Sastra Kaki Lima

28 Juli 2015

sas

.

Keabsenan saya dalam membaca koran kebetulan terobati di hari minggu yang berhujan kemaren.  Si kakak saya yang kebetulan beli koran yang entah untuk apa, akhirnya bisa saya gunakan sebagai pengganti informasi setelah internet saya yang tetiba sedang ingin berada dalam kondisi sakratul maut.

Dengan kondisi keuangan yang menyamai perekonomian Yunani, maka sejak beberapa tahun lalu sudah saya tetapkan bahwa membeli koran adalah salah satu sikap bermewah-mewah diri. Perkara duniawi yang sebisa mungkin harus dihindari.

Layaknya koran di hari minggu, hampir semua koran di jagat Indonesia selalu diselingi dengan rubrik-rubrik sastra. Biasanya terisi 2 halaman penuh atau lebih. Saya, sebagai salah seorang mahasiswa penikmat sastra, sudah sepatutnya -minimal melirik tulisannya- membaca tulisan tersebut.  Biasanya 2 halaman tersebut berisi cerpen, sajak, essai, kritik, dan tentu saja ikon sastra sepanjang masa: puisi.

Saya pribadi, sudah sejak lama berhenti membaca puisi dan sajak di koran-koran dan majalah. Alasannya sepele, karena tidak seiman. Tidak usah dibahas.

Untuk cerpen, dua paragraf sudah cukup. Biasanya ceritanya mudah ditebak. Atau kemungkinan karena terlalu terbiasa dengan bacaan-bacaan panjang sejenis Musashi atau buku-buku Dan Brown, saya jadi kurang suka dengan cerpen-cerpen yang ceritanya pasti menggantung. Yah, walaupun saya kadang-kadang juga suka bikin flash story..

Nah, saya lebih suka membaca pendapat orang di dalam essainya. Apalagi tulisannya kece semacam Prie GS atau Seno GA. Juga saya suka baca kritiknya. Karena saya juga terkadang suka mengkritik kritikan orang lain. Kritik yang dikritik itu ibarat meramu anti-teori. Apalagi memakai senjatanya si seniman kata, J. Deridda: Dekonstruksi. Ditambah lagi yang menulis artikel adalah seorang dosen, makin senang saya kritik.. hehe

Ya, saya suka berseberangan. Meskipun, misalnya ada dua orang berdebat masalah hitam atau putih, saya lebih suka memilih posisi sebagai merah, menjadi musuh keduanya. Saya bukannya senang mencari musuh, hanya menawarkan jenis perspektif baru. Dengan dekonstruksi, saya mencoba menghancurkan bangunan kolot dan klise dengan pandangan absurd yang kadang memang ambigu.. hah!.

Oya, sebenarnya saya sedang ingin membahas masalah eksklusivisme. Masalah yang lebih besar dari kritik sastra yang dituliskan di artikel koran tersebut. Entah kenapa jadi bercabang begini… kebiasaan.

***

Dari membaca rubrik sastra dikoran tersebut, saya tersadar akan sesuatu. Saya menyadari akan existnya sebuah eksklusivisme dalam pemakaian bahasa dalam menulis sastra.

Memang, dalam urusan mencipta sastra dan pembedahan teori bisa kita maklumi pemakaian bahasa yang setinggi monas itu. Tapi, untuk urusan essai atau penjelasan atau bahkan informasi, ada baiknya digunakan bahasa yang lebih ringan dan umum. Bahasa yang mampu diserap anak SD hingga pengusaha, lintas otak, bahasa pribumi, kaum inlander..

Di koran tersebut, si dosen menulis essai tentang hubungan sejarah dan sastra. Tulisannya panjang, setengah halaman koran. Saya malas bacanya.

Kata “sejarah” ia ganti dengan “historisme”. Belum lagi menggunakan kata-kata semacam arbitrer, signified, serta kiasan-kiasan dan istilah yang sepertinya ingin menjelaskan posisinya sebagai seorang dosen. Seolah-olah: “Ini lho guweh, dosen sastra, bahasa guweh ya harus akademisi gitu lho..” Kemudian terjadilah Vickinisasi..

Si dosen lupa, bahwa tulisannya dimuat di koran nasional yang bahkan mungkin dibaca petani kopi di pedalaman Ujung Kulon, dan bukannya di koran kampus yang berisi mahasiswa-mahasiswa siap demo yang hanya ikut agar terpampang fotonya di sosial media..

Pemakaian bahasa masih merupakan masalah utama dalam miskomunikasi dalam mendapat informasi. Coba, apa jadinya kalau tiap informasi kesehatan yang biasanya kita dapat, berisi bahasa kedokteran yang njelimet itu?

Di media sosial, kita bisa dengan mudah membaca artikel tentang mengobati sakit perut secara alami, atau membersihkan muka dengan cara herbal. Hal-hal yang sepele ini coba saja dipakaikan bahasa kedoteran dengan istilah-istilah bahasa Latinnya yang naudzubillah rumitnya itu.. Misalnya begini: Gastro Oesophageal Reflux. Kemungkinan hanya sedikit orang yang tau artinya. Padahal simpelnya itu adalah bahasa kedokteran untuk sakit perut atau simpelnya, kata lain dari mules.

Bayangkan ini terjadi di dunia sastra. Penggunaan bahasa rumit untuk kalangan tertentu dalam sebuah media nasional yang dibaca khalayak umum. Pantaslah orang malas berurusan dengan sastra. Bukan hanya kadang bahasanya yang rumit, tapi ambigu juga tak terjelaskan. Kadang, hal ini juga berimbas ke malasnya anak muda untuk membaca buku terutama novel. Dan terkutuklah orang-orang yang meremehkan kekuatan dari sebuah buku..

Eksklusivisme pada sastra telah terjadi lama dan memang seperti dibiarkan. Hal ini pernah terjadi kepada batik. Batik yang awalnya adalah pakaian khusus Raja-raja, pada hari ini jadi busana pasaran yang sempat diributkan kepemilikannya dan bahkan sudah di daftarkan ke UNESCO.

Batik menjadi kebanggan yang bahkan dipakai petani-petani kampung di desa. Bahkan menjadi busana formal sekolah dan PNS juga acara kawinan. Yang terbaru bahkan batik juga muncul dengan varietas baru seperti jaket, celana, sepatu dan lain-lain. Kreatifitas membuatnya dinamis. Karena Kreatifitas juga bisa muncul dari minat pasar.

Sabun, garam, teh, wig, es, sepatu, juga bantal pernah mengalami eksklusivisme. Namun pada akhirnya, eksklusivisme itu runtuh dan menyenangkan segala kalangan karena bisa digunakan siapa saja.

Mungkin pemikiran ini terlalu sosialis. Tapi saya tidak terlalu yakin. Saya hanya merasa, eksklusivisme hanya akan membuat kita terkotak-kotak. Kalo kata teman-teman kuliah saya, itu mereka namakan “rai kubus”, atau muka kubus. Semacam membuat geng-gengan di masa SMA.

Saat ini, peta sastra bahkan dikalangan sendiri lebih diperketat lagi. Sastra ingin dibuat menjadi lebih eksklusif lagi, dengan munculnya wacana bahwa sastra adalah gagasan besar yang memuat nilai-nilai utama suatu peradaban.

Jadi, sastra yang hanya memuat keluhan, isi hati, cinta dan penghianatan, solidaritas, dan segala bentuk imagery dan berbagai hal sejenis status pesbuk dan juga tidak mewartakan tentang peradaban, akan dianggap bukan sastra. WAW

Saran saya, sastra biarkanlah eksklusif di kalangan sendiri. Jangan jadi katrok ketika dibawa keluar. Jangan ndeso ketika jadi jajanan massal. Jadi, biarkan saja presiden menulis lagu sampai 5 album itu. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Hanya saja, salahnya, lagu tersebut diwajibkan bahkan untuk acara kenegaraan, lebih-lebih jadi soal tes PNS..

Jadilah Eistein, jadilah Gus Dur. Memang pencitraan otak bisa terlihat lewat pemakaian bahasa. Sastra di jaman Yunani Kuno juga pernah ditinggikan statusnya. Karena, jaman dulu, semakin njelimet bahasanya orang akan dianggap semakin pintar. Tapi sekarang jaman sudah beda. Tidak perlu meninggikan bahasa agar terlihat pintar. Jangan jadi Vicki. Nanti diketawain orang.

Banyak cara lain untuk menunjukkan kepintaran.. Karya, misalnya. Tidak perlulah mentang-mentang lulusan S3 Harvard, terus ngomongnya Partikel Tuhanlah, Atom hidrogenlah, Determinasi chauvinismelah, Kloning naturalisasilah, Kuartal brutolah, Kontra epidemiklah.. Bukannya orang pintar menyederhanakan yang rumit?

Makanya para Wali nyebarin agama Islam dulu pakai wayang, pakai gamelan, pakai puisi, pakai lagu. Karena memakai alat rakyat. Menggunakan bentuk umum yang bisa diterima segala kalangan. Bukannya menggunakan telunjuk terus dengan seenaknya mengkhafirkan yang tidak sejalan… eh..

.

Maaf Lahir Batin

Maaf Lahir Batin


Ketika Seni Bercampur Air

14 Juli 2015

– Tolong ingatkan saya kalau tulisan di bawah ini mengandung salah, saya juga kurang paham siapa yang menghamilinya… –

 

Saya sedikit tercenung (tercenung itu semacam merenung tapi dengan pose keren) ketika sedang menonton sebuah acara nominasi di salah satu stasiun TV, acara penghargaan pada industri perfilman. “Aktor dan Artis terbaik..”, begitu kata Host-nya.

Seperti biasa, otak saya akan menyala nguing.. nguing.. kalo merasa ada yang tidak beres. Mirip alarm mobil murahan (yang kalo kesenggol dikit, bunyinya terus cuit-cuit bikin jengkel tetangga). Seingat yang otak saya bisa, pasangan dari aktor itu adalah aktris (actor & actress), bukan artis. Lidah orang Indonesia memang sering keseleo kalo sering ketemu fonem yang mirip. Jadi untuk kesalahan ucap, saya masih anggap maklum dan wajar saja layaknya kentut di pagi hari..

Tapi sering juga saya melihat, ketika ada publik figur yang terkenal diwawancarai di TV, selalu saja tertulis “artis” dibawah namanya. Juga sering ditulis di beberapa koran dan majalah. Padahal belum tentu ia seorang seniman.. (artis/artist=seniman, aktris/actress=pemeran wanita)

Oke, saya memang malas buka kamus KBBI yang menjadi kitab suci rujukan anak Sastra Indonesia itu. Jadi, saya mengartikan kata “seniman” ini seenak pantat saya saja, makanya di awal tulisan saya tuliskan CMIIW (correct me if i weird?).

Jadi, menurut pendapat Frans-si calon tukang parkir ini, seniman itu bukanlah sesosok Superhero yang berubah menjadi seni-man setelah terkena cipatran air seni. Tentu saja bukan! Jangan samakan dengan Bat-man atau Spider-man.. Seniman ada karena karyanya, anak kandung dari olah otaknya. Seniman adalah pabrik pencetak pemikirannya. Ada hasil yang terang-terangan bisa kita lihat, dengar, rasakan, contoh, inspirasi, tiru, manfaatkan dan bisa kita jilat (kalo karyanya berupa es krim).

Kerennya, seniman itu ada dan lahir dari jiwa-jiwa yang resah (ceilah bahasanya..). Jadi, gampangnya menurut otak saya, seseorang yang menghasilkan karya dan karyanya tersebut bisa dimanfaatkan oleh orang lain, maka ia sudah cum-laude sebagai seorang seniman. Jadi tidak hanya berproduksi, tapi juga bisa “berguna”.

Nah, publik figur-publik figur di TV kita ini sering sekali “di-artis-kan” oleh media-media. Ada yang terkenal gara-gara sensasi, langsung dianggap artis.. ada yang goyang sebentar di tv, jadi artis.. ada model yang sering masuk tv, jadi artis.. ada yang terkenal karena sering nyanyi lagu orang, jadi artis. Karyanya manaaaaaa???

Padahal kita sudah punya sebutan sendiri-sendiri untuk berbagai jenis profesi tersebut: entertainer, pelawak, model, penari, simpanan pejabat, musisi, aktor, aktris, ustadz artis (?), dll.

Tapi entah malas atau apa, media sering dengan gampangnya menyebut/menulis mereka sebagai artis meski sudah tahu profesi aslinya. Hanya modal sering diliput atau nebeng dengan publik figur lain, seseorang akan mudah dicap artis. Sedangkan definisi artis tentu saja harus berat, seperti yang saya sebut diatas: karya & guna.

Jadi, hati-hati dalam memakai istilah artis (art) atau aktris (act). Definisi keduanya beda. definisi tersebut bukan hanya merujuk kepada orang terkenal atau publik figur atau simpanan pejabat atau pelawak garing atau artis esek-esek atau ustadz musiman atau kiai sosial media atau host acara ambigu atau orang-orang yang keseringan disorot kamera. Tidak perlu terkenal tapi, berproduksi dan bermanfaat.. Begitu. Sip ya. deal?

***

Oya, juga jangan lupa, seniman itu terbagi dua menurut saya: Yang satu menghasilkan uang. Yang satu lagi menghasilkan harga diri. Yang terakhir saya sebut adalah sejati. Karena dengan seni ia menjadi abadi. Dihargai sampai mati. Karya yang mampu menjangkau hati. Dengan jiwa tetap membumi. Dan ilmu yang meniru padi. Sampai kita bertemu lagi. Setelah hari raya Idul Fitri. Saya akan menulis lagi…

 

Empat kali empat enam belas

Sempat tidak sempat mungkin saya malas..

.

Salam Saya,

Tukang Parkir Istana.

.

hayyoo looo..

hayyoo looo..


Analogi Itu.. Ilmu Tentang Anal?

11 Juli 2015

Hiduplah di suatu desa seorang yang miskin. Tidak miskin-miskin amat sih. Cuma, karena keseringan miskin ia pun menganggap hidupnya biasa saja.

Di suatu hari yang tiba-tiba, ia mendapat undian berhadiah uang 10 milyar dari sebuah stasiun televisi yang secara acak mengundi para penontonnya. Entah bagaimana, orang miskin inilah yang akhirnya terpilih.

Akhirnya, dengan segera si miskin ini menjadi seorang sosial climber yang mumpuni. Bermodalkan uang tersebut, ia mulai meninggalkan dunia miskinnya.

Lalu, ia berubah menjadi anti-miskin dan mulai mengumbar berita tentang kekayaannya ini. Ia pun mulai menasehatkan hal-hal yang harus dilakukan untuk menjadi seperti dirinya, menjadi si kaya.

Ia bahkan memberikan tips-tips bagaimana seharusnya menjadi seorang yang kaya dan meninggalkan dunia kemiskinan. Ia sibuk kesana-kemari mengatasnamakan kekayaannya, menjadi motivator diantara orang-orang miskin di desanya, agar bisa bagaimana menjadi seorang yang kaya seperti dirinya.

Setiap hari ia menggurui kumpulan orang-orang miskin itu agar mereka menjadikan ia sebagai standarnya. Seolah didengar, ia menjadi tambah semangat untuk mengoceh tidak hanya di desanya, tetapi juga desa sebelahnya. Lantas, ia terus mengagungkan kekakayaannya. Si kaya ini pun juga memberitahukan manfaat-manfaat menjadi kaya bila sudah mencapai levelnya.

Terus ia lakukan itu setiap hari tanpa pernah menyadari bahwa uangnya tersebut, bukanlah apa-apa dihadapan kumpulan orang kaya. Uang 10 miliar tak lebih dari uang saku anak-anak kumpulan orang kaya setiap bulannya. Ia menjadi kaya hanya diantara orang-orang yang miskin. Lebih tepatnya, ia merasa kaya.

Sedangkan orang-orang kaya yang betul-betul kaya, dari kejauhan memandang si miskin yang merasa kaya ini sambil tersenyum. Dalam hati mereka seolah berkata: “Uangmu masih belum cukup, nak..”

 

– analogi dari saya untuk ustadz/a yang keseringan di TV –

.

tahu


Bagai Sang Djarum Menyinari Dunia…

6 Juli 2015

Di suatu hari yang lalu saya tergelitik membaca sebuah tulisan Cak Nun, seorang ulama kontroversial yang saya suka dan saya yakin ia satu spesies dengan Gus Dur. Beliau pernah mengatakan: Beribadah itu, kalau bisa orang lain jangan sampai tahu. Lebih ekstrim lagi, bahkan kalau memungkinkan, Tuhan pun harus jangan sampai tahu (walaupun tidak mungkin). Keren.

Beribadahnya itu tidak harus selalu sholat dan ngaji. Buang batu di tengah jalan juga ibadah, tidur di bulan puasa juga, bantu orang tua, atau seperti saya, selalu tersenyum meski di dalam hati.

Keresahan saya muncul karena banyaknya terjadi perbuatan baik yang hanya menjadi kosmetik sosial terutama di bulan Ramadhan ini.

Kita ambil contoh umum, misalnya partai. SETIAP ada bencana nasional, partai akan berlomba-lomba memberikan bantuan bahkan dihari setelah terjadinya bencana. Tentu hal ini tidaklah salah. Sayang ada beberapa bagian yang tidak perlu karena sedikit mencemari amal baik ini. Misalnya, menegakkan bendera, lambang, bahkan foto pejabat partainya disekitar tenda posko bantuan.

Parahnya lagi, ketika pemilu terjadi, partai akan kembali mengungkit perihal bantuan tersebut dengan menyiarkan kembali rekaman/video bantuan atau foto-foto pemberian bantuan tersebut sebagai alat kampanye untuk disiarkan di TV nasional.

Tidak hanya partai. Perusahaan, organisasi, lembaga dan institusi, kelompok daerah, klub kendaraan, komunitas apalah, perkumpulan entahlah, asosiasi anulah, dan lain sesiapalah..

Tidak usah menertawai yang saya sebut di atas tersebut. Karena kita pun juga sering melakukannya. Diantara kita ini pun banyak para pemberi bantuan yang memposting foto kegiatannya di media sosial dan berbagai forum. Kalau dalam agama saya, perbuatan seperti itu kemungkinan besar termasuk riya’. Dan ketika shutter foto telah berbunyi “klik”, saat itulah hilang lenyap semua pahala yang diharapkan.

Dari kecil pun kita sudah diajari, jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Atau menurut asumsi saya, si pemberi ini sudah terlanjur ikhlas sehingga tidak membutuhkan pahala karena lebih mementingkan rasa kemanusiaan. Tidak apa tidak dapat pahala, yang penting orang yang diberi bantuan bisa tertolong. Hmmm, tipe yang sangat humanis.

Saya jadi teringat kakak saya. Dulu, setiap menjelang lebaran kakak saya itu menyiapkan beberapa amplop berisi uang. Kemudian ia pergi ke kampung-kampung dan bertanya ke orang sekitar dimana ia bisa menemui anak yatim. Ia tidak memberi langsung amplop tersebut. Tapi menitipkan ke orang yang ditanyanya itu, untuk di berikan ke anak yang dimaksud. Kemudian pergi tanpa meninggalkan nama. Begitu setiap tahunnya.

Tidak usah bertanya balik ke saya. Tentang pernah tidaknya saya yang memberikan bantuan, biarlah jadi rahasia abadi tangan kanan saya. Juga kalau bisa, ini pun kalo bisa sih.. mulai tanggalkanlah embel-embel nama, lambang, merk, tanda, simbol, logo, dan segala rupa eksistensi yang terkait dengan imej. Beneran, itu tidak ada gunanya. Karena apa? Karena tumben saya sedang sedikit serius..

.

Ada yang lebih nganu dari sekedar harga diri, cuk..

Ada yang lebih nganu dari sekedar harga diri, cuk..


Euforia et Academica

6 Juli 2015

Kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang dunia pendidikan demi menyambut hari pendidikan yang akan tiba sebentar lagi.. Masih lama? 2 mei itu mah sebentar, yang lama itu lulusnya saya.. jleeeb.

Dalam hidup saya, dunia pendidikan khususnya universitas, sangat membantu dalam perjalanan karir saya sebagai tukang tanjak gunung. Beberapa diantaranya banyak menghadirkan kisah lucu yang tentu saja malas saya bagi di sini karena takut tulisannya jadi kepanjangan..

Banyak kampus-kampus yang entah sepertinya terpaksa telah mengijinkan saya untuk singgah bahkan menginap dalam rangka tempat saya melepas lelah seusai mendaki gunung.

Pertama tentu saja kampus negara saya, Bengkulu. Pertama kali saya ke kampus bernama UNIB (Univ. Bengkulu) ini ketika saya SMP dan bersiap mendaki Gunung Kaba bersama anggota mapalanya. Kampusnya besar, tapi tempatnya tersudut. Terpinggirkan layaknya sebagian besar Universitas Negeri yang ada di Indonesia, di buang ke ujung kota.

Lalu ada sebuah kampus di daerah Sungai Penuh, Jambi. Saya lupa nama kampusnya. Tapi nama mapalanya Mata Angin kalau tidak salah. Waktu itu saya ditampung di tengah perjalanan saya menuju Gunung Kerinci. Kebetulan saya diberhentikan di tengah jalan ketika sedang mencari tumpangan truk antar provinsi.

Di Banten, saya kebetulan di tumpangi anak-anak Untirta di kampusnya selama 2 minggu ketika habis dari Baduy. Di sini saya juga “dipinjamkan” ke kampus lain di Pandeglang selama 2 hari.

Lanjut ketika saya akan mendaki Gede-Pangrango, saya yang kebetulan numpang truk dari Semarang akhirnya tersesat sampai ke Sumedang. Dan di Jatinangorlah akhirnya saya berhasil numpang di kampus Unpad bersama anak Komunikasinya yang icik icik ehem-ehem. Sunda home made, boy..

Di Jogja, pernah saya diajak numpang makan seharian di UGM. Tapi tidak menginap. Mengingat betapa “sangar”nya anak mapala di Jogja pada jaman itu.. Sedangkan saya adalah anak baik-baik lagi polos dompetnya..

Habis turun dari Gunung Lawu, saya yang kebetulan waktu itu sedang menumpang truk namun hari sudah terlalu malam, akhirnya menitahkan seorang junior untuk menghubungi temannya di UNS Solo agar dicarikan tempat menginap. Akhirnya dikasihlah kami kamar di suatu fakultas tehnik yang konon paling berhantu basecampnya.

Di Semarang sendiri, saya sudah terlalu banyak menumpang. 2 tahun di FIB, 1 tahun di Hukum, beberapa kali di perikanan, Polines, Udinus, Untag, dan beberapa kampus lain yang tidak bisa saya sebutkan karena lupa.

Di Jawa Timur, pernah saya ke ITS Surabaya meski tidak sampai menginap sepulang saya dari Kalimantan. Lalu ke UMM Malang, waktu saya jalan-jalan ke Batu.

Di Lombok, saya tidak menginap di kampusnya meskipun saya sempat numpang makan di salah satu rumah mahasiswanya yang kebetulan bertemu di perjalanan ke puncak Rinjani.

Terakhir, perjalanan paling asoy dalam sejarah petualangan saya, Kalimantan. Ketika itu saya mendaki gunung Halau-halau. Beberapa hari di perkampungan Dayak, pesta penerimaan tamu dan makan gratis. Saya ditampung di kampus Iwapalamika, Stmik Banjarmasin selama sebulan penuh. Di sini, saya tidak hanya ikut Ospeknya (jadi senior impor), tapi saya juga dibawa ke beberapa kampus lain seperti Kampus Islam, Unlam, dan beberapa fakultas lainnya.

Memang, sebagian besar petualangan saya mengharuskan saya untuk melibatkan dunia pendidikan di Indonesia agar bisa numpang tidur dan makan gratis. Tapi tetap, rokoknya beli sendiri. Hal inilah yang membuat budget jalan-jalan saya tidak pernah melewati angka 6 digit, meskipun tempatnya jauh dan berminggu-minggu.

Sering saya bercerita pada orang-orang tentang jalan-jalan murah yang saya lakukan ini. Tapi, yang bagian menumpang di kampus-kampus ini sering saya sensor karena takut ditiru. Bisa bahaya kalau kampusnya tekor terus sistem menumpang ini di hapuskan..

Adik-adik saya pun jarang saya beritahukan perihal jurus menumpang ini. Karena selain takut mereka keenakan, nanti juga title tukang numpang terbaik tahun ini saya cemas akan mereka rebut. Untuk itulah saya terhadap adik-adik sering memberi nasehat: ilmu itu sulit didapat, maka tidak mudah pula untuk menurunkannya. Begitulah saya berkilah..

Karena itu, saya ingin berterima kasih atas telah dibangunnya kampus-kampus di seluruh Indonesia. Karena fungsinya tidak hanya digunakan untuk mencerdaskan kehidupan sebangsa, namun juga untuk membantu petualang-petualang tidak modal seperti saya ini.

Saya juga berharap, Menteri dan para Rektor sekalian agar bisa mencabut saja aturan yang melarang mahasiswa untuk menginap di kampus. Ini bukan ancaman, tapi permintaan dengan senyuman. Jangan sampai saya harus jadi presiden cuman agar peraturan ini dicabut ya.. Okeh. Sip.

.

DSCF2927

Power Renjer Masa Muda


Raung Meraung

4 Juli 2015

Ah, Raung.. Gunung paling ekstrim di Jawa Timur katanya. Gunung yang berada di ujung pulau Jawa itu kini jadi ikut-ikutan Sinabung..

Raung dulu pernah ingin saya daki, karena konon, dari puncaknya kita bisa melihat Bali. Siapa tahu juga bisa ngintip bule-bule pasrah di pinggir pantai pake teropong..

Ceritanya, di tahun 2008 saya dan kedua kawan saya ingin mencoba menjajaki gunung-gunung yang ada di timur Jawa. Karena waktu itu, saya dan kawan-kawan belum ada pengalaman mendaki gunung di daerah Jawa bagian timur. Semeru kami hindari karena kami berjanji, Semeru adalah gunung penutup perjalanan. Siapa yang mendaki Semeru maka harus pensiun mendaki..

Bermodalkan peta dari sebuah buku, pergilah kami ke timur layaknya Sun Go Kong.. Kebetulan tampang kami waktu itu sama dekil dan abstraknya. Dengan menumpang beberapa truk dan mobil, tibalah 3 pendekar ini di Probolinggo.

Namun, setelah perdebatan panjang di sebuah pos ronda, akhirnya kami memutuskan untuk mengganti tujuan karena dirasa gunung Raung masih terlalu jauh dan waktu juga uang kami sudah hampir habis (gara-gara kelamaan numpang kendaraan). Lantas terpilihlah kandidat pengganti terdekat, Gunung Argopuro..

Namun hingga saat ini, Raung masih menjadi salah satu gunung incaran saya untuk didaki. Lebih menarik ketimbang Semeru yang sudah mulai banyak lalernya. Entah kenapa ketika mendengar nama Raung ada saja perasaan rindu yang muncul. Mungkin karena harapan yang tak kesampaian tadi.

Dan kini ia meletus bak balon berwarna hijau. Dar! Ya, hati saya kacau, meskipun tidak pakai sangat.. Padahal belum sempat saya bertemu, tapi sudah ditolak. Penolakan pertama bagi saya..

Ah, Raung kapan kita memadu…?

.

Taman Hidup, Argopuro - 2008

Taman Hidup, Argopuro – 2008


Berbukalah Dengan Yang Gratis

3 Juli 2015

But man is not made for defeat. A man can be destroyed but not defeated..

Seorang pria bisa saja dihancurkan, tapi tidak untuk dikalahkan.. Itu kata si Ernest Hemingway. Seorang penulis yang novelnya saya pakai buat dijadikan skripsi. Kata-kata diatas merupakan ekspresi hati yang ia ungkapkan melalui tokoh di novelnya yang jadi masterpiece.

Lain lagi yang dikatakan Ernesto Guevara ketika ia disekap di hari terakhir hidupnya, “Tembaklah,.. kau hanya akan membunuh seorang pria” katanya tenang kepada sang eksekutor. Sampai-sampai si eksekutor ini harus menenggak beberapa botol vodka hanya untuk menghilangkan ketakutannya.

Dua orang hebat ini sama-sama mengisyaratkan ada hal yang terselubung di balik fisik keras seorang laki-laki. Mereka mengajarkan bagaimana seharusnya menjadi seorang pria. Ini bukan masalah maskulinisme ataupun tetek bengek gender dan lain sebagainya. Tapi ini menyangkut harga diri.

Seorang pria ditentukan dari ketahanan jiwanya. Kekerasan hatinya. Makanya orang-orang diatas mengibaratkan seseorang yang benar-benar telah menjadi laki-laki, akan mustahil untuk dijatuhkan.

Menghancurkan tubuh seorang pria tak lebih dari sekedar melenyapkan seonggok daging. Kalo kata Gola Gong, kehilangan tangan itu hanyalah kehilangan beberapa kilogram daging saja. Seorang pria tumbuh dengan jiwa yang keras, yang tak terpatahkan, jiwa pejuang, beregenerasi dan selalu menyala.. Pria diciptakan bukan untuk kalah.

Hal inilah yang memacu saya untuk bertahan puasa meskipun lupa akan sahur. Karena saya adalah seorang pria, dan saya harus kuat !! Ciaaatttt..

.

Survive, Bruh..

Survive, Bruh..


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: