Ya, Selamat Hari Kartini

21 April 2015

Sisanya 365 hari adalah Hari Kartono… Yeaaahh!

.

women

womans mind

yayaya

*Takdungtssssssssh

 


Mimpi-mimpi Jikalau

10 April 2015

Saya, tiap pergi ke Gramed bawaannya mindeeer aja. Liat buku-buku bagus tapi tebal nan mahal. Mupeng pas liat harganya, bikin sering istighfar. Kalo di semarang dulu masih ada Togamas, walaupun beda harganya cuma beberapa persen, tapi lumayan hemat buat tambah-tambah uang rokok anak kos hina seperti saya.

Kadang ada juga bazar buku di gedung wanita yang pasti saya datengin, bukan karena gedungnya banyak wanita, tapi karena niat mencari jodoh bukunya. Kalo sekarang sih, paling kuat beli komik One Piece, seringnya malah ke bagian buku-buku bekas di Gramed. Tempat latihan mata berjam-jam sampai leher saya gedek nyari buku tebal tapi murah. Sedih, euy..

Kalo dulu, tiap saya dapet duit minimal 200rb, 30 persennya pasti saya barter sama buku. Urusan makan saya urutkan nomer 9, setelah urusan primer seperti uang kontrakan, bensin, modem, pulsa hp, tabungan jalan-jalan, rokok, rokok, sama rokok..

Pernah saya berkhayal kalo seandainya saya menang kuis 1 milyar terus diwawancarai sama tv nasional terus ditanya sama reporter cantik semacam Franda: “uangnya mau buat apa, mas?”, terus saya jawab: “Bukan urusan kamu, dik. Hati saya sudah milik Ai Shangzhen. Saya mau ke gramed dulu.. Jangan hubungi saya lagi.”

Seperti Kemaren sore, uang saya yang tinggal cukup buat 2 kali makan itu, entah bagaimana motor saya akhirnya belok menuju ke bagian buku bekas di gramed, dan disulaplah uang makan saya itu jadi bukunya Sudjiwo tedjo – Republik Jancukers. Kampret memang kowe, cuk..

Saya memang tidak menyesal, tidak tau dengan perut saya. Lagipula kejadian-kejadian model begini memang sering sih. Kalo kata The Rain, ‘sudah biasa!’. Yaudinlah, ini saya kasih daftar beberapa buku yang mau saya miliki namun tidak saya beritahukan ke reporter tv diatas:

  1. Di Bawah Bendera Revolusi – Soekarno
  2. Madilog – Tan Malaka
  3. Babad Tanah Jawi
  4. Dilan – Pidi Baiq
  5. Jakarta Undercover – M. Emka
  6. Inferno – Dan Brown
  7. Buku Stephen Hawking
  8. Ensiklopedia Tuhan
  9. Syeh Siti Djenar
  10. Soe Hok Gie
  11. History of Indigo
  12. Buku tentang Charles Darwin, Da Vinci, Hitler, Khidir AS, Enigma, Marco Polo, Buddha, Jibril, Tjokroaminoto, Gengis Khan, Nyi Roro Kidul, Umar Kayam, Ibnu Sina, Einstein, Gajahmada…
  13. National Geographic
  14. Novel-nvel Prie Gs, Dee, Pram
  15. Sejarah Tragedi-tragedi Indonesia
  16. dan lain setebalnya

Karena saya sedang dianiaya XL akibat pulsa yang tidak mencukupi, semoga Tuhan mendengar doa saya tentang kuis yang 1 milyar itu. Amin ah..

.

A Book Is A Magic Portal To Another Dimension..

A Book Is A Magic Portal To Another Dimension..


Kampreto Alakadaro

8 April 2015

Isu hangat yang terjadi hari-hari ini berisikan dengan diblokirnya beberapa situs “mengatasnamakan” Islam, tanda tangan Jokowi yg “kebablasan”, Mobilisasi mahasiswa seluruh Indonesia yang mau bernostalgia ’98, sama wacana reshuffle beberapa menteri..

Politik lagi.. Malas banget buat ditulis. Mending makan sate kan.. Situs Islam? Aduh, Islam ajaran mahzab mana yang ngajarin kekerasan verbal non-verbal model begitu?

Sebenarnya saya anti sekali mengkritik yang bersentuhan dengan agama. Bukannya gimana-gimana, saya malu. Buat ngejalanin ibadah aja saya pontang-panting bergelut sama jam tidur, apa hak saya mau mengkritisi sesuatu yang kewajibannya aja belum saya jalani.. Makanya saya jarang bahkan menghindari menulis tentang agama. Duh, pamali..

Pesan saya sih, buat pemerintah saya ingatkan lagi, ini tanah demokrasi. Orde baru adalah masa lalu kita, jangan diulangi lagi. Biarlah jadi prasasti dalam sejarah negara kita. Seperti yang pepatah demokrasi bilang:

Saya tidak setuju dengan pendapat anda, tapi saya akan membela hak anda untuk mengatakan itu. (Voltaire)

Jadi, kalo memang salah sih baiknya hukum orangnya saja. Jangan membunuh kebebasan berpendapatnya (lagi). Ini cuma pendapat lho ya, benar-salahnya tergantung ‘media’ aja.

Sedangkan untuk situs mengatasnamkan Islam dan pendukungnya, tolong juga dijelaskan Islam yang kalian bela itu Islam yang mana, Mahzab mana, aliran mana, golongan mana. Karena, setau saya ISIS juga Islam. HTI juga Islam. Saudi juga Islam. Gus dur juga Islam. PKS juga Islam. FPI apalagi.. Dan Islam setau saya mengajarkan filosofi Keikhlasan, Kebaikan dan Kasih sayang, bukan agama pencari musuh. Bahkan kebanyakan manusia sekarang menjadi hakim tanpa harus kuliah hukum dulu. Ruar biasa memang.. Tepok tangan sodara-sodara!

—————————————————————————

Daripada ngomongin agama sama politik, mending ngomongin berita hangat tentang sarjana fisika yang jadi tukang jamu sama mahasiswa S2 yang jadi tukang penambal ban..

Entah kenapa yang beginian bisa jadi berita. Menurut saya biasa aja sih. Saya yang kalem ini aja masih bercita-cita jadi nelayan atau tukang jaga buku di Gramedia kok.. (Sumprit, ini beneran)

Ini kemungkinan terjadi karena persepsi. Akibat terlalu lama dijajah, mental masyarakat kita senang membanding-bandingan pekerjaan berdasarkan pemasukan dan gaji.. Dan akibatnya, muncullah prestige-war, atau perang harga diri. Dalam perang ini, biasanya tetangga adalah rival. Rumah ditinggi-tinggikan, mobil dibanyak-banyakin, baju ganti-ganti, pembantu ada di tiap ruangan. Kadang, biar terlihat mentereng, pagarnya lebih tinggi dari rumah. Ngeri.

Salah satu penyakit masyarakat kita memang menilai pekerjaan dari gaji. Makanya lahan pekerja kreatif sering diremehkan dan diabaikan. Banyak seniman terlantar, banyak pengrajin, pelukis, pemusik, budayawan, penyair, dan lain-lain yang terseret ke sudut paradigma dan dipandang sebelah mata oleh masa depan versi masyarakat. Maka dari itu industri kreatif kita sangat banyak namun merangkak tertatih.

Bangsa ini masih saja menjadikan uang sebagai berhala. Dengarlah itu alasan pemuda-pemudanya jika disuruh menikah, jawabnya selalu “nunggu mapan dulu..”. Haish… Mapan penggilesan..???

Lingkaran setan menjadi sempurna tatkla Hidup digunakan untuk mencari uang, dan uang digunakan untuk melanjutkan hidup. Lingkaran yang bisa berhenti hanya ketika ajal menjadi taruhan..

.

2x (1)

Kembali ke berita tadi, kita harusnya tidak usah risih mendengar sarjana S3 sekalipun yang menjadi pemulung. Jangan termakan persepsi. Setiap orang punya otak berbeda, rencana berbeda, kemauan berbeda, dan mimpi yang berbeda. Penilaian yang menggeneralisasi sering membuat kita melupakan budaya bhineka tunggal ika.

Ambil contoh saja si sarjana fisika yang jadi tukang jamu. Mungkin saja dia mampu membuat produk sejenis Gastronomi Molekuler (Menggabungkan seni memasak dengan tehnik kimia dan fisika) yang digadang-gadang sebagai tehnik masak modern. Siapa tau ia mampu mengembangkannya hingga ke bidang jamu dan ia mampu berinovasi, lalu lahirlah jamu modern yang mungkin mengalahkan racikan tequila di Mexico.

Bisa saja pekerjaan yang remeh-temeh tersebut ketika berada di tangan yang tepat akan menjadi terobosan luar biasa. Mungkin beberapa tahun kemudian dia bakal mampu menyaingi dominasi Nyonya Meneer. Bahkan mungkin saja Nyonya yang berdiri sedjak 1919 itu mampu dibuat duduk dan beristirahat panjang.

Persepsi, paradigma, sudut pandang. Jangan sering terjebak. Dari dulu, para penemu sering dianggap gila dan sampah karena masyarakat terjebak hal-hal diatas. Sayangnya, masyarakat akan menyadari saking telatnya, si penemunya sudah terlanjur almarhum.

Inti tulisan ini sih, sebenarnya saya cuma jaga-jaga aja kalo kebetulan Tuhan lagi sentimen sama saya terus saya di kasih nasib jelek.. Apa kata keluarga saya nanti? Masa anak yang penurut, rajin, pintar, sholeh, baik, pemalu, pandai berhitung, hapal tepuk pramuka, sopan, dan tidak sombong ini punya pekerjaan sebagai pedagang baskom keliling?. Kan nggak elit banget..

Saya sih nggak apa-apa, tapi kan kasian Park Shin-Hye kalo jadi istri saya.. Nanti saya akan dicemooh masyarakat karena tidak bisa mengurus istri dengan benar. Menjadi pedagang baskom cuma membuat saya mampu membelikan bedak beras untuk make-up istri saya. Saya akan dianggap menghina ciptaan Tuhan karena tidak layak mengurus wanita secantik Shin-Hye. Lalu FPI datang, pakai mobil jeep, baskom-baskom saya di bakar. Ember saya yang anti pecah itu direbut, mau dipake jadi tameng waktu demo Ahok nanti alesannya.. ah. Kasihan sekali saya..

Asudahlah, semoga Tuhan ga punya laptop buat baca blog ini.. Amin…

.

mo


Sylogisme-sylogisme an

6 April 2015

Premis 1:

Aku Lelaki lho, bukan tisu basah,…
Yang Lembut, Tak Mudah Dicabik, Wangi, tapi cuma Sekali Pakai,…

Premis 2:

Ya Allah
Menjelang waktu begadang ini hamba memohon. Mudahkanlah rejeki kepada para penjual es teh, tukang cendol, dan tukang martabak. Karena hanyalah mereka, penyedia yang manis tapi gak nyakitin,…

.

Kesimpulan:

Tidak merokok dapat menyebabkan sepinya warung, berkurangnya devisa negara dan tidak adanya inspirasi


Belajar Pusing Menurut Mahzab Cihuy

3 April 2015

Terima kasih hari ini buat Isa Al-Masih, yang karena paskahnya saya dapat hari libur yang belum tau mau ngapain.. Terima kasih juga buat ahli astronomi yang juga telah membuat libur hari ini bertepatan dengan hari Jumat dimana seharusnya hari ini saya mengikuti kelas bahasa Jerman yang mana kita ketahui bersama bahasa jerman adalah salah satu dari ke 7 keajaiban dunia.

Bahasa Jerman itu, secara verbal bukanlah sebuah rintangan yang berarti. Namun ketika ia menjelma menjadi sebuah tulisan, maka anggaplah masalah yang datang setara dengan ketika kita mau masak mie goreng namun bumbunya sudah terlanjur tercampur kuah duluan.. INI. MASALAH. BESAR.

Saking dasyatnya, bahasa jerman sering menjadi olok-olokan meme di situs 9gag. Dominannya huruf konsonan, kadang tidak seimbang dengan huruf vokal yang sudah minoritas dalam alfabet itu. Mempelajari bahasa jerman ibarat makan kuaci: lama, ribet, nyampah, banyakan yang dibuang, secara fashion nggak banget, bikin mulut berbusa-busa terus, tapi nggak kenyang.

Pernah saya nonton sebuah acara TV di Inggris tentang menyusun huruf yang diacak (anagram) untuk menjadi sebuah kata bahasa Jerman. Si pembawa acara berkeliling kota memamerkan anagram tersebut mencari orang yang mampu menyusun kata tersebut. Sampai acara selesai, tidak satupun makhluk di Inggris tersebut mampu memecahkan sandi yang terlihat naas itu. Karena apa? Karena eh karena kata yang terdiri dari 16 huruf itu cuma memuat 2 biji huruf vokal. Benar-benar cara memeras otak yang mengerikan. Kalo saya sih, mending disuruh push-up 3 ribu kali di puncak everest ketimbang ikut kuis begituan.

Satu lagi bahasa yang sepertinya bikin saya geleng-geleng ajeb-ajeb itu bahasa jawa kuno. Huruf palawa yang senasib dengan huruf Thailand, India, dan tulisan dokter itu sukses membuat alis mata saya hampir menyatu. Benar-benar siksaan dunia. Ini yang menciptakan huruf begini kayaknya gara-gara depresi nggak bisa ngegambar kereta api. Masalah sehari-hari aja udah berat, ditambah belajar huruf beginian.. Kasian.. Dan saya ikut prihatin untuk mereka yang mempelajari bahasa sansekerta dan sejenisnya. *nunduk pura-pura ikut sedih.

cadas!

cadas!

Yang lainnya, bahasa arab gundul! Masya Allaaah.., ini huruf sepertinya salah minum ramuan sampai jadi botak permanen begini. Sepertinya memang tidak ada niat menciptakan huruf arab gondrong ya.. Apa mereka masih hidup di jaman orde baru ya? masih menganggap yang gondrong-gondrong itu aliran pemberontak? Saya masih mangap-mangap imut kalo ketemu huruf model begini. Selamat beribadah ajalah buat yang mempelajarinya. Saya mah cuma bisa ikut mendoakan agar diberi kesabaran yang tiada berbatas bagi yang mempelajari.. Mata saya sudah sakit, jangan sampai katarak gara-gara baca yang beginian.

nun

Yang terakhir, huruf Cina, Jepang, dan Korea.. Ini adalah seni! Tapi berbentuk air.. Manusia mana lagi yang sempat-sempatnya di masa yang penuh masalah masih sanggup menciptakan siksaan model begini.. Huruf dengan bentuk mirip sayatan-sayatan pedang ini mampu membuat seseorang seperti saya yang seharusnya mampu menciptakan mobil terbang ini berubah menjadi seorang tukang tambal ban.

Orang-orang Asia memang terkenal jenius di kalangan warga dunia. Mungkin gara-gara anggapan tersebut, orang Asia mulai memikirkan sebuah tantangan yang ‘lebih’ untuk mendampingi keseharian hidup mereka. Maka terciptalah huruf yang seperti sandi morse bertumpuk ini. Bahkan, saking kurang puasnya dengan tantangan ini, mereka ciptakan berbagai versi seperti huruf Cina, huruf Korea dan Huruf Jepang yang ditambah lagi saudaranya seperti huruf kanji hiragana katakana dan pusingmaukemana.

Oke, saya memang suka semua hal tentang sejarah dunia. Ditambah lagi, basic saya memang mempelajari budaya. Otak saya pun sudah direset bertahun-tahun untuk mengetahui hal-hal diatas demi ijasah yang agung (*sembah ijasah 3x). Tapi kalau begini caranya, lebih baik saya makan kuaci sambil nunggu pelanggan tambal ban aja. Karena, biar pun nggak kenyang, tapi alis saya masih ada dua! Dan saya juga ikut prihatin kepada malaikat Raqib dan atid yang mendapat tugas di daerah-daerah tersebut… Semoga bawa Tipe-x.

.

kan.. kan.. kan..

kan.. kan.. kan..


Sastra Bakar Kuah Madu

15 Maret 2015

Kemaren saya baru sempat baca bukunya Sapardi d.d., ‘Bilangnya Begini, Maksudnya Begitu’. Belinya sih udah lama, bacanya 6 bulan kemudian.. huehue. Biar keliatannya sibuk.. Jadi tambah pinter sayanya sedikit masalah dunia perpuisian.

Dulu, itu buku saya beli gara-garanya saya mulai kurang sreg (menghindari kata muak) dengan puisi anak-anak sekarang, baik yang di koran, majalah, juga grup dunia maya (judul Grupnya sih sastra, tapi isinya puisi doang). Ibarat nonton film tuh rasanya… flat-datar, ga ada twist, tanpa tragedi maupun happy ending, ga ada drama, acting nya dibikin sedih, menang di “special effect” doang sih.. hambar. Kayak nonton film naga terbang di Indosiar.

Special effect nya itu ya, kata-kata yang ke-tinggi-an (ga tau berapa meter tingginya, lagi males ngukur), tanpa idiom, tanpa satir, tanpa majas, juga konotasi. Baca puisi (dibikin) jadi males. Udah panjang, ‘jalan cerita’ sama ending nya udah ketebak. Dan yang bikin sedih, semua tulisan bermainstream-ria dalam plot yang sama. Rasanya tuh seperti sedang ngapalin nama-nama artis korea, samaaaaaa semua.

Ada beberapa juga yang belum bisa move on masih menggunakan kosakata KBBI tahun 60an. Bukan Kosakatanya sih yang salah, tapi penempatan sama isi konten nya kadang tidak sesuai sehingga kadang terlihat seperti ingin bikin Spageti tapi pakenya mie bihun.. Sedih..

Dari pada baca puisi anak-anak sekarang, saya lebih memilih dengerin lagu reggae. Saya sebenarnya kurang tertarik sama lagu regae? rege? reeagea? regea? Gimana sih tulisannya om bob Marley? Bingung sayanya.. Iya, itu saya walaupun kurang tertarik lagu reggae tapi sesekali saya dengerin juga, dan alhamdulillah banyak yang hapal..

Musik ini saya klasifikasikan sebagai musik paling jujur di Bumi. Tanpa perlu menambahkan hal-hal tidak perlu, liriknya tumpah begitu saja tanpa perlu dipermanis dengan sabda-sabda idealis ala kaum pemberontak. Terkesan santai tapi selalu ada ketegaran di balik lagunya. Bahkan beberapa lagu hanya memiliki beberapa baris kata dan di ulang-ulang terus sampai mencret. Mungkin sedikit mencoba mempropagandakan maksud hatinya..

Dari segi literatur, lirik dari musik reggae saya nyatakan menang dari puisi anak jaman sekarang. Tapi secara musikalitas, saya tetap kurang tertarik sama musik reggae dan akan kalah jika saya pertandingkan dengan SOAD, Nirvana, ataupun Sore dan Endank Soekamti. Maaf, om Bob..

Jadi begini, puisi itu anak kandung sastra, mbok ya sedikit nyastra gitu lhoo kalo bikin puisi. Dipikirkan dulu ceritanya, perbanyak perbendaharaan kata, pilah mana yang cocok  mana yang cocok banget, sesuaikan kosakata sama isi, rima-nya dipikir belakangan, ga usah dicocok-cocoking nanti kesannya dipaksa esensi puisinya jadi nyasar, dibaca lagi berulang-ulang, jangan lupa nulisnya pake perasaan, jangan pake nafsu. Nanti kalo hamil mau tanggung jawab?

sapardi


Hiduplah… Indonesia Ra…saiiiiiinnn..

6 Maret 2015

Indonesia sedang bergejolak. Panas dingin ibarat cowok mau nembak gebetan. Bikin deg-degan tiap baca berita. Mulai dari kasus begal-begalan yang terjadi di rakyat jelata, sampe ke kaum eksklusif dengan episode-episode laga semacam: KPK vs Polri, Ahok Vs DPRD, SBY, Lulung, vs Netizen, Bu Susi vs Nelayan (Pengusaha) Australia vs NKRI, Lion air vs Ngetem, Frans vs Dompetnya.. ih.. ih.. ih..

Kalo orang Medan bilang: Ngeri kali bah!

Saya sebenarnya ada niat mau ngebahas masalah di atas satu persatu. Soalnyakan seru. Tumben-tumben Indonesia ricuh tapi rakyat cuek gara-gara batu akik. Walaupun analisis saya seperti biasa, tidak empiris, cuma maen insting plus googling sana-sini. Tapi nanti tulisannya kepanjangan, jadi males. Lagian hampir semua masalah di atas berhubungan sama politik. Jenis bidang yang kalo di bahas tuh bikin ngantuk. Banget.. Hoaaaaannn… tuh kan, nulis kata politik aja udah bikin saya nguap..

Tapi dari sudut pandang saya sih, negeri ini memang perlu gejolak. Biar semua jadi awas. Ikut perhatian, bahwa ada yang sedang terjadi di tempat yang kita tinggali. Menurut calon Frans S.Hum, Indonesia sedang berbenah, dalam kapasitas yang walaupun tidak terlalu ekstrim dan masif, tapi cukup untuk membuat sebuah starting point yang bagus. Pembenahan yang tidak disadari rakyat banyak, yang dampaknya akan berjangka sangat panjang.

Karena negara yang adem ayem biasanya mengisyaratkan 2 hal : Kemakmuran menyeluruh, atau otoriterisasi massal. Salah satu dampak negatif dari demokrasi adalah bila berada di tangan yang salah. Ketika suara terbanyak menang dan arahnya salah, maka semua akan ikut jadi salah. Karena kadang, manusia tidak sadar bahwa yang mayoritas belum tentu benar. Hanya menang secara kuantitas. Tidak yang lain.

Ada pepatah begini, “Kebenaran pun akan ditinggalkan ketika ia dianggap merugikan”.

Demokrasi yang sudah mendarah daging ini jangan sampai dimanfaatkan orang-orang rusak hanya dengan beberapa lembar soekarno-hatta. Lihatlah itu batu akik, semua ingin punya batu. Blackberry muncul, semua ngin pake BB. Android muncul, semua ikutan. Tablet muncul, semua pake tablet. Boyband terkenal, semua mau bikin boyband. Celana pensil muncul, semua mau pake. Frans suka sama Aura Kasih, semua orang ikut-ikutan suka. Latahnesia.

Maksud saya, kita ini masih suka ikut-ikutan tanpa mengerti benar atau salah. Yang melekat di otak kita masih saja seputar untung dan rugi (efek keseringan miskin). Ada yang nyuruh demo, semua pengen ikutan karena ada duitnya. Tidak peduli yang didemo orang baik atau penjahat kelamin. Ada yang bikin #saveanu, semua pengen #saveanu juga..

Sebagai manusia sememangnya kita sulit membedakan mana yang benar dan salah. Tapi, kita kan sudah di kasih otak sama Tuhan, mbok ya dipake.. Minimal buat cari tahu. Jangan gara-gara sekali liat berita  sekilas info yang cuma 1 menit, kita langsung bisa ambil kesimpulan atas masalah yang bahkan mungkin sudah terjadi bertahun-tahun. Baru liat 1 link berita di website, sudah merasa jadi hakim sekaligus Tuhan. Disitu kadang saya merasa cuuiiih…

Sudahlah, ambil saja positifnya. Yang terjadi di Indonesia sekarang adalah Perubahan. Ikutlah dalam saf terdepan. Jangan cuma ngurusin batu. Negeri ini sedang ingin bangkit. Jangan sampe rakyat Indonesia nanti dikira penduduk Jakarta, yang sibuk maki-maki pemerintah atas macet dan banjir tapi beli kendaraan terus-terusan sama buang sampah di sungai tetap aja. ya.. ya.. ya?..

Goblog United

Goblog United


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: