saya setiap harinya akan dimulai pada saat tepat di tengah malam. Hal ini direncanakan agar bersamaan dengan terlelapnya orang-orang beserta semua jenis candu elektronik mereka. Dengan begitu, tibalah saya sebagai Batman akan bergantian menjaga malam, dimulai dengan lantunan mp3 yang selalu dibuka Somewhere I Belong-nya Linkin’ Park.

Cukup dengan volume yang 50 persen, saya mulai menggeliat menjadi manusia produktif. Mulai dari main game, gitaran, nonton film, bongkar lemari ataupun sekedar nongkrong bersama kopi dan rokok.  Tapi tetap, kebanyakan saya habiskan malam dengan menulis. Karena malam yang sepi lebih tenang untuk dinikmati. Lebih pas untuk berimajinasi. Cocok, seperti djarum super dan mulut saya. Klop sudah.

Kalaupun harinya sedang hujan, maka bertambah gembiralah hati saya ini. Hujan, malam, musik, dan kopi. Oh, surga benar itu. Tambah lagi ada calon istri, aihhhh…

Memang, sebagai penikmat malam garis keras, saya seringkali terbentur dengan norma masyarakat karena dianggap ‘melanggar kebiasaan’. Saya menjadi makhluk nocturnal yang kebanyakan  sering dijalankan anak-anak kost. Kebiasaan ini terus saja melekat hingga jam biologis badan saya pun pasrah dan malah manut.

Maka kacaulah hidup saya dihadapan masyarakat. Tidur jam 6 dan bangun jam 1 siang dianggap tidak lazim. Walaupun secara kesehatan saya sudah tidur sesuai standar, ibadah pun tidak terganggu, makan mie tiap hari, kegiatan lain juga lancar saja, tapi tetap saja perbedaan ini dianggap tidak normal dan mungkin mengganggu hingga banyak juga yang protes.

Sudah nasib sebagai orang Sudra, tentu saja saya harus mengalah. Saya yang tak pernah paham tentang kebebasan ini, akhirnya harus tetap saja tunduk kepada siapa saja yang dianggap lebih tinggi dari saya. Rutinitas terpaksa saya rombak dan mengacu kepada standar hidup ala masyarakat normal..

Dan saya takutnya, ujung-ujungnya nantipun saya harus berseragam ataupun berdasi supaya saya dianggap beradab sebagai pekerja. Lantas saya di standarkan hidupnya dengan keadaan sekeliling, lalu matilah bhineka tunggal ika yang sejatinya bukan hanya paham tentang perbedaan manusia dari luarnya saja..

Semoga saja pemujaan saya kepada malam tidak akan hilang hanya karena ‘kenormalan’ ini. Dan semoga, malam tetaplah menjadi  malam seperti kata Pas Band. Dan akan selalu saja menjamu penikmatnya dengan berbagai pesona mistik yang tak terjelaskan..

– Padang yang sudah pagi – 

Dengan diisi 23 derajat celcius menurut HP saya.


Cuma Mabuk, Tidak Judi.

22 Juli 2016

​Sebenar-benarnya, banyak hal yang membuat saya sama sekali tidak berminat untuk mudik pada lebaran kemaren. Yah meskipun pada akhirnya, banyak hal juga yang mengharuskan saya kemudian jadi ikutan mudik. Salah satu faktornya yang membuat saya tidak ingin mudik adalah capek. Secapek menjadi bassistnya System of a Down. Dan yang pasti, kendaraan yang harus saya naiki itu. Terutama mobil kakak saya.. duh…

Meskipun baru, seperti kebanyakan mobil lain di Indonesia, mobil kakak saya ini terlalu sering dipanaskan dalam keadaan pintu dan jendela yang tertutup. Menurut para ahli THT kenalan saya di pesbuk, mobil yang terlalu lama dibiarkan dengan kondisi tersebut, ditambah lagi sering diparkir di terik matahari tanpa diberi ventilasi udara, maka jangan harap parfum pun mampu membumihanguskan bau apeknya tersebut. Sumpek pek..

Sejak Majapahit berkuasa, saya ini malas sekali kalau harus naik mobil ketika melakukan perjalanan jauh, lebih-lebih angkutan umum. Karena rata-rata transportasi jarak jauh di Indonesia selalu punya pola yang sama: Pengap non-sirkulasi, padat bertumpuk ala sarden, aroma terapi keringat, hawa terik nan tidak beradab, berjejalan dan sedikit lumayan dari kandang ayam.

Saya dibekali Tuhan dengan indera penciuman yang amat sensitip dan indera penglihatan yang teramat masa bodo. Karena itulah kadang saya sangat kritis terhadap pengguna parfum dan bisa saja sangat cuek jika melihat kotoran pun sejenis orang muntah.

Bukanlah saya ini seolah jijik ataupun sok borjuis, tapi memang aroma-aroma tidak lazim tersebut dapat memicu ledakan asam lambung di perut saya yang manja, dan memang sepertinya saya tidak sendirian dalam hal ini. Mual, mulas, kerongkongan kering, mata berair, perut panas, dan klimaksnya akan berujung pada muntah-muntah nan tak kunjung usai.

Trauma ini dihadirkan sejak kecil oleh ayah saya yang sebenarnya bukanlah orang yang terlalu peduli dengan kesehatan. Hal ini akhirnya terbawa-bawa ke mobilnya yang tak pernah bersih dan terkesan selalu menistakan urusan hidung. Bertahun-tahun saya dipaksa naik mobil dengan keadaan yang seperti itu tidak lantas membuat saya maklum ataupun terbiasa. Justru keadaan yang mirip siksaan tersebut malah melemahkan mental saya terhadap kendaraan-kendaraan bernasib serupa .

Apalagi didukung topografi jalan Pulau Sumatera yang selalu saja berkelok-kelok tak teratur, naik turun membabat alas, serta lubang-lubang yang tak kunjung usai diperbaiki. Jadilah jalur darat lintas Sumatera ini terkenal sebagai jalan setan yang selalu saja menggoda untuk dimaki-maki. Tak ada pengalaman menyenangkan jika harus bepergian jauh via darat di Pulau Sumatera.

Pernah saya berpikir, kondisi jalan di Sumatera yang seperti ini merupakan konspirasi terselubung  antara produk antimo, toko obat maag, produsen kantong plastik dan pabrik minyak angin. Entahlah, semoga saya salah..

Karena itulah saya dulu ketika masih sering keliling Jawa dengan kereta api, saya selalu lebih memilih duduk di dekat pintu ataupun diantara sambungan gerbong yang memang menyediakan udara lebih untuk dihirup. Juga ketika saya naik kapal laut, saya lebih memilih geladak atas ketimbang kamar yang memang telah disediakan. Kawasan-kawasan seperti itu selain memudahkan saya cepat tertidur dan melupakan mual, juga akan memberikan saya kebebasan merokok yang berfungsi untuk menyamarkan bau-bauan yang memang sangat menguji daya tahan hidung tercinta.

Begitupun dengan bus dan mobil-mobil travel, tidak jauh berbeda menawarkan aroma-aroma khas yang hanya dikenali pejuang-pejuang mental seperti saya. Keadaan ini akan bertambah mengharukan jikalau si supir adalah sejenis manusia labil yang mengira dirinya sedang berada di sirkuit balap F1.

Oleh karenanyalah, peristiwa mudik kadang membuat saya serba salah. Ikut atau tidak, selalu harus ada pengorbanan yang genrenya kadang sentimentil mengharukan. Selain tidak menikmati apa-apa, sekedar memikirkan jalan yang akan dilalui saja sudah cukup membuat perut saya mual dan menaikkan asam lambung hingga ke hidung. Oh hidung.. oh perut.. oh Citra Kirana

Semoga saja pak Jokowi serta presiden-presiden Indonesia selanjutnya segera menyadari kemualan ini dan lantas dibikinkannya arena Flying Fox atau sejenisnya untuk memperlancar perjalanan antar provinsi bagi umat-umat di Pulau Sumatera ketimbang mendanai proyek perbaikan jalan tahunan abadi tanpa henti. Karena, daripada berharap pada pemda setempat untuk masalah ini, sepertinya lebih mudah berharap jika Metallica rilis album religi saja…


Buku Lagi

8 Juni 2016

Entah kerasukan apa saya 3 hari ini tiba-tiba jadi membaca buku: Sejarah Indonesia Modern dari M.C. Ricklefs. Seingat saya, buku ini telah ikut sejak saya kuliah di Semarang. Hingga saya bawa ke Padang tanpa pernah saya buka satu kali pun.

Asal muasalnya juga kurang pasti, sepertinya buku ini hasil rampokan kakak saya di perpustakaan milik kampusnya. Karena saya tahu, Buku dengan tulisan “Milik Negara, Tidak Diperdagangkan” adalah jenis buku yang hanya beredar di tempat bernama perpustakaan dan instansi pemerintah. Dan buku-buku semacam ini memang harus dicuri untuk mendapatkan ilmunya. Ternyata memang bukan cuma saya aib di dalam keluarga ini..

Buku ini bertahun-tahun mematung di rumah hingga saya kepikiran saja untuk dibawa ke Semarang dengan harapan, anak-anak kos akan kagum dengan ketebalan buku yang saya baca. Karena sesungguhnya, buku-buku tebal yang saya miliki itu cuma 5 biji. Dan tiga diantaranya adalah kamus. Jadi harap maklum, namanya juga anak sastra, butuh sedikit pencitraan atas buku-buku yang dimiliki.

Sebenarnya, saya suka pelajaran sejarah. Bahkan, saya lebih menyukai buku sejarah ketimbang buku trik ampuh lulus TOEFL. Yah walaupun buku-buku sejarah yang saya punya lebih banyak yang ala-ala on the spot ketimbang buku sejarah ilmiah. Maka, wajar saja buku Sejarah Indonesia yang tebal sangat itu tak pernah saya lirik sedikitpun isinya.

Pernah sekali saya beli buku sejarah yang ilmiah karya J. Joseph Stockdale: Sejarah Tanah Jawa. Sayang terjemahannya yang masih sekelas Google Translate malah bikin kepala saya KO hingga trauma membaca buku-buku terjemahan.
***

Sebelum  puasa kemaren, sebuah buku dari Seno Gumira A, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, baru sempat saya baca. Dari tanggal beli yang selalu saya tulis di halaman depan buku-buku saya, tercetak  tahun 2008. Artinya sudah 8 tahun sudah buku ini mangkrak dengan tenang di kamar saya.

Di buku ini Seno lebih banyak menceritakan tragedi Timor-timur di jaman Orba dengan sudut pandangnya sebagai wartawan dan sastrawan.

Karena bukunya tipis, sedangkan saya jadi tambah penasaran dengan peristiwa tersebut, maka saya bongkar semua buku-buku sejarah Indonesia yang saya miliki. Maka ketemulah buku Sejarah Indonesia Modern seperti yang saya ceritakan di atas. Buku ini bisa dikatakan lengkap dengan sudut pandang yang netral mengingat banyaknya konflik dan versi dari setiap peristiwa di negara ini.

Karena terjemahannya lumayan bagus dan informasinya yang berlimpah, jadi saja saya tumben membaca buku ilmiah 500 halaman seantusias membaca komik yang memang sangat jarang saya lakukan.

Padahal, sebelumnya saya cuma ingin mencari tahu peristiwa Timor-timur saja. Tapi buku ini membuat pembacanya mau tidak mau harus mulai dari halaman pertama karena konflik sebab-akibat yang mendasari sebuah peristiwa selalu ditulis berhubungan dengan peristiwa di belakangnya. Akhirnya, dengan terpaksa, dari yang cuma ingin tahu sejarah pasca kemerdekaan, dengan malas saya mulai membaca dari awal masuknya Islam ke Indonesia. Dan hari ini, saya baru memasuki bab masuknya VOC. Siwalan tenan
***

Dengan adanya buku tebal ini, saya lumayan santai bisa menghadapi hari-hari berpuasa yang memang tidak ngapa-ngapain. Saya sedikit menyesal, karena ternyata saya memiliki sebuah buku (secara teknis sih, masih milik negara) yang bagus tapi baru sempat terbaca sekarang.

Saya curiga jangan-jangan karena ini bulan puasa maka sisi positif saya bermunculan hingga saya mau saja membaca buku ilmiah tebal lagi membosankan. Jika benar, apakah ini saatnya saya menuntaskan buku-buku Nietzsche dan buku-buku filsafat lainnya? Psikologi Adler? Novel Putu Wijaya? Apakah benar puasa dapat membuat pikiran saya kembali cling dan penuh kebijaksanaan? Apakah ini waktu yang ditunggu-tunggu otak saya untuk membereskan hal-hal sejenis skripsi? Kita tunggu saja 3 hari kedepan, pemirsah…

Semoga otak saya ini, sesuai dengan label SNI nya….


Teruntuk Yang Bertahan Menahan

5 Juni 2016

Berbicara bulan puasa, secara rutin kita akan dihidangkan berita-berita dengan tema tahunan semacam penggrebekan hotel, kontroversi penutupan warung-warung pinggir jalan, sidang ishbat yang lagi-lagi mencari hilal, gerilya badan POM ke pasar-pasar tradisional, naiknya harga-harga, kekacauan pembagian zakat, bedanya jadwal NU-Muhammadiyah serta pencemaran makanan oleh zat kimia. Seputaran ituuuu saja, setiap tahun, dari jaman dinosaurus masih pakai popok.

Mulai dari POLRI, TNI, Ormas-ormas lucu, partai politik, Badan POM, Satpol PP dan para pengemis pun jadi lebih banyak disorot kamera, ketimbang pesohor-pesohor tipi yang tiba-tiba terkena sindrom ingin-berganti-kulit-karena-ini-bulan-ramadhan. Lantas, kasus-kasus diatas biasanya diselesaikan dengan satu kalimat penutup yang cukup khidmat, seperti: “untuk menghormati bulan puasa…”. itu bulan puasa apa bendera?

Kesampingkan membahas THR dan mudik karena saya sudah tidak merasakan keduanya lagi.

Inilah bulan dimana volume adzan akan menjadi lebih besar daripada 11 bulan lainnya. Primadona adzan maghrib yang seolah-olah penantian kekasih yang tak kunjung datang selama bertahun-tahun. Di bulan inilah juga masjid-masjid jadi punya penghuni tetap. Bulan istimewa yang juga memaklumkan manusia-manusia bernapas naga.. HAH!!

Oh, jangan lupakan makanan dan minuman khasnya bulan puasa. Tentu saja bersama kemacetan yang dibuat karena penjualnya selalu tak disediakan lapak khusus.

Dan, misteri terjadinya perbaikan jalan raya di setiap hari-hari menjelang Hari Raya. Di seluruh Indonesia. Setiap Tahun. Dengan kondisi tak pernah terselesaikan sesuai deadline.

Kemudian, fenomena mudik yang tetap saja ramai dan penuh huru-hara meskipun menteri perhubungan selalu saja menginfokan tiket transportasi yang selalu saja habis sebelum waktunya.

Hmmm, terus ada juga tragedi zakat yang termasyur. Acara bergenre drama ini meskipun tidak mempunyai plot twist, namun tetap saja lebih menyedihkan daripada nonton drama Korea.

Lalu jangan lupa, ada (selalu ada) ustadz-ustadz yang sepertinya pintar bermain sulap karena kehadirannya yang bisa tiba-tiba muncul entah darimana datangnya. Berbeda dengan negara muslim lainnya, gelar ustadz di Indonesia tidak terlalu sulit untuk didapatkan. Karena itulah produksi ustadz kita begitu signifikan beberapa tahun belakangan.

***

Bulan puasa menjadi suci bukan karena ramadhannya. Bukan juga karena masjid-masjid yang menjadi penuh. Bulan ini suci karena manusianya. Karena kekuatannya dalam menahan serta mengendalikan nafsu. Manusia menyucikan bulan ini dengan perbuatannya. Dengan sikapnya. Dengan pikiran. Bukan dengan jasmaninya, atau penglihatannya, ataupun penciumannya.

Kesucian tidak menular. Jadi kita sendirilah yang mengusahakannya. Begitupun dengan kotor. Baik buruk pikiran tergantung diri sendiri, berhentilah menyalahkan orang lain apalagi warung makan. Kalau dengan nafsu yang berbentuk rumah makan saja bisa kalah, bagaimana mau mengimani sang maha yang besarnya tak terhingga?

Nah, itu dulu laporan saya mengenai tradisi puasa di Indonesia baru-baru ini. Banyak yang memang sudah terjadi berdekade lalu. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ada hingga beberapa dekade ke depan.

Saya hanya memberi gambaran garis besarnya saja, dengan sedikit penjelasan. Jadi maaf saja jika ada yang salah tafsir ataupun kurang paham dengan silogisme sedangkan negeri ini penuh dengan manusia-manusia bersumbu pendeknya.

Saya mau mengatur jadwal ibadah dulu, biar ketika bangun bisa langsung buka. Oh, dan satu lagi. Tolong kepada KPI ataupun stasiun radio seluruh Indonesia, adzan maghribnya tolong dibedakan bunyinya sama adzan yang lain, agar fungsinya mengurangi kejadian-kejadian yang mengenakkan.. :p
.


Runtuhnya Minat Kami

26 Mei 2016

Beberapa siang yang lalu, kebetulan sayanya sedang nonton mata najwa. Saya yang siang itu memang sedang ingin menganggur, seharian cuma nonton tipi saja. Kebetulan mbak Najwa ini punya senyum yang sedikit manis, jadi tidak ada salahnya jika saya meluangkan sedikit waktu menganggur saya khusus buat beliau.

Di akhir acara, mbaknya ini berpesan, dan mengajak semua umat penonton untuk menjadikan aktivitas membaca menjadi menyenangkan. Bahkan memberi tantangan untuk membaca 1 buku tiap 1 minggu kepada para pemirsah dimana pun anda berada. Waw sekali pikir saya. Tantangan yang sangat biasa sekali bagi saya… uhuk.

Sedikit mau sombong, saya ini sering membaca 10 buku dalam satu hari, dulu. Bahkan, pernah saya seharian membaca buku hingga 25 judul dalam sehari (Silahkan yang mau tepuk tangan..). Kalau tidak percaya, tanya saja mas-mas penjaga persewaan komik di depan kampus sastra undip.
***
Berhubungan dengan minat baca masyarakat Indonesia, yang sampai-sampai Mbak Najwa yang tentu saja sangat sibuk itu harus turun tangan untuk mengajak kalian semua ikut membaca memang bikin miris. Bahkan menurut penelitian, rata-rata anak Indonesia yang membaca buku hanya di bawah satu persen. ih.. ih.. ih..

Memang sih, tiap individu punya minat dan bakat masing-masing. Termasuk minat membaca. Biasanya, pembaca buku adalah orang yang pendiam dan cenderung introvert. Sebaliknya, yang tidak suka membaca biasanya tipikal ekstrovert yang riang dan hiperaktif. Jadi jangan juga mengharapkan semua orang berminat untuk membaca.

Kecuali untuk kasus Anggota Dewan Yang Maha Terhormat yang kemaren katanya mau renovasi perpustakaan yang anggarannya sampai setengah triliyun biar jadi ikon sebagai perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. Ada kemungkinan, anggota dewan punya kesimpulan dari otaknya, bahwa perpustakaan yang besar akan berdampak besar pula terhadap imej bahwa mereka tidak bodoh.

Jadi, mungkin karena takut digoblok-goblokin lagi oleh rakyat, mereka memasang perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara sebagai tameng, dan berharap, masyarakat akan memaklumi bahwa orang-orang pintar seperti mereka adalah wajar jika memiliki perpustakaan mewah nan elegan sesuai gaya hidupnya. Yah sudah, kita penuhi saja harapan mereka. Semoga anggota dewan tersebut benar-benar akan menjadi pintar setelah selesainya perpustakaan tersebut.
***
Lanjut ke masalah minat baca, seperti yang saya bilang sebelumnya, minat baca masyarakat kita sangat rendah. Ironisnya, beberapa tahun belakang buku-buku yang terbit malah meningkat. Banyak penulis-penulis buku pemula yang bermunculan, banyak penerbit berdiri, juga banyak buku-buku baru muncul setiap bulannya. Tapi kok minat baca tetap menurun? Korelasinya?

Dengan kesoktahuan saya seperti biasa, saya juga ingin mengajukan teori atas hilangnya para peminat atas bacaan tersebut. Tentu kredibilitas saya sangat boleh untuk diragukan.

Saya adalah orang yang membeli segala macam jenis buku. Mulai dari buku komik sampai buku fisikanya Stephen Hawking. Dari novel teenlit sampai kamasutra. Buku sastra, ekonomi, sejarah, majalah PC, mistis, Natgeo, psikologi, bahkan buku perpustakaan pun  juga saya koleksi. Dengan segala macam jenis bidang yang saya baca, saya menemukan ada masalah penting yang bertanggung jawab atas menghilangnya minat baca ini.

Masalah yang bisa saya prediksi dengan bantuan ramalan BMKG ini kemungkinan adalah mutunya. Atau, anggap saja mutu adalah salah satu masalahnya. Karena kemungkinan masalahnya ada banyak, namun saya sendiri menganggap mutu sebuah buku adalah musuh terbesar hilangnya minat baca masyarakat kita, meskipun tiap bulan para penerbit sudah membombardir toko-toko buku dengan ratusan judul baru.
***
Dulu salah seorang guru SMP saya pernah bilang begini,: Guru itu ada dua jenis; yang pertama, pintar (berpengetahuan) tapi tidak bagus ketika menyampaikan. Kedua, pintar dan bagus dalam penyampaiannya.

Terus terang, pendidikan kita terdominasi oleh guru jenis pertama. Pinter, tapi sangat buruk dalam penyampaian hingga si murid biasanya lebih banyak diam ketika ditanya “ada pertanyaan anak-anak?”. Kemudian, krik..krik..krik.. . Karena sesungguhnya, para murid selalu ada satu pertanyaan untuk diajukan dengan muka serius: “Bu guru ngomong apa tadi?”. Saya perkirakan, kasus di atas sama nasibnya dengan buku kita. Terutama buku-buku yang ditujukan untuk kaum produktif.
***
Beberapa buku sudah berusaha menyelipkan komik, cover nan aduhai, kata-kata mutiara, pengantar dari orang terkenal, humor, juga judul yang sensasional seperti headline koran lampu merah, semuanya demi menarik minat pembaca. Namun, sedikit sekali penulis yang mau memperbaiki fakta bahwa tata bahasanya yang kaku dan lebih mendekati terjemahan Google translate itu.

Dengan gaya bahasa yang datar dan innocent ala pembaca berita TVRI, wajar saja buku-buku kita kehilangan peminatnya. Buku-buku ini lebih mirip ingin ‘mengajari’ ketimbang memberi ilmu. Ditambah lagi minimnya konten pengetahuan di dalam buku, pupus sudah harapan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui buku.

Mutu sebuah buku tidak hanya bergantung pada isi, tetapi juga bagaimana isi itu bisa tersampaikan dan terserap si pembaca sama pentingnya. Ibarat nyari jodoh, beraninya cuma stalking, percuma euy..

Belum lagi buku-buku yang terlalu teoritis dengan pemakaian bahasa dan istilah yang seolah semua pembacanya adalah lulusan Harvard, maklumkan saja jika kegiatan membaca sudah tidak lagi menyenangkan. Kegiatan membaca seolah menjadi aktifitas main catur, bukan lagi kegiatan santai untuk mengisi waktu luang. Jangan heran kalau buku hari-hari ini adalah properti eksklusif bagi kalangan pelajar saja. Bukan untuk petani, bukan untuk anak jalanan, ataupun seorang pemulung. Buku menemukan nasibnya hanya ditangan orang-orang yang makan bangku sekolahan.

Selain itu, buku kita terlalu banyak dijejali sampah-sampah dunia maya. Era digital yang melahirkan wabah kemalasan dimana hasil comot sana-sini dari internet dengan sumber tidak valid pun bisa menjadi sebuah buku. Garis bawahi sumber tidak validnya, bukan internetnya.

Tapi mau bagaimana lagi, selama buku kita masih mengandalkan kuantitasnya, jangan salahkan pembaca yang kehilangan minatnya. Toh, dunia yang dinamis ini lebih banyak menawarkan kesenangan yang lebih menarik ketimbang sebuah buku..

Tidak masalah jika sebuah buku berisi hanya curhatan, atau sekedar basa-basi gosip. Selama konteksnya adalah mengajak orang berminat untuk membaca, menarik adalah syarat mutlak yang harus terpenuhi. Ketertarikan pembaca bisa diakomodir dengan penyampaian yang baik termasuk pemakaian bahasa. Tidak kaku, tidak garing, tidak basi, dan sesantai mungkin. Sip?

Buku adalah juga sebuah karya. Dan sebuah karya selalu berhubungan dengan harga diri. Dipuji atau dicela adalah urusan konsumen. Penulis dan penerbit sudah selayaknya memberi yang terbaik. Jangan salahkan konsumen yang kehilangan minatnya, jika produk tak ada inovasi. Oh, dan harganya tentu saja juga harus menarik..
***
Itulah sebagian pandangan saya terhadap buku. Sebagian pandangan saya yang lain lebih tertuju ke muka Aura Kasih. Tidak usah protes, saya terbiasa adil..

Jadi jangan heran buku kehilangan peminatnya jika bentuk buku pun cuma sekedar “tulisan”. Ibarat mie rebus, tanpa sayur, tanpa telur, tanpa bawang goreng, tanpa ayam, tanpa sosis, tanpa daun bawang.. aih. Mie yang begituan ada sih yang bakal makan, tapi karena terpaksa, bukan karena ingin. Menghilangkan minat.

Saking kehilangan minatnya, seorang mahasiswa sastra saja harus menunggu disuruh dosen dahulu agar memiliki sebuah buku. Itu pun foto kopian, karena diancam tidak boleh masuk kelas tanpa buku pegangan. Bukan, itu bukan saya. Itu mahasiswa sastra yang lain..

Buat mbak Najwa juga, terima kasih atas ajakan membacanya. Tapi, sayanya lebih menyenangkan main coc sekarang. Maaf..


Book Idol 2016

26 Mei 2016

Beberapa hari belakangan hape saya mulai menunjukkan tanda-tanda seolah tidak ingin dizholimi lagi, mereka menolak dijamah dengan trik sering pura-pura mati. Wajar sih, selain memang jarang saya isikan pulsa, hape saya terlalu sering dijadikan objek romusa sebagai game centre ketimbang sebagai alat komunikasi pencari jodoh. Jadilah saya bingung berkegiatan dalam menghadapi hari-hari sebagai pengangguran ceria..

Bergerak sedikit ke sudut kiri kamar, nampak tumpukan buku-buku yang sudah lamaaaaa sekali tidak saya sentuh karena takut dosa, bukan muhrimnya. Dengan tekad separuh bulat, saya beranikan diri ini untuk kembali “melihat-lihat” buku yang dulu saya beli karena cuma tertarik oleh judulnya saja. Ya, sayalah itu manusia yang masih membeli buku berdasarkan judging a book by its cover.. Sama seperti hater-hater di medsos yang baca berita cuma dari headlinenya saja..

Karena kerjaan yang sangat kurang (menghindari istilah kurang kerjaan, -red), saya pilih buku-buku yang (mungkin) akan saya baca dalam menghadapi hari-hari menganggur saya untuk beberapa malam ke depan.

Untuk itu, karena buku-buku yang belum saya baca terlalu banyak, maka saya harus mengadakan seleksi ketat terlebih dahulu demi tercapainya tujuan mulia saya untuk meningkatkan persentase minat baca anak-anak muda keren di Indonesia yang kabarnya sedang ingin terjun bebas.

Karena saya memang orang yang gampangan, maka seleksi pun berjalan cepat dan tanpa pandang bulu (toh bukunya memang tidak ada yang berbulu). Pertama-tama, haruslah menyingkirkan buku-buku tebal. Sudah pasti, buku tebal menurut mata saya adalah buku dengan jumlah halaman yang lebih dari 100 lembar.

Berdasarkan pengalaman, buku jenis ini gampang sekali membuat mata saya menjadi sayu, sendu, terhipnotis dan akhirnya hilanglah kesadaran karena tertidur. Biasanya buku jenis ini didominasi oleh buku kategori sejarah Indonesia yang memang penuh kontroversi dan revisi juga versi. Dan sepertinya, buku-buku saya dengan kategori ini akan terus suci tak terjamah hingga ajalnya tiba. Semoga kamu mati syahid, kawan..

Selain buku-buku tebal, saya juga mengeliminasi buku-buku yang bertema agama. Selain karena pusing, buku-buku agama saya juga terlalu banyak versinya. Dan entah kenapa hampir semua buku agama ini sebagian besar menyindir kaum atheis. Meskipun agama saya Islam, tapi toh bukan berarti saya tidak bisa mempelajari agama lain termasuk atheis. Untuk itulah saya juga mengkoleksi buku agama apapun, versi apapun, negara manapun, tahun berapapun, meskipun yang saya baca cuma kata pengantarnya saja.

Kategori ketiga, saya juga menyingkirkan buku-buku “keras” dan teoritis. Seperti buku-buku tentang sastra, revolusi, biografi, psikologi, dan filsafat tentunya. Buku jenis ini juga dapat mengancam keberpihakan saya terhadap ketenangan. Selain itu, saya juga khawatir adanya penolakan keras dari si otak untuk mencerna buku-buku yang kaku ini. Dan memang, buku-buku di atas membutuhkan pelumas sejenis kopi agar otak saya bisa berjalan lancar tanpa gesekan.

Setelah setengah jam menyortir, terpilihlah sekitar 10 buku yang saya niatkan untuk dibaca ketika malam tiba. Buku hasil seleksi ini sebagian bertema legenda dan mitos seperti buku tentang atlantis dan mitologi aztec. Tapi juga ada kumpulan pertanyaan bodoh macam buku ensiklopedia buruk rupa, andai aku jalan kaki masihkah engkau selalu ada untukku, indonesia jungkir balik, dan berhala itu bernama budaya pop. Serta buku-buku tidak jelas macam tirai hitam vatikan, mistik jepang, unik tapi fakta, pendulum galileo, dan para penghuni bumi sebelum kita.

Buku-buku ini memang belum sempat saya baca atau mungkin sudah dibaca tapi saya lupa atau juga sudah baca tapi belum sampai habis. Dan mereka inilah yang beberapa hari kedepan akan menemani malam-malam sepi saya (aiiihh..) sebagai pengangguran berbakat untuk beberapa bulan ke depan. Juga kepada novel tolong sampaikan, bukannya saya bosan, tapi memang sedang tidak ada yang menarik. Makanya saya puasa dulu mengkonsumsi novel.

Selain itu, kepada ke-10 buku yang telah lolos seleksi diharapkan untuk tidak perlu bergembira ria terlebih dahulu. Karena seperti sebelum-belumnya, saya tidak janji untuk mengkhatamkan buku yang memang kurang asik. Beda kasus dengan komik, sebuah buku bacaan perlu sesuatu yang wah untuk segera menghindarkan otak saya dari kejenuhan. Jika tidak, maka buku tersebut akan mendapatkan status terendahnya sebagai alas mouse komputer saya..

Dan juga kepada si hape saya, cepatlah sembuh, hari-hari tiada kesan tanpamu… Lagipun, kasian otak dan mata saya jika harus terus-terusan berhadapan dengan buku, takut kecanduan. Kalau kecanduan jadi pengin beli lagi. Padahal uang sudah tak ada. Ginjalpun tak tahu jual kemana. Harga diri entah laku berapa. Mau kerja juga bingung, kerja apa yang cuma modal tampang saja..

Kepada malam, saya juga berterima kasih telah menghadirkan hujan asik yang menambah kekhusyukan saya dalam membaca. Juga kepada PLN, yang entah kerasukan apa sudah jarang mematikan listrik meskipun hujan mendera. Dan yang terutama, terima kasih kepada Bon Jovi, Padi dan Mocca yang sudah mau jauh-jauh datang ke kamar saya untuk duet lewat mp3. Pokokmen, nuhun tenan, rek!


Kepada, yang ter-ngorok..

26 Mei 2016

Sebagai salah seorang pengidap insomnia berpengalaman, saya tentu saja sangat teliti perihal yang menyangkut dunia pertiduran. Jam terbang saya sudah tinggi jika berhubungan masalah beginian. Hampir semua tempat sudah pernah saya tiduri (maap bahasanya vulgar..). Masjid, gunung, pantai, hutan, goa, pohon, berbagai alat transportasi, wc, lobi hotel, halaman rumah, bahkan kantor polisi pun pernah saya tiduri.

Bukannya sombong, meskipun saya sedikit nakal, tapi tentu saja semua tempat yang saya tiduri tersebut tentu saja saya sertai dengan alasannya. Kebanyakan memang karena tubuh saya gampang lelah akibat terlalu sering bepergian. Tapi, seringnya lebih karena suasana yang tenang dan membosankan yang gampang sekali menghipnotis mata saya yang memang terkadang lemah dengan angin sepoi-sepoi..

Bukannya malas, tapi saya selalu mencintai semua kebutuhan biologis yang tercipta secara sistematis ini. Saya mencintai semua hal yang menandai bahwa saya makhluk hidup, seperti makan, tidur, bernafas, main game, buang air, nonton tipi dan ngupil. Semua hal tersebut selalu saya lakukan sepenuh hati.

Ketika tidur, satu-satunya yang saya khawatirkan adalah tubuh saya dan kasur merupakan pasangan magnet yang berbeda kutub. Gravitasinya yang memang setara black hole, membuat saya lemah untuk bergerak. Bisa dibilang, kasur adalah batu kryptone bagi saya..

Kemudian, telinga sayapun dilengkapi fitur otomatis yang bisa menutup sendiri ketika saya sudah tertidur. Karena itulah jam waker ataupun alarm sekelas handphone bukanlah lawan tanding yang pantas untuk telinga saya. Beda level. Minimal, butuh perang nuklir untuk membangunkan saya..

Dan yang paling saya kutuk dalam mencapai proses suci untuk tidur ini adalah terdengarnya suara ngorok. Untuk yang satu ini saya sudah sangat berpengalaman, dan meskipun sudah terbiasa sejak kecil, mendengarkan orang ngorok tetap saja tidak membuat telinga saya terbiasa dan maklum hingga hari ini.

Menurut mitos, hanya ada tiga cara untuk menghindari orang ngorok. Pertama, cari tempat tidur lain. Kedua, tidur duluan sebelum si tukang ngorok beraksi. Ketiga, bungkam tersangka dengan cara terkeji yang pernah kamu pelajari di film-film horor. Itu tips dari saya, silahkan ditiru..

Cara kedua adalah alternatif primer yang sering saya lakukan. Meskipun memang jarang berhasil. Karena sememangnya, Tuhan memberikan saya kemampuan untuk selalu menjadi orang yang terakhir tidur.  Sayangnya, orang-orang jenis ini selalu saja saya temui. Di rumah, di kos, di tenda, di kampus. Seolah-olah saya sudah dikutuk untuk diuji kesabarannya melalui manusia-manusia macam begini.

Untuk kedepannya, saya mohon bagi yang ingin menjadi calon istri saya, tolong sertakan surat lamaran anda dengan verifikasi dari rumah sakit THT terdekat dengan bukti valid yang menyatakan bahwa saluran pernapasan anda tidak terganggu. Karena istri adalah pasangan seumur hidup yang akan selama-lamanya menyertai tidur saya. Jadi tidak ada salahnya sedikit berjaga-jaga..

Untuk sekarang, itu dulu syarat yang bisa saya ajukan. Tentu saja termasuk syarat anak tunggal, min.S2 kedokteran, tidak perlu cantik yang penting bersih dan terawat, punya deposito dan asuransi, hobi berkuda dan bowling, dan usahakan perempuan. Itu saja sudah, terima kasih.


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: