#prayforact

5 Oktober 2018

Blunder besar baru aja terjadi beberapa hari belakangan di dunia politik. Sebut saja Mbak Rat. Beliau sempat-sempatnya menyajikan sebuah komedi opera plastik di tengah tragedi Palu. Sialnya bagi Mbak Rat, lelucon kurang lucu ini hadir justru di 3 situasi yang nano-nano; Masa kampanye pemilihan presiden, duka rakyat nasional, dan era emas netizen.

Tak ayal drama ini dinominasikan sebagai blunder terbesar pasca reformasi. Selain karena terjadi di waktu yang salah, juga dilakoni tokoh-tokoh yang tidak bisa dibilang remeh. Yang ikut itu ada rombongan aktivis (minus intelektual, jelas ini aktivis milenial), ada ustadz (masyaAllah, tad…), ada profesor (lebih dari dua! Mahasiswanya pasti model saya ini.. haha), ada ketum partai (biar ada bumbu politiknya pasti), ada aktris (drama pasti butuh aktor, cuy), ada anggota dewan (kelompok harap maklum), ada capres (no commen, saya belum nikah, pak..), malah, ada juga yang saya ga tau siapa (kayaknya terkenal gegara mewarisi nama bapaknya).

Santai, saya ga ngomongin politik kok.. lanjut baca aja.

Ironisnya, dua kubu calon pemimpin negeri ini beberapa hari sebelumnya udah bikin semacam nota kesepakatan kampanye bebas hoax. Dan lewat emak-emak lah, perjanjian ini jadi kentut. Cuma sekejap, bikin ngeri, melunturkan harga diri, dan memecah belah kawan dan musuh, juga mematikan. Yah, kita tau lah gregetnya emak-emak indonesia.. Malaikat aja sampe bawa-bawa tipe-x buat nulis dosanya.

Di masa jaya internet ini, kejadian viral merupakan pedang bermata dua bagi sesiapa yang ikut campur. Makanya, semua kejadian yang viral, akan langsung bisa disebut kejadian nasional. Seisi negara jadi tau. Apalagi kelakuan netizennya (Internet-citizen: penghuni dunia maya), salah satu keunggulan dunia digital, adalah kolom komentar. Dimana bahasa verbal yang butuh mental itu runtuh seketika oleh fitur ini. Bahkan manusia-manusia introvert model saya ini bisa disulap jadi singa masai di tengah internet.

Netizen merupakan sebuah fenomena terkini yang tak pernah terpikirkan oleh leluhur bangsa manapun, bahwa akan adanya sebuah ekosistem digital yang lebih besar dari sebuah bangsa itu sendiri. Berbagai wadah juga diberikan dengan mudahnya sebagai alat komunikasi hingga jelata terendah pun bisa kedip-kedipan dengan pejabat tinggi negara. Jauh berbeda dengan jaman prateknologi dulu dimana untuk bersurat-suratan dengan Pak Walikota saja harus melewati berbagai rintangan mulai dari rt, rw, kades, lurah, camat, ajudan, bin, sekretaris, dan baru 3 kali ganti ktp lah surat tersebut sampai ke meja Walikota.

Netizen menjadi komoditas alami penyebar biji apapun yang ditanam. Kampanye hitam, hayuk. Tagar prayfornganu, bisa. Video lucu, mashoook. Atau, ladang duel politik juga bisa. Tentu saja kredibilitas bisa dijadikan nomor kesekian. Kasus Mbak Rat diatas tuh contohnya. Bukan cuma capres, lho, ada juga profesor! 3 biji malah. Mak jang…

Makanya saya sering ngenyek sama temen-temen S2 saya dulu, ‘Yen kowe durung bikin buku, rak bakal tak sungkemi. Yakin’. Karena memang, untuk ukuran Indonesia, saya sendiri belum percaya prestasi akademik merupakan cerminan intelektual manusianya. Apalagi anak satra yang memang ditakdirkan gampang menilai orang dari kelakuan bahasanya, guru besar aja di kritik kok.

Apalagi ini kan levelnya udah internasyenel,.. Pemimpin negara, lho, bukan milih kepala dusun. Mbok ya gregetnya dikurangi. Malu sama orang Palu..

Hoax mah emang ngeri. Bukan cuma negarawan yang bisa kena, aktivis, ustad (tabayyun, tad..tad..) bahkan akademisi level tertinggi juga kecipratan. Dipikir-pikir, yang kelas atas aja bisa berjamaah gini kenanya, yang jelata berapa biji kepala itu yang ketularan?

Klimaksnya, semua ini terjadi dikarenakan emak-emak yang berusaha menipu umur. Pengen teteup syantik tapi syibuk pake banget. Jalan pintasnya yang kepikiran ya cuma operasi plastik. Padahal kan kata Anggun, cukup pake shampoo aja kok….

 

m

Iklan

Lelaku Lelaki II

12 Agustus 2018

Sebagai orang yang kelak di masa depan akan didapuk sebagai calon Menteri Pemberdayaan Wanita (Cantik) Indonesia, saya sangatlah aware terhadap fenomena penampakan gadis-gadis imut di layar kaca pertelepisian. Apalagi bagi mereka yang berstatus sebagai pembawa berita, pejantan mana yang sanggup menahan gejolak dari gadis manis berseragam..

Belakangan, Net tipi yang menyadari kekuatan dari daya tarik wanita-wanita muda ini mulai melancarkan bombardir serangan beruntun. Hampir semua host dan pengisi acara di stasiun tipi tersebut diselipkan gadis muda yang sehat dan ranum. nyam nyam nyam… Semuanya sehat, enerjik, kiut, periang, cerdas dan humoris.. aih, tipikal saya bener ini. Pak Wisnu ini beneran bikin iri seleranya…

Metro tipi sebenarnya sudah memulai fenomena ini terlebih dahulu dengan mengumpulkan reporter dan pembawa acara yang tak kalah aduhai, bahkan polwan-polwan viral pun tak sungkan untuk dijadikan hostnya. Sayangnya di rumah saya sinyal tipi tidak terlalu bagus, cuma beberapa channel yang selamat. Dengan begini, net muncul tanpa pesaing…

Apalagi duo Trans yang kekeuh dengan tim creative yang naudzubillah alaynya, hanya mau dan mampu menyajikan acara bergenre drama dan semua yang viral di internet. Minim inovasi, dan hanya menjual fenomena sesaat tanpa konsep jangka panjang. Jadilah Trans mendekati masa kegelapan yang sangat mudah untuk saya memberikan pilihan pada channel tipi lain. Drama dan klenik reliji masih diyakini stasiun ini sebagai penggaet penonton di pinggiran kota terutama emak-emak.

Faktanya, mitos yang mengatakan semakin tua stasiun tipi maka akan semakin tidak bermutu, terbukti makin benar. 4 stasiun tertua sudah jadi contoh macam indosiar, sctv, rcti sama antv. Kemungkinan dalam beberapa tahun lagi trans bersaudara juga bakal join group ini. Yang lucu, tvri malah melawan arus. Makin tua, makin bagus. Yah, walaupun tidak bagus-bagus amat, tapi perubahan tipi negara itu sudah sangat benar di jalurnya.

Terkait hostess unyu, di trans mereka dulu punya Sisca Hussein yang sempat membuat saya rajin bangun pagi di hari keramat macam weekend. Sekarang ada Fina Phillipe sama Indah Nada Puspita. Metro punya beberapa, tapi cuma Grace Blessing yang saya ingat. Di net hampir semua pembawa berita dan acaranya high grade, juga para pengisi acaranya. Tapi cuma Sheila Purnama sama Shahnaz Soehartono yang tingkat keunyuannya di atas rata-rata, karena mungkin memang mereka yang mantan model.

Yang saya sebut terakhir, benar-benar idaman. Lulusan kuliah seni, model, penggemar Bjork, senyum sekelas Dian Sastro, sehat dan bersih, ceria, suaranya empuk, mmmhhhh… Sayang udah nikah… Ahhh… Udah sejak lama memang saya dengar kalau UPH sebagai salah satu universitas yang rajin memproduksi mahasiswi unyu nan cerdas. Tapi yang ini beda, levelnya jauh meskipun dibandingkan sama yang Unpad.

Di titik ini, saya mulai memaklumi atas kondisi “berpenampilan menarik” yang diajukan pada syarat-syarat lamaran kerja. Disisi lain, mereka yang memiliki kemampuan namun minus di muka, akan lebih banyak menghabiskan uang gaji baik untuk perawatan diri, ataupun membeli setelan mahal, dan yang pasti, krim pemutih. Jadi untuk mereka yang sudah yakin jelek, pilihan kerjanya cuma dikit, antara wirausaha, atau operasi plastik… huhuhu. Jangan khawatir, tiket promo ke Thailand sekarang murah-murah kok.

Dan di tahun-tahun politik macam sekarang, fenomena reporter cantik akan lebih banyak lagi ditonjolkan tipi-tipi. Penyebarannya tentu akan sangat sering mulai dari berita pagi, siang, sore malam, tengah malam, juga breaking news. Karena di tiap channel beritanya bakalan sama, maka persaingan kemungkinan akan terjadi pada kemasan berita sama siapa yang membawakan. Di poin inilah reporter-reporter cantik akan menjadi penentu sebagai bahan addictive channel langganan penonton.

Mengenal politik melalui berita yang dibawakan reporter dan host cantik itu sama kayak belajar matematika pake duit beneran, jadi mudah dan gampang. Gampang mengkhayal. Jadi, buat kalian yang tidak menyukai politik, mau tidak mau mulai sekarang hingga 2 tahun ke depan harus memilih stasiun telepisi meskipun terpaksa. Karena lagi tahun politik, tipi-tipi bakal dijejali berita drama politik. Suka atau tidak, berita tipi bakalan itu itu aja isinya.

Dengan memilih channel yang tepat, meskipun kepala kalian sakit dipenuhi berita politik, minimal mata kalian akan sehat dengan hadirnya reporter unyu. Jadi, pilihlah stasiun tipi yang tepat guna mempertahankan kesehatan mata kalian.

Itulah laporan saya terhadap situasi pertelepisian hari-hari ini. Sebagai pengamat, tentu ini hanya saran saya. Oh, dan maklum kan saya yang hanya berkutat pada sisi feminis nya saja. Hal ini akan menegaskan perjaka sepolos saya adalah lelaki normal. Semoga semua senang.

Kepada dik Raline Syah, tetap tenang jangan panik. Kamu masih yang termuah kok…


Klinik Endhorpin

27 Juli 2018

Demi kabar adanya pengirim misterius yang memenuhi rekening tabungan saya, tanpa pikir panjang mandi sore yang kononnya keramat itu pun saya lakoni. Motor saya geber secepat iklan-iklan di tipi menuju ke kerajaan buku otoriter, Gramedia. Ibarat musafir ketemu oase, dahaga saya memang lebih dikuasai nafsu sesaat. Maklum saja, hampir setahun saya tidak lagi mampir ke toko-toko buku.

Di sepanjang perjalanan menuju Gramedia, saya mulai menghitung-hitung, buku apa yang sesuai dengan budget ngos-ngosan yang saya punya ini. Komik sudah pasti berada di daftar teratas. Saya butuh relaksasi dalam menghadapi hari-hari yang mulai menyeramkan ini. Sisanya, kondisional lah, tergantung TKP seperti biasa..

Sesampainya di tujuan, menyiapkan mental adalah hal terpenting. Karena dengan Track record yang sudah bertahun-tahun absen dari dunia perbukuan, saya takut sekali khilaf dan salah pilih yang kemungkinan akan berujung pada penyesalan ditiap menjelang tidur dan berakhir di bawah guyuran shower di sudut kamar mandi.

Setelah sekian lama tak ke toko buku, sebenarnya saya agak kecewa dengan banyaknya buku yang terkesan menyerupai koran lampu merah, ramai-ramai membombastikan judul. Yah, walaupun saya kadang-kadang terjebak juga. Dan sayangnya, kebanyakan yang muncul malah novel. Jenis buku yang mulai saya hindari..

Dari dulu, metode saya dalam memilih buku adalah dengan cara membaca beberapa paragraf kalimat pada tengah atau akhir halaman. Untuk ini, saya menilai gaya dan teknik penulisan si pengarang. Kadang-kadang juga font dan editing halaman yang berperan besar apakah buku tersebut layak atau tidak dibaca sampai tamat. Tentu saja ini bisa dilakukan jika hanya plastik buku tersebut tidak sengaja (dipaksa) terlepas.

Seleksi pun dimulai dengan nama besar si penulis. Nama besar memang tidak selalu jaminan mutu. Tapi paling tidak, dia pernah membuat sesuatu yang bermutu sehingga memperoleh nama di bidang itu. Ketika mencari buku yang sebegitu banyaknya, kebanyakan orang tentu hanya sempat melihat cover depannya. Kalau tidak judul, ya nama penulis atau penerbit. Dan saya lebih mementingkan kepada nama pengarang. Baik yang saya tau, ataupun nama yang kebetulan tidak sengaja saya pernah dengar.

Kemudian, saya akan baca resensi yang biasanya ada di belakang buku. Tema apa yang mau di bahas si penulis. Dan saya biasanya terlalu tidak perduli siapapun yang memberi rekomendasi ataupun kata pengantar yang biasanya dijadikan penerbit sebagai salah satu cara merayu pembeli dengan menampilkan nama-nama terkenal di cover buku.

Lalu, kalau beruntung, buku tersebut tidak lagi tertutupi plastik (baca: bebas dijamah), saya akan baca profil penulisnya dulu, baru saya perhatikan gaya bahasanya di akhir buku. Karena, tulisan-tulisan di awal buku biasanya “sudah matang” dan sangat diperhatikan. Berbeda dengan tulisan di akhir buku yang biasanya terjadi, penulis dan editornya sudah sama-sama kehabisan bensin. Ibarat pembalap, saya menilai daya tahannya / endurance. Kalau buku lucu, haruslah lucu sampai akhir, kalau buku bagus, haruslah bagus sampai akhir.

Terakhir saya akan menilai harganya, sepantas apa buku ini dinilai berdasarkan ketebalan. Biasanya, semakin tebal covernya buku akan semakin mahal. Juga jenis kertas yang digunakan, berapa lama buku akan kuat dibolak balik sampai akhirnya akan terlepas berceceran karena lem yang serampangan.

***

Tadinya, saya bingung dengan proses seleksi karena begitu banyaknya buku yang ingin saya beli. Mulai dari buku komedi-filsafat macam Sudjiwo Tejo dan Cak Nun, buku puisi Aan Mansyur dan Sapardi, buku-buku sentilan ala anak-anak mojok yang kabarnya masuk buku terbaik 2016, ada lagi novel-novel peraih penghargaan macam Eka Kurniawan, buku-buku Pram, Orhan Pamuk, biografi tokoh-tokoh nasional, buku terbaru Prie GS, buku pak Sumanto al Qurtuby, Paulo Cuelho, sampai buku-buku tafsir yang sering saya liat di beberapa website dan lain sebingungnya.

Kebanyakan dari buku tersebut sebetulnya hanya sebatas penasaran, ditambah uang saya yang hanya cukup untuk memilih satu buku saja, membuat saya sesinis juri kompetisi idol-idolan.. Ketika melihat salah satu buku puisi; Tidak Ada New York Hari Ini, setan di hati menentang dengan sinis: eh, anak sastra yang beli buku puisi tuh tau engga kayak apaan? Kayak koki Itali yang beli Indomie! Ah kampret…

Oke, buku puisi, sajak, essay, sekip.

Novel? Di tahun 2016 banyak novel-novel hebat lho yang dapet penghargan hampir semua penulis pada nulis novel.. gimana? Gimana? Dengan berat hati saya nyatakan saya sedang musuhan sama novel..

Buku biografi kemahalan, buku sejarah mulai ketebalan,..

Sudah satu jam proses seleksi berlangsung tanpa membuahkan hasil. Tiba-tiba mata saya menangkap satu judul yang sebenarnya sudah sangat lama dikenal di dunia para akedimisi. Buku legenda yang bisa dikatakan pesaing berat tetralogi Pulau Burunya pak Pram.. Multatuli: Max Havelaar. Novel tentang Indonesia yang sudah mendunia berabad lalu. Buku yang sudah sangat sering saya dengar tanpa sekalipun saya lihat. Novel yang sudah sangat sering dijadikan referensi mahasiswa sejarah. CLIING!! Otak saya berdesing kencang…

Dengan tangan gemetar saya balik buku tersebut untuk melihat harga di cover belakangnya. Dan, pupus sudah harapan dengan dihantam nominal yang wah sekali. Rasa penasaran saya akhirnya dipentung mundur oleh 6 digit angka yang begitu jahanamnya menertawakan ketidakmampuan diri saya. Ah, jenis pengetahuan yang amat kejam…

Dengan langkah lunglai saya bergerak mencari kursi untuk meratap sejenak atas kebiadaban yang nasib lakukan terhadap pemuda lugu seperti saya. Kejam nian kau, sib…

Di perenungan saya di menit ke 14, saya teringat kembali akan sebuah kejadian. Dulu ada seorang penulis yang membuat buku dengan judul “cara menulis buku bestseller”, ironisnya buku tersebut sendiri tidak best seller. Kind of a bad joke, yes?

Lalu saya mulai menata hati dengan memotivasi diri dengan anggapan bahwa kesialan tidak selalu terjadi dengan pembaca, kadang-kadang penulis juga kena. Anggaplah kali ini yang sial adalah si Multatuli, karena ia telah gagal memberikan regenerasi sejarah kepada pemuda yang akan menjadi tumpuan negara suatu saat nanti.. Begitu, saya menenangkan diri.

Dengan maksud menyerah dan ingin keluar saja dari toko buku bersama penyesalan yang entah akan saya tumpuk untuk beberapa tahun kedepan, tiba-tiba mata saya mengerling tajam ke sebuah sosok buku yang bisa dibilang, teramat bagus. Too good to be true, kata orang Bekasi..

Buku dengan judul: 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia ini sebenarnya sudah saya baca semasa SMP. Seorang teman kakak saya pernah membawanya ke rumah waktu itu. Dulu saya tertarik membaca karena banyak nama hebat muncul di situ. Saya mulai menyukai buku jenis biografi juga karena buku ini. Sekarang, buku ini terbit lagi dengan edisi revisi. Artinya, ada pembaharuan atas daftar ke 100 tokoh tersebut, dan tentu saja sulit untuk melewatkan buku yang dinamis seperti ini.

Buku ini sangat menarik karena tidak hanya diteliti oleh para akademisi sekelas profesor, tapi juga dibuat dengan banyak pertimbangan para ahli dari berbagai bidang keilmuan di seluruh dunia. Buku yang sempat menggegerkan dunia beberapa dekade lalu ini ditulis tidak hanya sangat objektif, tapi juga dengan penelitian ala Dan Brown. Belum lagi, banyak profesor, ahli sejarah, dan berbagai sumber valid yang dijadikan rujukan cuma untuk menentukan urutan tokohnya.

Karena diberi peringkat, jadi ada semacam kompetisi pada tokoh-tokoh yang dicantumkan namanya. Nabi Muhammad SAW masih tetap di urutan pertama, yang karena beliaulah buku ini geger secara global. Dan jelas, bukan itu alasan saya menganggap buku ini menarik. Saya lebih tertarik kepada cara si penulis menentukan urutan tokoh berdasarkan perhitungan matang dan penyelidikannya yang sangat gila menurut saya. Buku beskala internasional begini, tentu tidak akan saya lepas! Begitu tekad awal saya….

Namun, otak saya mulai dipaksa berpikir keras agar buku ini bisa saya angkut sampai ke rumah. Harganya yang sedikit di bawah buku History of God, membuat saya sedikit migrain. Kemudian, dengan mencampakkan sebagian harga diri, mulai lah saya mengeluarkan benda ajaib itu, handphone! Beberapa kontak mungkin akan membantu, namun jelas, harga diri sebagai sajennya…

Akhirnya, buku sudah sampai dirumah, aman tanpa masalah. Handphone masih meninggalkan beberapa pesan tak tebaca. Dan sedikit harga diri yang tercabik. Tapi, memang setimpal dengan buku yang entah kapan akan saya bisa temui lagi ini.. Semoga nantinya harga diri saya akan cukup, mengingat begitu banyak buku yang masih saya incar..

PESAN MORAL: Jika ada sesuatu yang sangat kamu inginkan, berusahalah. Berusaha sekuat mungkin. Meskipun mungkin nyawa taruhannya. Dalam kasus saya, cuma beberapa lembar harga diri..

Weeek…


Be Yourself, Gitu?

4 Juni 2018

Tadi siang itu ceritanya salah satu grup wassap saya yang berisi kumpulan mahasiswa sastra tuwir kembali membully saya.., cih. Foto saya waktu manggung pertama kali di joglo kampus UNDIP itu disebarluaskan dan ditertawakan secara berjamaah. Semprul bener.

Seingat saya itu foto tahun 2006/7 ketika UKM musiknya sastra sedang jor-joran bikin acara gede karena dapet sponsornya pocari sweat, produk yang waktu itu jarang sekali bisa ditembus dengan proposal ecek-ecek.

Saya ikutan naik panggung juga gegara salah seorang anak teater yang tiba-tiba aja narik tangan saya. Kalo yang narik cewek kan secara instingtif cowok mah pasti manut yak. Tau-tau aja nariknya sampe ke atas panggung sembari santainya ngomong “Gitarin ya, mas. Lagunya Ipang”. Ya kali sini karaoke, main request aja… untung bisa.

Abis gitarin Bintang Hidupku-nya Ipang, satu anak lagi buru-buru naik panggung. “Mas, gitarin juga yak..”. Yang ini malah baca puisi, mintanya dimusikalisasikan. Meluncurlah itu puisi Joko Pinurbo 15 menitan. Kunci gitarnya bodo amat, haha. Koordinasinya seenak dengkul. Lagian di kampus sastra itu, interpretasi nomer satu. Makin ga ngerti, maknanya makin dalem berarti. Huehehe.. Mamam tuh puisi. Lha, ini jadinya kayak acara anak nongkrong, jadi ga ada rundown begini. Abis acara, pada ketawa semua anak teater sama mapala ngerusak acaranya ukm musik.

Kebetulan foto yang diwassap itu satu-satunya foto saya. Dengan posisi gitaran ga pernah ngangkat muka alias nunduk. Saya dibully gegara posisi nunduk itu. 20 menitan saya gitaran ga pernah sekalipun ngangkat muka. Malu, euy. Ditontonin kayak kang obat.

***

Percaya diri adalah masalah terbesar kaum introvert. Jenis manusia yang bisa gentar cuma dengan tatapan mata. Makanya jarang-jarang itu orang introvert bisa jadi orator ataupun tukang baskom keliling, suka lemah kalo jadi pusat perhatian.

Sejak SD juga saya ini udah parah krisis percaya dirinya. Kalo ditunjuk sama guru baca di depan kelas misalnya, saya lebih sering jatuhin pensil biar punya alasan hilang di balik kolong meja selama mungkin. Mungkin berharap gurunya lantas tua lalu lupa dengan saya, baru berani keluar dari bawah meja.

Ketika memasuki dunia kampus dan menjadi mahasiswa sastra, adalah sunah mengisi hari-hari dengan debat, presentasi, diskusi, pidato,tanya jawab kelompok, perkenalan diri, seputar hal-hal yang berbau public speaking gitulah. Apalagi kalo sambil berdiri, itu tangan gemetarnya ngalahin gempanya gunung Tambora.

Apalagi sastra Inggris yang memang lebih banyak disuruh perkenalan diri tiap ganti dosen. Belum lagi kalo disuruh bacain naskah drama ato puisi yang mengharamkan tone datar. Mana dimintanya pake ekspresi lagi, itu keringat udah kayak abis marathon Jakarta-Jogja. Bolak-balik.

Pas ikut mapala, saya setengah hati kalo disuruh jadi instruktur, apalagi instruktur ruangan yang banyakan ngajarin teori, ieuh.. Pun juga pas ospek atau diksar walaupun berstatus senior, mending ngabur duluan timbang disuruh ngomong. Teori retorika sih lumayan, prakteknya enol, haha. Mending push up pake carriel 2 biji deh daripada daripada….

Sekali saya pernah disuruh jadi pembicara buat acara mapala tetangga yang mau ekspedisi gunung Kerinci. Saya yang lebih dulu pernah mendaki itu gunung, dipaksa jadi pembimbing lapangan. Disuruh ngoceh masalah vegetasi, medan, sumber air sampe jarak tempuh per hari. Sampe sekarang saya lupa apa yang saya omongin waktu itu, mudah-mudahan mereka yang ikut ekspedisi masih bisa pulang dengan selamat akibat bimbingan dari manusia yang masuk stadion aja masih nyasar.

Pernah waktu saya kerja paruh waktu di salah satu perusahaan rokok. Kebetulan ada event keliling beberapa kota disuruh pake cosplay buat promosi acara soundrenalin, trus disuruh joget-joget di lampu merah pas di tengah-tengah zebra cross. Hari ketiga sayanya minta brenti. Hahaha. Saya merasa kotor dan hina sekali…

Kalo dibilang rendah diri, rasa-rasanya bukan sifat seperti itu yang saya jalankan. Hanya sebatas tidak begitu menikmati ketika perhatian terpusat ke saya. Saya curiga ketika orang menatap saya, muka saya sedang dipandangi dengan pikiran yang macam-macam. Ah, padahal muka asli sudah saya hibahkan ke Tom Cruise…

Kalo dipikir-pikir, sifat ini sebenarnya baik saja jikalau seandaikata mau saya pertahankan, tidak untuk dirubah. Yah, walaupun malu-malunya nggemesin, titel saya sebagai lelaki bijaksanasini akan terjaga. Selain membuat saya tetap rendah hati, uhuk.., sifat tidak percaya diri ini juga akan membuat kemaluan saya tetap besar. Begitu kan? Eh, gimana…

 

Padang lagi, yang sedang di angka 4 Juni.
.

*Gambar hanya pemanis

*gambar cuma pemanis


A.dil(an) Sejak Dalam Pikiran

30 Mei 2018

Padang, 30 Mei 2018 (03.42)

 

Anak sastra mana tak kenal Pramoedya Ananta Toer. Sosok Sastrawan hebat (kalau tidak bisa dikatakan yang terhebat) satu-satunya dari Indonesia yang hampir meraih Nobel andai saja tidak disleding Orde Baru.

Saya tahu beliau sejak saya menginjak masa SMA, masa-masa otak saya masih dalam pertumbuhan. Di masa itu saya banyak membaca biografi orang-orang kiri termasuk Soekarno, Gie, Tan Malaka juga beberapa tokoh luar negeri macam Castro, Luther King, dan Gandhi. Pak Pram dianggap berbahaya baik orde lama maupun baru. Semua karyanya dibredel sampai pada zaman Presiden Gus Dur baru tulisan-tulisan tersebut berani muncul ke publik. Tapi waktu itu saya cuma sekedar kenal nama. Kenal-kenal stalking gitu lah…

Beranjak ke masa kuliah, saya mulai mengenal lebih jauh tokoh ini. Di tahun 2008, ketika saya masih aktif menjadi kaskuser, saya menemukan sebuah artikel menarik berisi hasil wawancara dua orang wartawan Tempo di kediaman Pak Pram di masa pensiunnya. Wawancara panjang berhari-hari ini berhasil membuat saya tertarik dengan sosok sastrawan yang digadang-gadang masih nomer satu di Indonesia saat ini.

Wawancara ini sama sekali tidak berisi tentang tulisan-tulisan beliau, tetapi lebih ke urusan personal semacam hobi kala senjanya yang membakar sampah, kliping koran, atau merk rokok kesukaannya. Keadaan rumahnya yang bertingkat-tingkat, perpustakaan pribadinya, juga kisah-kisah masa lalunya di Pulau Buru. Saat itulah saya masukkan Pak Pram ke salah satu list manusia favorit saya.

Sama seperti tokoh-tokoh favorit saya, tak pernah sekalipun saya membaca karya mereka. Soekarno misalnya, buku DBR yang aduhai tebalnya itupun cuma saya baca kata pengantarnya saja. Soe Hok Gie apalagi, saya cuma nonton filmnya. Che Guevara juga, saya punya 6 biji buku dan 2 donlotan filmnya, tapi tetap saja, cuma jadi barang koleksi, isinya belum pernah diintip. Sekedar penambah image sebagai anak sastra nan budiman.. muehehe

Kalau ditanya kenapa, saya juga kurang paham. Mungkin sebagai pengkritik yang kejam, saya takut berhadapan dengan karya-karya tokoh favorit saya tersebut. Ada bagian dari diri saya yang mungkin tidak mau orang-orang tersebut keliatan cacatnya, terlebih kritiknya dari saya sendiri. Ibarat punya band idola, tapi belum ada satupun lagunya yang saya dengerin. Ngefans cuma gegara dikedipin sama vokalisnya dari depan tipi doang… haha.

Sampai saat ini belum satu karya pun dari Pak Pram yang pernah saya baca. Salah satu bukunya, Cerita Dari Jakarta, saya punya entah dari mana datangnya. Tapi karena sudah tertumpuk di rak buku saya, artinya itu punya saya, titik. *Ape loe ape loe…

Suatu ketika waktu saya pindah kos, tertempatkanlah saya di kawasan penuh berisi anak-anak sastra Indonesia idealis nan kurus. Buku sekelas Pram jadi jajanan kacang goreng waktu itu. Konon, pintu manapun yang saya masuki, dengan gampangnya akan saya temui buku beliau ini. Tinggal tanya mau cetakan ke berapa, saya akan ditunjukkan ke kamar nomer berapa yang punya persediaan. Jadi inget panti pijet, ehh…

Sempat waktu itu saya pinjam Gadis Pantai dan Pulau Buru hard cover series. Dua bulan saya pinjam, sampai yang punya nagih takut ga dibalikin, seperti yang dilakukan kebanyakan peminjam buku di seluruh nusantara. Terus ditanyain, “Udah bacanya, mas?”. “Iya, covernya bagus ya”. *lalu pergi beli siomay demi menghindari diskusi selanjutnya..

***

Baru-baru ini, Bumi Manusia, novel pertama dari tetralogi Pulau Burunya Pak Pram mau difilmkan. Seperti yang sudah-sudah, ada tiga kelompok yang berdebat panas soal ini. Dikarenakan pemeran utamanya yang jatuh ke tangan dedek Iqbal yang masih unyu dan tergolong millenial yang unfaedah.

Kelompok pertama, ditenggarai sebagai penggelut sastra senior, golongan tua, kiri, rebel, dan bau kopi. Menggagas pentingnya sosok peran utama yang lebih pribumi, dewasa, tidak culun, intelek, dan lebih penting, tahu siapa yang diperankannya supaya lebih menjiwai. Sosok Iqbal dianggap cuma mengikuti selera pasar, aji mumpung dari film sebelumnya, peran yang kurang mumpuni dari film sebelumnya juga (film Dilan dianggap jauh dari sosoknya di novel). Juga kelompok ini takut sama sutradara yang engga idealis dan cuma mengikuti selera pasar, sedangkan kekuatan novel terletak pada kata-katanya.

Kelompok kedua, basisnya millenial. Mendebat film Iqbal sebelumnya yang juara dalam jumlah penonton dianggap sebagai jaminan peran nan tokcer. Belum lagi klasifikasi media yang berbeda, novel ya novel, film ya film. Argumennya: Filmnya kan belum rilis, nanti kalo udah keluar baru dikomentarin…, memang agak susah didebat yang model begini. Ada juga yang menganggap Pak Pram itu penulis baru dan cuma numpang tenar karena bukunya mau difilmkan. Kasus yang ini dianggap kelompok ketiga sebagai kesalahan sistem pendidikan yang meloloskan si bodoh ini dari pengetahuannya tentang Pak Pram..

Kelompok ketiga, kebanyakan 90’s kid. Orang-orang yang terjepit diantara golongan tua namun menikmati era millenial juga. Memberi masukan dan saran sebagai jalan selamat ketimbang berdebat dengan kedua kubu. Argumennya ingin melepaskan hierarki sastra Pram yang terlalu ekslusip agar bisa dinikmati semua kalangan. Demi regenerasi, tidak ada salahnya film ini dibuat se-pop mungkin demi mudahnya masuk ke kepala anak-anak millenial yang mulai menjauhi literatur. Tiap zaman ada masanya, sedang dunia ini begitu dinamis dan mengharap golongan tua untuk mengalah tanpa merusak generasi yang harus sesuai zamannya.

***

Dalam salah satu sesi wawancaranya, Pak Pram pernah ditanya alasannya kenapa semua karya yang sudah ditulisnya tidak pernah dibaca ulang (kalau tidak salah, bahkan buku-bukunya sendiri pun tidak dimasukkan ke dalam perpustakaan pribadinya). Beliau menjawab santai (kalo engga salah ya), sebuah karya, kalau sudah dilempar ke pasar/diterbitkan, seluruhnya akan menjadi hak pembaca, termasuk interpretasinya.

Hal ini saya amini sebenarnya, dengan syarat, jangan ada yang ikut campur sampai karya tersebut jadi. Makanya saya berhenti menulis artikel waktu editor udah banyak ikut campur. Saya punya anggapan, biarlah interpretasi saya dulu yang diselesaikan, kalaupun sudah jadi nanti kan sudah jadi hak pembaca memaknainya. Lha ini, belum juga diterbitkan, sudah harus mengikuti selera pasar, kan males..

Saya sih setuju saja kalau novel ini difilmkan, siapa saja pemerannya tidak masalah. Toh, Pak Pramnya sendiri juga sudah ikhlas karyanya dimaknai gimana. Kelompok satu ada benarnya, biar film biopic ini ga di reboot terus macam Spiderman. Kelompok dua, ada benarnya. Wait and see, gitu kan dek?, ehem.. kelompok tiga benar juga. Jaman mu jaman mu, jaman ku jaman ku. Semua demi kemashlahatan anak cucu kita yang punya pasangan. Biar dedek-dedek emesh tau kalo Indonesia ga cuma punya Rangga..

Tapi,… masa sih sutradaranya ga bisa ganti? Bisa, ya ya ya?


Nganu ini

14 Desember 2017

Salah satu film india kesukaan saya itu judulnya Taare Zameen Par. Maklum, saya awalnya memang tertarik cuma karena Amir Khan yang main (ganteng sih, ehem), sejak saya liat 3 idiots tentunya. Ini orang tipikalnya Stephen Chownya India lah, sentil-sentil masalah sosial pake komedi.

Di film ini, fokusnya diarahkan ke salah satu penyakit bernama disleksia. Konon penyakit ini sudah ada sejak si Isaac Newton lahir. Saya ga tahu ini penyakit masuk kategori keterbelakangan mental atau tidak. Yang jelas pengidapnya malah orang-orang unik dengan kemampuan spesial. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang cerdas yang punya satu kecerdasan spesifik. Jadi bukan cuma pinter di IQ aja. Malah, banyak orang-orang Mensa (fyi, ini perkumpulan orang-orang jenius dunia) juga pernah dihampiri ini penyakit. Bahkan itu si kribo Einstein juga. Eh, kalo ga salah saya juga dulu pernah lolos ujian mensa lho, tapi lewat internet. huhuhu

Kalo ga salah, disleksia itu menawarkan gejala sulitnya mengenali huruf, angka, kata, simbol, juga kurangnya refleks tubuh. Kebanyakan memang mengalami sulit membaca sama menulis. Bukannya ga bisa nulis ama baca, tapi lebih ke banyaknya melakukan kesalahan. misalnya nih, susah ngebedain b atau d waktu nulis. Sering kebalik-balik. Atau nulis z sama s / q atau p. Baca hutan kebalik tuhan. Selain itu juga, mereka dianggap aneh oleh lingkungannya karena punya sifat yang ‘engga biasa’ dari orang lain. Kalo saya, dulu juga sering kebalik pas baca huruf arab, sampe sekarang malah.

Saya juga kurang tau ini ada hubungannya sama masalah ingatan atau engga. Tapi, mengingat Deddy Corbuzier juga kena penyakit ini (tapi malah jadi mentalis, haha) saya rasa disleksia bisa dilatih untuk diperbaiki. Di film juga kayaknya bisa disembuhin. Tapi ga tahu permanen atau engga.

Untuk jelasnya tentang penyakit ini, coba di google aja atau nonton filmnya deh. Saya mau nulis juga karena sepertinya saya kena ini penyakit. Ini sih cuma observasi diri sendiri aja, belum tanya dokter saya. Soalnya dokter hewan jarang buka praktek di sini.

Nah, saya nulis begini kan kayaknya saya ngerasa kok punya gejala-gejala mirip begituan. Saya curiga saya malah kena juga. Waktu kecil, saya juga susah ngebedain mana biru mana ijo. Sekarang sih engga. Tapi untuk ngebedain timur sama barat misalnya, otak saya masih butuh sekitar 5 detik buat mikirnya. Makanya waktu masih ikut mapala dulu, ikutan lomba orienteering ga pernah menang. Baca kompas ama petanya kagok.

Apalagi dulu, jaman masih suka keliling jawa sendirian. Kalo nanya arah sama orang jawa kan dijawabnya suka pake arah mata angin. Belum lagi kalo jawa nya dapet yang alus, skak mat ditempat lah pokoknya. Selain itu saya juga kesulitan ngebedain beberapa kata dalam bahasa inggris yang memang mirip. Misalnya, bahasa inggris kan sering banget pake akhiran huruf ‘ght’. Kayak bright, night, sight, might, fight. Nah, kadang saya juga susah tuh nulis ght, apa tgh, atau hgt. Belum lagi kalo nulis kata yang ada huruf dobelnya, kayak tomorrow, business atau apple, sering ketuker-tuker yang dobelnya.

Apalagi saya yang datang dari daerah pelosok ini, yang waktu smp/sma nya cuma diajari This is banana. This is a car, tiba-tiba pas masuk kuliah langsung diajari grammar level sastra. Otak saya langsung mogok walaupun dosennya ngarajarin pake senyum. Ibaratnya, saya yang di kampung cuma diajarin dayung sampan, ujug-ujug sampe ke kota di suruh ngemudiin kapal Titanic. Yah tenggelam kan..

Disleksia yang berpengaruh reflek juga yang bikin saya ga pernah ikut olahraga sejenis bola-bolaan. Sejak smp saya udah ga pernah lagi main basket, bola kaki, bahkan bulu tangkis. Karena, orang-orang disleksia sulit memperhitungkan jarak, kecepatan ataupun gaya sebuah benda. Ya mungkin semacam cewek yang parkirin mobil kali yak. Susah nebak arahnya.

Misalnya gini, ketika dilemparkan sebuah bola atau benda apapun, seorang disleksiaer bakal sulit memperkirakan benda tersebut datang sebab otaknya masih berpikir berat benda + kecepatan + gravitasi, ditambah refleknya yang lambat, benda tersebut akan menjadi susah ditangkap pake tangan meskipun matanya udah ngeliat. Dengan begini, sepertinya, kemungkinan orang dengan disleksia buat kena latah bakal sangat rendah persentasenya. Latah yang telat kan ga lucu.

Pengidap disleksia biasanya bertahan dengan mempelajari semuanya serba otodidak, soalnya tipikal masyarakat suka banget menghakimi orang yang beda. Mau ga mau, pengidapnya harus berusaha sendiri untuk sampai ke standar kenormalan masyarakat. Masalahnya, memang cuma sedikit orang yang menyadari penyakit ini karena memang kurangnya informasi. Belum lagi kalo si pengidap dapet guru yang salah, sudah pasti itu anak dianggap nggak normal. Yah, mirip-mirip cerita kecilnya Einstein gitu.

Dengan metode belajar yang salah (dalam kasus ini, metode belajar yang disamaratakan seperti pada umumnya), seorang pengidap disleksia akan sangat sulit menyerap apapun ke dalam otaknya. Mau tidak mau ia akan mengulang dari nol lagi dari apa yang sudah diajarkan sebelumnya. Kalo memang ada hubungannya dengan masalah ingatan, maka saya maklum kenapa ingatan saya ini pendeknya naudzubillah.

Saya sendiri meskipun kuliah jurusan sastra inggris, terus terang cuma sekitar 5 persen ilmu yang bisa saya dapet. Sisanya saya tutupin dari film, musik ataupun komik. Sampai sekarang juga saya belum pernah bisa ngebedain grammar ataupun tenses yang mirip rumus kimia itu. Lucunya, tes toefl saya tidak pernah dibawah 300. Menyelesaikan sebuah buku psikotes mungkin lebih mudah bagi saya ketimbang selembar soal ujian grammar.

Salah satu kendala terberat penyakit ini juga mempelajari kata yang baru, terlebih lagi bahasa. Untuk membedakan satu huruf yang mirip saja butuh waktu belajar intensif yang cukup lama dan juga metode khusus. Dan seandainya saya adalah pengidap disleksia, maka boleh dikatakan saya pengidap yang cukup cerdas.

Saya aktif dalam 5 bahasa daerah dan 2 bahasa negara, hmm mungkin malaysia yang serupa melayu, atau singapura yang singlis dimasukin, bisa dihitung juga. Saya juga pernah sih belajar bahasa jepang dan jerman 3 semester sama bahasa komputer waktu stm. Saya juga hafal berbagai sandi, morse sama semaphore waktu ikut pramuka. Tapi sepertinya ga satupun yang masih nempel di otak. Kelunturan bayclin kayaknya.

Yang jelas saya bisa dikatakan penganut multilingual. Tidak hanya bahasa, tetapi juga aksen dan logatnya juga. Untungnya saya dibesarkan di Bengkulu, sedikit dari daerah di Indonesia yang punya logat dan aksen yang netral. Sehingga kadang susah ditebak aslinya dan juga mampu mempelajari bahasa lain tanpa mencampurkan dengan aksen lingua franca asal.

Jadi, pertanyaannya. Iyakah saya terkena disleksia? Entah juga. Beberapa gejala saya punya. Tapi beberapa kekurangan penyakit tersebut malah bisa saya atasi. Memang sih, dengan guru yang benar dan metode belajar yang tepat, kekurangan penyakit ini bisa diatasi. Kalopun saya mengidap penyakit tersebut, artinya saya punya satu kecerdasan spesifik yang selalu dipunyai orang-orang disleksia. Sedangkan saya, dengan memory otak yang cuma 8 giga ini, masih mempertanyakan diri saya bisa apa?

Yang saya takutkan adalah, jika saya benar mengidap disleksia, akankah saya menjadi kasus pertama penganut disleksia yang tidak punya kecerdasan apa-apa? Hah..

Yah, mungkin satu-satunya kelebihan saya itu, adalah penyakit. Penyakit yang berlebih.

 


Repetisidiotik

17 Mei 2017

Di jaman saya kecil menggemaskan, masih lazim beberapa orang kampung yang ‘rembug’ nonton tipi ramai-ramai di kelurahan. Berduyun-duyun orang datang layaknya pengungsi yang kadang sampai mengajak keluarga beserta ternaknya sekalian. Anak-anak sekarang mungkin akan sulit membayangkan bagaimana pasrahnya manusia jaman prateknologi itu menikmati sejumput siaran yang cuma satu dengan warna ala papan catur .
Fenomena ini bukanlah mitos belaka. Nonton bareng (nobar) pada jaman dahulu tidaklah sebergengsi pada tataran kebersamaan ataupun silahturahim, lebih-lebih nasionalisme. Sebagian besar masyarakat hanyalah terdegradasi ke kelas ekonomi terbawah, atau bahasa halusnya, mereka hanya mencari hiburan gratis. Di jaman ini, banyak dipengaruhi cita rasa layar tancap yang memang sempat booming sebelumnya. Kegiatan menonton tipi memang sebentuk acara mewah kala itu. Minimnya hiburan di masa itu dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah anak pada tiap keluarga, tau kan hubungannya? Ga usah minta dijelasin, sini langsung praktek…

Setelah tipi menjadi jajanan massa, kemudian parabola mulai mengambil alih puncak rantai teknologi masyarakat. Barang siapa yang rumahnya memiliki parabola di masa itu, niscaya rumahnya akan selalu ramai oleh anak-anak dari pagi hingga sore hari, dan bapak-bapak di malam hari. Kok bapak-bapak ikutan juga? Karena, tahu sendiri lah namanya laki-laki dewasa, ketidakadaannya badan sensor ataupun KPI di jaman dahulu itu merupakan sebuah berkah tersendiri..

Sayapun sempat merasakan getirnya rebutan tempat duduk di sebuah rumah yang keluarganya cukup berada untuk menghabiskan uang membeli teknologi ini dikarenakan harganya yang mustahil untuk tergapai keluarga lain yang pemasukannya hanya sekelas gaji buruh magang paruh waktu.

Untuk sekedar menonton acara parabola ini, kami anak-anak pada masa itu rela antri di depan rumah si pemilik parabola, menunggu panggilan dari sang empunya rumah menyeleksi siapa saja yang diperbolehkan masuk dan menonton.

Ibarat ajang pencarian bakat di televisi, kami anak-anak pada masa itu, menjadikan saat-saat menunggu namanya dipanggil tuan rumah agar diijinkan masuk dan menonton adalah momen paling mendebarkan. Tidak kurang dari 20 anak akan antri di setiap rumah yang memiliki parabola. Disaat inilah lantas saya mengenal Kotaro Minami dan belalang tempurnya yang termasyur itu.

Lambat laun, kedigdayaan parabola ini akhirnya harus bertekuk lutut juga dihadapan lawan baru yang lebih pro-minoritas, si antena 3 jari. Dengan harga yang lebih bersahabat, paling tidak antena ini mampu melepaskan masyarakat dari belenggu otoriterisasi TV negara yang tidak memberikan keleluasaan dalam memilih tontonan.

Tumbangnya barang mewah sekelas parabola membuat para produsen teknologi memutar otak mencari pintu lain agar rakyat bisa menghambur-hamburkan uangnya dengan tidak bijaksana. Lalu tercetuslah VCD dan rentalnya yang sempat mengalami kejayaan selama beberapa tahun saja. Di era VCD, tidak hanya produsen yang kebagian untung, tetapi juga pemilik rental, para pembajak kaset, tukang serpis, tukang tisu, pedagang remote, bahkan tukang kredit.

Mendekati millenium baru, setelah digegerkan dengan kemunculan pager, masyarakat di pasok dengan barang mewah lain yang dimensinya begitu tak terbayangkan: Mobile Phone. Barang yang kini mendapat nama baptis sebagai HP ini menjelma menjadi idola baru masyarakat metropolis. Benda ini tidak hanya menggabungkan teknologi pager dan telpon rumah, tetapi bisa dibawa kemana-mana dengan bentuknya nan mini. Benar-benar pukulan telak bagi telpon benang-kaleng.

Tak butuh lama memang barang bergengsi akan menjadi pasaran di negeri ini. Karena sejatinya, masyarakat Indonesia memang mudah latah dan sangat aware terhadap prestise. Setelah bosan, lantas ditinggalkan. Nasib serupa pernah terjadi pada Blackberry, radio, VCD, DVD, telpon umum, wartel, dan lain sebanyaknya. Saya masih ingat betul dulu, merasakan 1 HP yang diperkosa banyak teman yang cuma modal kartunya saja. Benar-benar jaman jahilliyah..

Lanjut di awal 2005, demam lain merasuk ke jagad nusantara. Laptop mulai naik pamor mengganti PC yang memang minim inovasi waktu itu. Lantas beberapa tahun kemudian, laptop pun jadi bernasib sama dengan HP, barang mahal yang pasaran. Tak perlu menunggu waktu lama, semua orang sudah punya laptop. Terlebih kaum mahasiswa yang punya mobilitas tinggi, lantas menjadikan laptop sebagai barang kebutuhan wajib, sepaket bersama motor dan HP. Tiap makhluk berstatus mahasiswa di jaman itu pasti punya 3 sekawan: motor, hp, laptop. Kecuali anak-anak sastra tentunya. Terutama saya.

Kemudian demam berlanjut, setelah melakukan sedikit inovasi di bidang perpesanan, Blackberry akhirnya pupus karena minimnya kreatifitas akan konten. Sebuah sistem operasi futuristik yang menggabungkan internet dan mobile phone menjadi idaman baru masyarakat dunia, Android.

Munculnya android sebagai mainan baru telah membuka mata orang-orang akan sebuah portal ke dunia lain yang sangat kompleks namun menyenangkan. Dunia maya lahir dengan dimensi yang sangat berbeda dari sekedar bertukar pesan. Termasuk juga menggabungkan hampir semua penemuan manusia ke dalam sebuah kotak kecil tak lebih dari sembilan inchi.

Di dalam dunia maya, juga lahir dunia-dunia baru yang lebih luas. Dunia sosial media, dunia game, dunia blog, dunia forum, dunia sharing, juga dunia perbankan. Duniaception ini tentu saja memberikan pilihan baru bagi manusia untuk berpetualang meskipun hanya lewat mata.

Bahkan HP android yang paling sederhana saja mampu menjalankan beragam teknologi yang pernah diciptakan manusia mulai dari kalkulator, senter, pager, telpon, PC, sampai bermain saham. Begitu gilanya fungsi HP ini hingga membuat nya telah berevolusi menjadi organ tubuh manusia.

Tidak heran pusat-pusat hotspot yang menawarkan wi-fi gratis menjadi lampu bagi laron-laron yang haus akan kenikmatan dunia baru. Mengingatkan saya akan orang-orang dahulu yang nonton tipi di kelurahan. Toh, sejarah memang selalu terulang kan? Dengan versi zamannya masing-masing tentunya..


Frans Cihuy

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: