Jreng.. Jreng…

22 November 2016

Saya hari-hari ini sedang kepikiran mau aja buat bikin satu tulisan serius mengenai agama.

Bukan, bukan jenis pembelaan atas maraknya isu agama beberapa bulan terakhir yang gencar terselip kata-kata “bunuh, potong, jihad, bantai, dan lainnya”. Bukan.

Bukan pula jenis tulisan penengah yang menabur damai, ketenangan, ataupun persatuan. Bukan…

Seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, profesi saya adalah pengamat Tuhan. Jadi tulisan ini nantinya akan banyak berisi analisis saya dalam pencarian saya dalam beragama secara sadar.

Ini saya rasa penting agar kepercayaan yang selama ini saya imani tidak berstatus sebagai agama genetik pilihan otang tua semata…

Pengamatan saya tentu belum sepenuhnya final, namun sebagaimana mestinya sebuah proses, analisis ini perlu saya tulis agar bisa menjadi sebuah rekaman yang mana nantinya bisa diubah dan akan banyak terjadi perbaikan maupun klarifikasi sana-sini.

Tulisan ini nantinya akan berisi tentang tujuan awal diciptakannya manusia, munculnya agama, hakikat surga dan neraka, alasan adanya hawa nafsu, sampai pentingnya ilmu sastra dalam memahami logika terhadap hubungan multidimensi..

Meskipun tulisan ini serius, sebisa mungkin saya nantinya akan mengolahnya sesantai mungkin agar yang baca sama yang nulis tidak sama-sama mengkonsumsi panadol pada akhirnya.

Semoga tulisan ini nantinya akan menjadikan saya manusia yang sempurna menurut Tuhan, dan bisa lebih khusyuk dalam mempertebal iman saya. Sukur-sukur kalo ada yang sependapat..

Kapan nulisnya? Entah, mungkin nanti, setelah saya memperoleh ketenangan, dengan meninggalkan “tempat” ini…

Wallahualam.. Tabik.


Menjahit Warisan

1 November 2016

​Tadinya, saya mau bikin tulisan tentang sumpah pemuda sebenarnya. Cuman, sayanya agak khawatir karena hati ini agak bimbang setelah menghadap cermin beberapa kali; Masih mudakah kau wahai muka? Apakah butuh 3 kali tamparan sendal swallow agar kau tersadar dari delusi…?? Ah, kampret betul, jenis keraguan yang tidak mutu sekali…

Ya sudah, lupakan masalah muka.

Masalah skripsi juga lupakan.. lupakan… tidur.. tidurlah.. au ah bo do.

Hari ini, celana jeans saya robek lagi. Akhirnya, bisa dihitung dengan lubang hidung saja jumlah celana jeans saya yang masih utuh tanpa sobekan..

Karena, dari dulu saya memang terkenal sebagai pembalap. Bukan karena sering kebut-kebutan, tapi karena hampir semua celana saya itu punya sobekan di bagian lututnya. Bahkan salah seorang dosen pernah menyindir, katanya : “Usahakan, kamu kalo mau nikah nanti cari cewek anak orang kaya atau anak penjahit..“. Fiuuuh.. untung dosen, kalo mobil wis tak tumpaki kowe bu…

Tapi, justru celana robek inilah yang membawa kembali ingatan saya tentang mama.

Dulu, waktu masih kuliah di Semarang, setiap akan mudik ke Bengkulu saya selalu saja membawa serta semua jeans robek saya itu. Tujuannya satu, agar bisa dijahitkan mama.

Mama saya itu, satu-satunya yang bisa membuat dia duduk manis tenang tanpa hiperaktif cuma mesin jahit. Lama-kelamaan akhirnya ini menjadi tradisi. Mudik, bawa celana robek, minta dijahitkan. Begitu terus setiap tahun. Saya tau mata mama sudah tidak setajam masa mudanya dulu, bahkan mungkin jarum jahitnya saja bakal goyah ketika tau yang dihadapinya adalah bahan sekeras celana jeans.

Namun di sisi lain, bagi saya ini adalah momen terbaik untuk menikmati quality time sebagai seorang anak yang sudah terlalu besar untuk minta dimanja oleh Ibunya. Dengan menemaninya duduk di samping mesin jahit sambil pura-pura main gitar selama berjam-jam, berjaga-jaga jika matanya mulai lelah untuk memasukkan benang ke lubang jarum yang begitu mungil. Bercerita, atau menumpahkan rindu atas waktu-waktu yang hilang karena jarak.

Saya pun maklum, jika hasil akhir jahitan akan berbentuk kasar dan cenderung lucu karena si mesin jahit dan si empunya sama tuanya. Toh saya tidak peduli dan akan amat senang memakai jeans hasil tambalan Ibu saya itu ke kampus ataupun ke Mall.

Dari jaman STM, saya sudah terbiasa memakai pakaian yang ditambal. Nasib sebagai si bungsu penerima warisan terakhir, telah membuat saya pasrah untuk memakai pakaian bekas kakak-kakak saya. Tidak heran jika pakaian tersebut lapuk karena telah melewati beberapa generasi.

Selama 3 tahun sekolah pun, saya konsisten dengan hanya menggunakan 2 pasang seragam, bahkan salah satunya adalah baju SMP yang cuma diganti lambang OSISnya.. Dengan alasan inilah, akhirnya seragam sekolah saya punya tempelan bordir di lima tempat. Lucunya, dengan alasan trendsetter, kawan-kawan sekelas malah ikut-ikutan nempel bajunya juga. Keren, katanya. Bodo amat..

Di seragam bagian ujung bawah saya kebetulan ada robek bekas berkelahi, jadilah saya tempel dengan bordiran bergambar kepala rubah berwarna merah, dengan tulisan The Fox. Karena gambarnya terlalu mencolok, sejak saat itu saya jadi dapat julukan ‘FOX’. Itulah nama yang selalu saya sandang ketika sedang naik gunung dan berkenalan dengan wanita-wanita semasa STM.

Baju praktek STM saya yang seperti jubah dokter itupun tak luput dari tempelan juga. Demi melihat tempat kosong yang begitu luas di belakang baju tersebut, jadilah baju tersebut sebagai tumpahan ekspresi anak-anak sekelas. Mulai dari gambar, cat, pilox, bordir, sampai ke lambang palu arit nongkrong disitu.

Tentu saja semua gambar ini langsung dijahit oleh mama saya. Beliau tidak akan menolak karena memang maklum pakaian saya tidak diciptakan untuk bertahan selamanya, ada saatnya rapuh dan sobek. Sedang untuk membeli baru adalah hal yang teramat berat karena kebutuhan primer lain banyak menunggu. Saya yang memang tidak terlalu peduli dengan baju baru, memanfaatkan momen ini untuk melepaskan kenakalan masa remaja dengan kreatifitas.

Begitulah, hingga hari ini telah banyak celana baru datang dan pergi menggantikan yang bekas-bekas itu semua termasuk celana yang baru saja robek ini. Kecuali satu, celana jeans dengan merk Lea berwarna biru, yang sobek di empat tempat. Dengan tambalan kain hitam di kedua lutut dan ditempel bordiran bergambar band Nirvana, Metallica, dan The Rasmus serta satu tulisan ‘Pertahanan sipil’ di bagian pantat.

Celana itu masih ada. Masih dan akan terus saya simpan. Itu celana terakhir yang pernah beliau tambal untuk saya, terutama senyumnya ketika menjahit tulisan pertahan sipil di bagian pantat itu.. Semoga mama di sana juga diberikan mesin jahit supaya bisa bikin komunitas penjahit Bengkulu bersama Ibu Fatmawati. Amin. Salam Sayang,..

*Selamat Ulang Tahun, mama. Maaf kecepetan, padahal masih bulan depan.. Takut lupa. Oh iya, cucumu tambah satu… ^^.

.


CUK

11 September 2016

Sayanya sedang bingung. Ini mungkin kejadian langka. Tapi bingungnya saya kali ini adalah bingung setingkat presiden yang memikirkan harga cabe. Bingung-bingung ga mutu.. Bingung ini membawa saya ke mode serius. Padahal jarang sekali saya ingin menjadi serius. 

Tersebutlah sebuah skripsi namanya, yang menjadi objek keresahan saya akhir-akhir ini. Makan ga enak tidur ga banyak, nonton ga tenang. Ya.. mirip-mirip orang kalau sedang ditilang polisilah rasanya. Indomie Waaiitttt Charriieee… sedaaap… mantaapp…*iklan

Adapun skripsi saya kali ini malah membahas tentang Teori Absurdisme. Yap, sayalah itu orang yang coba-coba  menjelaskan sebuah keabsurdan sejati, kengkawan.. Ibarat lukisan, ini semacam merealistiskan gambaran yang  abstrak. Asal katanya kan absurd, tidak jelas.. (seperti masa depan, mungkin)

Berdasarkan info dari google, tak banyak manusia Indonesia yang mau membahas teori ini secara ilmiah. Jadilah saya lebih banyak memakai bahan dari bahasa luar. Filosofi hidup berbahasa aseng? Waw… Hidup sudah absurd, kelakuan ambigu, muka abstrak, otak plin-plan.. yah, mungkin Tuhan memang sedang sentimen.

Adapun yang bikin saya bingung, tidak hanya cemas memikirkan bagaimana nantinya saya bisa memahami teori ini, tapi juga teori ini harus saya sandingkan dengan psikoanalisis sastra yang terkenal kejam berdarah itu agar membuatnya terlihat ilmiah dalam bentuk sebuah skripsi. Sisi positifnya, jika saya mampu melewati badai ini, saya boleh dianggap sebagai seorang filsuf yang mempelajari filsafat absurdime (Albert Camus), psikolog yang mempelajari psikologi kepribadian individu (Alfred Adler), dan kritikus sastra yang membedah novel secara psikoanalisis.

Filsuf, psikolog, sastrawan, budayawan, editor, sejarahwan, linguist, kritikus, blogger, skripsius, dan mungkin sufi. Itulah jenis-jenis profesi yang harus saya geluti dan dapatkan untuk menyelesaikan semua tantangan ini. Kamu masih tertarik menemani saya?

Kebingungan ini bertambah hebat tatkala saya berkali-kali harus berbenturan dengan masalah religius kompleks kala menghadapi teori-teori anti klenik model begini. Sepertinya saya memang harus mencari Dragon ball untuk membangkitkan Ibnu Sina.. Shen long where are you???

Jika suatu saat saya kena begal nanti dan diliput media, mungkin Headline koran akan menuliskan begini: “Seorang gamer amatir yang sedang dalam proses pembelajarannya tentang teori psikoanalisis absurdisme, dibegal dengan pasrah di daerah anu pada sore hari kemaren saat ia membeli rokok 3 batang ditanggal yang sedang menua…”. Goblok riweuh.


​Negeri Riya Suatu Ketika

23 Agustus 2016

Di suatu negeri yang katanya ingin makmur, hiduplah manusia-manusia yang lapar akan eksistensi. Semacam membangun kepercayaan diri di atas tumpukkan kekaguman orang-orang.
Potretnya disindir keras dengan guyonan ala meme; Neil Armstrong ke bulan cuma ngambil 5 foto, dan wanita, ke kamar mandi bisa ngambil sampai 23 foto..

Itulah gambaran negeri tersebut hari-hari ini. Yang aktivitasnya diisi dengan anak-anak muda yang masih ngeshare sana-sini sebuah berita lebih karena ingin terlihat berwawasan dihadapan kawan-kawan mayanya. Apa pun dishare, karena judulnya yang bombastis asoy tapi persetan dengan isinya. Seolah wartawan yang tidak kesampaian.. Terlihat seperti Buzzer level taman kanak-kanak.

Manusia model beginilah yang sering digunakan pakar-pakar IT untuk mewabahkan isu-isu dunia maya yang abal-abal untuk mengguncang negeri ini mulai dari kampanye hitam sampai masalah konyol kenaikan harga rokok yang melampaui 200 persen itu.

Oh, tentu tidak hanya media sosial tempat beriya-ria bisa dilakukan. Negeri ini juga menyediakan dunia nyata sebagai tempat memompa dada rakyatnya agar bisa berjalan dengan gagah berwibawa di sekitar lingkungannya.

Lihatlah nama yang tertera di undangan kawin misalnya. Segala macam titel bertumpuk di sana.  Mulai dari bapaknya yang Haji, sampai anaknya yang menderetkan titel keserjanaan S1 sekaligus S2 bahkan S3 nya sekalian. Kalaupun Menristek bikin sarjana sampai S6, jangan heran itu undangan bisa saja berbentuk Buku Amdal..

Ah, kalian-kalian pasti berpikir saya sedang iri karena belum lulus apalagi kawin. Tidak, kawan.. saya tidak sepicik itu. Tolong jangan bersu’udzhon begitu meskipun kalian sedikit benar…

Gelar Haji misalnya. Orang-orang di Negeri ini (juga beberapa negara Asia lainnya), menjadikan rukun Islam yang terakhir ini sebagai gelar. Jika pun belum haji, dengan modal beberapa kali ceramah saja, akan dapatlah ia gelar Ustadz. Dan bagian lucunya, gelar tersebut akan selalu bersanding lekat dari kartu undangan hingga ke KTP bahkan ke batu nisannya.

Dari ke 5 rukun Islam yang ada, kenapa cuma Haji yang boleh nempel sama nama seseorang? Puasa kan juga rukun Islam.. Gak sekalian habis Ramadhan pakai gelar puasa di depan nama biar tambah panjang? Apa karena dari kesemua rukun, cuma Haji yang menandakan seseorang punya uang untuk naik pesawat terbang? Tanda sudah pernah ke luar negeri? Onta dari lahir udah di Arab juga ga pernah tuh dapat gelar Haji..

Tidak hanya titel Haji, para akademisi yang konon adalah pondasi kejayaan sebuah negara pun juga kadang ingin tampil berpanjang nama. Seperti kakak saya itu, sudahlah gelarnya S2, tapi gelar S1 nya masih saja nempel tidak ingin lepas. Bahkan ada yang sudah bergelar doktor pun, gelar S1 nya masih juga ngikut. Ibarat kalau ditanya, “Adek kelas berapa sekarang?”, “Kelas 123456 SD, om..”. DYAARRR!

Di jaman yang katanya kontemporer ini, selain beberapa kasus di atas, negeri ini juga diisi candu eksistensi akut demi popularitas. Anak-anak muda sebagai tulang punggung negara sudah  menasbihkan dirinya untuk dibuai akan utopia negeri pemimpi.

Serasa selebritis, mereka menanamkan di dalam pikiran selalu bahwa orang-orang selalu ingin tahu kesehariannya, apa saja yang ia makan, ke mana saja ia pergi, di mana saja ia kencing, kapan saja ia potong kuku, berapa kali sehari sikat gigi.. Pokoknya dunia harus tahu. Biar elo tauk siapa guwehhh.. !!

Mereka membuat alam papparazinya sendiri dengan meyakinkan diri lewat dirinya sendiri. Bahwa orang-orang akan selalu melihat, mengawasi, dan memperhatikan. Tipikal manusia jajahan kelas bawah. Mental pribumi rasa priyayi. Dasar oknum inlander.. Selalu merasa dicurigai.

Semua di atas itu adalah contoh pamer. Yang kalau ditambahkan akhiran /–an akan menjadi pameran. Pameran itu ya… diliatin orang, dikomentari, dikritik, digosipin, dinganu-nganulah…. Jadi ya, jangan marahlah ya yang kena sentil. Namanya juga penonton, euy…


Kalau Buku Bisa Ngomong

2 Agustus 2016

​Dulu, ada sebuah masa dimana saya pernah berpikir bahwa menjadi penulis buku itu asik lagi menguntungkan.

Saya tahu, di negeri ini jangankan untuk menulis buku, untuk sekedar mengirimkan naskah atau sebuah opini di koran lokal saja persaingannya begitu gila dan makan waktu berbulan-bulan dan harus berkali-kali ditolak (Ada indikasi bahwa yang memegang kuasa atas penolakan naskah tersebut adalah wanita, tau sendirilah wanita…).

Dengan data seperti itu, otak saya lantas menyimpulkan bahwa seorang penulis buku (yang bukunya sudah terbit) pastilah makmur nan jaya hidupnya. Kalau tidak, ngapain terus-terusan ngeyel berkirim naskah dengan kompetisi ketat ala pengantri zakat begitu?

Saya juga tahu, tidak semua orang mampu menyelesaikan sebuah buku dalam hitungan bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun dalam proses riset dan observasi. Karena itulah wajar jika seorang penulis ada yang ingin menjadikan kegiatan menulisnya sebagai satu-satunya kegiatan ataupun penyangga nafkah hidup.

Jadi, maklumkan saja jika ada penulis yang tidak bisa menjadikan kegiatan menulis hanya menjadi aktifitas sampingan ataupun sekedar hobi. Sama seperti musisi dan pekerjaan seni lainnya, kecuali model sama SPG rokok pokoknya. Selalu ada orang-orang yang fokus tanpa mau terganggu bahkan dengan urusan biologis seperti kelaparan. Orang-orang ini bukan ambisius, mereka hanyalah perlu konsentrasi tinggi demi melahirkan karya yang baik.

Kenyataan pahit yang baru saya ketahui ternyata oh ternyata, dalam setahun ada seratus penulis yang bukunya bestseller, tapi dibalik itu ada seratus ribu penulis lain yang menangis karena royalti yang menyedihkan. Ih.. ih.. ih..

Sebuah buku, yang diterbitkan dengan jalur normal biasanya akan mendapati rute sebagai berikut: Penulis – Penerbit – Distributor – Toko buku – Pembaca. Cukup panjang memang. Penulis memberikan naskah ke penerbit, penerbit memutuskan dicetak atau tidak, distributor menyalurkan buku ke penjual, toko buku menawarkan ke pelanggan, pembaca akan membeli. Tamat.

Dengan panjangnya jalur yang harus dilalui sebuah buku, tidak heran jika seorang penulis hanya mendapatkan royalti hanya sebesar 6 – 10%, dan di beberapa kasus akan mencapai 12%. Itupun dibayarkan 2 kali dalam setahun.

Jadi semisal, sebuah buku dengan harga Rp. 30 ribu dengan royalti 10%, maka 1 buku dijatah Rp. 3 ribu. Jika 1.000 buku terjual berarti dapat 3 juta. Dibayar 2x setahun = Rp. 1,5 juta. Sebulan = Rp. 250 ribu. Hmmm…

 Artinya, gaji perbulan seorang penulis yang bukunya laku terjual 1.000 biji adalah Rp. 250 ribu. Sukur kalo royaltinya 10%, lha kalo cuma 6 %?. Mau makan apa Gita gutawa nanti? Mending jadi kang parkir deh…

Dengan kasus seperti diatas, fenomena-fenomena seperti menulis hanya sebagai hobi, atau karya sebagai kerja sampingan, ataupun mutu sesuai deadline adalah bisa dimaklumkan dalam dunia literatur kita hari ini. Mau tidak mau, idealisme selalu ada yang tumbang jika berhadapan dengan hidup. Toh, tiap solusi hanya berguna tergantung individu masing-masing. Jangan heran jika derajat buku mulai terpinggirkan.

Memang agak sulit menemukan solusi lain daripada memutus jalur distribusi yang panjang. Buku yang kemahalan, akan mengurangi daya beli konsumen. Buku yang kemurahan, akan membatasi hak hidup si penulis. Buku yang harganya sedangpun, akan membuat si penulis akan berpikir ulang untuk tetap menjadikan menulis sebagai pekerjaan dan konsekuensinya, penulis akan tergoda untuk beralih kerja demi kehidupan yang lebih baik..

Dan sekarang, sayapun tergoda untuk menyimpulkan bahwa, menulis buku itu asik tapi kurang menguntungkan. Bukannya saya ingin meruntuhkan niat orang-orang untuk membuat buku, tapi hanya membeberkan sedikit konsekuensi yang menghalang jika seseorang ingin menulis sebuah buku. Tentu itu sebatas masalah finansial, tapi secara tidak langsung itu juga adalah urusan biologis yang selanjutnya akan menjadi masalah psikologis, dan ujung-ujungnya akan mentok ke urusan agamis.

Dan kepada kawan-kawan yang sudah menerbitkan buku, semoga tetap konsisten dengan karya dan pilihan hidupnya. Dan kepada yang baru ingin menulis buku, saya harap, ada baiknya belajar ilmu ikhlas terlebih dahulu agar terhindar dari penyakit hati yang melenakan. Karena sesungguhnya, semua pekerjaan selalu punya dindingnya masing-masing, tinggal kita ingin memilih untuk menjadi palu, atau menjadi tissue toilet.

Saya? Hmm…mungkin saya akan menulis buku juga. Tapi tidak hari ini. Tidak juga besok. Saya mah tetap nunggu instruksi presiden dulu, soalnya sekarang kalo ngritik butuh ijin…


Sudilah diAminkan

26 Juli 2016

​Pagi-paginya seorang kawan sms saya, “Frans, kemarilah kau”, pesannya. Setengah menggelinjang malas akhirnya berangkat juga sayanya karena semalam kemaren sudah seharian saya bertabur selimut bersembunyi dari perihnya udara dingin bekas hujan yang membabi buta. Tak seperti Hayati, hujan tak pernah lelah bang…

Padahal si kawan ini, kemaren weekend sudah mengundang saya kemping plus mancing di Pulau Pasumpahan,  pulau yang sedang booming di Sumbar. Tentu saja saya tolak masak-masak. Selain uang saya terlalu berharga untuk dihabiskan untuk sekedar berwisata (sekarang, jalan-jalan adalah kebutuhan saya yang ke-257, ga penting-penting amat), bepergian di musim pancaroba seperti sekarang juga terlalu riskan untuk tubuh saya yang mulai manis manja grup.

Karena ajakan pertama sudah saya tolak, akhirnya siang itu saya beranikan diri juga untuk mandi dan memenuhi ajakan keduanya. Ya, saya mandi demi seorang kawan! Itulah yang dinamakan pengorbanan, hai Romeo!!

Setelah traktiran makan berlangsung, saya diajaknya ngopi di atas kapal. Di pinggiran kota padang, di salah satu sudut teluk, mejenglah dua buah kapal pemancingan berukuran sedang bercat putih. Saya yang lumayan sudah lama tidak naik kapal, diam saja dan mulai bernostalgia menikmati goyangan syahdu khas ombak laut sambil mendengarkan kawan saya itu cerita tentang liburannya di Pasumpahan.

Seolah ia punya insting Spiderman, ia mulai mengganti topik karena melihat saya tidak tertarik cerita liburannya. Pembicaraan mulai berganti kepada si pemilik kapal kaya raya yang kapalnya sedang kami jamah ini. Satu kapal pemancingan, satu lagi kapal pengangkut ikan.

Dia bilang, kapal seharga 1 M ini belum apa-apa dibanding rumahnya yang ia tunjuk berada beberapa ratus meter di dekat situ. Rumah tiga tingkat yang terlalu mencolok dengan sekitarnya itu memang terlalu superior dibanding gubuk semi maklum milik nelayan sekitarnya. Ibarat gunung dan upil.

Kawan saya itu berpendapat, dengan uang 1 M, lebih baik saja dibelikan rumah dan disewakan ketimbang membeli kapal yang 10 tahun kemudian akan rusak berkarat. Ia mendebat, jika uang tersebut dibelikan tanah dan bangunan,  setiap tahunnya nanti akan bertambah mahal. Sedangkan kapal, setiap tahun akan mengalami kerusakan. Ia membandingkan pemasukan perbulan antara penghasilan kapal dan profit rumah yang disewakan, bicaranya seolah dia punya gelar S3 Ekonomi saja.

Seperti menunggu pendapat saya, dia hening sebentar. Saya katakan, kalau saya punya uang 1 M, berarti itu pasti bukan saya. Karena saya tidak berminat sama sekali dengan uang. Kalaupun punya uang, pasti saya belikan HP baru buat main game yang lebih canggih. Dia diam. Diam yang kesal. Mungkin jengkel karena kopinya habis, pikir saya.

Lantas, pembicaraan mulai menjurus ke cita-citanya yang ingin ikut kapal pesiar keliling Eropa suatu hari nanti. Berbagai lowongan kerja mengenai kapal di simpannya di HP dan diperlihatkannya ke saya dengan hidung yang sumringah. Dia sangat tertarik untuk menggerus dolar-dolar Amerika itu daripada mati membusuk di tanah kelahirannya ini. Darah perantaunya mulai meninggi jika berbicara perihal kepergian.

Agar obrolan tidak menjadi panggung monolog, ia mulai tanya ke saya, mau kerja apa nanti. Dia ceramahi saya, kau punya banyak pengalaman di lapangan, jangan mau kerja kantoran. Saya jawab, saya mau jadi penjaga di toko buku, atau jadi seniman kayu. Karena saya suka dikelilingi buku dan sepertinya punya bakat dalam mengolah kayu.

Jawaban yang spontan ini mulai menambah garis-garis di keningnya yang lebar itu. Perhitungan saya, mungkin sekitar 37 kerutan lagi masih muat diparkir disitu. Dia ketawa mengejek, keparat betul si kawan ini. Karena di sekitar dermaga masih banyak orang, saya tahan dulu niat buat nyeburin ini orang ke laut.

Saya berdalih, kalau saya harus bekerja, saya tidak peduli dengan gaji. Asal bisa makan, hidup saya sudah senang. Yang saya cari kesenangan saja. Bekerja yang menyenangkan hati lebih baik ketimbang bekerja demi menyenangkan orang lain. Karena lagi malas berfilsafat atas nama alasan yang logis, saya mulai pura-pura berkeliling kapal kalau-kalau ada putri duyung yang lewat.

Bersama gelas kopi di tangan, kawan saya itu mulai berjalan mengikuti pergerakan saya dari belakang. Membuntuti seakan meminta pertanggungjawaban. Seakan tidak percaya dengan jawaban yang mungkin belum bisa ia terima dengan lapang dada. Sepertinya ia lupa mendownload lagu sheila on7 yang baru.

Ia ingin membantah, bahwa tidak akan ada manusia di jaman sekarang yang tidak membutuhkan uang. Semua mahal, katanya. Bahkan Semua orang di desa sudah pakai internet. Terus saya ulurkan tangan buat salaman, saya bilang, “selamat, kamu sudah ketemu satu..”.

– Padang, yang masih serasa Alaska –

*berdasarkan kisah nyata, dengan balutan dialog palsu, dan beberapa scene yang disensor karena weleh-welehnya sanitasi perumahan sekitar.


A Night Writer

23 Juli 2016

Saya kira, setujulah anda-anda semua seharusnya jika saya berargumen bahwa panggung utama sebuah malam adalah kesunyiannya..

Sebagai salah seorang insomniator terbaik di negeri ini, saya memuja malam layaknya idola sejati. Saya menunggunya, mengharapnya,  dimanapun, setiap hari, tak pernah bosan, bagai seorang pria yang menunggu kata maaf dari sang wanita.

Yang saya tunggu dari malam justru ketiadaan akan apa-apanya. Kosong, yang lantas bisa diisi dengan apa saja. Beberapa orang akan menyebutnya sebagai begadang, termasuk si Pak Haji. Ibarat penganut Buddha, saya sedang ingin menuju ketentraman jiwa sebagai bentuk tertinggi pencapaian seorang manusia.

Tentu saja banyak yang tak sepaham dengan argumen saya di atas, tapi apa boleh buat, saya penganut mahzab Bodo Amat. Kecuali Jessica Alba yang protes, itu baru masalah besar buat saya.

Sehubung dengan kesunyian malam, elok nian jika diri ini mampu menghabiskan semalaman untuk menulis. Menulis apa saja. Dengan lingkungan yang selayaknya pasar, tentu maklum jika saya mampu mencapai konsentrasi maksimal saya saat sekeliling menjadi hening dan tanpa bunyi jangkrik sekalipun.
Benarlah itu bagi saya untuk sekedar menulis status di BBM pun butuh konsentrasi dan ketenangan tanpa bawa-bawa emosi juga pun seserahan. Untuk menghindari cap sebagai pria gagah nan labil, tentu saya harus menghindari hal-hal yang berbau amarah maupun sentimentil ketika menulis. Biar pencitraan saya sebagai calon menantu yang bijaksana nantinya mampu tercapai.

Adapun kegiatan saya setiap harinya akan dimulai pada saat tepat di tengah malam. Hal ini direncanakan agar bersamaan dengan terlelapnya orang-orang beserta semua jenis candu elektronik mereka. Dengan begitu, tibalah saya sebagai Batman akan bergantian menjaga malam, dimulai dengan lantunan mp3 yang selalu dibuka Somewhere I Belong-nya Linkin’ Park.

Cukup dengan volume yang 50 persen, saya mulai menggeliat menjadi manusia produktif. Mulai dari main game, gitaran, nonton film, bongkar lemari ataupun sekedar nongkrong bersama kopi dan rokok.  Tapi tetap, kebanyakan saya habiskan malam dengan menulis. Karena malam yang sepi lebih tenang untuk dinikmati. Lebih pas untuk berimajinasi. Cocok, seperti djarum super dan mulut saya. Klop sudah.

Kalaupun harinya sedang hujan, maka bertambah gembiralah hati saya ini. Hujan, malam, musik, dan kopi. Oh, surga benar itu. Tambah lagi ada calon istri, aihhhh…

Memang, sebagai penikmat malam garis keras, saya seringkali terbentur dengan norma masyarakat karena dianggap ‘melanggar kebiasaan’. Saya menjadi makhluk nocturnal yang kebanyakan  sering dijalankan anak-anak kost. Kebiasaan ini terus saja melekat hingga jam biologis badan saya pun pasrah dan malah manut.

Maka kacaulah hidup saya dihadapan masyarakat. Tidur jam 6 dan bangun jam 1 siang dianggap tidak lazim. Walaupun secara kesehatan saya sudah tidur sesuai standar, ibadah pun tidak terganggu, makan mie tiap hari, kegiatan lain juga lancar saja, tapi tetap saja perbedaan ini dianggap tidak normal dan mungkin mengganggu hingga banyak juga yang protes.

Sudah nasib sebagai orang Sudra, tentu saja saya harus mengalah. Saya yang tak pernah paham tentang kebebasan ini, akhirnya harus tetap saja tunduk kepada siapa saja yang dianggap lebih tinggi dari saya. Rutinitas terpaksa saya rombak dan mengacu kepada standar hidup ala masyarakat normal..

Dan saya takutnya, ujung-ujungnya nantipun saya harus berseragam ataupun berdasi supaya saya dianggap beradab sebagai pekerja. Lantas saya di standarkan hidupnya dengan keadaan sekeliling, lalu matilah bhineka tunggal ika yang sejatinya bukan hanya paham tentang perbedaan manusia dari luarnya saja..

Semoga saja pemujaan saya kepada malam tidak akan hilang hanya karena ‘kenormalan’ ini. Dan semoga, malam tetaplah menjadi  malam seperti kata Pas Band. Dan akan selalu saja menjamu penikmatnya dengan berbagai pesona mistik yang tak terjelaskan..

– Padang yang sudah pagi – 

Dengan diisi 23 derajat celcius menurut HP saya.


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: