Azas Keklaksonan

12 Februari 2016

Sebagai seorang calon filsuf periode 2020-2025, seorang saya sangatlah menyukai  ketenangan. Terutama ketenangan fisik. Kepala saya akan sangat pusing jika menemukan situasi semacam mendengarkan konser musik metal, raungan cengeng anak kecil minta mainan, suara knalpot racing, pasangan yang sedang ribut karena selingkuh, tukang bengkel yang ngegas kendaraan secara berlebihan, ataupun ibu-ibu yang sedang ngomel dengan suara cempreng.

Dari kesemuamua sebab di atas, bunyi klakson saya tempatkan sebagai bunyi-bunyian PALING tidak asik dan sangat menggangu sejagat alam. Tepuk tangan sodara-sodara..

Di dalam dunia lalu lintas sendiri, klakson di fungsikan sebagai isyarat atau tanda peringatan bagi kendaraan yang ada di sekitarnya maupun orang-orang bego yang sulit mendengar karena terlalu asik dengan gadgetnya.  Sedangkan di Indonesia, klakson digunakan sebagai pengganti atas kalimat teriakan “WOOOYY!!”.

Sebagai manusia Indonesia normal, kehidupan jalan raya sudah menjadi bagian hari-hari saya yang memang tercatat sebagai pengguna kendaraan santun sejak tahun 2002. Sejak pertama kali memakai motorpun, saya jarang sekali menggunakan klakson karena menyadari bahwa bunyi klakson akan sangat menggangu bagi orang-orang yang tidak ingin mendengarnya. Karena memang, klakson diciptakan sebagai bahasa lalu lintas yang harus bersaing dengan riuhnya bunyi jalan raya. Untuk itulah klakson disetel dengan volume setara petasan.

Di Indonesia, klakson yang dibunyikan satu kali, bisa dimaklumi sebagai tanda permisi atau sekedar numpang lewat. Kalau dijadikan kalimat, ibaratnya jadi begini isinya: “permisi, saya duluan..”, atau “numpang lewat, pak..bu..”. Penggunaan klakson satu kali biasanya juga dipakai ketika ingin menyalip kendaraan lain atau sebagai tanda peringatan bagi kendaraan lain yang tidak kelihatan. Bisa juga dipakai sebagai pengganti ucapan terima kasih bagi kendaraan yang ikhlas memberikan jalan lewat.

Bunyi dua kali, biasanya dipakai sesama pengguna kendaraan untuk bertegur sapa, istilahnya itu pengganti kalimat: “Hai, pekabar cuy..”. Atau bisa juga kalau kendaraan dalam situasi ngebut, bunyi dua kali bisa di terjemahkan sebagai: “sorry, sedang buru-buru..”. Bunyinya juga dua kali dan pendek-pendek.

Jika, sebuah kendaraan membunyikan klakson lebih dari dua kali, artinya ada beberapa kemungkinan dan kesemuanya adalah kemungkinan terburuk.

Pertama, sudah pasti kondisi sedang macet. Yang paling saya kesali dari kemacetan adalah suara klakson yang seolah terompet vuvuzela itu. Sautan beriringan dari pengguna jalan yang seolah istrinya dirumah sedang mau melahirkan. Tipikal manusia yang menyalahkan macet tanpa sadar dia adalah salah satu penyebab kemacetan.

Pengguna kendaraan yang terjebak macet, mengguna klakson sebagai pengganti tumpahan kekesalan mereka karena sebenarnya tidak tahu ingin marah ke siapa. Ibaratnya sedang mendengarkan rengekan anak kecil yang minta dibelikan balon. Orang-orang ini tidak pernah menyadari kemacetan belum pernah menjadi lancar gara-gara klakson. Kebodohan massal yang bikin kesal sekali. Oon berjamaah.

Kedua, bunyi klakson yang dibunyikan terlalu banyak bisa dianggap sebagai indikasi buat ngajak berantem. Beberapa waktu lalu, muncul diberita seorang pengguna jalan yang digebuki massal karena menekan klakson terlalu berlebihan. Mungkin dia melihara kucing, jadi nyawanya ketularan banyak.

Padatnya jalan raya di Indonesia, selalu memungkinkan pengguna jalan lain untuk sering terserempet ataupun sekedar bersenggolan antar sesamanya. Untuk jalan-jalan besar, klakson jenis ini biasa ditujukan kepada kendaraan yang lebih besar. Kendaraan besar yang jalannya lelet tapi tidak memberikan akses untuk disalip, maupun yang jalannya ngebut tapi ugal-ugalan, harus siap dengan serangan klakson dari pengguna motor atau mobil pribadi yang memang lebih berkuasa atas jalan raya.

Atau, bisa juga ketika di lampu merah tapi kendaraan di depan juga tidak beranjak seolah macet. Suburlah klaksonan dari pengguna motor sebagai yang mulia di jalan raya memberi peringatan. Sok mau buru-buru, padahal kalau jalanan lancar, jalannya juga biasa aja. Ingat, sabar adalah koentji!

Ketiga, adanya kriminalitas di jalanan. Baik begal, perampokan, copet, penodongan, ataupun situasi bahaya lainnya, memang baiknya menggunakan klakson sebagai tanda minta tolong. Karena diharapkan, gangguan dari suara ini mampu mengundang orang datang secara beramai-ramai. Biasanya sih yang datang kebanyakan tukang pukul, hakim-hakim tanpa ijazah.  Mungkin ini satu-satunya alasan saya bisa menerima mengapa klakson tercipta.

Terakhir, tukang sayur dan kerabat-kerabatnya. Sebagai penderita insomnia akut, saya adalah orang yang baru akan tidur ketika matahari akan muncul. Sayangnya, pada waktu pagi hari merupakan jadwal tukang sayur mulai melancarkan aksinya. Evolusi terompet “oek-oek” yang sekarang menjadi klakson mulai menampakkan tajinya. Sialnya, tukang sayur kadang datang secara rombongan. Jadilah paduan suara ala klakson. Dan hancurlah ketenangan pagi saya..

Beberapa daerah di Indonesia memang memiliki mamang sejenis ini, yang menjadikan klakson sebagai alarm bagi munculnya kedatangan mereka. Backsound yang tidak aduhai memang.. Baik tukang sayur, tukang donat, tukang minyak, tukang sate, tukang roti juga tukang-tukang serupa lainnya. Mereka sepertinya tidak menyadari mana bunyi yang membuat orang keluar rumah karena tertarik atau terganggu.

Tapi, entah mengapa insting saya mengatakan bahwa Padang ini memang agak lain dari daerah-daerah lain yang pernah saya tinggali. Di sini, hidup manusia-manusia dengan telinga super. Kalau ngomong, harus cepat dan keras. Kalau sedang karaoke, speakernya harus sekomplek kedengaran. Angkot-angkotnya, dipasangi speaker sekelas konser dangdut biarpun kadang suara penumpang minta turun ga kedengaran. Tukang sayurnya, bunyiin klason dalam hitungan detik berturut-turut. Dan emak-emak gosipnya, hmmpp… kalah deh suara mesin F1.

Kalau jaman dulu sih masih mending, tukang bakso yang mukulin piring. Atau bunyi kring-kring sepeda, bunyi terompet oek-oek tukang donat.  Bahkan beberapa tukang cuma bermodal mulut untuk menarik pelanggan. Tapi sekarang, entah kenapa klakson yang jadi primadona.

Karena, orang-orang ini juga kurang menyadari mana bunyi-bunyi yang menggangu ataupun sekedar tanda. Yang mereka tahu, selama bunyinya menarik perhatian orang banyak, mereka akan menggunakan secara intens dan bersemangat. Yang saya takutkan, besok-besok malah petasan atau gas LPG 3kg yang mengganti bunyi-bunyiannya..

Kan ngeri juga kalo tiap tukangnya mau lewat, tiap rumah dilemparin petasan cabe. Lah, kalo sehari ada 10 mamang yang lewat, apa ga gempor itu kuping.. Sekalian aja bangun barak, biar nuansa perangnya bisa dapet.. Biar hastag #kamitidaktakut teramalkan dengan sungguh-sungguh.

Oke, segitu dulu resahnya saya. Yang pasti saya tidak suka klakson dan bunyinya. Memakainya di jalanpun jarang-jarang. Gunakan klakson seperlunya aja. Juga liat sikon dan keadaan. Karena memang, semua bahasa yang tidak verbal sangatlah sering mengalami kesalapahaman. Apalagi sampe berantem. Berantem ama orang jelek, kalau sama-sama bonyok kita yang rugi… Salam tiiinn….tiiiinnnn…..


Valentinifikasi

8 Februari 2016

Sebentar lagi Valentine. Lagi-lagi kita akan dihadapkan dengan kelompok yang mendukung, membiarkan dan yang mengharamkan. Konflik serupa natal, tahun baru, dan hari Ibu. Konflik-konflik yang mengisyaratkan kita masih setingkat homo sapiens.

Terkait Valentine, kita juga akan disajikan komen-komen sejenis: “kasih sayang tuh tiap hari, ga harus di valentine aja”, “Valentine kan sejarah aslinya kan serem, ada pembunuhan”, “Valentine tuh kan haram”, blablabla.. Komen yang mirip alarm tahunan, bunyinya sama dan terulang tiap tahun.

Dulu, di pesbuk saya pernah bikin status begini ketika hari AIDS nasional: “Selamat hari AIDS bagi yang menjalankan”. Saya ngasih selamat bukan karena saya bagian atau terkena AIDS, ikut meramaikan saja dan pengingat bagi yang lupa. Toh, saya tidak harus terinfeksi AIDS dulu agar bisa ngucapin selamat.

Pandangan saya terhadap Valentine sih masih sebatas acara seru-seruan bagi anak muda aja. Bagi beberapa orang yang terlalu serius menanggapi Valentine bahkan membawa sampai ke ranah iman dan akidah, saran saya sih, pergilah sesekali camping di hutan atau gunung. Udara alami sangat membantu merefresh otak dan urat-urat yang kaku. Piknik bisa di jadikan alternatif untuk menyegarkan pikiran dan menambah sedikit wawasan.

Karena hidup yang serius itu sangat tidak asik untuk dijalani. Tipikal hidup statis yang cuma mengalami satu musim, musim agama. Apa-apa agama, apa-apa agama. Padahal agama itu cuma alat, hanya kendaraannya saja. Tuhanpun tidak menyukai umat yang hanya memikirkan akhirat saja. Dunia yang penuh perbedaan ini pun haruslah dicermati dengan bijak dan tenang. Sekian dari saya. Kalo kebanyakan takut nanti jadi motivator..


Menyoal Kepoisme

8 Februari 2016

Tadi di tipi ada yang ngebahas soal nophomobia (maap kalo tulisannya salah), phobia terhadap jauh dari HP katanya. Penyakit masyarakat modern kekinian.

Faktanya agak serem juga, hampir 50 persen pengguna smartphone yang terinfeksi. Penjelasannya sih, penderita biasanya ga bisa tenang, cemas, sama mendekati stres kalau berjauhan dari HP nya barang 5 menit saja. Meskipun di HP nya tidak ada notifikasi apapun. Tetap kudu dicek terus..

Asumsi saya sih, gejala diatas dikarenakan Yang Mulia Sosial Media. Dunia awang-awang tempat banyak orang bertaruh memasarkan hedonisme masing-masing. Sosmed selalu membuat pemujanya berburu keingintahuan. Baik kabar dari teman-teman yang baru dan lama, teman dekat, orang-orang yang “diincar”, dan lebih utama ke mantan.

Masalah utamanya adalah, manusia era sekarang lebih malas menanyakan kabar secara langsung dan lebih memilih mengetahui secara diam-diam kehidupan orang-orang via sosmed, lantas kemudian seolah-olah pura-pura tidak tahu. Mereka lebih senang mengira-ngira dan berkesimpulan atas apa yang mereka lihat. Saya sih lebih memandang sosmed sebagai tempat yang sangat cocok untuk mengumbar pemikiran saja.

Lebih jauh lagi, gejala nophomobia ini hanyalah salah satu sifat kepo manusia Indonesia rata-rata. Karena sesungguhnya, negeri ini penuh dengan manusia yang selalu ingin tahu. Mulai dari emak-emak yang bergosip antar tetangga, sampai ke penyadapan telpon tingkat KPK.

Memang sih, rasa penasaran adalah salah satu filsafat hidup manusia pada hakekatnya. Sudah tercipta sepaket sama otak. Manusia sudah diberkati dengan rasa ingin tahu sejak nabi Adam melihat buah khuldi. Tapi, baiknya keingintahuan tersebut di arahkan ke hal-hal yang lebih bersifat global dan universal ketimbang demi kehidupan pribadi orang perorang. Kalau cuma sekedar dipakai untuk tahu siapa yang ngelike status pasangan kamu, kemungkinan evolusinya belum sempurna.

Masalah kepo-mengepo ini benar-benar sudah diatas rata-rata. Di dunia sosmed, stalking  jadi primadona. Di dunia nyata, bisa kita lihat di tragedi bom sarinah kemaren. Teroris yang mengira dirinya Rambo itu, malah jadi tontonan layaknya sirkus lumba-lumba oleh masyarakat. Sampai-sampai, si polisi kudu bikin police line khusus buat “penonton” agar tidak ngelewati batas. Penasaran telah mengalahkan rasa takut. Tipikal orang Indonesia, Selama bukan dia yang kena, tetap #tidaktakut.

Kesampingkan korban-korban yang meninggal, kita malah penasaran dengan tukang sate dan pedagang asongan. Kami memang tidak takut, deg-degan, iya. Kita malah membahas hal-hal tidak penting yang dikira mewakili rasa tidak takut.

Negeri kita nampaknya memang kurang hiburan, mungkin karena itulah acara lawak lebih jamak di televisi hingga hari ini. Tengoklah semisal ada tabrakan atau kecelakaan di jalan raya. Dengan mudah ratusan tamu tak diundang pun gampang dikumpulkan. Semua ibu-ibu sampai anak-anak kecil  daatang menjadi semut yang ketemu gula. Lebih banyak yang penasaran ketimbang yang menolong. Macet pun pasti terjadi karena sebagian yang lewat minimal ingin melirik agar bisa jadi bahan perbincangan dikala nongkrong di warung kopi nanti. Tips bagi yang nanti mau kampanye tanpa biaya, kecelakaan bisa dijadikan salah satu alternatif.

Pernah di suatu malam di Bukit Tinggi, ketika saya sedang nongkrong asik bersama kopi, tersebutlah sebuah kebakaran hebat terjadi di sebuah rumah. Saya yang memang jarang menyaksikan kebakaran, dibuat kaget dengan kenyataan yang terjadi. Ratusan anak muda yang sepertinya kehabisan ide untuk mengajak jalan-jalan si pacar, malah menjadikan kebakaran sebagai tontonan kegiatan malam minggu.

Ratusan motor para penonton sudah terparkir rapi di masjid dan rumah-rumah penduduk. Dan banyak lagi yang antri macet dijalanan untuk menyaksikan kebakaran tersebut. Sampai-sampai mobil damkarnya harus ‘mengancam’ pengguna jalan cuma agar bisa lewat untuk mengambil air. Di TKP pun, jubelan manusia datang hanya untuk menikmati pemandangan api unggun yang memang jarang-jarang terjadi.

Begitulah Indonesia, di setiap sudut negerinya sama. Kita lebih memilih kepo dengan hal-hal sepele semacam harga Nikita Mirzani ketimbang mengetahui bursa caleg yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup kita luar dalam. Kita lebih banyak menggunakan sosmed untuk mengartiskan diri ketimbang tempat mengekspresikan diri. Menyebarkan foto selfie ketimbang kritik dan menawarkan ide-ide.

Memang benar, rasa keingintahuan manusia itu begitu besar. Tapi Tuhan juga sudah menciptakan otak sebagai pengontrolnya. Otak bisa diarahkan oleh hati, bagi yang punya. Tapi, bagi manusia-manusia yang hatinya sudah di bawa lari gebetan, saya bisa maklum.

Lagipula, wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah sejak dulu itu, sudah memuat azas-azas kemanusiaan yang adil dan beradab. Sehingga tidak perlu menjadi jenius untuk memilah mana yang baik dan buruk dalam menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat.

Kok saya subjektif? Tentu saja saya harus subjektif. Toh, ini tulisan saya. Blog juga punya saya. Kalau mau membela diri, jangan komentari tulisan saya, tapi buat tulisan kamu sendiri.. Biar jangan jadi komentator bola. Sudah dulu ah, mau cari siomay dulu..


Debatorial

8 Februari 2016

Saya sebenarnya bukanlah orang yang cocok untuk diajak berdebat. Berdiskusi masih mungkin, tapi untuk berdebat, saya angkat jemuran deh. Karena sesungguhnya, kemerdekaan itu ialah hak… produk manusia setipe saya ini termasuk ke dalam golongan spesimen telmi yang sulit sekali mencerna secara spontan.

Saya selalu saja bermasalah dengan bagaimana cara penyampaian yang benar atas apa yang saya pikirkan. Tentu hal ini dikarenakan otak dan mulut saya sedikit kurang sinkron dan sulit sekali berkoordinasi. Ketika pemikiran saya sudah menjangkau bidadari di atas awan sana, mulut saya malah sibuk membicarakan cacing yang ada di dalam tanah.

Hal ini tentu akan menyulitkan ketika saya harus berdebat masalah-masalah serius nan sensitif. Karena ketika sebuah perdebatan sudah terjadi, akan sangat sulit untuk meralat atas perkataan yang sudah terucap. Dan yang paling menakutkan, ketika lawan debat menggunaan kesalahan tersebut untuk membantah pendapat yang telah terucap sebelumnya. Skak mat.

Untuk itulah terkadang saya lebih memilih diam ketika sebuah perdebatan tengah berlangsung. Baik debat-debat santai sekedar di warung kopi, maupun debat-debat serius di civitas kampus dan ruang-ruang kuliah. Saya lebih memilih menjadi pengamat dengan sedikit sunggingan senyum ramah ke kedua belah pihak yang sedang berdebat sambil menyalahkan pendapat mereka berdua di dalam hati.

Namun, yang paling saya tidak sukai dalam sebuah perdebatan adalah ketika mereka saling menjatuhkan lawan dengan menyalahkan pendapat lawan ketimbang memperkuat pendapatnya sendiri. Berdebat menjadi tidak asik ketika salah satu pihak mulai sok tahu dan mulai muncul sebentuk sunggingan senyum meremehkan yang muncul. Ketika hal ini terjadi, intisari perdebatan yang seharusnya mencari kebenaran akan berubah bentuk menjadi hanya mencari pembenaran.

Karena itulah, sebuah perdebatan haruslah dilakukan dengan lapang dada, keikhlasan, dan kejujuran. Juga tidak lupa wawasan luas yang menjadi dasarnya, agar tidak menjadi sekedar debat kusir. Sedangkan saya, tetap dengan pendirian sebagai kritikus. Persetan dengan debat, semuanya tetap salah pokoknya.. haha..

.

rokok


Jadi Apa

3 Februari 2016

Jadi gitarist, tapi gitarnya patah. Gagal. Coret

Jadi penulis, ga pernah serius. Gagal. Coret

Jadi kartunis, pasti gagal. Coret

Jadi anak, belum gagal. Masih ada harapan..

Jadi backpackeria, tapi kere. Gagal. Coret

Jadi penipu, gagal. Terlalu baik

Jadi keren, insyaAllah sudah..

Jadi pemulung, liat situasi dulu. Dipertimbangkan

Jadi travel writer, ga ada yang bayar. Gagal. Coret

Jadi filsuf, gagap. Coret

Jadi kaya, boleh. Tapi dikit aja, takut serakah..

Jadi enterpreneur, ga punya modal. Gagal. Belum dicoret

Jadi guru, kasian yang jadi murid. Enggak gagal sih, tapi coret..

Jadi wisuda? Haiissah…

 

 

#Padang, akhir Januari yang pancaroba..


Menjadi Indonesia

27 Januari 2016

Beberapa tahun yang lalu, kita tersentak dengan fenomena beberapa pemain timnas sepakbola negeri ini yang dibuat seolah terobsesinya kita (atau putus asa?) dengan menaturalisasi banyak pemain asing yang entah dari mana datangnya. Dengan membabi buta kita mengIndonesiakan pemain-pemain luar yang berdarah campuran ini untuk ditugaskan merebut juara yang tak kunjung datang hingga efek gegap gempitanya pun cuma sekejap kentut, bahkan tak terdengar lagi kontribusi pemain-pemain tersebut kepada negara hingga hari ini.

Yang lebih menyedihkan lagi, di partai finalnya kita kalah oleh musuh bebuyutan, si Malaysia yang notabene pengguna fullteam pemain pribumi. Ibarat main game tuh, kayak udah pakai cheat tapi masih kalah juga. Huhuhu..

Di lain pihak, beberapa aktivis lingkungan di Kalimantan, juga seniman di Bali, atau Lembaga-lembaga LSM di Papua, dan pendiri sekolah Independen, bahkan penggerak pariwisata di Indonesia yang berkewarganegaraan asing, sulit sekali mendapat hak menjadi orang Indonesia (pernah diliput tim Kick Andy). Orang-orang bule ini sudah tinggal lebih dari 10 tahun (salah satu syarat menjadi WNI) dan bahkan berkontribusi aktif pada masyarakat hingga hari ini terutama untuk orang-orang pinggiran di Indonesia.

Sesulit itukah menjadi Indonesia? Sebagai orang Indonesia berdarah setengah Spanyol (fyi, telapak tangan saya bule, lho..), saya berani bilang tidak sulit. Mungkin saja, orang-orang yang saya sebutkan diatas itu belum tahu saja tips dan trick sebagai celah untuk diakui sebagai Orang Indonesia tulen bernuansa nusantaraisme nan adi luhur gemah ripah loh jinawi karena asah, asih, dan asu!. Inilah itu anunya, Cekidot ..

 

# Makan mie

Meskipun makanan pokok bangsa ini adalah beras, Mie sebagai kompetitor ketat tetap saja membayangi sebagai runner-up dalam kancah kuliner nasional. Selain murah, praktis dan bervariasi, mie juga jadi pilihan wajib bagi para survivor jelata layaknya anak kos, pendaki gunung, tukang jalan-jalan, juga ibu-ibu rumah tangga yang malas masak.

Indomie sebagai pemersatu bangsa, sering hadir di acara-acara amal nan religius bernuansa bantuan seperti donasi bagi korban bencana, pembagian sembako, sumbangan ke panti-panti, dan sesajen bagi para penjelajah yang singgah di masyarakat pedalaman.

Geliat penyebarannya pun hampir merata mulai dari warung kopi, kedai pinggir jalan hingga resto dan cafe-cafe elit senusantara. Tidak heran jika produsen mie instant selalu termasuk ke dalam barisan orang-orang terkaya di negeri ini bersaing dengan produsen rokok.

Dengan menjamurnya produk ini, maka wajar jika tiap manusia Indonesia pernah merasakan nikmatnya goyangan mie instant yang konon pernah menjadi mie terenak sedunia. Benarlah kiranya jika dikatakan mie Instant adalah ciri manusia Indonesia. Dan asal tahu saja, mie adalah alasan pertama kami, para pria, mau mendekati kompor, hei kalian..

 

# Kaki knalpot

Banyak fenomena tragis yang dimiliki manusia Indonesia. Kaki dengan cap knalpot adalah salah satunya. Kaki kanan pelakunya. Dan penyebarannya sungguh menakjubkan, hampir tiap orang punya.

Hal ini tidak akan terjadi di negara barat sana karena motor kurang populer di sana. Kalaupun ada, pengendaranya tidak ada yang sesantai di Indonesia yang cukup pakai celana pendek dan sendal jepit, kadang sambil baca koran.

Cap knalpot ditenggarai sebagai budaya warisan leluhur orang Asia dimana para masyarakat jaman dahulu akan ditato sebagai bentuk pengakuan kedewasaan oleh sukunya. Tato hanya didapat bagi orang-orang yang telah siap mandiri dalam hidup.

Semakin besar dan banyak tatonya, maka orang tersebut dianggap telah banyak pengalaman hidup. Bukan, saya menulis begini bukan karena saya memiliki cap knalpot yang besar dan banyak. Bukan itu. Kalau tidak percaya googling saja, kebetulan saya sedang malas. Percayalah. Dan bagi yang tidak mempunyai bekas knalpot di kakinya, itu menandakan bahwa kalian belum dewasa sama sekali, hahaha…

 

# Nama julukan

Kesenangan masa kecil masyarakat Indonesia adalah seringnya memberikan julukan nama yang absurd bagi kawan-kawannya. Pilihannya cuma dua, dipanggil dengan nama julukan, atau nama bapaknya. Khas Indonesia asli.

Sedari kecil kita sudah belajar membully dengan ejekan-ejekan yang sebenarnya memang sengaja dicari-cari. Bagi yang mentalnya kuat, ejekan ini akan bertahan sampai ia dewasa. Dan bagi yang mentalnya lempem, akan terganggu secara psikologis dan terus mengutuk teman yang memanggilnya dengan julukan tersebut tiap harinya.

Tidak heran nama julukan menjadi cerita masa lalu khas masyarakat Indonesia di tiap daerahnya.

 

# Ditilang

Di Indonesia ini, salah satu hal yang paling ingin dijauhi adalah berurusan dengan polisi. Kalau tidak masalah kriminalitas, berarti masalahnya adalah uang.

Institusi ini sering membela diri dengan slogan “itu cuma oknum..”. Oknum lambemu kotak… Lah kalau udah banyak bukan oknum lagi toh, pak.. Tingkat kepercayaan masyarakat jadi rendah, korupsi dimana-mana, birokrasi dipersulit, ketahuan salah malah balik ngancam, pistol jadi andalan, pungli merajalela, inisiatif rendah, robot aturan, kesewenang-wenangan seragam. Dll, dlllllllll….

Dan yang terlalu sering ditemui adalah polantas bersama surat tilangnya yang termasyur. Di seantero jagat bumi pertiwi ini, hampir semua makhluknya pernah merasakan pedihnya berhadapan dengan pakpol dan surat-suratnya tersebut. Merekalah, satu-satunya kelompok di negeri ini yang masih melestarikan kalimat “Selamat siang, pak..”.

Bukan cerita baru lagi jika masyarakat sangat membenci lembaga ini karena urusan tilangnya. Masyarakat pun akhirnya jadi pernah main ke pengadilan, yang seumur-umur tak pernah membayangkan dirinya akan berurusan dengan hakim dan meja hijau. Belum lagi praktek-praktek suap jalanan yang beredar sebagai lahan pencari nafkahnya.

Dengan banyaknya rumor yang beredar, dan karena masyarakat selalu punya pengalaman dengan polisi, maka ditilang seolah menjadi kewajiban bagi para pengendara di Indonesia. Kabar baiknya, Jika kamu tidak deg-degan ketika bertemu polisi, itu artinya kamu sedang diluar negeri.

 

#Blek

Misteri yang masih menyelimuti saya hingga hari ini adalah, tiap orang di Indonesia minimal ada satu teman yang ia panggil dengan “Blek/Black”. Masih untung cuma dipanggil blek, kadang yang lebih sadis malah nama aslinya disandingkan dengan julukan tersebut. Benar-benar pencemaran nama baik ini..

Meskipun, kulit si teman ini tidak hitam legam layaknya orang Afrika ketumpahan kopi, namun diyakini cukup menjadi yang terhitam didalam komunitasnya saja, maka julukan ini ikhlas ia sandang hingga dewasa menjelang.

Memang sih fungsinya cuma untuk lucu-lucuan, lha kan teman sendiri.. Tapi jika ditelisik lebih jauh, julukan ini sudah menyerempet SARA sih. Tapi karena orang Indonesia selow, akhirnya julukan ini dianggap lalu saja dan hanya jadi embel-embel. Inilah karakter asli orang Indonesia yang saya suka, santai aja, mau dipanggil julukan, ejekan, nama bapak kek, sipit kek, toh asal bukan untuk memaki atau menghina ya sah-sah saja.

 

# Mandi Sungai

Sebagai negara tropis dengan dua musim, musim panas banget dan musim banjir, hampir semua daerah di Indonesia memiliki sungai. Keadaan inilah yang akhirnya seolah menjadi wajib bagi para penduduknya minimal sekali seumur hidup pernah mandi di sungai. Apalagi jaman-jaman ketika SD setelah sepulang sekolah. Bagi anak-anak kecil, air merupakan sahabat paling akrab yang bisa mereka dapatkan. Baik sungai, pantai, laut, hujan juga lumpur.

Lihatlah jika musim banjir datang, bahkan anak-anak dijakarta pun tidak sungkan untuk mandi meski di sungai tercemar ataupun di jalanan yang tergenang (hueek..). Ini bisa dimaklumi karena memang, di dalam darah orang-orang Indonesia mengalir kesenangan akan bermain dengan air.

Ketika melihat air tergenang, kolam, sungai ataupun kumpulan air yang menganggur, gejolak darah orang Indonesia di dalam diri kamu pasti akan menjerit-jerit untuk segera menikmati. Hal inilah yang mungkin terjadi di Ranu Kumbolo kemaren. Maklumi saja..

Dan bagi kamu-kamu yang tidak bisa berenang, mulai saat ini tanyakanlah kebenaran kalian kepada orang tua masing-masing. Benarkah kamu anak kandung mereka? Benarkah mengalir darah Indonesia di diri kamu? Tanyakanlah meskipun kenyataan yang akan kamu dengar pahit adanya..

 

# Si Botak

Jangan sekali-kali mencukur habis rambutmu kecuali kamu keluarga militer atau kamu adalah motivator. Menjadi Indonesia, berarti telah mengalir di dalam diri kamu untuk tidak bisa menahan diri dari kemampuan membully orang-orang botak.

Kalau kamu punya anak, jangan biarkan mereka plontos ketika sedang berada di masa-masa sekolah (SD-SMP-SMA). Karena, budaya asli anak-anak Indonesia sangatlah kental akan sifat usil. Dan membully orang botak adalah menjadi favorit sejak daman dulu. Sebutannya pun memenuhi kosa kata kamus mulai dari gundul, botak, neon, tuyul, lampu taman, pak ogah, plontos, licin, silau, dragon ball, bola, kelereng, biji salak juga botol.

Dan kalau kamu punya teman yang sanggup bertahan untuk botak sedari kecil hingga sekarang, yakinlah ia mempunyai mental gatot kaca dan terbukti tahan banting. Karena, fisik orang Indonesia yang kurus dan pendek sangatlah tidak cocok disandingkan dengan kondisi botak yang memang seharusnya didampingi dengan tubuh kekar berkilau layaknya pemain WWF. Ini jugalah alasan mengapa harga obat penumbuh rambut kadang tidak masuk akal.. Harga diri itu mahal, bung..

 

# Huruf R

Di negara saya, Bengkulu, terdapat banyak sekali orang-orang pesisir yang kalau berbicara terdapat gangguan pada huruf R nya. Semacam cadel-cadel ga lucu. Diperkirakan ini dikarenakan logat dan aksen bahasa dari suku leluhurnya yang membuat bacaan R nya menjadi seperti bunyi orang ngorok.

Namun ternyata, jenis manusia yang saya perkirakan cuma ada di Bengkulu ini ternyata cukup banyak tersebar di seantero jagat Indonesia. Saya tidak tahu apakah hal ini disebabkan oleh gangguan lidah atau memang ketika lahir sudah kesetrum duluan.

Fenomena jenis ini di tempat saya sering disebut R bekarek. Atau kalau di Indonesiakan itu artinya berkarat. Mungkin karena pengucapan R dilakukan seolah-olah besi keropos. Orang-orang ini biasanya sering dikasih tantangan yang memang bikin sakit hati seperti meniru kalimat ini: “ular-melingkar-lingkar di atas pagar Pak Umar….”.

Dan kalau kamu adalah tipikal manusia dengan kombinasi botak, hitam dan r berkarat, saya sarankan segera pindah kewarganegaraan. Karena pembulian diindonesia terkenal sadis dan mengganggu mental secara permanen. Bersegeralah sebelum terlambat…

 

#Pose Piss

Kalau kamu sebenar-benarnya anak Indonesia, berarti kamu pernah berfoto dengan pose pasaran ala dua jari ini. Diperkirakan pose ini termasuk ke dalam kejadian-kejadian tak terjelaskan di alam semesta. Meskipun pose ini dipakai diseluruh dunia, rasa-rasanya cuma di negara ini setiap anak mudanya pernah melakukannya.

Karena memang, cuma di Indonesia segala kejadian aneh bisa terjadi secara massal menyeluruh. Maklum saja, negara ini sudah dikutuk latah abadi nan jaya.

Diperkirakan pose ini muncul karena sifat orang Indonesia yang mudah kagok dalam menghadapi kamera. Bikin mereka mati kutu dan kaku. Karena muka sudah datar, minimal ekspresi bisa dilakukan dengan tangan. Dan pose ini dianggap yang paling netral selain pose rcti oke..

 

# Preman Kampung

Ingin tahu standar sebuah daerah sudah maju atau belum? Coba lihatlah pemudanya. Di Indonesia gampang sekali menentukan sebuah daerah sudah maju atau masih sekelas kampung. Hal ini bisa diamini karena fenomena ini telah terjadi di seluruh Indonesia penyebarannya.

Kebanyakan pemuda ini bisa dikenali melalui gaya rambut yang ketinggalan zaman 10 tahun, atau rambutnya masih dipirang-pirangkan sebagian (duitnya mungkin ga cukup, jadi beli pirang yang sachetan). Juga, bisa dikenali lewat kendaraan yang dimodif secara tak beraturan dan minim konsep seperti ban yang dikecilin, knalpot racing tapi motornya bebek, cat absurd warna-warni, klakson dimirip-miripin tukang es, dan suara mesin yang dibikin tinggi Bass nya.

Fenomena ini menyebar di hampir tiap negara Asia Tenggara. Sayangnya, cuma Indonesia yang melestarikannya hingga detik ini. Dan tiap daerah selalu punya makhluk model begini. Kalau dalam dunia fashion, makhluk-makhluk ini bisa disebut sebagai fashion disaster. Butuh lebih dari sekedar Mario Teguh untuk menyadarkan mereka..

 

# Gambar Gunung dan sawah

Saya pikir, cuma generasi 2000 ke bawah yang melakukan hal ini. Tapi nyatanya, gambar legendaris berupa dua buah gunung, ditengahnya nyempil matahari, dikasih jalan raya lurus dengan bersandingkan sawah ceker ayam ini masih dilestarikan hingga sekarang.

Keponakan saya, entah imajinasi dari mana ia mendapati gambar yang serupa dengan gambar legendaris ini. Saya terkejut karena gambar ini belum mati, masih diwariskan dari zaman ke zaman. Saya mulai berpikir, gambar ini telah termaqtub di DNA tiap manusia Indonesia. Gambar ini adalah warisan leluhur. Dan tiap anak di Indonesia secara tidak sadar akan dapat menggambarkannya meskipun tidak diajarkan.

Hebat sekali gambar ini masih bertahan di pusaran waktu yang entah sampai kapan. Konsepnya pun sama persis seperti jalan, gunung, sawah, matahari, awan, rumah, dan manusia sekurus lidi. Harusnya UNESCO segera menjadikan gambar ini sebagai benda warisan budaya yang harus di pajang di museum dunia. Hukumnya wajib.

 

# Oleh-oleh

Ini juga salah satu sifat tak terjelaskan orang Indonesia. Menjadi orang Indonesia, berarti kamu harus siap dimintai oleh-oleh ketika akan bepergian keluar kota. Tidak perduli kamu pergi dalam rangka apapun, meeting, tugas luar kota, pelatihan, jalan-jalan, survey, study banding, tugas negara, atau bahkan ikut lomba sekalipun. Selama perginya ke luar kota, akan ada saja yang meminta oleh-oleh.

Anehnya, kadang meski tidak diminta pun, gejolak darah Indonesia ini pasti juga dengan sadarnya akan membelikan oleh-oleh. Minimal gantung kunci atau kaos yang ada tulisan daerah kunjungannya.

Membeli atau meminta oleh-oleh, adalah salah satu hasrat yang tidak bisa ditahan karena sudah mendarah daging di nadi orang-orang Indonesia. Sekalipun jalan-jalannya minim uang, ada saja yang dibelikan seolah-olah sebagai bentuk pengakuan sudah pergi ke kota orang lain.

Hebatnya lagi, pasar oleh-oleh ini menjadi pemasukan utama dalam bidang pariwisata daerah. Sayang, pemda setempat tidak melihat peluang ini dan malah membiarkan saja masyarakat berjualan tanpa inovasi pada produknya seperti topi, gantungan kunci, kaos, bahkan gelang tangan? Ayolah, kreatifitas masyarakat kita lebih dari itu…

***

Itulah beberapa syarat wajib untuk kamu bila ingin menjadi Indonesia tulen tanpa logo SNI. Tidak semua yang saya tulis di atas harus kamu lakukan, minimal kebanyakan pernah kamu alami. Untuk mereka yang telah bertekad bulat untuk menjadi WNI namun terhalang birokrasi, bisalah itu kalian lakukan hal-hal diatas.

Karena, menjadi Indonesia tidaklah perlu sertifikat selembar kertas sebagai bukti negara. Cukuplah melebur dengan nadi Ibu pertiwi dan jiwa nusantara. Melarut sukma ke dalam keseharian penduduk-penduduk lokal yang bersahaja. Terus menebar senyum dan tetap ramah seperti yang diajarkan leluhur sejak dahulu kala. Asalkan bisa mengamalkan pancasila dan sumpah pemuda, kami sambut kalian dengan tangan terbuka…

.

meme-presiden-indonesia


Bukan Biar Pintar, tapi Untuk Tidak Bodoh

13 Januari 2016

Disadarai atau belum, dunia kita diisi dengan orang-orang yang menulis. Ini menarik. Menulis menjadi aktivitas yang tak pernah membosankan dari jaman purba. Tidak pandang profesi atau kasta, adakalanya orang-orang dari kalangan pejabat hingga selebritis, dari politikus sampai ilmuwan, dari anak tukang becak sampai profesor, pengusaha juga atlet, ada saja yang menulis baik biografi ataupun pemikiran mereka..

Yang pejabat menulis untuk mencitra dirinya, yang atlet dengan alasan motivasi atas prestasinya, yang artis untuk menyalurkan idenya, yang ilmuwan menulis untuk kepentingan umat, yang penulis menulis untuk dirinya sendiri.. Sedang saya menulis untuk membuka aib atau sekedar kebodohan terselubung.

Sebagai counter attack peribahasa “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”, menulis membuat seseorang tak bakal mati. Ada juga yang bilang menulis adalah pekerjaan untuk memahat keabadian. Menempatkan diri melintasi ruang-waktu. Meskipun bukan idola, tapi saya membenarkan yang dikatakan si Descrates, Aku Menulis Maka Aku Ada..

Sebagai orang sastra yang pendiam lagi alim, saya memandang kegiatan menulis sebagai penyalur ide. Yang meski kadang ide-ide yang saya tawarkan tak berkelas dan terkesan mendustai logika. Ketidakmumpunian saya dalam menulis mengisyaratkan bahwa saya benar-benar membutuhkan banyak pegalaman untuk sekedar matang, bukan ahli. Pengalaman ini tentu saja didapat dengan menulis lebih banyak lagi.

Meskipun hanya menulis sebatas blog, saya termasuk orang yang percaya sebuah tulisan, terlebih karya, akan menjadi salah satu peninggalan yang berharga bagi penghuni masa depan, yang nantinya akan disebut sebagai sejarah. His Story.. (ya, semoga keturunan saya tidak menemukan blog ini nanti).

Bahkan beberapa manusia hebat di negeri ini tetap menulis meskipun dibatasi jeruji besi. Hal ini disebabkan menulis adalah pekerjaan sederhana yang membawa dampak hebat bagi pembacanya. Menulis dapat membuat ide-ide keluar secara matang dibandingkan ketika mulut berbicara (Denger tuh, pak Mario..). Menulis sanggup merefleksikan keadaan jiwa dan mental seseorang. Cerminan pribadi tiap individu mampu terbaca dari gambaran tulisannya.

Sayapun terkadang malu juga (iya, ternyata saya manusia biasa yang bisa malu dan salto) ketika sedang membaca sebuah tulisan yang bagus. Bikin iri dan merasa kalah. Lagipun. sebuah tulisan bagus juga dapat memotivasi saya untuk membuat hal serupa. Sayang otak saya terbatas memori 8 Gb.. Terkadang juga saya merasa bahwa saya bisa membuat sebuah tulisan yang bagus, namun terkendala cara penyampaiannya dan juga Aura Kasih yang jarang kasih semangat. Ah..

Menulis terkadang memang membosankan. Kadang dibaca, kebanyakan tidak. Ya, mbok jangan mikir bagusnya dulu.Namanya juga belajar. Lha, kalo masih nulis status aja masih: “tidur”, “makan”, “panas”, “nangis”, “kayang”, ya ga bakal bisa belajar. Yang baca juga males. Yang tertarik ya paling manusia kepo aja. Buatlah sesuatu yang bermakna dan bisa dicerna umat. Ga harus bagus minimal ada SPOK nya. Itu karena tadi, karakter dan kecerdasan kamu bisa dinilai orang dari apa yang kamu tulis.

Kemudian, ada baiknya orang-orang yang senang copy paste, comot quote sana-sani, ngeshare kalimat-kalimat motivasi, ataupun membagikan puisi-puisi medsos, mulailah berpikir untuk menulis kata-katanya sendiri. Jangan ketergantungan terus. Menulislah apa saja. Karena kamu bukan wartawan yang memberitakan ataupun dermawan yang suka bagi-bagi rezeki. Kalau kamu plagiat terus kata-kata orang nanti kamu bisa dikatain pelacur ilmu. Jangan, ya..

Sudah segitu dulu kuliah dari saya. Semoga tidak tersesat dan ingat jalan pulang. Ingat, menulis itu produk kamu. Daya tahannya bisa sampai ke masa depan. Jangan ngalay juga nulisnya, kasian nanti yang baca kena katarak.

 

# dan apresiasi tertinggi saya berikan kepada penulis kamus yang entah bagaimana caranya bisa sampai ratusan milyar bahkan triliun itu..

.

motive


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: