​Negeri Riya Suatu Ketika

23 Agustus 2016

Di suatu negeri yang katanya ingin makmur, hiduplah manusia-manusia yang lapar akan eksistensi. Semacam membangun kepercayaan diri di atas tumpukkan kekaguman orang-orang.
Potretnya disindir keras dengan guyonan ala meme; Neil Armstrong ke bulan cuma ngambil 5 foto, dan wanita, ke kamar mandi bisa ngambil sampai 23 foto..

Itulah gambaran negeri tersebut hari-hari ini. Yang aktivitasnya diisi dengan anak-anak muda yang masih ngeshare sana-sini sebuah berita lebih karena ingin terlihat berwawasan dihadapan kawan-kawan mayanya. Apa pun dishare, karena judulnya yang bombastis asoy tapi persetan dengan isinya. Seolah wartawan yang tidak kesampaian.. Terlihat seperti Buzzer level taman kanak-kanak.

Manusia model beginilah yang sering digunakan pakar-pakar IT untuk mewabahkan isu-isu dunia maya yang abal-abal untuk mengguncang negeri ini mulai dari kampanye hitam sampai masalah konyol kenaikan harga rokok yang melampaui 200 persen itu.

Oh, tentu tidak hanya media sosial tempat beriya-ria bisa dilakukan. Negeri ini juga menyediakan dunia nyata sebagai tempat memompa dada rakyatnya agar bisa berjalan dengan gagah berwibawa di sekitar lingkungannya.

Lihatlah nama yang tertera di undangan kawin misalnya. Segala macam titel bertumpuk di sana.  Mulai dari bapaknya yang Haji, sampai anaknya yang menderetkan titel keserjanaan S1 sekaligus S2 bahkan S3 nya sekalian. Kalaupun Menristek bikin sarjana sampai S6, jangan heran itu undangan bisa saja berbentuk Buku Amdal..

Ah, kalian-kalian pasti berpikir saya sedang iri karena belum lulus apalagi kawin. Tidak, kawan.. saya tidak sepicik itu. Tolong jangan bersu’udzhon begitu meskipun kalian sedikit benar…

Gelar Haji misalnya. Orang-orang di Negeri ini (juga beberapa negara Asia lainnya), menjadikan rukun Islam yang terakhir ini sebagai gelar. Jika pun belum haji, dengan modal beberapa kali ceramah saja, akan dapatlah ia gelar Ustadz. Dan bagian lucunya, gelar tersebut akan selalu bersanding lekat dari kartu undangan hingga ke KTP bahkan ke batu nisannya.

Dari ke 5 rukun Islam yang ada, kenapa cuma Haji yang boleh nempel sama nama seseorang? Puasa kan juga rukun Islam.. Gak sekalian habis Ramadhan pakai gelar puasa di depan nama biar tambah panjang? Apa karena dari kesemua rukun, cuma Haji yang menandakan seseorang punya uang untuk naik pesawat terbang? Tanda sudah pernah ke luar negeri? Onta dari lahir udah di Arab juga ga pernah tuh dapat gelar Haji..

Tidak hanya titel Haji, para akademisi yang konon adalah pondasi kejayaan sebuah negara pun juga kadang ingin tampil berpanjang nama. Seperti kakak saya itu, sudahlah gelarnya S2, tapi gelar S1 nya masih saja nempel tidak ingin lepas. Bahkan ada yang sudah bergelar doktor pun, gelar S1 nya masih juga ngikut. Ibarat kalau ditanya, “Adek kelas berapa sekarang?”, “Kelas 123456 SD, om..”. DYAARRR!

Di jaman yang katanya kontemporer ini, selain beberapa kasus di atas, negeri ini juga diisi candu eksistensi akut demi popularitas. Anak-anak muda sebagai tulang punggung negara sudah  menasbihkan dirinya untuk dibuai akan utopia negeri pemimpi.

Serasa selebritis, mereka menanamkan di dalam pikiran selalu bahwa orang-orang selalu ingin tahu kesehariannya, apa saja yang ia makan, ke mana saja ia pergi, di mana saja ia kencing, kapan saja ia potong kuku, berapa kali sehari sikat gigi.. Pokoknya dunia harus tahu. Biar elo tauk siapa guwehhh.. !!

Mereka membuat alam papparazinya sendiri dengan meyakinkan diri lewat dirinya sendiri. Bahwa orang-orang akan selalu melihat, mengawasi, dan memperhatikan. Tipikal manusia jajahan kelas bawah. Mental pribumi rasa priyayi. Dasar oknum inlander.. Selalu merasa dicurigai.

Semua di atas itu adalah contoh pamer. Yang kalau ditambahkan akhiran /–an akan menjadi pameran. Pameran itu ya… diliatin orang, dikomentari, dikritik, digosipin, dinganu-nganulah…. Jadi ya, jangan marahlah ya yang kena sentil. Namanya juga penonton, euy…


Kalau Buku Bisa Ngomong

2 Agustus 2016

​Dulu, ada sebuah masa dimana saya pernah berpikir bahwa menjadi penulis buku itu asik lagi menguntungkan.

Saya tahu, di negeri ini jangankan untuk menulis buku, untuk sekedar mengirimkan naskah atau sebuah opini di koran lokal saja persaingannya begitu gila dan makan waktu berbulan-bulan dan harus berkali-kali ditolak (Ada indikasi bahwa yang memegang kuasa atas penolakan naskah tersebut adalah wanita, tau sendirilah wanita…).

Dengan data seperti itu, otak saya lantas menyimpulkan bahwa seorang penulis buku (yang bukunya sudah terbit) pastilah makmur nan jaya hidupnya. Kalau tidak, ngapain terus-terusan ngeyel berkirim naskah dengan kompetisi ketat ala pengantri zakat begitu?

Saya juga tahu, tidak semua orang mampu menyelesaikan sebuah buku dalam hitungan bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun dalam proses riset dan observasi. Karena itulah wajar jika seorang penulis ada yang ingin menjadikan kegiatan menulisnya sebagai satu-satunya kegiatan ataupun penyangga nafkah hidup.

Jadi, maklumkan saja jika ada penulis yang tidak bisa menjadikan kegiatan menulis hanya menjadi aktifitas sampingan ataupun sekedar hobi. Sama seperti musisi dan pekerjaan seni lainnya, kecuali model sama SPG rokok pokoknya. Selalu ada orang-orang yang fokus tanpa mau terganggu bahkan dengan urusan biologis seperti kelaparan. Orang-orang ini bukan ambisius, mereka hanyalah perlu konsentrasi tinggi demi melahirkan karya yang baik.

Kenyataan pahit yang baru saya ketahui ternyata oh ternyata, dalam setahun ada seratus penulis yang bukunya bestseller, tapi dibalik itu ada seratus ribu penulis lain yang menangis karena royalti yang menyedihkan. Ih.. ih.. ih..

Sebuah buku, yang diterbitkan dengan jalur normal biasanya akan mendapati rute sebagai berikut: Penulis – Penerbit – Distributor – Toko buku – Pembaca. Cukup panjang memang. Penulis memberikan naskah ke penerbit, penerbit memutuskan dicetak atau tidak, distributor menyalurkan buku ke penjual, toko buku menawarkan ke pelanggan, pembaca akan membeli. Tamat.

Dengan panjangnya jalur yang harus dilalui sebuah buku, tidak heran jika seorang penulis hanya mendapatkan royalti hanya sebesar 6 – 10%, dan di beberapa kasus akan mencapai 12%. Itupun dibayarkan 2 kali dalam setahun.

Jadi semisal, sebuah buku dengan harga Rp. 30 ribu dengan royalti 10%, maka 1 buku dijatah Rp. 3 ribu. Jika 1.000 buku terjual berarti dapat 3 juta. Dibayar 2x setahun = Rp. 1,5 juta. Sebulan = Rp. 250 ribu. Hmmm…

 Artinya, gaji perbulan seorang penulis yang bukunya laku terjual 1.000 biji adalah Rp. 250 ribu. Sukur kalo royaltinya 10%, lha kalo cuma 6 %?. Mau makan apa Gita gutawa nanti? Mending jadi kang parkir deh…

Dengan kasus seperti diatas, fenomena-fenomena seperti menulis hanya sebagai hobi, atau karya sebagai kerja sampingan, ataupun mutu sesuai deadline adalah bisa dimaklumkan dalam dunia literatur kita hari ini. Mau tidak mau, idealisme selalu ada yang tumbang jika berhadapan dengan hidup. Toh, tiap solusi hanya berguna tergantung individu masing-masing. Jangan heran jika derajat buku mulai terpinggirkan.

Memang agak sulit menemukan solusi lain daripada memutus jalur distribusi yang panjang. Buku yang kemahalan, akan mengurangi daya beli konsumen. Buku yang kemurahan, akan membatasi hak hidup si penulis. Buku yang harganya sedangpun, akan membuat si penulis akan berpikir ulang untuk tetap menjadikan menulis sebagai pekerjaan dan konsekuensinya, penulis akan tergoda untuk beralih kerja demi kehidupan yang lebih baik..

Dan sekarang, sayapun tergoda untuk menyimpulkan bahwa, menulis buku itu asik tapi kurang menguntungkan. Bukannya saya ingin meruntuhkan niat orang-orang untuk membuat buku, tapi hanya membeberkan sedikit konsekuensi yang menghalang jika seseorang ingin menulis sebuah buku. Tentu itu sebatas masalah finansial, tapi secara tidak langsung itu juga adalah urusan biologis yang selanjutnya akan menjadi masalah psikologis, dan ujung-ujungnya akan mentok ke urusan agamis.

Dan kepada kawan-kawan yang sudah menerbitkan buku, semoga tetap konsisten dengan karya dan pilihan hidupnya. Dan kepada yang baru ingin menulis buku, saya harap, ada baiknya belajar ilmu ikhlas terlebih dahulu agar terhindar dari penyakit hati yang melenakan. Karena sesungguhnya, semua pekerjaan selalu punya dindingnya masing-masing, tinggal kita ingin memilih untuk menjadi palu, atau menjadi tissue toilet.

Saya? Hmm…mungkin saya akan menulis buku juga. Tapi tidak hari ini. Tidak juga besok. Saya mah tetap nunggu instruksi presiden dulu, soalnya sekarang kalo ngritik butuh ijin…


Sudilah diAminkan

26 Juli 2016

​Pagi-paginya seorang kawan sms saya, “Frans, kemarilah kau”, pesannya. Setengah menggelinjang malas akhirnya berangkat juga sayanya karena semalam kemaren sudah seharian saya bertabur selimut bersembunyi dari perihnya udara dingin bekas hujan yang membabi buta. Tak seperti Hayati, hujan tak pernah lelah bang…

Padahal si kawan ini, kemaren weekend sudah mengundang saya kemping plus mancing di Pulau Pasumpahan,  pulau yang sedang booming di Sumbar. Tentu saja saya tolak masak-masak. Selain uang saya terlalu berharga untuk dihabiskan untuk sekedar berwisata (sekarang, jalan-jalan adalah kebutuhan saya yang ke-257, ga penting-penting amat), bepergian di musim pancaroba seperti sekarang juga terlalu riskan untuk tubuh saya yang mulai manis manja grup.

Karena ajakan pertama sudah saya tolak, akhirnya siang itu saya beranikan diri juga untuk mandi dan memenuhi ajakan keduanya. Ya, saya mandi demi seorang kawan! Itulah yang dinamakan pengorbanan, hai Romeo!!

Setelah traktiran makan berlangsung, saya diajaknya ngopi di atas kapal. Di pinggiran kota padang, di salah satu sudut teluk, mejenglah dua buah kapal pemancingan berukuran sedang bercat putih. Saya yang lumayan sudah lama tidak naik kapal, diam saja dan mulai bernostalgia menikmati goyangan syahdu khas ombak laut sambil mendengarkan kawan saya itu cerita tentang liburannya di Pasumpahan.

Seolah ia punya insting Spiderman, ia mulai mengganti topik karena melihat saya tidak tertarik cerita liburannya. Pembicaraan mulai berganti kepada si pemilik kapal kaya raya yang kapalnya sedang kami jamah ini. Satu kapal pemancingan, satu lagi kapal pengangkut ikan.

Dia bilang, kapal seharga 1 M ini belum apa-apa dibanding rumahnya yang ia tunjuk berada beberapa ratus meter di dekat situ. Rumah tiga tingkat yang terlalu mencolok dengan sekitarnya itu memang terlalu superior dibanding gubuk semi maklum milik nelayan sekitarnya. Ibarat gunung dan upil.

Kawan saya itu berpendapat, dengan uang 1 M, lebih baik saja dibelikan rumah dan disewakan ketimbang membeli kapal yang 10 tahun kemudian akan rusak berkarat. Ia mendebat, jika uang tersebut dibelikan tanah dan bangunan,  setiap tahunnya nanti akan bertambah mahal. Sedangkan kapal, setiap tahun akan mengalami kerusakan. Ia membandingkan pemasukan perbulan antara penghasilan kapal dan profit rumah yang disewakan, bicaranya seolah dia punya gelar S3 Ekonomi saja.

Seperti menunggu pendapat saya, dia hening sebentar. Saya katakan, kalau saya punya uang 1 M, berarti itu pasti bukan saya. Karena saya tidak berminat sama sekali dengan uang. Kalaupun punya uang, pasti saya belikan HP baru buat main game yang lebih canggih. Dia diam. Diam yang kesal. Mungkin jengkel karena kopinya habis, pikir saya.

Lantas, pembicaraan mulai menjurus ke cita-citanya yang ingin ikut kapal pesiar keliling Eropa suatu hari nanti. Berbagai lowongan kerja mengenai kapal di simpannya di HP dan diperlihatkannya ke saya dengan hidung yang sumringah. Dia sangat tertarik untuk menggerus dolar-dolar Amerika itu daripada mati membusuk di tanah kelahirannya ini. Darah perantaunya mulai meninggi jika berbicara perihal kepergian.

Agar obrolan tidak menjadi panggung monolog, ia mulai tanya ke saya, mau kerja apa nanti. Dia ceramahi saya, kau punya banyak pengalaman di lapangan, jangan mau kerja kantoran. Saya jawab, saya mau jadi penjaga di toko buku, atau jadi seniman kayu. Karena saya suka dikelilingi buku dan sepertinya punya bakat dalam mengolah kayu.

Jawaban yang spontan ini mulai menambah garis-garis di keningnya yang lebar itu. Perhitungan saya, mungkin sekitar 37 kerutan lagi masih muat diparkir disitu. Dia ketawa mengejek, keparat betul si kawan ini. Karena di sekitar dermaga masih banyak orang, saya tahan dulu niat buat nyeburin ini orang ke laut.

Saya berdalih, kalau saya harus bekerja, saya tidak peduli dengan gaji. Asal bisa makan, hidup saya sudah senang. Yang saya cari kesenangan saja. Bekerja yang menyenangkan hati lebih baik ketimbang bekerja demi menyenangkan orang lain. Karena lagi malas berfilsafat atas nama alasan yang logis, saya mulai pura-pura berkeliling kapal kalau-kalau ada putri duyung yang lewat.

Bersama gelas kopi di tangan, kawan saya itu mulai berjalan mengikuti pergerakan saya dari belakang. Membuntuti seakan meminta pertanggungjawaban. Seakan tidak percaya dengan jawaban yang mungkin belum bisa ia terima dengan lapang dada. Sepertinya ia lupa mendownload lagu sheila on7 yang baru.

Ia ingin membantah, bahwa tidak akan ada manusia di jaman sekarang yang tidak membutuhkan uang. Semua mahal, katanya. Bahkan Semua orang di desa sudah pakai internet. Terus saya ulurkan tangan buat salaman, saya bilang, “selamat, kamu sudah ketemu satu..”.

– Padang, yang masih serasa Alaska –

*berdasarkan kisah nyata, dengan balutan dialog palsu, dan beberapa scene yang disensor karena weleh-welehnya sanitasi perumahan sekitar.


A Night Writer

23 Juli 2016

Saya kira, setujulah anda-anda semua seharusnya jika saya berargumen bahwa panggung utama sebuah malam adalah kesunyiannya..

Sebagai salah seorang insomniator terbaik di negeri ini, saya memuja malam layaknya idola sejati. Saya menunggunya, mengharapnya,  dimanapun, setiap hari, tak pernah bosan, bagai seorang pria yang menunggu kata maaf dari sang wanita.

Yang saya tunggu dari malam justru ketiadaan akan apa-apanya. Kosong, yang lantas bisa diisi dengan apa saja. Beberapa orang akan menyebutnya sebagai begadang, termasuk si Pak Haji. Ibarat penganut Buddha, saya sedang ingin menuju ketentraman jiwa sebagai bentuk tertinggi pencapaian seorang manusia.

Tentu saja banyak yang tak sepaham dengan argumen saya di atas, tapi apa boleh buat, saya penganut mahzab Bodo Amat. Kecuali Jessica Alba yang protes, itu baru masalah besar buat saya.

Sehubung dengan kesunyian malam, elok nian jika diri ini mampu menghabiskan semalaman untuk menulis. Menulis apa saja. Dengan lingkungan yang selayaknya pasar, tentu maklum jika saya mampu mencapai konsentrasi maksimal saya saat sekeliling menjadi hening dan tanpa bunyi jangkrik sekalipun.
Benarlah itu bagi saya untuk sekedar menulis status di BBM pun butuh konsentrasi dan ketenangan tanpa bawa-bawa emosi juga pun seserahan. Untuk menghindari cap sebagai pria gagah nan labil, tentu saya harus menghindari hal-hal yang berbau amarah maupun sentimentil ketika menulis. Biar pencitraan saya sebagai calon menantu yang bijaksana nantinya mampu tercapai.

Adapun kegiatan saya setiap harinya akan dimulai pada saat tepat di tengah malam. Hal ini direncanakan agar bersamaan dengan terlelapnya orang-orang beserta semua jenis candu elektronik mereka. Dengan begitu, tibalah saya sebagai Batman akan bergantian menjaga malam, dimulai dengan lantunan mp3 yang selalu dibuka Somewhere I Belong-nya Linkin’ Park.

Cukup dengan volume yang 50 persen, saya mulai menggeliat menjadi manusia produktif. Mulai dari main game, gitaran, nonton film, bongkar lemari ataupun sekedar nongkrong bersama kopi dan rokok.  Tapi tetap, kebanyakan saya habiskan malam dengan menulis. Karena malam yang sepi lebih tenang untuk dinikmati. Lebih pas untuk berimajinasi. Cocok, seperti djarum super dan mulut saya. Klop sudah.

Kalaupun harinya sedang hujan, maka bertambah gembiralah hati saya ini. Hujan, malam, musik, dan kopi. Oh, surga benar itu. Tambah lagi ada calon istri, aihhhh…

Memang, sebagai penikmat malam garis keras, saya seringkali terbentur dengan norma masyarakat karena dianggap ‘melanggar kebiasaan’. Saya menjadi makhluk nocturnal yang kebanyakan  sering dijalankan anak-anak kost. Kebiasaan ini terus saja melekat hingga jam biologis badan saya pun pasrah dan malah manut.

Maka kacaulah hidup saya dihadapan masyarakat. Tidur jam 6 dan bangun jam 1 siang dianggap tidak lazim. Walaupun secara kesehatan saya sudah tidur sesuai standar, ibadah pun tidak terganggu, makan mie tiap hari, kegiatan lain juga lancar saja, tapi tetap saja perbedaan ini dianggap tidak normal dan mungkin mengganggu hingga banyak juga yang protes.

Sudah nasib sebagai orang Sudra, tentu saja saya harus mengalah. Saya yang tak pernah paham tentang kebebasan ini, akhirnya harus tetap saja tunduk kepada siapa saja yang dianggap lebih tinggi dari saya. Rutinitas terpaksa saya rombak dan mengacu kepada standar hidup ala masyarakat normal..

Dan saya takutnya, ujung-ujungnya nantipun saya harus berseragam ataupun berdasi supaya saya dianggap beradab sebagai pekerja. Lantas saya di standarkan hidupnya dengan keadaan sekeliling, lalu matilah bhineka tunggal ika yang sejatinya bukan hanya paham tentang perbedaan manusia dari luarnya saja..

Semoga saja pemujaan saya kepada malam tidak akan hilang hanya karena ‘kenormalan’ ini. Dan semoga, malam tetaplah menjadi  malam seperti kata Pas Band. Dan akan selalu saja menjamu penikmatnya dengan berbagai pesona mistik yang tak terjelaskan..

– Padang yang sudah pagi – 

Dengan diisi 23 derajat celcius menurut HP saya.


Cuma Mabuk, Tidak Judi.

22 Juli 2016

​Sebenar-benarnya, banyak hal yang membuat saya sama sekali tidak berminat untuk mudik pada lebaran kemaren. Yah meskipun pada akhirnya, banyak hal juga yang mengharuskan saya kemudian jadi ikutan mudik. Salah satu faktornya yang membuat saya tidak ingin mudik adalah capek. Secapek menjadi bassistnya System of a Down. Dan yang pasti, kendaraan yang harus saya naiki itu. Terutama mobil kakak saya.. duh…

Meskipun baru, seperti kebanyakan mobil lain di Indonesia, mobil kakak saya ini terlalu sering dipanaskan dalam keadaan pintu dan jendela yang tertutup. Menurut para ahli THT kenalan saya di pesbuk, mobil yang terlalu lama dibiarkan dengan kondisi tersebut, ditambah lagi sering diparkir di terik matahari tanpa diberi ventilasi udara, maka jangan harap parfum pun mampu membumihanguskan bau apeknya tersebut. Sumpek pek..

Sejak Majapahit berkuasa, saya ini malas sekali kalau harus naik mobil ketika melakukan perjalanan jauh, lebih-lebih angkutan umum. Karena rata-rata transportasi jarak jauh di Indonesia selalu punya pola yang sama: Pengap non-sirkulasi, padat bertumpuk ala sarden, aroma terapi keringat, hawa terik nan tidak beradab, berjejalan dan sedikit lumayan dari kandang ayam.

Saya dibekali Tuhan dengan indera penciuman yang amat sensitip dan indera penglihatan yang teramat masa bodo. Karena itulah kadang saya sangat kritis terhadap pengguna parfum dan bisa saja sangat cuek jika melihat kotoran pun sejenis orang muntah.

Bukanlah saya ini seolah jijik ataupun sok borjuis, tapi memang aroma-aroma tidak lazim tersebut dapat memicu ledakan asam lambung di perut saya yang manja, dan memang sepertinya saya tidak sendirian dalam hal ini. Mual, mulas, kerongkongan kering, mata berair, perut panas, dan klimaksnya akan berujung pada muntah-muntah nan tak kunjung usai.

Trauma ini dihadirkan sejak kecil oleh ayah saya yang sebenarnya bukanlah orang yang terlalu peduli dengan kesehatan. Hal ini akhirnya terbawa-bawa ke mobilnya yang tak pernah bersih dan terkesan selalu menistakan urusan hidung. Bertahun-tahun saya dipaksa naik mobil dengan keadaan yang seperti itu tidak lantas membuat saya maklum ataupun terbiasa. Justru keadaan yang mirip siksaan tersebut malah melemahkan mental saya terhadap kendaraan-kendaraan bernasib serupa .

Apalagi didukung topografi jalan Pulau Sumatera yang selalu saja berkelok-kelok tak teratur, naik turun membabat alas, serta lubang-lubang yang tak kunjung usai diperbaiki. Jadilah jalur darat lintas Sumatera ini terkenal sebagai jalan setan yang selalu saja menggoda untuk dimaki-maki. Tak ada pengalaman menyenangkan jika harus bepergian jauh via darat di Pulau Sumatera.

Pernah saya berpikir, kondisi jalan di Sumatera yang seperti ini merupakan konspirasi terselubung  antara produk antimo, toko obat maag, produsen kantong plastik dan pabrik minyak angin. Entahlah, semoga saya salah..

Karena itulah saya dulu ketika masih sering keliling Jawa dengan kereta api, saya selalu lebih memilih duduk di dekat pintu ataupun diantara sambungan gerbong yang memang menyediakan udara lebih untuk dihirup. Juga ketika saya naik kapal laut, saya lebih memilih geladak atas ketimbang kamar yang memang telah disediakan. Kawasan-kawasan seperti itu selain memudahkan saya cepat tertidur dan melupakan mual, juga akan memberikan saya kebebasan merokok yang berfungsi untuk menyamarkan bau-bauan yang memang sangat menguji daya tahan hidung tercinta.

Begitupun dengan bus dan mobil-mobil travel, tidak jauh berbeda menawarkan aroma-aroma khas yang hanya dikenali pejuang-pejuang mental seperti saya. Keadaan ini akan bertambah mengharukan jikalau si supir adalah sejenis manusia labil yang mengira dirinya sedang berada di sirkuit balap F1.

Oleh karenanyalah, peristiwa mudik kadang membuat saya serba salah. Ikut atau tidak, selalu harus ada pengorbanan yang genrenya kadang sentimentil mengharukan. Selain tidak menikmati apa-apa, sekedar memikirkan jalan yang akan dilalui saja sudah cukup membuat perut saya mual dan menaikkan asam lambung hingga ke hidung. Oh hidung.. oh perut.. oh Citra Kirana

Semoga saja pak Jokowi serta presiden-presiden Indonesia selanjutnya segera menyadari kemualan ini dan lantas dibikinkannya arena Flying Fox atau sejenisnya untuk memperlancar perjalanan antar provinsi bagi umat-umat di Pulau Sumatera ketimbang mendanai proyek perbaikan jalan tahunan abadi tanpa henti. Karena, daripada berharap pada pemda setempat untuk masalah ini, sepertinya lebih mudah berharap jika Metallica rilis album religi saja…


Buku Lagi

8 Juni 2016

Entah kerasukan apa saya 3 hari ini tiba-tiba jadi membaca buku: Sejarah Indonesia Modern dari M.C. Ricklefs. Seingat saya, buku ini telah ikut sejak saya kuliah di Semarang. Hingga saya bawa ke Padang tanpa pernah saya buka satu kali pun.

Asal muasalnya juga kurang pasti, sepertinya buku ini hasil rampokan kakak saya di perpustakaan milik kampusnya. Karena saya tahu, Buku dengan tulisan “Milik Negara, Tidak Diperdagangkan” adalah jenis buku yang hanya beredar di tempat bernama perpustakaan dan instansi pemerintah. Dan buku-buku semacam ini memang harus dicuri untuk mendapatkan ilmunya. Ternyata memang bukan cuma saya aib di dalam keluarga ini..

Buku ini bertahun-tahun mematung di rumah hingga saya kepikiran saja untuk dibawa ke Semarang dengan harapan, anak-anak kos akan kagum dengan ketebalan buku yang saya baca. Karena sesungguhnya, buku-buku tebal yang saya miliki itu cuma 5 biji. Dan tiga diantaranya adalah kamus. Jadi harap maklum, namanya juga anak sastra, butuh sedikit pencitraan atas buku-buku yang dimiliki.

Sebenarnya, saya suka pelajaran sejarah. Bahkan, saya lebih menyukai buku sejarah ketimbang buku trik ampuh lulus TOEFL. Yah walaupun buku-buku sejarah yang saya punya lebih banyak yang ala-ala on the spot ketimbang buku sejarah ilmiah. Maka, wajar saja buku Sejarah Indonesia yang tebal sangat itu tak pernah saya lirik sedikitpun isinya.

Pernah sekali saya beli buku sejarah yang ilmiah karya J. Joseph Stockdale: Sejarah Tanah Jawa. Sayang terjemahannya yang masih sekelas Google Translate malah bikin kepala saya KO hingga trauma membaca buku-buku terjemahan.
***

Sebelum  puasa kemaren, sebuah buku dari Seno Gumira A, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, baru sempat saya baca. Dari tanggal beli yang selalu saya tulis di halaman depan buku-buku saya, tercetak  tahun 2008. Artinya sudah 8 tahun sudah buku ini mangkrak dengan tenang di kamar saya.

Di buku ini Seno lebih banyak menceritakan tragedi Timor-timur di jaman Orba dengan sudut pandangnya sebagai wartawan dan sastrawan.

Karena bukunya tipis, sedangkan saya jadi tambah penasaran dengan peristiwa tersebut, maka saya bongkar semua buku-buku sejarah Indonesia yang saya miliki. Maka ketemulah buku Sejarah Indonesia Modern seperti yang saya ceritakan di atas. Buku ini bisa dikatakan lengkap dengan sudut pandang yang netral mengingat banyaknya konflik dan versi dari setiap peristiwa di negara ini.

Karena terjemahannya lumayan bagus dan informasinya yang berlimpah, jadi saja saya tumben membaca buku ilmiah 500 halaman seantusias membaca komik yang memang sangat jarang saya lakukan.

Padahal, sebelumnya saya cuma ingin mencari tahu peristiwa Timor-timur saja. Tapi buku ini membuat pembacanya mau tidak mau harus mulai dari halaman pertama karena konflik sebab-akibat yang mendasari sebuah peristiwa selalu ditulis berhubungan dengan peristiwa di belakangnya. Akhirnya, dengan terpaksa, dari yang cuma ingin tahu sejarah pasca kemerdekaan, dengan malas saya mulai membaca dari awal masuknya Islam ke Indonesia. Dan hari ini, saya baru memasuki bab masuknya VOC. Siwalan tenan
***

Dengan adanya buku tebal ini, saya lumayan santai bisa menghadapi hari-hari berpuasa yang memang tidak ngapa-ngapain. Saya sedikit menyesal, karena ternyata saya memiliki sebuah buku (secara teknis sih, masih milik negara) yang bagus tapi baru sempat terbaca sekarang.

Saya curiga jangan-jangan karena ini bulan puasa maka sisi positif saya bermunculan hingga saya mau saja membaca buku ilmiah tebal lagi membosankan. Jika benar, apakah ini saatnya saya menuntaskan buku-buku Nietzsche dan buku-buku filsafat lainnya? Psikologi Adler? Novel Putu Wijaya? Apakah benar puasa dapat membuat pikiran saya kembali cling dan penuh kebijaksanaan? Apakah ini waktu yang ditunggu-tunggu otak saya untuk membereskan hal-hal sejenis skripsi? Kita tunggu saja 3 hari kedepan, pemirsah…

Semoga otak saya ini, sesuai dengan label SNI nya….


Teruntuk Yang Bertahan Menahan

5 Juni 2016

Berbicara bulan puasa, secara rutin kita akan dihidangkan berita-berita dengan tema tahunan semacam penggrebekan hotel, kontroversi penutupan warung-warung pinggir jalan, sidang ishbat yang lagi-lagi mencari hilal, gerilya badan POM ke pasar-pasar tradisional, naiknya harga-harga, kekacauan pembagian zakat, bedanya jadwal NU-Muhammadiyah serta pencemaran makanan oleh zat kimia. Seputaran ituuuu saja, setiap tahun, dari jaman dinosaurus masih pakai popok.

Mulai dari POLRI, TNI, Ormas-ormas lucu, partai politik, Badan POM, Satpol PP dan para pengemis pun jadi lebih banyak disorot kamera, ketimbang pesohor-pesohor tipi yang tiba-tiba terkena sindrom ingin-berganti-kulit-karena-ini-bulan-ramadhan. Lantas, kasus-kasus diatas biasanya diselesaikan dengan satu kalimat penutup yang cukup khidmat, seperti: “untuk menghormati bulan puasa…”. itu bulan puasa apa bendera?

Kesampingkan membahas THR dan mudik karena saya sudah tidak merasakan keduanya lagi.

Inilah bulan dimana volume adzan akan menjadi lebih besar daripada 11 bulan lainnya. Primadona adzan maghrib yang seolah-olah penantian kekasih yang tak kunjung datang selama bertahun-tahun. Di bulan inilah juga masjid-masjid jadi punya penghuni tetap. Bulan istimewa yang juga memaklumkan manusia-manusia bernapas naga.. HAH!!

Oh, jangan lupakan makanan dan minuman khasnya bulan puasa. Tentu saja bersama kemacetan yang dibuat karena penjualnya selalu tak disediakan lapak khusus.

Dan, misteri terjadinya perbaikan jalan raya di setiap hari-hari menjelang Hari Raya. Di seluruh Indonesia. Setiap Tahun. Dengan kondisi tak pernah terselesaikan sesuai deadline.

Kemudian, fenomena mudik yang tetap saja ramai dan penuh huru-hara meskipun menteri perhubungan selalu saja menginfokan tiket transportasi yang selalu saja habis sebelum waktunya.

Hmmm, terus ada juga tragedi zakat yang termasyur. Acara bergenre drama ini meskipun tidak mempunyai plot twist, namun tetap saja lebih menyedihkan daripada nonton drama Korea.

Lalu jangan lupa, ada (selalu ada) ustadz-ustadz yang sepertinya pintar bermain sulap karena kehadirannya yang bisa tiba-tiba muncul entah darimana datangnya. Berbeda dengan negara muslim lainnya, gelar ustadz di Indonesia tidak terlalu sulit untuk didapatkan. Karena itulah produksi ustadz kita begitu signifikan beberapa tahun belakangan.

***

Bulan puasa menjadi suci bukan karena ramadhannya. Bukan juga karena masjid-masjid yang menjadi penuh. Bulan ini suci karena manusianya. Karena kekuatannya dalam menahan serta mengendalikan nafsu. Manusia menyucikan bulan ini dengan perbuatannya. Dengan sikapnya. Dengan pikiran. Bukan dengan jasmaninya, atau penglihatannya, ataupun penciumannya.

Kesucian tidak menular. Jadi kita sendirilah yang mengusahakannya. Begitupun dengan kotor. Baik buruk pikiran tergantung diri sendiri, berhentilah menyalahkan orang lain apalagi warung makan. Kalau dengan nafsu yang berbentuk rumah makan saja bisa kalah, bagaimana mau mengimani sang maha yang besarnya tak terhingga?

Nah, itu dulu laporan saya mengenai tradisi puasa di Indonesia baru-baru ini. Banyak yang memang sudah terjadi berdekade lalu. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ada hingga beberapa dekade ke depan.

Saya hanya memberi gambaran garis besarnya saja, dengan sedikit penjelasan. Jadi maaf saja jika ada yang salah tafsir ataupun kurang paham dengan silogisme sedangkan negeri ini penuh dengan manusia-manusia bersumbu pendeknya.

Saya mau mengatur jadwal ibadah dulu, biar ketika bangun bisa langsung buka. Oh, dan satu lagi. Tolong kepada KPI ataupun stasiun radio seluruh Indonesia, adzan maghribnya tolong dibedakan bunyinya sama adzan yang lain, agar fungsinya mengurangi kejadian-kejadian yang mengenakkan.. :p
.


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: