Kelas Biologi Pagi

28 Mei 2015

Entah kenapa manusia indonesia akhir-akhir ini senang sekali jadi juri kehidupan. Mereka menkafirkan inilah, mengharamkan itulah, menjustifikasikan individu lain masuk nerakalah, seolah mereka sudah pasti berada didaftar teratas penghuni surga. Seolah kavlingan surga sudah mutlak mencatat namanya.

Layaknya superhero Hollywood, mereka menjadi hakim jalanan yang dengan gampangnya mengeluarkan keputusan baik-buruk / layak-tidak dengan seenak jidat tinggal tunjuk ke muka si tersangka. Bermodalkan massa pendukung yang terorganisir mereka secara mendadak membuka pengadilan alam atas apa yang mereka kehendaki. Dan lagi-lagi saya harus mengeluarkan kata kunci “tidak semua”. Ya, memang tidak semuanya begitu. Tapi kebanyakan (selalu saja kalimat klise pembelaan ini keluar).

Dengan santainya orang-orang ini (sebut saja oknum, atau bunga?), mengkritisi keputusan langit dengan logika bumi. Menafsirkan kitab suci secara literal dan sesuai kadar otak sangat fatal akibatnya. Mereka memahami Tuhan layaknya bikin indomie. Tinggal baca petunjuk masak, voila, indomie siap disantap. Segampang itu.

Dihadapan orang-orang model begini dunia serasa begitu sempit layaknya kos-kosan harga 100 ribu. Kebenaran dihadapan mereka adalah absolut. Dan yang berbeda jalan adalah setan. Lucu. Dan mereka numpang hidup di tanah demokrasi? Lawakan macam apa ini?

Interpretasi masalah moral, akhlak, norma dan etika menjadi begitu dangkal dan buram. Sifat yang seperti ini menjadi ironis ketika mereka menjadikan kekerasan sebagai jalan Tuhan, dan mengatasnamakannya sebagai perang melawan kejahatan padahal agama yang dianutnya berpegang teguh akan toleransi dan kasih sayang.

Dan lihatlah saya yang masih pagi begini sudah ngoceh masalah etika dan moral gara-gara semalam kebanyakan ngopi. Keparat betul kakak cantik yang bikin kopi. Ini pasti disengaja. Ini pasti konspirasi. Ini pasti sudah direncanakan untuk menambah dosa saya ngomongin orang sebelum acara gosip pagi di TV dimulai. Ah, kakak.. namamu lupa saya bertanya..

.

“Jika ada manusia yang merasa selalu tahu, selalu benar, tak menerima pendapat orang seakan kebenarannya adalah absolut. Hati-hati, mungkin saja dia adalah Tuhan.”

.

kopi (2)

Kami sibuk, sibuk mengatur jadwal tidur..


Peyek, Garing.

26 Mei 2015

Sayanya hari ini lagi ngopi. Lagi duduk manis manja grup karena bingung mau ngapain. Rokok udah siap 5 batang. Musik udah disetel yang riang-riang semacam The Ting-tings, Queen, Endank Soekamti, Tipe-X, sama The Panas Dalam. Persiapan menikmati malam pun sudah matang. Lantas bingung mau ngapain. Mau nonton film, tapi tisu lagi abis (tisu digunakan sebagai pembersih layar monitor, biar layarnya lebih cerah, jangan mikir yang aneh-aneh..), mau ngegame tapi mousenya sengklek, mau baca buku tapi takut ketiduran dan bikin persiapan saya mubhadzir, akhirnya saya buka situs meme. Biar bisa ngurangi beban mental si dompet yang kalah saingan sama tipisnya smartphone galaxy terbaru..

Situs meme tersering yang suka saya kunjungi biasanya 9gag. Selain lucu, humornya juga uptodate. Meskipun kadang dipostkan berulang-ulang, namun kadar humornya tetap baik dan segar. Mulai dari quote-quote orang terkenal yang diplesetkan, lelucon film-film lama maupun yang akan segera dirilis, hingga gambar-gambar yang tidak jelas artinya. Meskipun meme nya sendiri sudah lucu, saya malah lebih tertarik membaca komentar-komentarnya yang memang lebih ‘jleb’.

.

yes

.

Bahkan, ada yang lebih lucu daripada komentarnya. Itulah komentar yang dikomentari. Membaca sebuah perdebatan konyol tentang hal-hal sepele adalah humor yang kadang membuat saya terpingkal. Dan bagi mereka yang menanggapi terlalu serius, biasanya hanya akan terkena dua dampak: dicuekin atau dibully.

Seperti yang barusan saya baca, situs ini membuat thread “20 things men do that women don’t know about” (20 hal yang tidak diketahui wanita tentang yang dilakukan laki-laki). Sebenarnya itu cuma judul sebuah konten yang harus diklik dulu jika ingin membaca isi situsnya. Entah karena memang malas atau kurang bahan, cukuplah dari judulnya saja post ini ramai dikomentari dengan perdebatan ala-ala debat kusir..

Satu orang mahluk memulai perang dengan memberi komentar begini: “This is classified information, MEN we have a traitor amongst us.” (Ini adalah info rahasia, Teman-teman, ada penghianat diantara kita.). Dan dimulailah perang lelucon tidak penting ini. Komentar yang dikomentari…

– Temukan orang tersebut dan penggal segera. (Ini yang komentar namanya kearab-araban)

– (Terus, komentar diatas dibales): Tidak begitu aturan yang kami gunakan di Barat, bro. (Ini orang kayaknya nyindir orang timur tengah yang masih bar-bar)

– Itu pasti Batman. Selalu Batman! (haha!)

– Plot twist: Transgender adalah Double Agent!

– Gunakan Lightsaber. Bersih dan cepat.

– Aturan 6969, seharusnya orang itu tidak melanggar bro code kita.

– Sial, Rahasia penting kita… Terungkap.

– Keadilan akan datang! Keadilan Pasti Datang!

– Aku sudah membuat poster buronan. Tugas kalian tinggal cari foto orangnya. Sekarang Juga.

– Santai, cuma 20. Kita masih punya 100 rahasia lagi.

– Woles, bro. Wanita punya 20.000 rahasia. Mereka bahkan tidak mengerti dirinya sendiri.

– Bencong adalah Mata-mata kita. Selamatkan mereka selagi sempat.

– Larilah.. Rahasia kita sudah ketahuan. Larilah bersama Mayweather..

Untunglah saya cukup update sama perkembangan film dan acara-acara luar, jadi tidak terlalu sulit untuk mengerti joke-joke luar negeri, terutama yang berhubungan dengan budaya. Ditambah lagi humor-humornya yang saya rasa cukup cerdas dalam berkomentar. Kadang yang tidak mengertipun sering memberi komentar yang bikin rusuh.

Jangan bandingkan dengan situs meme dalam negeri. Meskipun beberapa gambarnya cukup lucu, namun komentar-komentar yang ditulis bernada sangat Childish, garing dan kurang wawasan. Kadang dihubungkan sama agama, kadang presiden, dikit-dikit di begoin, dikatain tolol, ngeluarin ayat, kadang cuma nyumbang smiley. Memang sih kebanyakan pengunjung situsnya anak sekolah, tapi kan jadi kelihatan jelas perbedaan kapasitas otaknya.

Karakter dan kecerdasan seseorang bisa dinilai dari humornya lho. Tengok saja Rowan Atkinson, Warkop DKI, Sudjiwo Tedjo, Prie GS, Pidi Baiq, Cak lontong, Nietzche, bahkan Stephen Hawking. Yah, walaupun tidak semua orang cerdas pandai merangkai humor. Namun, disatu sisi humor bisa menunjukkan kedalaman pemikiran seseorang dalam menelaah hasil observasi inderanya. Juga bagaimana seseorang bisa memanfaatkan daya kritisnya lewat sesuatu yang terselubung berbentuk lawakan.

Memang negara kita tidak seliberal amrik yang santai saja membuat lawakan tentang Yesus ataupun pejabatnya. Tapi lumayan sensitif terhadap isu rasial. Negara kita yang terlalu beragam ini malah membuat terbatasnya ruang gerak bagi humor dan seni. Belum lagi munculnya sosok UU ITE yang sering ditafsirkan seenak jidat. Bukankah keterbatasan itu menumbuhkan kreatifitas ya? eh, salah ya? ya maap.

Semoga saja humor kita dan penikmatnya bisa setara cerdasnya. Biar tidak diremehin terus sama Australia dan Amerika yang koar-koar masalah HAM diatas tanah jajahannya sendiri, semacam lawakan bodoh. Saya sebagai penikmat cuma bisa berharap. Jangan sampai untuk masalah ketawa saja kita diketawain.. miris.

.

Mungkinkah selama ini??

Mungkinkah selama ini??


Mendakilah Bagi Yang Mampu

19 Mei 2015

Mari kita tinggalkan sejenak pernyataan “Pergilah ke gunung dan temukan sendiri jawabannya di sana” kala ditanya kenapa kamu naik gunung. Seperti tulisan saya yang sebelumnya, tidak perlulah memberikan sebuah alasan untuk sekedar mendaki gunung. Anggap saja, seperti kita sedang ingin mengantuk atau lapar atau kentut. Tidak perlu alasan, hanya ada kebutuhan, baik biologis atau batiniah.

Jadi, ketika kamu ditanya kenapa naik gunung, jawab saja sedang ingin. Atau bilang saja mumpung enak. Atau lagi kebelet, tanpa perlu membeberkan berbusa-busa jawaban puitis berbelit-belit setinggi monas. Toh, naik gunung sama saja seperti orang jalan-jalan ke mall, pergi ke pantai atau ke rumah Aura Kasih. Sebuah tempat yang tidak dibutuhkan alasan atas keberangkatannya, jawabannya juga sudah jelas. Ga mungkin pergi ke pasar buat main bola kan?

Nah, untuk yang suka atau tertarik jalan-jalan, mendaki khususnya gunung adalah salah satu alternatif petualangan yang asyik. Karena eh karena, kebutuhan biologis serta batin kamu bisa terpenuhi sekaligus. Selain kamu bisa mendapat jodoh teman, kamu juga bakal dibukakan mata kamu yang terbiasa ngeliat muka-muka artis di TV. Bahwa ada yang lebih kinclong daripada muka berbalut make-up penipu umur itu. Kadang juga, di puncaknya kamu juga bisa bermenung baik tentang tuhan ataupun eksistensi kamu yang cuma sebesar upil cicak.

Di gunung, dunia kamu bisa berbalik dratis. Ga sampai 180 derajat sih, kan susah kalo beneran kebalik 180 derajat ntar nanjaknya pake tangan.. Maksudnya, kamu yang terbiasa makan di rumah tinggal tancap, di gunung kamu harus sabar (sabar adalah koentji!) masak sendiri dan yang di masak pun kadang rasanya nano-nano campur kaos kaki. Juga, kamu yang terbiasa tidur di kasur bakal ngerasain tidur beralaskan tanah dingin (lebih dingin dari mantan) yang cuma dilapisi alas tenda yang biasanya tengik dan apek. Kalopun haus, yang biasanya tinggal ambil air di dapur, di gunung kamu harus tertatih-tatih nyari sumber air bersih yang kadang harus turun naik bukit, melewati lembah salju, dihadang monster, bertarung dengan Voldemort, hingga bergelut dengan Sikomo.. keras, bung!

Selain itu, di gunung kamu akan merasakan penderitaan yang bahkan kamu tidak tahu harus minta tolong kepada siapa. Dengan begitu, perlahan kamu akan mulai terbangkitkan kekuatan supernya yang selama ini tertidur. Yaitu, sisi lain diri kamu. Kamu yang sebelumnya manja, terlayani, dan selow akan berganti sosok menjadi individu yang mandiri, kreatif, pemberani, kuat, tahan banting, bau, setia kawan, hemat, dan rendah diri, tapi tetap jelek..

Dengan mendaki, kehidupan modernmu akan terisolasi dengan peradaban primitif yang kreatif. Kamu akan dipaksa bertahan hidup hanya dengan dua jenis bahan: Alat yang kamu bawa, dan bahan yang tersedia di alam. Kamu akan dipaksa berpikir dan memanajemen atas kelangsungan hidup kamu sendiri. Karena di gunung hanya ada dua opsi: menjadi kawan atau lawan.

Ego akan menjadi satu-satunya lawan terberat kamu. Dia akan selalu hadir di setiap keputusan yang akan kamu ambil. Untuk itulah diperlukan kesiapan mental untuk melakukan perjalan sejenis mendaki. Karena ketika kamu sudah memutuskan untuk mendaki, artinya kamu telah memulai perang besar terhadap ego.

Dunia Mountaineering memang keras. Tapi hasilnya tidak bakal mengecewakanlah. Tengoklah para pendaki veteran kebanyakan, mereka menjadi pribadi yang setrong, tahan banting dan bisa diandalkan. Selain itu, mendaki juga menambah wawasan kamu terhadap geografis negara ini dan kondisi sosial masyarakat seperti yang disarankan Soe Hok Gie. Mendaki gunung tidak hanya menjadi sarana buat jalan-jalan, tetapi juga napak tilas, kontemplasi, introspeksi, diskusi batin, dan juga menikmati seni agung secara gratisan. Oleh sebab itulah, Mari Mendaki!

.

Ehem!

Ehem!


Karantina Mimpi

17 Mei 2015

Saya itu sering kali kepikiran tiap kali ngeliat tukang-tukang di jalanan. Baik itu tukang bangunan, mamang roti, buruh pasar, pemulung, tukang sol sepatu, bahkan pengemis. Seringkali saya perhatikan bapak-bapak berwajah lusuh dengan beban hidup yang melewati batas, kadang kasihan, kadang cemas. Saya takut seandainya nanti, saya menjadi salah satu dari mereka..

Memang sih, jaman sekarang uang sudah jadi berhala yang mewabah. Apalagi sekarang semua jadi serba waw harganya. Apalagi kalo liat berita prostitusi artis yang cuma sekali colok ‘USB’ tagihannya bisa 200 juta (duit segitu seumpama dibeliin kuaci, kamu 3 kali ganti agama juga nggak bakalan habis). Semua kebutuhan hidup tidak lepas dari uang. Bahkan, sisi kemanusiaan pun bisa dilindasnya dengan lumrah seperti kejadian yang banyak diberitakan di rumah sakit-rumah sakit.

Saya sering kepikiran, kalau suatu hari nanti saya menjadi pemulung, dan saya pesimis untuk mempunyai sebuah rumah, hidup saya terlunta-lunta dengan beban pikiran tiap harinya hanya untuk urusan perut, menggadaikan mimpi-mimpi, mengkhayal tanpa henti, berharap Tuhan melirik walau sebentar, berdoa sepanjang waktu, menyesali putus dengan Maudy Ayunda, menyalahkan segala keputusan yang lampau, merenungi kesalahan-kesalahan, mencibir orang-orang yang bernasib lebih baik, dan lain sebagainya..

Saya takut akan masa depan yang kurang menjanjikan seperti itu, sedangkan mimpi-mimpi saya banyak yang juga berhubungan dengan uang. Saya bahkan sudah mereka-reka bentuk rumah dan fitur-fitur sekeliling yang ingin saya buat. Saya juga berencana mendesign sendiri bentuk rumah, halaman, warna, bahkan membuat rak-rak buku yang saya ingini.

Namun di sisi lain, saya juga takut menjadi orang yang ambisius terhadap sesuatu, khususnya uang. Orang ambisius adalah salah satu jenis manusia yang saya benci dalam hidup. Tipikal individu yang menjalani hidup dengan berlari sambil memakai teropong. Orang-orang yang memburu target dengan mengacuhkan sekelilingnya.

Orang ambisius biasanya tampil dengan wajah optimis dengan keinginan yang satu dan mengubur rasa pasrah, solidaritas dan keikhlasan akan hidup yang banyak diajarkan kebanyakan agama. Mereka hidup dengan satu tujuan pasti, tujuan yang siap membumihanguskan rintangan tanpa kompromi. Orang ambisius saya asumsikan sebagai orang yang sudah kalah ketika ia sudah menetapkan targetnya.

Saya hanya cemas dengan masa depan yang buruk. Tapi saya pun tidak mau menjadi robot hanya untuk sesuatu yang wah. Seperti kata Ipang:

Kalau untuk bisa kaya hatiku harus membatu, aku pilih tetap sederhana.

Untuk bisa raih mimpi hatiku jadi membeku, aku pilih apa adanya.

Dan individu yang terlampau santai sekelas saya tentu sangat menghindari menjadi karakter tersebut. Yah, walaupun menjadi ambisius merupakan salah satu jalan tercepat untuk mendapatkan keinginan, untunglah hingga saat ini saya belum tergoda. Tercepat belum tentu teraman kan? Juga kenyamanan.. Hidup yang bahagia bukankah hidup yang nyaman untuk dijalani kan kan kan?

.

Siap grak!

Siap grak!


Bersatu Kita Harus, Bercerai Kita Jangan

3 Mei 2015

Sekali, ku jatuhkan tanpa sengaja..

Lalu kau pungut dan mengambilnya. Lantas kau bawa, kemudian kau kembalikan berlipat ganda.

Dan kita, menjadi sesederhana asa…

.

Kamu udah manis, Jangan dingin gitu, Nanti ketuker sama sop buah.

Kamu udah manis
Jangan dingin gitu
Nanti ketuker sama sop buah.


Tai Jatuh Tidak Jauh Dari Lobangnya

28 April 2015

teach

.

Sabtu kemaren si ponakan saya ikut ujian (?) masuk SD.. Ngeri euy, Masuk SD udah pake ujian segala. Ujiannya juga ga main-main, test Al Qur’an ama Psikotes. *glek.. Emang sih sekolahnya elit, tapi kan tapi…

Dulu, pertama kalinya saya di tes untuk masuk sekolah itu waktu saya daftar di STM (Sekolah Tawuran Mantap). Saat itulah pertama kalinya saya ketemu yang namanya psikotes. Walaupun itu pertemuan pada pandangan pertama saya dengan psikotes, alhamdulillah saya terhindarkan dari jatuh cinta. Untunglah saya waktu itu anak yang cerdas dan terampil dan cakep dan rendah hati, jadi bisa cepat lulus.

Ironis sekali jika 2 kasus di atas diperbandingkan. Untuk kasus saya, sudah sewajarnya saya dites karena sekolah tehnik yang akan saya masuki memang bidang kejuruan yang memerlukan keahlian dan kekerenan khusus dan segala macam perkaranya. Lha, yang untuk anak SD, what the….

.

lololol

———————————————————————————————–

Sebenarnya saya mau ngebahas masalah ini dari sudut pendidikan, mulai dari mengkritisi kurikulum dan program pembodohan massal, pembentukan karakter guru, hasil akhir pendidikan negara ini, teori-teori usang, guru biologi yang cantik, pelajaran-pelajaran yang minor dan sekunder, hingga kurang updatenya pelajaran sejarah kita. Tapi sayang, sayanya sendiri masih bego soal pendidikan (dibuktikan dengan masa kuliah saya yang seumur bajaj), ga jadi lah.. huehue.

Saya mau bahas pertarungan antara anak versus masa saja…

Menurut negara dengan pendidikan terbaik dunia, si Finlandia, Ujian nasional hanya terjadi 1 kali. Yaitu pada saat si anak berumur 16 Tahun, minim PR, dan waktu istirahat yang 3 kali lebih panjang. Di Indonesia, bahkan di jaman saya dulu yang menggunakan sistem belajar caturwulan, ujian terjadi setahun tiga kali. Belum lagi di tambah UN dan ujian masuk.. ih, wow..

Belum lagi anak sudah disekolahkan pra-SD, baik itu TK (ada enol besar, ada enol kecil, saya tidak tau bedanya karena saya waktu TK sudah di DO ketika baru masuk 3 bulan *jangan ketawa), juga PAUD (yang lagi booming beberapa tahun belakangan). Karena orang tua menghadapi ketakutan bahwa anaknya tidak mendapat SD, SMP, Dan SMA yang bagus.

Dari SD kita sudah dicekoki waktu belajar 5-8 jam sehari. Kalo PNS, dengan waktu kerja selama itu udah jadi pegawai teladan, yakin. Belum lagi waktu yang digunakan untuk pulang dan pergi sekolah, ditambah waktu belajar di rumah, ditambah les, ditambah tugas dan PR, ditambah pesta bikini, ditambah main game, ditambah nonton spongebob, kapan tidurnya coba?

.

indokid

Kapasitas anak yang seharusnya bermain pada masa unyu-unyunya, sudah diwajibkan menghadapi momok macam PR, ujian dan tugas-tugas.. Ditambah lagi anak harus ikut les sana-sini, bimbel, private, juga tryout.. Hingga waktu si anak habis dibantai pendidikan hingga ke masa SMA. Sayangnya, sekolah hanya menghargai otak, tanpa peduli akan minat dan bakat.

Lihatlah betapa stresnya anak-anak SMA sekarang menjelang UN, hilir-mudik ikut bimbel, les, dan mendatangi dukun. Bahkan ada yang bikin pengajian bersama tiap hari. Ada yang memuja foto perintis pendidikan, ada yang memuja internet, melafalkan buku siang-malam, sisi positifnya mereka jadi rajin sholat.. Tak ada waktu santai, tak ada rileksasi, hanya ketakutan hingga memucat deg-degan sampai hari H yang tergambar di mukanya.

Dahulu kala, saya sama kawan-kawan masih sempat naik gunung H-3 menjelang UN. Hidup kami santai dan ringan, walaupun tidak sampai terbang. Bukannya kami songong, tapi kami tau kapasitas kami. Padahal, sekolah kejuruan mempunyai beban tambahan selain UN. Kami juga diwajibkan mengikuti Ujian Tehnik (sejenis UN dalam bidang kejuruan), dan membuat produk siap jual sesuai jurusan masing-masing.

Memang, beberapa anak kita ada yang mampu melewati itu semua. Konsekuensinya, mereka banyak yang memakai kacamata dan mati kutu dalam pergaulan. Mereka terus mengasah otak sampai-sampai kehilangan minat terhadap potensi dan bakatnya. Mereka menjadi zombie angka-angka yang bahkan tidak pernah merasakan indahnya masa SMA (sialan, saya masuk STM). Mereka tidak tau rasanya jatuh cinta, tidak tau rasanya bergandengan tangan kala hujan *ehem!, tidak tau rasanya lari-lari karena dikejar guru, juga tidak tau betapa indahnya dunia tanpa gadget..

.

childhood

Bahkan ada pepatah yang bilang, umur kita (warga Indonesia) lebih banyak dihabiskan dibangku pendidikan. Kita lebih banyak mengenyam pendidikan ketimbang menikmati pendidikan. Kita dipaksa minum bergalon-galon air tanpa disediakan toilet dan wc. Kita diubah menjadi robot yang hanya memproduksi apa yang pernah kita telan. Padahal, menurut bapaknya para ilmu, Filsafat, Ilmu pengetahuan tidak hanya didapat lewat indera, tapi juga rasio dan intuisi.

Jadi, berhentilah menghabiskan waktu anak, kita, dan orang lain untuk hal-hal sejenis sekolah. Belajar bisa dimana saja. Otak itu cuma salah satu organ tubuh. Jangan remehkan organ lain yang sama menakjubkannya. Pintar memang penting, tapi kecerdasan yang ada 7 jenis itu jangan dilupakan. Lihatlah ini, meskipun saya tidak terlalu pintar, paling tidak saya berbakat dalam berbohong..

.

Woohoo

Woohoo


Bapak Kita Kartono

23 April 2015

Mumpung hari Kartini sudah lewat, saatnya sekarang hari bagi Kartono dimulai. . Si kaum saya, laki-laki. Yuhuuu..

.

pulisi

Sebagai golongan manusia generasi pertama yang diciptakan Tuhan, laki-laki sudah sepantasnya jadi produk unggulan dan prototipe bagi manusia kebanyakan dibandingkan dengan kaum wanita, bencong, dan juga termasuk produk terbaru Tuhan, anak Alay. Kaum laki-laki adalah contoh.

Kenapa produk unggulan? Karena laki-laki adalah kaum yang superior. Ingat ada kata “SUPER” disitu. Yang artinya, kami diciptakan dengan misi yang lebih berat, lebih banyak dan lebih berbahaya. Termasuk misi menaklukkan wanita.. kakakaka.

Seperti yang dikatakan Paman Ben kepada Peter Parker di dalam sebuah mobil warna cokelat saat akan memasuki adegan awal perampokan yang berakhir dengan terbunuhnya sang paman pada menit ke..*lupa, begini katanya:

”Makin besar kekuatan yang dipunya, makin besar pula tanggung jawab seseorang”.

Makanya laki-laki akan selalu dihubung-hubungkan dengan masalah tanggung jawab sebagai akibat kekuatannya yang SUPERior itu daripada kaum yang lain. Kalo tidak percaya, mari kita buka baju dan.. *eh, maksudnya mari kita buka ensiklopedia sejarah lagi..

Diawali dengan sejarah Islam sebagai yang tertua, masih ingat Nabi Adam AS ? Laki-laki! Sebagai manusia versi 1.0.0, Nabi adam adalah bentuk sempurna seorang manusia yang menjadi pijakan bentuk-bentuk manusia hingga saat ini. Bahkan hampir semua nabi adalah laki-laki! Waw??? Tentu saja kamu harus bilang WAW!

Lalu kita memasuki sejarah peradaban, para penguasa masa lampau macam Napoleon, Firaun, Hitler, Caesar, Gengis Kahn, Alexander, Nabi Sulaiman AS, sampai-sampai hampir semua presiden dan pemimpin negara pun di seluruh dunia adalah Laki-laki! *silahkan ucapkan WAW lagi…

Kemudian coba diingat lagi, para penemu, filsuf, cendikiawan, pemimpin revolusi, kepala suku, kepala sekolah, kaisar, para petualang, tukang becak, mamang cimol, juga orang-orang terkenal di seluruh dunia adalah kebanyakan laki-laki! Bahkan para pengunjung warnet pun didominasi laki-laki! Coba, coba, waw macam apalagi yang sanggup diekspresikan dengan kenyataan seperti ini? Waw sambil salto!

*ngos-ngosan..

Apakah dengan kenyataan ini kami menjadi sombong??? Tentu saja tidak. Meskipun kami SUPERior, kami tidaklah menjadi angkuh, pongah, sok, pecicilan pun songong layaknya kebanyakan pahlawan SUPER. Berbagai cara kami hadirkan agar kaum lainnya tidak merasa  timpang dan dengki..

Coba cari, mana ada istilah Bapak Kota, Bapak Pertiwi, Bapak Negara, Bapak-bapak arisan, Pak Lampir, Pakmerang, Papamia, dan lain seenaknya.

Juga istilah ‘Ladies First’, yang artinya, yang merasa wanita boleh duluan.. Baik dalam hal mengantri, berjalan, membayar tagihan ataupun dalam menyatakan cinta. (Hal yang terakhir agak dirasa berat untuk dilakukan oleh kaum wanita. Dasar kaum songong..).

Ada juga istilah ‘gol cantik’. Meskipun dalam kenyataannya permainan sepak bola didominasi kaum lelaki. Tapi kami tidak ingin menimbulkan kecemburuan sosial, makanya nama tersebut kami sematkan tanpa merasa iri. Kami persembahkan istilah ini cuma buat kamu. Iya, kamu..

Bahkan kami pun tidak pernah terpikir untuk membuat istilah ‘gol ganteng’, karena kami adalah kaum yang tidak pernah meminta keadilan dalam bidang gender.. Kami sadar, mengalah adalah salah satu sifat bawaan si SUPERior. *tepok tangan buat pak mario..

Pun tak pernah kami meminta macam-macam layaknya Hari Ayah, Kongres Laki-laki, Dharma Pria, Salon Kegantengan, Hari Tanpa Sempak, Gerbong khusus pria, Rumah Sakit Bersunat, ataupun dalam bidang pekerjaan seperti  SPB (Sales Promotion Boy), Umbrella Boy, PTS (Pria Tuna Susila), juga TKP (Tenaga Kerja Pria).

Terpikirkah oleh kalian kami melakukan semua ini tanpa pamrih? Kami tidak pernah turun kejalan bawa-bawa poster apalagi kondom sambil teriak-teriak masalah maskulinisme. Kami juga tak pernah meributkan dualisme Kartono. Mau dia propaganda Belanda ataupun murni bentukan tanah air. Bahkan kami tak pernah ada membuat sebuah acara satu hari khusus laki-laki yang memakai pakaian adat ke sekolah sampai ke kantor sambil nyanyi-nyanyi mengatasnamakan Kartono pancen oye.

Karena apa? Karena sosok kartono kami tak ada. Dan hidup kami normal.

.

how-women-and-men-see-colors

Cah Rempong


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: