Sekolah Pembodohan

13 April 2016

Oke, mumpung jamannya lagi musim ujan dan ujian, saya mau nulis sedikit tentang pendidikan di negara kita termuaaah di hati, Indonesia. Tepatnya masalah penerimaan siswa yang sudah maha maupun yang belum di institusi macam sekolah, universitas maupun akademi lainnya.

Yang karena sistem pendidikan di negeri ini seperti inilah adanya sehingga menghasilkan murid sejenis saya yang akhirnya saya menuliskan sejauh kepintaran yang saya terima dari pendidikan yang selama ini saya dapatkan.. fiuuhhh.

Sebagai salah seorang peserta didik nan berpengalaman (ehem..), tentu keresahan saya ini boleh dibilang sebagai sebuah bentuk protes bagi sistem yang disentil rakyat sebagai kurikulum bergenre labil ini. Saya mencermati (bahasanya sedikit saya tinggikan biar nampak hasil dari saya sekolah ), adanya kekeliruan dalam sistem penerimaan murid dikalangan civitas sekolah kita.

Banyak sekolah di negeri ini, yang kalau tidak mau dibilang semuanya, sebagian besar menerapkan aturan yang mewajibkan standar nilai masuk bagi siswa yang akan mendaftarkan diri di sekolah-sekolah mereka. Sekolah macam ini biasanya mengharuskan siswa yang ingin mendaftarkan diri punya track record nilai di atas rata-rata. Jadi, hanya bisa dimasuki murid-murid dengan otak berlebih.

Kabar buruknya, ibarat gladiator, merekapun terus diadu. Sistem kompetisi yang seolah membantai yang lain demi mencari satu pemenang. Yang Terbaik. Selalu seperti itu, di tiap sekolah. Mereka berkompetisi hanya untuk mencari sang juara. Sampai-sampai menutup mata pada siswa dengan kecerdasaan emosional (EQ) juga kecerdasan minat dan bakat. Roll modelnya cuma satu, nilai akademik TITIK.

Sekolah yang menerapkan aturan standar nilai tertentu bagi para siswa yang ingin mendaftar masuk, menurut saya adalah kebodohan lain dari obsesi manusia terhadap ilmu pengetahuan. Fungsi sekolah yang seharusnya ‘mengajar’, beralih fungsi menjadi pabrik pencetak. Yang jika sudah masuk, keluarnya wajib jadi orang.

Sekolah, sesuai visinya ketika pertama kali di bangun di jaman Yunani klasik adalah untuk mencerdaskan masyarakat. Untuk melawan kebodohan. Untuk masa depan umat manusia. Dan di negeri ini, sekolah malah dibiarkan menjadi bahtera Nuh yang hanya menyelamatkan beberapa kepala saja.

Kita tahu, bahwa negeri ini selalu haus dengan puji-pujian, ingin selalu dielu-elukan. Meskipun kadang harus menutup borok kecacatan akan sistem yang dijalankannya. Sekolah dengan sistem yang membatasi pendaftaran siswa berdasarkan nilai, seolah telah menampar muka Ki Hajar Dewantara sambil berkata: maaf, sekolah kami ini cuma untuk yang punya otak saja.

Sederhananya, sekolah semacam ini telah melakukan pembiaran terhadap kebodohan demi NAMA SEKOLAH. Tujuan yang tentu saja sangat jauh dari slogan: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Seakan akan mau mengejek: Sana, yang ga punya otak sekolah di habitat kalian, sekolah di bawah standar! Tentu kita familiar dengan keadaan ini, di mana yang pintar menjadi semakin pintar, dan yang bodoh akan menjadi Nobita.

Sekolah yang memberlakukan sistem ini, sudah jelas mengharamkan murid dengan orientasi kebodohan jenis apapun (kecuali bagi murid yang bapaknya kaya dan pejabat). Dan si murid bodoh, tanpa pilihan berjalan lunglai menuju sekolah khusus bodoh, untuk mempertajam kebodohannya.

Eh, pak.. bukannya semua sekolah sama saja? Untuk mengentaskan kebodohan? Maksud saya, fungsi tiap sekolah adalah untuk membuat pintar siapapun muridnya? Kok kalo murid bodoh yang daftar ga diterima? Jangan-jangan fungsi sekolah sudah diganti untuk memintarkan yang pintar ya pak? Pak? Oi, pak…? Bapak mau kemana…?

Tidak peduli pintar atau bodoh, selama si murid ada keinginan belajar, sekolah wajib menerimanya. Hal inilah yang kadang membuat saya juga kurang setuju mengenai kelas akselerasi. Orang-orang yang meremehkan proses.. Proses jugalah nantinya yang akan memutuskan, apakah si bodoh ini pantas hidup, atau ia hanya terlalu malas menunjukkan kelebihannya di bidang lain seperti yang penulis rasakan (ehem).

Standar nilai adalah sebuah stigma yang ditetapkan demi menjaga citra sekolah. Meskipun tiap sekolah mempunyai misi yang sama, namun rasa kompetisi para pemangku kebijakan kadung menjelma menjadi obsesi. Yang sekolah terkenal ingin mempertahankan nama, yang sekolah biasa terlampau pasrah dengan keadaan.

Janganlah itu ada pembeda-bedaan dalam sekolah. Sekolah unggul kek, sekolah SNI kek, sekolah elit kek, selama statusnya adalah wadah pendidikan, sudah tugasnyalah untuk mencerdaskan tanpa pandang bulu. Toh, tiap anak bangsa punya hak yang sama untuk lepas dari kebodohan. Apa hebatnya coba, memintarkan yang memang sudah pintar. Malah lebih hebat kalau bisa membuat pintar yang awalnya bodoh..

Anggap saja sekolah adalah koki. Kalau memang kokinya bagus, mau keju, mau kepiting, atau ubi kayu, bahkan sekedar terasi sekalipun, akan bisa dibikin hidangan yang enak dan pantas.

Jika saja terlintas untuk membuang arogansi dan menambah kesadaran demi satu tujuan bernama pendidikan, tentu saja baik sekolah gedung maupun yang beratap jerami akan benar-benar menjadi penghasil generasi bermutu bagi masa depan negeri. Bukan sekedar tempat singgah yang penting bisa baca-tulis..

Solusinya tentu saja dengan menghilangkan standar nilai bagi penerimaan siswa. Yang kalau sekolahnya memang bagus, kebodohan jenis apapun yang masuk tentu dapat diperbaiki. Dan bagi sekolah yang berstandar nasional ataupun internasional, kalian itu ibarat tentara Amerika yang congkak karena peralatan yang terlalu canggih, giliran diajak latihan gabungan di hutan sama TNI malah nangis minta pulang.. Ibarat Real Madrid, yang cuma mau membeli pemain bintang ketimbang mencetaknya..

Sekolah juga jangan meremehkan orang bodoh. Dulu juga ada seorang anak yang terlampau bodoh sampai-sampai tak direkomendasikan untuk bersekolah lagi oleh si guru. Dia bodoh di bidang apapun. Hingga kepala sekolahnya bilang bahwa ia bahkan tak tahu apa guna si anak jika sudah besar nanti. Dan hari ini kita memanggil anak tersebut sebagai Einstein, si jenius fisika tukang ngerokok.

Karena jelas, dengan kapasitas guru-guru kita saat ini, bisa saja kasus seperti Einstein di atas bisa terjadi karena gurunya sendiri malah terlampaui otaknya oleh si anak sehingga tidak mengerti dengan kepintaran si anak dan akhirnya menganggapnya bodoh.

Pesan saya sih, semoga sekolah-sekolah terutama kepala sekolahnya atau pemimpin yayasan segera sadar, akan tujuan awal sebuah sekolah. Arogansi nama tenar ataupun dicap sebagai terbaik itu cuma keuntungan jangka pendek. Generasi mendatang serta kebutuhan negara ini adalah sebuah visi jangka panjang. Jangan libatkan ambisi pribadi dalam sebuah masalah bangsa. Ga lucu tahu..

Akhir kata, meskipun saya membenci sekolah, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa saya adalah salah satu produknya. Namun, saya juga terlampau peduli dengan masa depan anak-anak bangsa, apalagi yang menyangkut kebodohan. Saya mau saja sih jadi guru buat membenahi sistem yang sudah acakadul ini, cuma gimana ya.. gajinya kecil. Ga cukup buat beli rokok.. Saya kan butuh inspirasi juga.

“Dulu, nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama kampusnya..“ -Pidi Baiq-

.

pandji


Katanya..

30 Maret 2016

Beberapa hari yang lalu, resmi sudah saya putuskan diri ini untuk gantung sepatu dari huru-haranya dunia pendakian, baik mendaki gunung maupun panjat tebing. Lewat Keputusan Mendagri no.12 Tahun 2016, setelah resmi turun dari gunung Kerinci kemaren, jadilah saya ditetapkan pensiun hingga waktu yang tak bisa ditentukan.

3805 Mdpl, itulah batas diri yang saya ketahui saat ini. Tak mungkin kurang, bisa jadi lebih. Tapi saya tak berharap banyak. Dunia pendakian saya perlahan abu-abu, menyentuh titik jenuh. Sudah lama sebenarnya ingin berhenti. Cuma lingkungan saya sepertinya terus saja menggoda dengan alasan-alasan klise seperti, mencari ketenangan.. haiissh.

Padahal ketenangan saya sekarang hanya di kasur. Tidak lagi di gunung atau pantai yang sudah habis di booking makhluk-makhluk selfie. Tempat-tempat itu sudah bukan tempat keramat pencari suaka sepi, tapi justru malah pindah jadi tempat hiburan. Sampai-sampai malah ada yang bikin jazz diatas gunung, konser musik, dan hingar bingar perkotaan lainnya yang cuma pindah tempat.

Memang saya tak punya hak mencegah, toh gunung bukan milik siapa-siapa. Kemajuan jaman sudah menggantikan banyak hal termasuk sisi inovasi dalam bidang mountaineering ini. Tentu saya akan dianggap gila jika berharap suatu masa akan tetap konstan hingga begitu lama. Terutama karena manusia terlahir sebagai individu yang gampang bosan dengan situasi yang selalu sama. Perubahan akan selalu menggiling kebosanan dengan caranya sendiri..
***

Banyak hal kenapa saya menjadikan Gunung Kerinci sebagai persinggahan terakhir. Baik ketinggiannya, lokasinya, kenangannya, momennya, dan terutama, menuntaskan janji kepada kedua orang teman seperjuangan ketika pertama kali mendaki Kerinci di 2007.

Sebenarnya juga, pada pendakian kemaren, saya sedikit pesimis dengan si dengkul jahanam ini. Kali terakhir saya mendaki, 2014 di Gunung Talang. Artinya sudah dua tahun kaki ini dimanjakan dengan kendaraan. Belum lagi faktor paru-paru yang terlatih baik dengan asap rokok. Olahraga rutin pun cuma mengunyah makanan. Ditambah lagi, badan saya yang mulai melemah dengan udara lembab. Ibaratkan saja saya seperti dedek-dedek mall yang manja-manja lemah, tapi tanpa bagian menggelinjangnya.  Bahkan mandi di bawah jam 12 saja sudah serasa dijemur di Kutub Utara.

Tapi untunglah badan saya tidak banyak ulah di Kerinci kemaren. Meskipun suhu daerah Kayu Aro dengan dinginnya yang terkenal konstan hingga bisa menghasilkan teh terenak sedunia itu, tumbenlah saya tidak demam seperti yang biasa badan saya lakukan setiap turun gunung. Walaupun diterpa hujan dua malam juga, berjalan berjam-jam dengan pakaian yang sudah terendam air, jarang-jarang saya bahkan tidak pilek.

Pada summit attack Kerinci di tanggal 9 maret, sudah saya prediksi puncak gunung akan ramai dengan manusia-manusia yang berharap nonton gerhana matahari dari puncak. Karena malas, saya baru mendaki pukul 6 (padahal summit attack Kerinci harus dilakukan jam 2 subuh dari shelter dua). Dengan pendakian slow motion ala-ala gerombolan si berat, barulah pada jam 12 saya tiba di puncak. Jelas sekali saya dalam kondisi malas-malas basah karena medan Kerinci yang becek, berkabut dan hujan.

Karena para penonton gerhana sudah bubar, tibalah saatnya saya menguasai puncak. Suasana puncak yang tenang bersama angin dan kabut saja. Sepi. Entah kapan terakhir kali saya mendapati puncak gunung yang sepi begini. Dan bersama pemandangan dari puncak yang selalu sama, luas, rumah-rumah yang terlihat kecil, pepohonan, gunung lain, dan sawah serta perkebunan yang tertata apik. Perasaan sama yang saya rasakan tiap sampai di puncak gunung. Justru karena perasaan inilah saya ingin berhenti.

Kebosanan yang sampai jenuh mulai menjalar menjelma menjadi tanda tanya. Pemandangan yang sama. Suasana yang sama. Kelelahan yang sama. Dan pencarian yang sama. Bertahun-tahun saya mendaki gunung tanpa tahu apa yang saya cari. Tanpa menghasilkan sesuatu yang wah. Di tambah lagi ketenangan untuk berkontemplasi di puncak sudah hilang, berganti riuhnya cekrekan foto dan sampah kertas yang menggoda sekali untuk dipungut.

Saya tahu ini egois, tapi mengharapkan gunung menjadi tempat pertapaan sepertinya sudah bukan jamannya lagi. Era berganti, jaman berubah, waktu bergerak, dan dunia selalu berputar. Harapan hanya ada pada, semoga sejarah memang terulang. Sejarah dimana kesunyian gunug masih hanya diiringi cuitan burung liar dan suara siamang yang baru makan hexos.

Ya sudah, sampai ketemu lagi gunung-gunung Indonesia yang sudah pernah saya jamah. Terima Kasih yang teramat sangat…. Muah…

(Thanks to: Kerinci, Marapi, Talang, Kaba, Gede-Pangrango, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Ungaran, Lawu, Sikunir, Muria, Kelud, Argopuro, Halau-halau, dan si eksotis Rinjani).


Azas Keklaksonan

12 Februari 2016

Sebagai seorang calon filsuf periode 2020-2025, seorang saya sangatlah menyukai  ketenangan. Terutama ketenangan fisik. Kepala saya akan sangat pusing jika menemukan situasi semacam mendengarkan konser musik metal, raungan cengeng anak kecil minta mainan, suara knalpot racing, pasangan yang sedang ribut karena selingkuh, tukang bengkel yang ngegas kendaraan secara berlebihan, ataupun ibu-ibu yang sedang ngomel dengan suara cempreng.

Dari kesemuamua sebab di atas, bunyi klakson saya tempatkan sebagai bunyi-bunyian PALING tidak asik dan sangat menggangu sejagat alam. Tepuk tangan sodara-sodara..

Di dalam dunia lalu lintas sendiri, klakson di fungsikan sebagai isyarat atau tanda peringatan bagi kendaraan yang ada di sekitarnya maupun orang-orang bego yang sulit mendengar karena terlalu asik dengan gadgetnya.  Sedangkan di Indonesia, klakson digunakan sebagai pengganti atas kalimat teriakan “WOOOYY!!”.

Sebagai manusia Indonesia normal, kehidupan jalan raya sudah menjadi bagian hari-hari saya yang memang tercatat sebagai pengguna kendaraan santun sejak tahun 2002. Sejak pertama kali memakai motorpun, saya jarang sekali menggunakan klakson karena menyadari bahwa bunyi klakson akan sangat menggangu bagi orang-orang yang tidak ingin mendengarnya. Karena memang, klakson diciptakan sebagai bahasa lalu lintas yang harus bersaing dengan riuhnya bunyi jalan raya. Untuk itulah klakson disetel dengan volume setara petasan.

Di Indonesia, klakson yang dibunyikan satu kali, bisa dimaklumi sebagai tanda permisi atau sekedar numpang lewat. Kalau dijadikan kalimat, ibaratnya jadi begini isinya: “permisi, saya duluan..”, atau “numpang lewat, pak..bu..”. Penggunaan klakson satu kali biasanya juga dipakai ketika ingin menyalip kendaraan lain atau sebagai tanda peringatan bagi kendaraan lain yang tidak kelihatan. Bisa juga dipakai sebagai pengganti ucapan terima kasih bagi kendaraan yang ikhlas memberikan jalan lewat.

Bunyi dua kali, biasanya dipakai sesama pengguna kendaraan untuk bertegur sapa, istilahnya itu pengganti kalimat: “Hai, pekabar cuy..”. Atau bisa juga kalau kendaraan dalam situasi ngebut, bunyi dua kali bisa di terjemahkan sebagai: “sorry, sedang buru-buru..”. Bunyinya juga dua kali dan pendek-pendek.

Jika, sebuah kendaraan membunyikan klakson lebih dari dua kali, artinya ada beberapa kemungkinan dan kesemuanya adalah kemungkinan terburuk.

Pertama, sudah pasti kondisi sedang macet. Yang paling saya kesali dari kemacetan adalah suara klakson yang seolah terompet vuvuzela itu. Sautan beriringan dari pengguna jalan yang seolah istrinya dirumah sedang mau melahirkan. Tipikal manusia yang menyalahkan macet tanpa sadar dia adalah salah satu penyebab kemacetan.

Pengguna kendaraan yang terjebak macet, mengguna klakson sebagai pengganti tumpahan kekesalan mereka karena sebenarnya tidak tahu ingin marah ke siapa. Ibaratnya sedang mendengarkan rengekan anak kecil yang minta dibelikan balon. Orang-orang ini tidak pernah menyadari kemacetan belum pernah menjadi lancar gara-gara klakson. Kebodohan massal yang bikin kesal sekali. Oon berjamaah.

Kedua, bunyi klakson yang dibunyikan terlalu banyak bisa dianggap sebagai indikasi buat ngajak berantem. Beberapa waktu lalu, muncul diberita seorang pengguna jalan yang digebuki massal karena menekan klakson terlalu berlebihan. Mungkin dia melihara kucing, jadi nyawanya ketularan banyak.

Padatnya jalan raya di Indonesia, selalu memungkinkan pengguna jalan lain untuk sering terserempet ataupun sekedar bersenggolan antar sesamanya. Untuk jalan-jalan besar, klakson jenis ini biasa ditujukan kepada kendaraan yang lebih besar. Kendaraan besar yang jalannya lelet tapi tidak memberikan akses untuk disalip, maupun yang jalannya ngebut tapi ugal-ugalan, harus siap dengan serangan klakson dari pengguna motor atau mobil pribadi yang memang lebih berkuasa atas jalan raya.

Atau, bisa juga ketika di lampu merah tapi kendaraan di depan juga tidak beranjak seolah macet. Suburlah klaksonan dari pengguna motor sebagai yang mulia di jalan raya memberi peringatan. Sok mau buru-buru, padahal kalau jalanan lancar, jalannya juga biasa aja. Ingat, sabar adalah koentji!

Ketiga, adanya kriminalitas di jalanan. Baik begal, perampokan, copet, penodongan, ataupun situasi bahaya lainnya, memang baiknya menggunakan klakson sebagai tanda minta tolong. Karena diharapkan, gangguan dari suara ini mampu mengundang orang datang secara beramai-ramai. Biasanya sih yang datang kebanyakan tukang pukul, hakim-hakim tanpa ijazah.  Mungkin ini satu-satunya alasan saya bisa menerima mengapa klakson tercipta.

Terakhir, tukang sayur dan kerabat-kerabatnya. Sebagai penderita insomnia akut, saya adalah orang yang baru akan tidur ketika matahari akan muncul. Sayangnya, pada waktu pagi hari merupakan jadwal tukang sayur mulai melancarkan aksinya. Evolusi terompet “oek-oek” yang sekarang menjadi klakson mulai menampakkan tajinya. Sialnya, tukang sayur kadang datang secara rombongan. Jadilah paduan suara ala klakson. Dan hancurlah ketenangan pagi saya..

Beberapa daerah di Indonesia memang memiliki mamang sejenis ini, yang menjadikan klakson sebagai alarm bagi munculnya kedatangan mereka. Backsound yang tidak aduhai memang.. Baik tukang sayur, tukang donat, tukang minyak, tukang sate, tukang roti juga tukang-tukang serupa lainnya. Mereka sepertinya tidak menyadari mana bunyi yang membuat orang keluar rumah karena tertarik atau terganggu.

Tapi, entah mengapa insting saya mengatakan bahwa Padang ini memang agak lain dari daerah-daerah lain yang pernah saya tinggali. Di sini, hidup manusia-manusia dengan telinga super. Kalau ngomong, harus cepat dan keras. Kalau sedang karaoke, speakernya harus sekomplek kedengaran. Angkot-angkotnya, dipasangi speaker sekelas konser dangdut biarpun kadang suara penumpang minta turun ga kedengaran. Tukang sayurnya, bunyiin klason dalam hitungan detik berturut-turut. Dan emak-emak gosipnya, hmmpp… kalah deh suara mesin F1.

Kalau jaman dulu sih masih mending, tukang bakso yang mukulin piring. Atau bunyi kring-kring sepeda, bunyi terompet oek-oek tukang donat.  Bahkan beberapa tukang cuma bermodal mulut untuk menarik pelanggan. Tapi sekarang, entah kenapa klakson yang jadi primadona.

Karena, orang-orang ini juga kurang menyadari mana bunyi-bunyi yang menggangu ataupun sekedar tanda. Yang mereka tahu, selama bunyinya menarik perhatian orang banyak, mereka akan menggunakan secara intens dan bersemangat. Yang saya takutkan, besok-besok malah petasan atau gas LPG 3kg yang mengganti bunyi-bunyiannya..

Kan ngeri juga kalo tiap tukangnya mau lewat, tiap rumah dilemparin petasan cabe. Lah, kalo sehari ada 10 mamang yang lewat, apa ga gempor itu kuping.. Sekalian aja bangun barak, biar nuansa perangnya bisa dapet.. Biar hastag #kamitidaktakut teramalkan dengan sungguh-sungguh.

Oke, segitu dulu resahnya saya. Yang pasti saya tidak suka klakson dan bunyinya. Memakainya di jalanpun jarang-jarang. Gunakan klakson seperlunya aja. Juga liat sikon dan keadaan. Karena memang, semua bahasa yang tidak verbal sangatlah sering mengalami kesalapahaman. Apalagi sampe berantem. Berantem ama orang jelek, kalau sama-sama bonyok kita yang rugi… Salam tiiinn….tiiiinnnn…..


Valentinifikasi

8 Februari 2016

Sebentar lagi Valentine. Lagi-lagi kita akan dihadapkan dengan kelompok yang mendukung, membiarkan dan yang mengharamkan. Konflik serupa natal, tahun baru, dan hari Ibu. Konflik-konflik yang mengisyaratkan kita masih setingkat homo sapiens.

Terkait Valentine, kita juga akan disajikan komen-komen sejenis: “kasih sayang tuh tiap hari, ga harus di valentine aja”, “Valentine kan sejarah aslinya kan serem, ada pembunuhan”, “Valentine tuh kan haram”, blablabla.. Komen yang mirip alarm tahunan, bunyinya sama dan terulang tiap tahun.

Dulu, di pesbuk saya pernah bikin status begini ketika hari AIDS nasional: “Selamat hari AIDS bagi yang menjalankan”. Saya ngasih selamat bukan karena saya bagian atau terkena AIDS, ikut meramaikan saja dan pengingat bagi yang lupa. Toh, saya tidak harus terinfeksi AIDS dulu agar bisa ngucapin selamat.

Pandangan saya terhadap Valentine sih masih sebatas acara seru-seruan bagi anak muda aja. Bagi beberapa orang yang terlalu serius menanggapi Valentine bahkan membawa sampai ke ranah iman dan akidah, saran saya sih, pergilah sesekali camping di hutan atau gunung. Udara alami sangat membantu merefresh otak dan urat-urat yang kaku. Piknik bisa di jadikan alternatif untuk menyegarkan pikiran dan menambah sedikit wawasan.

Karena hidup yang serius itu sangat tidak asik untuk dijalani. Tipikal hidup statis yang cuma mengalami satu musim, musim agama. Apa-apa agama, apa-apa agama. Padahal agama itu cuma alat, hanya kendaraannya saja. Tuhanpun tidak menyukai umat yang hanya memikirkan akhirat saja. Dunia yang penuh perbedaan ini pun haruslah dicermati dengan bijak dan tenang. Sekian dari saya. Kalo kebanyakan takut nanti jadi motivator..


Menyoal Kepoisme

8 Februari 2016

Tadi di tipi ada yang ngebahas soal nomophobia (maap kalo tulisannya salah), phobia terhadap jauh dari HP katanya. Penyakit masyarakat modern kekinian.

Faktanya agak serem juga, hampir 50 persen pengguna smartphone yang terinfeksi. Penjelasannya sih, penderita biasanya ga bisa tenang, cemas, sama mendekati stres kalau berjauhan dari HP nya barang 5 menit saja. Meskipun di HP nya tidak ada notifikasi apapun. Tetap kudu dicek terus..

Asumsi saya sih, gejala diatas dikarenakan Yang Mulia Sosial Media. Dunia awang-awang tempat banyak orang bertaruh memasarkan hedonisme masing-masing. Sosmed selalu membuat pemujanya berburu keingintahuan. Baik kabar dari teman-teman yang baru dan lama, teman dekat, orang-orang yang “diincar”, dan lebih utama ke mantan.

Masalah utamanya adalah, manusia era sekarang lebih malas menanyakan kabar secara langsung dan lebih memilih mengetahui secara diam-diam kehidupan orang-orang via sosmed, lantas kemudian seolah-olah pura-pura tidak tahu. Mereka lebih senang mengira-ngira dan berkesimpulan atas apa yang mereka lihat. Saya sih lebih memandang sosmed sebagai tempat yang sangat cocok untuk mengumbar pemikiran saja.

Lebih jauh lagi, gejala nomophobia ini hanyalah salah satu sifat kepo manusia Indonesia rata-rata. Karena sesungguhnya, negeri ini penuh dengan manusia yang selalu ingin tahu. Mulai dari emak-emak yang bergosip antar tetangga, sampai ke penyadapan telpon tingkat KPK.

Memang sih, rasa penasaran adalah salah satu filsafat hidup manusia pada hakekatnya. Sudah tercipta sepaket sama otak. Manusia sudah diberkati dengan rasa ingin tahu sejak nabi Adam melihat buah khuldi. Tapi, baiknya keingintahuan tersebut di arahkan ke hal-hal yang lebih bersifat global dan universal ketimbang demi kehidupan pribadi orang perorang. Kalau cuma sekedar dipakai untuk tahu siapa yang ngelike status pasangan kamu, kemungkinan evolusinya belum sempurna.

Masalah kepo-mengepo ini benar-benar sudah diatas rata-rata. Di dunia sosmed, stalking  jadi primadona. Di dunia nyata, bisa kita lihat di tragedi bom sarinah kemaren. Teroris yang mengira dirinya Rambo itu, malah jadi tontonan layaknya sirkus lumba-lumba oleh masyarakat. Sampai-sampai, si polisi kudu bikin police line khusus buat “penonton” agar tidak ngelewati batas. Penasaran telah mengalahkan rasa takut. Tipikal orang Indonesia, Selama bukan dia yang kena, tetap #tidaktakut.

Kesampingkan korban-korban yang meninggal, kita malah penasaran dengan tukang sate dan pedagang asongan. Kami memang tidak takut, deg-degan, iya. Kita malah membahas hal-hal tidak penting yang dikira mewakili rasa tidak takut.

Negeri kita nampaknya memang kurang hiburan, mungkin karena itulah acara lawak lebih jamak di televisi hingga hari ini. Tengoklah semisal ada tabrakan atau kecelakaan di jalan raya. Dengan mudah ratusan tamu tak diundang pun gampang dikumpulkan. Semua ibu-ibu sampai anak-anak kecil  daatang menjadi semut yang ketemu gula. Lebih banyak yang penasaran ketimbang yang menolong. Macet pun pasti terjadi karena sebagian yang lewat minimal ingin melirik agar bisa jadi bahan perbincangan dikala nongkrong di warung kopi nanti. Tips bagi yang nanti mau kampanye tanpa biaya, kecelakaan bisa dijadikan salah satu alternatif.

Pernah di suatu malam di Bukit Tinggi, ketika saya sedang nongkrong asik bersama kopi, tersebutlah sebuah kebakaran hebat terjadi di sebuah rumah. Saya yang memang jarang menyaksikan kebakaran, dibuat kaget dengan kenyataan yang terjadi. Ratusan anak muda yang sepertinya kehabisan ide untuk mengajak jalan-jalan si pacar, malah menjadikan kebakaran sebagai tontonan kegiatan malam minggu.

Ratusan motor para penonton sudah terparkir rapi di masjid dan rumah-rumah penduduk. Dan banyak lagi yang antri macet dijalanan untuk menyaksikan kebakaran tersebut. Sampai-sampai mobil damkarnya harus ‘mengancam’ pengguna jalan cuma agar bisa lewat untuk mengambil air. Di TKP pun, jubelan manusia datang hanya untuk menikmati pemandangan api unggun yang memang jarang-jarang terjadi.

Begitulah Indonesia, di setiap sudut negerinya sama. Kita lebih memilih kepo dengan hal-hal sepele semacam harga Nikita Mirzani ketimbang mengetahui bursa caleg yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup kita luar dalam. Kita lebih banyak menggunakan sosmed untuk mengartiskan diri ketimbang tempat mengekspresikan diri. Menyebarkan foto selfie ketimbang kritik dan menawarkan ide-ide.

Memang benar, rasa keingintahuan manusia itu begitu besar. Tapi Tuhan juga sudah menciptakan otak sebagai pengontrolnya. Otak bisa diarahkan oleh hati, bagi yang punya. Tapi, bagi manusia-manusia yang hatinya sudah di bawa lari gebetan, saya bisa maklum.

Lagipula, wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah sejak dulu itu, sudah memuat azas-azas kemanusiaan yang adil dan beradab. Sehingga tidak perlu menjadi jenius untuk memilah mana yang baik dan buruk dalam menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat.

Kok saya subjektif? Tentu saja saya harus subjektif. Toh, ini tulisan saya. Blog juga punya saya. Kalau mau membela diri, jangan komentari tulisan saya, tapi buat tulisan kamu sendiri.. Biar jangan jadi komentator bola. Sudah dulu ah, mau cari siomay dulu..

.

imagi lamp


Debatorial

8 Februari 2016

Saya sebenarnya bukanlah orang yang cocok untuk diajak berdebat. Berdiskusi masih mungkin, tapi untuk berdebat, saya angkat jemuran deh. Karena sesungguhnya, kemerdekaan itu ialah hak… produk manusia setipe saya ini termasuk ke dalam golongan spesimen telmi yang sulit sekali mencerna secara spontan.

Saya selalu saja bermasalah dengan bagaimana cara penyampaian yang benar atas apa yang saya pikirkan. Tentu hal ini dikarenakan otak dan mulut saya sedikit kurang sinkron dan sulit sekali berkoordinasi. Ketika pemikiran saya sudah menjangkau bidadari di atas awan sana, mulut saya malah sibuk membicarakan cacing yang ada di dalam tanah.

Hal ini tentu akan menyulitkan ketika saya harus berdebat masalah-masalah serius nan sensitif. Karena ketika sebuah perdebatan sudah terjadi, akan sangat sulit untuk meralat atas perkataan yang sudah terucap. Dan yang paling menakutkan, ketika lawan debat menggunaan kesalahan tersebut untuk membantah pendapat yang telah terucap sebelumnya. Skak mat.

Untuk itulah terkadang saya lebih memilih diam ketika sebuah perdebatan tengah berlangsung. Baik debat-debat santai sekedar di warung kopi, maupun debat-debat serius di civitas kampus dan ruang-ruang kuliah. Saya lebih memilih menjadi pengamat dengan sedikit sunggingan senyum ramah ke kedua belah pihak yang sedang berdebat sambil menyalahkan pendapat mereka berdua di dalam hati.

Namun, yang paling saya tidak sukai dalam sebuah perdebatan adalah ketika mereka saling menjatuhkan lawan dengan menyalahkan pendapat lawan ketimbang memperkuat pendapatnya sendiri. Berdebat menjadi tidak asik ketika salah satu pihak mulai sok tahu dan mulai muncul sebentuk sunggingan senyum meremehkan yang muncul. Ketika hal ini terjadi, intisari perdebatan yang seharusnya mencari kebenaran akan berubah bentuk menjadi hanya mencari pembenaran.

Karena itulah, sebuah perdebatan haruslah dilakukan dengan lapang dada, keikhlasan, dan kejujuran. Juga tidak lupa wawasan luas yang menjadi dasarnya, agar tidak menjadi sekedar debat kusir. Sedangkan saya, tetap dengan pendirian sebagai kritikus. Persetan dengan debat, semuanya tetap salah pokoknya.. haha..

.

rokok


Jadi Apa

3 Februari 2016

Jadi gitarist, tapi gitarnya patah. Gagal. Coret

Jadi penulis, ga pernah serius. Gagal. Coret

Jadi kartunis, pasti gagal. Coret

Jadi anak, belum gagal. Masih ada harapan..

Jadi backpackeria, tapi kere. Gagal. Coret

Jadi penipu, gagal. Terlalu baik

Jadi keren, insyaAllah sudah..

Jadi pemulung, liat situasi dulu. Dipertimbangkan

Jadi travel writer, ga ada yang bayar. Gagal. Coret

Jadi filsuf, gagap. Coret

Jadi kaya, boleh. Tapi dikit aja, takut serakah..

Jadi enterpreneur, ga punya modal. Gagal. Belum dicoret

Jadi guru, kasian yang jadi murid. Enggak gagal sih, tapi coret..

Jadi wisuda? Haiissah…

 

 

#Padang, akhir Januari yang pancaroba..


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.